The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 57 (Peringatan)



Sean nampak menarik koper besar berwarna merah. Di samping nya tampak Adella sesekali melirik Sean. Dera dengan setia mengandeng tangan gadis cantik ini. Gadis yang di gadang-gadang akan menjadi menantu keluarga Yamato.


Bandara Internasional Haneda terlihat begitu ramai. Baik dari masyarakat lokal maupun internasional, terlihat membanjiri bandara. Dera, Sean dan beberapa orang lain nya berhenti di pintu penukaran e-tiket dengan tiket bisa.


"Jika ada apa-apa di sana. Cepat kabari Mama ya!" Ujar Dera sembari membenahi baju tebal Adella.


Kepala Adella mengangguk cepat."Siap, Mama!" Ujar Adella dengan senyum lebar.


Dera melepaskan tangan Adella yang di gandeng. Sebelum memeluk tubuh Adella. Sean hanya menatap interaksi ke duanya.


"Jangan lupa makan di sana. Jaga kondisi tubuh di musim dingin. Jangan lupa seiring hubungi Mama ya, sayang!" ujar Dera penuh kelembutan.


"Adella akan melakukan apa yang Mama suruh dengan sebaik-baiknya," jawab Adella.


Dera tersenyum lebar. Ia melepaskan pelukannya dan Adella. Sebelum mengusap pelan pipi Adella.


"Mama! Sean kapan pamit nya sama Adella," rengek Sean dengan nada manja.


Dera memutar malas ke dua bola matanya. Sebelum memundurkan langkahnya. Membiarkan Sean yang mengambil alih gadis di depannya ini.


Sean tersenyum lebar. Tangan nya yang tadi menggenggam erat koper. Kini di lepas untuk bisa berdiri di depan Adella.


"Jaga diri di sana ya. Sesuai kata Mama. Jangan lupa makan, kabari kita jika terjadi sesuatu maupun tidak. Terus," Sean memberikan jeda. Tubuh nya mengikis jarak antara ia dan Adella. Tubuh nya di condong kan ke depan. Bibirnya mendekati daun telinga Adella. Sebelum berbisik."Jangan lirik pria lain di sana. Kalau tidak mau aku terbang ke Paris menyeretmu kembali ke Jepang. Aku tidak perduli dengan kompetisi itu. Bahkan aku akan menikahi mu saat itu juga," bisik Sean membuat bulu tubuh Adella merinding.


Glek!


Adella susah payah menelan air liurnya sendiri. Kata-kata yang di bisikkan oleh Sean Yamato bukanlah kata-kata yang mengandung omong kosong semata. Namun, kata-kata itu sangat serius. Jika di langgar saat itu pula dunianya akan berubah. Adella tau, kata itu sangat serius.


Sean menarik wajahnya dan mundur dua langkah. Berdiri dengan tegap seperti semula di depan Adella. Dera menatap penasaran dengan apa yang di bisikkan oleh sang putra. Melihat wajah tengang Adella.


"Jangan pernah lupa dengan kata-kata ku, Adella!" ujar Sean dengan mengulas senyum seringan mungkin. Wajah polos tanpa rasa bersalah.


Kepala Adella mengangguk patah-patah."Y——ya," jawabnya dengan nada mencicit.


Dera melirik jam dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh empat puluh menit.


"Sudah waktunya untuk cek-in," ujar Dera.


Adella mengangguk. Ia meraih koper milik nya. Tak lupa tersenyum pada ke duanya. Adella melangkah pergi setelah membungkuk pada Dera. Sebagai salam penghormatan khas orang Jepang. Gadis itu melangkah di ikuti oleh dua orang anggota Yakuza.


"Ayo, kau harus kembali ke sekolah!" ujar Dera kala punggung Dera tak lagi terlihat.


Wajah Sean berbuah lesu. Pria remaja ini melangkah mengikuti sang ibu.


***


"Kemana Sean?" Tanya David kala menduduki bangku.


Vian menoleh."Dia mengantar Adella ke Bandara," jawab Vian seadanya.


"Eh! Kenapa gak ngajak-ngajak. Aku juga mau nganterin Adella ke Bandara," balas David.


"Kau pikir Sean mau kau ikut dengan nya, huh!" timpal Delta.


