
^^^6 bulan kemudian^^^
Senyum lebar terbentuk. Kala acara penghargaan sekaligus kelulusan anak kelas tiga di laksanakan. Sean Yamato, pria itu mendapat predikat sebagai murid yang lulus dengan nilai sempurna. Tersenyum di podium setelah memberikan pidato kecil untuk para guru, teman-teman serta ke dua orang tuanya. Bayangkan, ia mendapat nilai paling sempurna di antara angkatan nya. Membungkuk memberikan hormat pada orang-orang yang duduk di kursi.
Gemuruh tepuk tangan mengalun di ruangan indoor. Dera mengusap pelan air mata yang mengalir melihat bagaimana hebatnya sang putra ke dua. Sedangkan putra pertama mereka, mendapatkan tawaran di banyak kampus. Baik dalam luar negeri, di bidang Kimia. Adik kelas menatap penuh harap pada kakak kelas mereka yang terlihat antusias mengambil tempat untuk berfoto bersama. Sebagai foto kenang-kenangan terakhir.
"Lihat anak mu, kak!" ucap Dera saat melihat Sean menarik tangan Adella untuk berfoto di samping nya.
Hiro menoleh ke depan. Benar saja, putranya yang positif itu terlihat tersenyum menatap wajah Adella. Bukan menatap lensa kamera fotografer. Vian berdiri di samping kanan Adella. Dengan posisi Willem mengalungkan tangannya pada bahu Vian. Di samping Sean di sebelah kiri, ada David dan Delta yang tersenyum ke arah kamera.
"Sama kayak bapaknya," cemooh Leo terdengar di kursi penonton.
Hiro tersenyum, sebelum mencabik mendengar penuturan Leo.
"Apa maksudnya?" tegur Hiro dengan nada kesal.
"Suka ambil kesempatan dalam kesempitan," jawab Leo dengan santainya.
Kini giliran Hiro mencabik. Sebelum mereka terdiam, mendengar suara Sean mengalun di seluruh aula sekolah. Teman-teman satu angkatan Sean memekik keras, kala ujung tempurung lutut Sean Yamato menghantam lantai kayu podium. Dera menutup mulutnya saking syok melihat kelakuan sang putra.
Leo bersorak keras melihat sang keponakan. Sedangkan Hiro, pria itu melirik Vian. Putra pertama yang terlihat bermuka datar dan dingin. Tidak terlihat terusik dengan apa yang tengah terjadi.
"Adella! Will you marry me?" seru Sean dengan suara lantang. Sebuah cincin berada di tangannya.
Kya!!!!
Kya!!!!
"Romantis nya!"
"Gila di lamar pas lulus sekolah?"
"Oh, God! Ini benar-benar real drama!"
"Terima!"
"Terima!
"Terima!"
Suara gemuruh dengan bisik lirih. Sedangkan para orang tua, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Raut wajah Adella terlihat linglung. Hatinya berdebar, bahagia. Sungguh. Ke dua telapak tangannya terasa sangat dingin. Apa yang sering di katakan oleh Sean tidak pernah main-main. Pria ini berkata dan bertindak sesuai dengan apa yang sering ia ucapkan. Melamar saat lulus SMA bukanlah bualan semata.
Senggolan dari bahunya membuat Adella tersentak. Delta mengulas senyum tulus."Ayo jawab sahabat ku," ujarnya.
Adella mengigit bibir bawahnya sebelum menoleh kembali ke arah wajah Sean. Pria itu tampak gugup. Reaksi yang sangat jarang di perlihatkan. Kini, terlihat jelas. Enam bulan hubungan ke enamnya membaik. Dengan Delta yang bisa berdamai dengan perasaan Vian. Meskipun, rahasia kelam di sembunyikan. Saat kenyataan terlihat jelas. Jika gadis itu salah paham pada Adella.
Dimana gadis yang berpipi chubby itu. Mencintai Sean Yamato. Bukanlah Vian Yamato, saingan sejati nya jelas bukan Adella.
"Aku sungguh mencintaimu, maukah kamu menjadi wanita pertama dan terakhir dalam hidup ku. Seperti papaku yang menjadi kan mamaku sebagai satu-satunya. Meskipun aku memiliki banyak kekurangan, aku akan berusaha untuk melengkapi semua nya dengan mu," ujar Sean lagi terdengar. David terlihat kesusahan memegang Mike di tangan nya,"sekali lagi aku tanya, Adella maukah kau menikah dengan ku?" lanjut nya lagi.
Orang-orang mulai merasa gemas melihat ke duanya. Ada yang mengambil Video. Para guru hanya menggeleng pelan melihat anak murid terpintar di sekolah mereka malah melamar teman satu angkatan. Bukan melamar untuk masuk ke universitas. Malah melamar seorang anak gadis untuk menikah. Setengah lagi tersenyum geli, seakan mengingat kembali kenangan indah yang pernah mereka alami saat di lamar.
"Hem!" jawab Adella sebelum mengangguk kecil."Ya, aku ingin menikah dengan mu!" jawab Adella.
Kontan saja seluruh ruangan laci mendengar jawaban Adella. Keceriaan terlihat di wajah Dera, melihat putranya.
"Ugh! Putraku sudah besar ternyata," ucap Dera dengan nada terharu.
Hiro memeluk tubuh Dera dari samping."Ya, putra kita sudah dewasa. Saking dewasanya, mau nikahin anak orang nggak berunding dulu," balas Hiro setengah kesal.
Dera dan Leo terkekeh mendengar kekesalan Hiro.
