The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 54 ( Kebenaran)



Manik mata coklat tajam tampak berkilat di kegelapan malam. Senyum miring kembali terukir kala, mangsa semakin memasuki perangkap. Pria remaja ini melangkah menyusuri lorong bedebu denganĀ  penerangan temaram. Tungkai kaki panjang nya tampak turun dari satu anak tangga ke anak tangga lain nya. Senyum semakin tampak menyeramkan saat, remaja pria ini membuka pintu sel kumuh dengan gerakan cepat.


Mirabel membuka ke dua kelopak matanya yang sempat di tutup. Ujung sepatu tepat berada di depan mata nya. Wanita ini hanya menghembuskan napas samar.


"Lama tidak bertemu, Mirabel!" ujarnya dengan nada berat.


Sean Yamato berjongkok. Menatap wajah keriput Mirabel. Senyum yang persis seperti senyum pria yang sangat ia cintai.


"Kau sama tampan nya seperti Hiro. Beruntung tidak satupun dari kau dan Vian yang mirip dengan wanita jelek itu, huh!" Ujar Mirabel terkekeh samar.


Sean mengeraskan ke dua sisi rahang nya kala mendengar penghinaan wanita di depan nya ini pada sang ibunda tercinta.


"Kenapa? Kau tidak terima karena aku menyebut ibu mu jelek, huh!" lanjut nya kala tidak mendapatkan jawaban dari anak lelaki ini.


Sean memejamkan sesaat ke dua kelopak matanya. Menekan emosi yang sedang bergejolak dalam diri. Sebelum kembali membuka ke dua kelopak matanya. Mirabel menatap kagum Sean dengan mata lemahnya. Ia merindukan Hiro, pria yang sangat ia cintai. Sampai perasaan itu menjadi overdosis.


"Kenapa aku harus tidak terima, Hem. Mamaku adalah wanita tercantik di dunia ini. Sampai detik ini, dia cantik di mata kami semuanya!" ujar Sean setelah mampu mengontrol emosi nya. Pria ini merogoh saku celana jins nya.


Jari jemari bergerak lincah di atas layar sentuh. Sebelum ia tersenyum lebar, saat menemukan apa yang ia tengah cari. Sean menunjukan foto gadis cantik yang terlihat duduk menetap televisi. Ke dua pupil mata Mirabel membulat sempurna nyaris terbelalak melihat siapa yang ada di layar ponsel.


"Dia, mirip sekali dengan mu. Awalnya aku dan Abang Vian ragu kalau dia adalah anak mu. Setiap kali kami melihat nya, ada rasa terancam yang sangat kuat loh!" jelas Sean dengan nada menyebalkan bagi Mirabel,"dan kau tau apa yang sangat menarik di sini, Mirabel?" lanjut Sean dengan wajah mencemooh.


Mirabel meneguk kasar air liur yang tertahan di kerongkongan nya. Jantung nya berdebar keras dengan lanjutan kata yang akan keluar dari bibir Sean.


"Dia......menyukai aku!" ujar Sean lagi dengan gampangnya.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa Annabelle mencintai Sean Yamato. Anak dari wanita yang telah merebut kebahagiaan nya. Meskipun Annabelle tidak di besarkan oleh nya. Wanita ini, memiliki hati juga pada keturunan nya. Yeah, sekejam-kejam nya seorang ibu. Tidak akan pernah mau melihat anak nya bernasip sama. Mirabel tidak ingin Annabelle kenapa-kenapa. Apa lagi sampai anak nya yang sengaja ia jauhkan dari dirinya agar tidak terlibat kegilaan nya. Malah masuk dengan sendirinya. Ingin sekali Mirabel berteriak keras saat ini. Melarang Annabelle untuk tidak mengikuti jejak kebodohan nya.


"Hei! Hei! Ada apa dengan wajahmu itu Mirabel?" tegur Sean dengan nada penuh kemenangan.


"Kau!!!!!" teriak Mirabel setengah tertahan.


"Ya, ada apa dengan ku?"


"Jangan berani-berani menyentuh nya!" peringat Mirabel dengan nada geram.


Sean Yamato terkekeh pelan sebelum tertawa keras menggelegar. Mata nya terlihat menajam berkali-kali lipat.


"Kau tau, aku hanya ingin mengoreksi siapa dia padamu. Membiarkan ia masuk ke dalam tempat ini. Ternyata insting kami tidak lah salah. Dia adalah anak mu. Terimakasih Mirabel, karena kau telah memberi tahu aku siapa dia tanpa perlu repot-repot menyentuh nya lagi!" ujar Sean saat tawanya berhenti.


