The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 75 (Awal mula kekacauan)



Adella menatap bulir salju yang turun cukup deras. Hingga deheman kecil membuat kepala nya menoleh ke samping. Satu cup kopi hangat di sodorkan padanya. Gadis ini mengulas senyum dan menerima nya dengan senang hati. Jujur, Adella merasa senang mendapat teman sesama wanita. Mengingat di masa lalu, ia adalah anak buangan begitu lah sebutan untuk anak yang di bully. Tidak satupun teman sebayanya menyapanya dengan senyum lembut. Ataupun berbagai cerita, mereka semua lebih suka mengejeknya. Dengan berbagai label di berikan.


"Terimakasih, Ta!" Ujar Adella menerima cup kopi hangat.


Delta mengangguk kecil. Sebelum berdiri bersebelahan dengan Adella. Hari ini, tidak terlihat ada raut wajah bahagia di wajah imut Delta. Remaja perempuan satu ini memasang wajah datar dan dingin pada Adella.


"Bukankah satu bulan lagi pertukaran pelajar akan habis?" tanya Delta pelan.


Kepala Adella mengangguk kecil. Ia mengulas senyum."Ya, aku pikir begitu."


"Kau," jeda Delta,"akan langsung kembali ke Indonesia bukan?" lanjut nya dengan raut wajah penasaran.


"Entahlah," jawab Adella jujur. Ia tidak tau apakah ia akan langsung kembali ke Indonesia. Atau menetap di Jepang. Pindah sekolah ke Jepang.


Air wajah Delta tampak tak suka. Gadis ini berpikir buruk tentang keraguan hati Adella. Apalagi dengan fakta baru yang ia ketahui jika Adella mengoda kakak-beradik Yamato. Gadis ini benci dengan fakta yang di buat-buat itu. Hatinya terasa panas dan tak rela. Vian tidak boleh di rebut darinya. Dari semula Vian adalah miliknya. Ia yang bersama Vian cukup lama. Ia lah yang mencintai Vian dan memberikan cinta pada Vian dengan tulus. Lalu, bagaimana bisa Adella datang-datang langsung merebut semuanya. Delta tidak rela.


"Kenapa?" tanya Delta dengan nada dingin.


Adella menyesap pelan kopi hangat di tangannya. Sebelum menoleh ke samping.


"Di sini ada seorang yang aku sukai. Dan aku ingin bersamanya," jawab Adella malu-malu.


Telapak tangan Delta terasa gatal ingin menampar wajah Adella. Bagaimana gadis di sampingnya ini tersenyum dengan tidak tau diri nya. Sebisa mungkin ia menekan rasa amarah di dadanya. Meskipun ingin memukul ia tidak boleh memukul. Bagaimana pun, Adella secara fisik. Gadis ini unggul darinya.


"Tidak bisakah kau pergi saja?" tanya Delta pelan.


"Ah?" Adella terperangah mendengar perkataan Delta.


Delta merubah raut nya menjadi ceria kembali saat melihat raut wajah bingung Adella.


"Kau harusnya pergi saja ke Indonesia. Agar Sean kalang kabut. Melihat Sean kalang kabut sangat lucu," jawabnya dengan wajah seceria mungkin.


Adella terkekeh dengan rona di wajah."Nggak ah, becanda sama Sean nggak lucu. Biasa-biasa, di kayak orang gila lagi!" tukas Adella.


Delta hanya mengangguk kecil. Sebelum manik matanya melirik cup kopi yang nyaris kosong.


"Maaf Adella. Aku tau kau tidak mau pergi. Jadi, biarkan aku yang mendorong mu pergi dari sisi Vian maupun Sean. Seandainya kau tidak serakah menginginkan Sean dan Vian. Maka aku tidak akan begitu!" Delta hanya mampu menyuarakan apa yang hati kecil nya rasakan.


Adella kembali mereguk kopi hangat hingga tandas.


***


"Nggak! Itu curang. Harusnya aku nggak kalah lagi!" Protes Laura lagi.


"Siapa suruh dadunya berhenti di moncong ularnya. Kalau berhenti di sana yang harus turun lagi," tukas Luana.