"Benar. Mengingat Sean itu pria yang posesif. Tentu saja ia tidak ingin ada yang ikut mengantarkan gadis yang ia cintai," timpal Willem.


"Lalu siapa lagi yang mengantar Adella selain Sean?" tanya David lagi penasaran.


"Mamaku," jawab Vian.


"Lalu di mana peliharaan cantik mu, Will?" tanya David. Sebelum mengedarkan pandangannya.


"Dia tidak masuk hari ini," jawab Willem sebelum meraih benda persegi panjang miliknya.


Pergerakan tangan Vian di atas ponsel terhenti. Dahinya berlipat halus.


"Kemana dia memang nya?" bukan Vian yang angkat bicara. Delta yang bertanya, membuat Vian diam-diam mendesah lega. Setidaknya, ia tidak perlu bertanya pada Willem. Jika tak mau teman-teman nya curiga.


"Katanya ada yang harus ia urus. Aku tidak tau banyak. Toh, aku tidak peduli dengan nya. Mau ada dia dan gak ada dia, apa yang berubah!" jawab Willem acuh.


"Wah! Kau dingin sekali pada dia, Will. Padahal dia sangat cantik loh. Aku pertama kali melihat nya sempat terpesona dengan kecantikan wajahnya. Bisa di bilang, dia terlihat seperti Dewi yang turun dari langit. Sangat cantik dan mempesona," papar David dengan senyum playboy nya.


"Dasar kadal air," decis Delta.


"Apa hubungannya dengan kadal air," protes David kesal.


"Kau terlalu player kawan. Cobalah setia pada satu wanita saja," kini giliran Willem angkat bicara.


"No! No! No! Aku tidak mau setia pada satu wanita. Selagi masih belum ada ikatan pernikahan. Kita harus puas bermain-main kawan. Saat sudah menikah, bayangan kan saja. Kita setiap hari melihat wajah yang sama. Itu benar-benar bikin bosan kawan," tolak David pada perkataan Willem.


Delta hanya mengeleng pelan. Sebelum melirik Vian yang termenung dalam. Senyum yang awalnya mengembang di wajah Delta luntur perlahan. Jangan bilang jika Vian menyukai gadis Rusia itu?


Setidaknya itulah yang terlintas dari otak Delta. Gadis imut ini terlihat cemberut. David dan Willem masih asik berdebat dengan kata setia dan kata mendua. David Keukeh dengan ketidak inginannya setia. Willem Keukeh dengan keinginan setia.


***


Zeo menatap foto yang di kirim kan oleh cucu perempuan nya. Kekehhan lucu di wajah tuanya terlihat. Leo yang sedari tadi asik dengan pekerjaan nya menghentikan gerakan jari jemari yang menari di atas keyboard Laptop.


"Ada apa dengan wajah mu, Pa?" tanya Leo penasaran.


Zeo yang duduk di sofa langsung berdiri. Pria tua ini melangkah mendekati sang putra. Ia menyodorkan ponsel pada Leo.


Dahi Leo berkerut melihat siapa yang ada di layar ponsel sang ayah. Wajah baru yang, baru kali ini di lihat oleh Leo.


"Siapa dia?" tanya Leo pelan.


"Calon menantu Hiro," jawab Zeo.


"Wah! Wah! Benar-benar membuat syok. Ini yang menantu yang mana ini Pa?" tanya Leo bersemangat.


"Sean. Kata Laura Abangnya satu itu tergila-gila pada gadis ini!"


Leo mengeleng pelan. Ia tak percaya jika keponakan nya satu itu sudah tau pada kata cinta.


"Ini akan sangat menarik. Aku mau pulang cepat-cepat ke Jepang!" ucap Leo penuh semangat. Pria ini ingin menggoda sang keponakan.


Zeo menarik ponselnya. Tersenyum aneh.


"Ya. Kita sebaiknya pulang ke Jepang. Lucu juga menggoda Sean!" jawab Zeo.


"Aku harus bergegas menyelesaikan tugas di sini!"


"Papa mau ke luar dulu. Nomi pasti juga akan sependapat jika tau cucu prianya sudah punya calon istri," ujar Zeo. Sebelum keluar dari ruangan kerja Leo.


Leo hanya terkekeh pelan. Melihat semangat empat lima sang ayah. Leo kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Pria inipun juga semangat untuk bekerja.