
Manik mata coklat kelam itu menatap pantulan tubuh nya di cermin. Beberapa tumpuk baju dari kemeja, kaos dan jaket tergeletak di atas tempat tidur. Sean mengerakkan tubuh nya ke kanan dan ke kiri. Kerutan ragu di dahinya terlihat. Seolah-olah ia berpikir baju yang hari ini ia pakai masih tak pas.
"Sudah pas itu. Keluarlah, melihat mu bertingkah aneh membuat kepalaku pusing!" tegur Vian kala manik mata sang kembaran melirik baju lain di atas ranjang.
Sean Yamato mengulas senyum bodoh.
"Apa ini sudah terlihat keren, Bang?" tanyanya dengan nada terdengar malu.
Vian menarik napas pelan sebelum membuangnya kasar. Pria yang berada di samping ranjang Sean mengangguk pelan.
"Benarkah?" desak Sean dengan penuh semangat.
Ingin rasanya Vian melempari kembaran tak identiknya ini dengan lampu tidur. Jika ia tak mengingat wajah khawatir sang Ibu jika Sean terluka.
"Ya." Jawab Vian kembali mengangguk kecil.
Ke dua sisi bibir Sean terangkat tinggi. Pria itu melangkah menuju meja belajar meraih dompet dan kunci mobil pribadi milik nya. Mobil yang ia dapatkan saat ulang tahunnya, tahun lalu. Putra Yakuza ini sangat jarang mengendari mobil sendiri. Mengingat mereka akan di antar oleh sang ayah ke sekolah. Atau sekedar membawa motor mahal ke sekolah saat musim semi dan musim gugur.
Untuk pertama kalinya, Sean akan membawa mobil dengan gadis yang ia sukai di samping kemudi. Pertama kalinya ia membawa wanita selain Ibu dan adik-adiknya. Delta saja, belum pernah menaiki mobil yang ia bawa.
"Jangan pulang terlalu larut!" nasehat Vian kala telapak tangan Sean menekan engsel pintu.
Sean membalikkan tubuhnya."Siap, Brother!" Balasnya dengan tangan mengacungkan sebelah ibu jari nya pada Vian.
Kreat!
Bunyi pintu terbuka dan tertutup. Membuat pandangan yang semula tertuju pada ponsel mahal terangkat. Menatap pintu yang tertutup.
"Hah!" desah Vian pelan,"ternyata jatuh cinta membuat orang menjadi bodoh!" tuturnya pelan.
***
Pemandangan pohon Sakura. Begitu memanjakan mata, aroma harum menyeruak memasuki rongga paru-paru. Ke duanya berjalan bersisian, sesekali Sean menoleh menatap pandangan takjub Adella. Gadis cantik ini memang baru pertama kalinya main keluar.
"Cantik kan?" tanya Sean kala ke duanya berhenti di jalan kecil.
Adella sedikit menengadah mengingat tingginya dan Sean berbeda. Kepalanya mengangguk dengan senyum manis yang di ulas.
"Mau naik sepeda gak?" tanya lagi.
Adella terlihat berpikir. Ia menatap ratusan sepeda di pinggir jalan. Banyak para turis yang terlihat memesan sepeda. Ada yang mengendarai sepeda dengan pasangan.
"Aku....tidak bisa membawa sepeda," aku Adella dengan nada pelan.
Sean mengembangkan senyum lebar. Tidak bisa membawa sepeda membuat hati kecil Sean bersorak gembira. Tuan muda Yamato ini terlihat sumringah. Membawa kerutan di dahi Adella.
"Aku yang bawa, kau duduk di belakang saja!" usulnya.
Modus. Sungguh, Sean Yamato, pria remaja dengan otak licik segudang. Senyum penuh harap mengembang lebar. Kala kepala Adella mengangguk patah-patah.
"Eh! Tunggu." Adella mencekal pergelangan tangan Sean. Membuat langkah kaki Sean berhenti."Aku sangat berat, loh!" peringat Adella ragu.
Sean merasa gemas melihat wajah Adella yang tertunduk dalam. Tangan kanannya terangkat. Mengusap pelan puncak kepala Adella. Hatinya berdebar. Lucu, dia yang membelai ia yang berdebar keras.
"Bagiku, kau sangat ringan. Jangan khawatir, aku bukan pria lemah Adella." Tukasnya sembari mengusap puncak kepala Adella.
Ke dua pipi Adella merona. Kepalanya menunduk semakin dalam karena malu. Cekalan di pergelangan Sean di lepas perlahan.
"Tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana. Aku ke sana dulu!" titah Sean sebelum menurunkan telapak tangan nya di atas kepala Adella.
"Ya," jawab Adella cepat.
Sean tersenyum dan melangkah meninggalkan Adella. Kepala Adella di angkat perlahan. Gadis bermata bulat itu menatap punggung belakang Sean.
Yang mulai menjauh darinya.
Benar yang di katakan oleh Nika. Sean Yamato terlihat sangat sempurna. Meski hanya memakai kaos putih lengan pendek, yang memperlihatkan otot lengannya. Dengan celana jins hitam dan sepatu putih. Ketampanan nya tak menghilang. Aura mempesona nya tidak bisa luntur dengan mudah. Cowok tampan memang berbeda.