Mirabel mengerang marah. Sean berdiri dari posisi berjongkoknya. Pria ini tersenyum puas. Tubuh Mirabel meronta-ronta, membawa tubrukan besi dengan lantai terdengar nyaring. Sean hanya mencoba mencari tau siapa Ella pada Mirabel. Mengingat jika gadis itu diam-diam masuk ke dalam penajra bawah tanah. Sean dan Vian merasa semakin penasaran saja. Hingga membuat rencana sedikit, menjebak. Siapa sangka jika Mirabel sangat sensitif kala melihat foto Ella.


"Kalau begitu, sampai bertemu nanti bertiga dengan nya!" Ujar Sean melangkah keluar dari ruangan.


"Aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya!" teriak Mirabel dengan keras dan nyaring. Tubuh lemahnya di paksa bergerak.


***


Tiga wanita tampak sibuk membereskan tempat nonton. Tidak lupa pula membawa beberapa cemilan ke ruangan tengah. Sari tampak antusias memilih duduk di lantai. Mencari film yang akan ke tiga nya tonton di pagi menjelang siang. Sebelum anak-anak mereka akan pulang dari sekolah.


"Mau nonton apa kita hari ini?" tanya Clara duduk di sofa setelah selesai menata makanan ringan di atas meja.


Sari menghentikan pergerakan tangan nya di layar ponselnya.


"Ada beberapa film seru sih! Kayak Hotel Deluna, Hi! Bye Mama! dan sama cerita paling fenomenal yang judulnya The World of the married kak." ujar Sari dengan wajah menggebu-gebu.


"Eh, yang drama terakhir kan yang lagi viral di Indonesia ya, sampai-sampai orang Indonesia terkenal karena drama itu," timpal Clara dengan wajah lucu.


"Terkenal?" ulang Dera dengan wajah tidak mengerti.


"Hah! Kakak kurang update sih. Itu loh, karena salah satu perempuan Indonesia nyerang si pemeran cewek yang merebut suami pertama nya si peran utama. Padahal kan cuma acting ya, kalau marah ya boleh marah gak ada yang masalah. Tapi malah nyerang dan nyinyirin sampai ngata-ngatain itu artis kan beda pasal," kesal Sari menggebu-gebu.


Bagaimana wanita cantik itu tidak merasa kesal. Karena hal itu nama Indonesia kembali di seret. Bukan tentang hal yang berprestasi. Tapi tentang hal buruk. Sebagai wanita Indonesia, Sari merasa malu dengan hal itu.


Dera mengangguk pelan. Meski tidak terlalu mengerti. Ibu dari empat anak ini memang jarang bermain sosial media. Hingga sering ketinggalan berita.


"Lalu kita mau nonton apa?" tanya Dera setelah mereka bertiga terdiam.


"Kalau aku sih mau nonton Hi! Bye Mama. Karena cerita nya seru," ujar Clara memberikan usulan.


"Kalau kamu mau nonton apa?" tanya Dera pada adiknya.


"Aku sih mau nonton Hotel Deluna karena lucu," ujar Clara.


"Malah bercabang," seru Dera dengan nada pelan,"kalau begitu kita tetapkan saja dulu mau nonton yang mana," lanjut Dera.


Ke tiga ibu-ibu muda itu tengah sibuk merundingkan drama yang akan mereka tonton. Pria yang dari tadi tak sengaja mendengar perkataan ibu-ibu muda itu terkekeh pelan. Sebelum melangkah mendekati ketiga nya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita nonton drama Kingdom saja!" seru Carlos membuat ketiga nya terkejut.


Ayolah, mereka tengah sibuk-sibuknya membicarakan tentang drama Korea apa yang ingin di tonton. Carlos datang tanpa suara malah mengejutkan mereka dengan nada suara beratnya.


Pria itu tekekeh melihat ekspresi Clara, Dera dan sang istri.


"Aku ini juga pecinta drama Korea loh!" ujar Carlos membuat Dera dan Clara mengeleng pelan.


Ini kali pertama mereka bertemu dengan pria yang suka drama Korea. Tanpa mencaci drama nya.


"Aku cinta drama Korea karena Sari loh. Salah kan Sari saja. Suami Kak Dera tidak seru, dia tidak nyambung saat di ajak ngomongin drama. Nyambungnya kalau ngomongin senjata aja!" Carlos kembali berucap.