"Benar, Laura nggak boleh begitu dong. Kalau kalah harus di akui. Jangan malah marah saat kalah," kini suara Cherry terdengar.


"Nggak mau main lagi!" ujar Laura.


Dera berdiri dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati sang putri. Memeluk tubuh mungil anak perempuan nya.


"Dalam permainan selalu ada kalah dan menang. Itu wajar, asalkan main nya nggak curang. Kalau Laura kalah terus marah-marah begini. Namanya nggak suportif. Sekarang kalah nanti pasti ada saatnya menang," bujuk Dera dengan nada lembut.


Laura menengadah dengan pandangan mata polos."Mama main itu pernah kalah nggak?" tanya nya dengan polos.


Kepala Dera mengangguk pelan."Ya, pernah dong. Sering malah, tapi itu yang bikin seru. Kita jadi tertantang untuk main lagi dan lagi. Biar berusaha keras buat bisa menang," ujar Dera memberikan pengarahan.


Laura tampak diam berpikir. Laura dan Cherry hanya menghela napas. Laura memang suka menang sendiri. Agak egois memang. Namun jika di berikan arahan dan pengertian yang baik, Laura akan bermain lagi dengan mereka. Seperti saat ini, Lauara duduk kembali di karpet merah. Bersama mereka.


"Mulai lagi dari awal. Nggak peduli memang siapa yang kalah siapa. Yang namanya bermain itu yang di cari keseruan bukan perihal siapa yang menang ataupun yang kalah," ujar Dera lagi.


Serentak kepala ketika anak perempuan itu mengangguk cepat. Hiro tersenyum lembut melihat bagaimana istri tercinta nya menenangkan setan betina satu itu. Jika ia yang melakukan nya, lucunya ia yang malah di salahkan. Laura akan berkata jika Hiro membela Launa. Dan akan berakhir mengesalkan bagi ayah empat orang anak ini. Beda lagi, jika sang istri yang menenangkan si bungsu. Anak itu akan mudah mengerti dan memahami perkataan sang ibu.


***


"Abang masih mau pelihara dia?" Tanya Sean menunjuk tubuh kurus Mirabel di lantai dingin.


Gio mengeleng pelan kepalanya mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Sean.


"Ya, memang nya kenapa?" Tanya Vian tanpa menghentikan pergerakan tangannya meracik ramuan baru.


Sean menghela napas pelan."Dia saja sudah begitu. Hidup segan mati tak mau. Mending di matiin saja," ujar Sean membuat Mirabel mendengus lirih,"berbeda dengan para buaya dalam kolam. Meskipun si Jumbo dan Jery sudah tua bangkotan. Ke duanya masih bisa di ajak main. Keliling kolam satu kali saja sih paling," lanjut nya membuat ke dua sudut bibir Vian berdenyut.


Sean Yamato, memang sangat tau cara membuat dirinya tertawa. Meskipun terlihat aneh, namun Vian tidak menampik topeng lain dari Sean sangat menakutkan. Teman-teman nya mungkin hanya beberapa kali melihat bagaimana seriusnya Sean. Sayang, mereka belum melihat wajah lain dari Sean. Jika melihat wajah lain itu, Vian berani jamin mereka tidak akan berani menggoda Sean.


"Kalau di mati, tidak ada yang jadi kelinci percobaan ku!" jawab Vian asal.


"Kita punya banyak musuh Abang. Tangkap satu saja untuk jadi kelinci barumu. Tidak akan ada masalah. Aku bosan lihat wajah dia terus," ujar Sean dengan wajah sok imut.


Gio mengeleng pelan. Pria ini selalu heran dengan Sean. Pria yang terlihat hangat, polos dan baik di luar. Siapa yang sangka, memiliki aura membunuh yang kuat. Apa lagi saat di depan nyonya besar Yakuza. Sean bahkan terlihat sangat jauh berbeda. Ia akan terlihat sangat manis dan terlihat nyaris seperti pria penakut. Saat di belakang Dera, wajah asing akan mereka temui. Benar-benar, tak tertebak.