Beberapa perempuan terlihat melirik terang-terangan pada Sean. Lensa ponsel mengambil gambar pria yang kini telah sampai di tempat rental Sepeda. Senyum hangat yang di lemparkan pada Adella membuat erangan iri dari gadis-gadis cantik terdengar jelas. Adella hanya mampu mengangkat tangan kanan dan melambai.
Sean terlihat tersenyum lebar. Pria itu kembali menatap pemilik rental sepeda. Berbincang kecil sebelum Sean mengeluarkan uang dan kartu siswa dari dompet kulit mahalnya.
Semua gerak gerik Sean tak luput dari pandangan Adella. Sean mengayuh sepedanya kala, selesai melakukan pembayaran dan pendaftaran.
Tanpa kata. Adella menaiki sepeda di bagian depan. Benar-benar tukang modus tidak mau rugi. Sean dengan sengaja mengambil sepeda tanpa kursi belakang. Remaja satu ini mengambil sepeda dengan kursi kecil di depan. Seakan ia ingin Adella berada di belakang tubuh nya. Ia ingin Adella berada di peluk kan nya. Tak segan-segan, Sean menarik sebelah tangan Adella memeluk pinggang. Sebelah lagi di letakan di stang sepeda.
"Ini agak...."
"Aku suka yang begini. Kalau kau di belakang aku merasa pemandangan di depan tidak akan lagi indah," potongnya cepat.
Bluss...
Ke dua pipi Adella semakin merona. Ah, tidak. Kini wajah cantik itu memerah seperti kepiting rebus. Sean terkekeh renyah.
"Pegangan yang kuat, sayang!" titahnya.
Belum sempat Adella protes dengan panggilan Sean padanya. Pria ini sudah mengayuh sepeda. Adella terpekik kecil. Posisi nya yang menyamping membuat jantung nya berdebar keras. Tangan kiri nya memeluk erat pinggang Sean. Aroma Pinus tercium jelas di hidung Adella. Kepalanya bersandar di dada bidang Sean. Manik mata hitam legam nya menatap hamparan bunga sakura di jalan.
Beberapa kelopak yang gugur di tiup angin memperindah suasana. Degup keras seakan berlomba-lomba. Ke dua pasangan cucu Adam dan Hawa ini menikmati waktu yang ada.
***
Waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Ke duanya telah memulangkan sepeda ke tempat rental. Berjalan bersisian, punggung telapak tangan beberapa kali berbenturan. Membawa sengatan listrik kecil di tubuh masing-masing. Terlihat malu-malu kucing.
Ke duanya menghentikan langkah saat sampai di anak tangga.
Tuk!
Lagi-lagi punggung tangan mereka berbenturan. Sean menoleh ke samping.
"Mau makan Udon, untuk makan malam Del?"
Adella mengulum bibirnya. Mengangguk pelan.
Hap!
Bluss!
Muka ke duanya kembali memerah. Kala Sean meraih tangan Adella. Lucu! Satu kata yang akan orang-orang berikan pada ke duanya.
Sean membuang muka ke samping kiri. Gila! Ini pertama kalinya ia menggenggam tangan gadis seusianya. Jantung nya mengila.
Adella tak mampu menyembunyikan raut malu di wajahnya. Ke duanya menuruni satu persatu undak tangga. Restoran khas Jepang berjajar di pinggir-pinggir tangga. Udara terasa mulai dingin. Ke duanya telah berkeliling tempat wisata.
Menghabiskan waktu bersepeda, membeli beberapa pernak pernik khas Jepang. Dan bahkan Sean dan Adella mengabadikan beberapa momen melalui lensa kamera ponsel.
Tidak ada yang berbicara. Ke duanya bungkam dalam pemikiran masing-masing. Hingga sama-sama berhenti di depan restoran udon mahal yang populer di Tokyo.
"Di sini, ayo masuk!" Ujar Sean menarik tangan Adella.
Ke duanya melangkah mendekati tempat duduk yang sudah di pesan oleh Sean. Seperti nya tuan muda Yamato ini harus berterimakasih pada David. Pria bule itu lah yang mengatur tempat. Mulai tempat yang mereka kunjungi, modus-modus yang telah di laksanakan sampai tempat makan.
Sean melepaskan tangan Adella kala menarik sebuah bangku. Adella duduk terlebih dahulu, dengan gumaman kata terimakasih. Sebelum di susul Sean di depan.
"Ini!" ujar Sean menyodorkan kotak panjang pada Adella.
"Eh?"
"Buka saja!"
"Inikan untuk Mamamu," ujarnya.
Sean mengeleng."Itu untuk mu. Kata nya kalau bisa menangkap daun maple, kamu akan jatuh cinta dengan orang yang berjalan bersamamu," ujar Sean,"namun berhubung sekarang belum musim gugur. Aku hanya bisa membeli kalung itu. Sebagai ungkapan rasa," lanjut nya kala Adella membuka kotak.
"Ah..." Adella tak tau mau menjawab apa.
"Kau suka?"
Bukan suka lagi. Gadis ini merasa mau gila saja.
"Te——teriamakasih," kata Adella malu-malu.