"Tapi, aku mah udah tau!" ujar Leo pongah.
Kontan saja pasangan suami istri itu menoleh menatap tajam Leo. Pria itu tersenyum tanpa dosa.
"Aku adalah paman tercinta Sean. Tentu saja aku yang lebih dahulu tau. Saat dia kecil aku yang urus, saat Abang dan kakak ipar bermesraan. Jadi, nggak adil dong hal beginian kalian yang tau," ujarnya dengan nada penuh kemenangan.
...***...
"Vian!" Seruan dengan langkah setengah berlari membawa langkah kaki Vian berhenti.
Pria itu membalikkan tubuhnya. Menatap wajah imut Delta. Delta tidak ingin menyerah pada perasaan nya. Sesakit apapun, ia akan memperjuangkan cinta nya. Meskipun orang-orang berkata, cinta pertama tidak memiliki keberhasilan tinggi.
"Ya, ada apa?" tanya Vian menatap wajah Delta.
Dahi Vian berlipat mendengar perkataan aneh Delta.
"Maksudnya?"
"Ah, tidak!" ujarnya mengulas senyum,"aku hanya asal bicara saja," lanjut nya.
Kepala Vian mengangguk kecil. Sebelum mengulas senyum kotak khas milik nya.
"Setelah ini, kau akan mengambil universitas luar atau dalam negeri?" tanya Delta penasaran dengan pilihan Vian.
"Masih belum tau. Aku ingin membicarakan nya dengan mamaku terlebih dahulu."
"Kenapa harus berdiskusi dengan mama Dera?"
"Karena pilihan mama selalu terbaik," jawabnya.
Kini giliran kepala Delta yang mengangguk kecil pertanda mengerti. Senyum di ulas, terlibat sangat cantik.
"Kau sendiri bagaimana?" tanya Vian balik.
"Aku ingin ikut kemanapun kau pergi," jawab nya tanpa sadar.
"Ah?"
"Eh! Maksudnya. Dimana pun kalian pergi aku akan sekolah di sana juga," ralat Delta.
Vian mengeleng pelan mendengar jawaban Delta. Masih sama, gadis di depannya ini masih ingin bersama ia dan yang lainnya.
"Kau selalu begitu," ucap Vian.
Ke duanya sama-sama tergelak.
"Vian boleh menunduk sedikit tidak?" pinta Delta pelan.
Pangkal hidung Vian mengerut pelan. Namun tetap menuruti keinginan sahabat nya ini. Mengingat tubuh nya dan Delta cukup jauh. Vian menunduk hingga sejajar dengan tinggi Delta.
Cups!
Vian membeku. Delta merona, gadis ini gila. Anggap saja seperti itu.
"I—itu, sebagai ucapan terimakasih telah menjadi sahabatku," ujar Delta tergagap.
Dari dua arah berlainan pandangan terasa panas menusuk mata. Bunga mawar di tangan Ara terjatuh di lantai. Ia di undang oleh Vian untuk datang ke acara kelulusan nya. Sedangkan di seberang lorong, ke dua tangan David terkepal keras. Delta mencium bibir Vian. Bukan pipi. Vian masih membuku. Delta melangkah menjauh tanpa kata. Ia malu. Sungguh, namun di balik rasa malu. Ada rasa bahagia, ia tidak akan menyesali nya. Tidak akan pernah.
...***...
"Kenapa Anda memanggil saya lagi?" pertanyaan formal terdengar mengalun di salah satu ruangan VIP restoran Jepang di Osaka.
Ken hanya mengulas senyum di bibir tuanya.
"Kenapa kau harus berbicara formal pada papamu sendiri, Adella?"
Kepala Adella mengeleng. Gadis ini menolak fakta yang ia dapatkan kan empat bulan yang lalu. Dimana pertemuan pertama mereka. Hingga Ken mencabut helai rambut nya untuk meyakinkan Adella. Meskipun keraguan menyelimuti dirinya. Adella tetap melakukan tes DNA untuk memastikan. Bukankah darah lebih kental dari air.
Adella tidak bisa menampik fakta baru. Namun ia sungguh, tidak menginginkan pengakuan Ken. Ia tak ingin, posisi putri Mafia Joker. Apalagi ia adalah anak hasil hubungan gelap. Sungguh, Adella terhina dengan kenyataan.
"Tolonglah tuan, jangan menghubungi aku lagi. Anggap saja kita tidak memiliki hubungan apapun. Jalani saja kehidupan masing-masing. Seperti dulu kala," ujar Adella,"tolonglah!" lanjut nya dengan nada memohon.
Ken Uchiha tersenyum kecut."Apakah kau berkata begini karena tuan muda Yamato itu?" tanya Ken,"tidak ada yang bisa memutuskan hubungan darah Adella Uchiha. Kau adalah putriku dan bagian dari Joker. Kita dan Yakuza tidak akan pernah bersatu. Karena kakak mu membenci Yakuza," lanjut Ken.
Adella merasa benar-benar tidak ingin berhubungan dengan ayah kandung nya.
Kret
Kaki kursi bergesekan dengan lantai. Adella berdiri.
"Aku tidak perduli. Kau dan aku tidak punya hubungan apa-apa. Untuk selanjutnya, jangan hubungi aku lagi!" putus Adella. Gadis itu menunduduk pelan memberi hormat. Sebelum melangkah keluar.
Ken menatap punggung belakang Adella. Tangan gadis itu meraih gagang pintu. Terhenti, karena seruan Ken.
"Kau pikir jika Yakuza tau kau tuan putri tak sah dari Joker ia akan menerima mu?" seru Ken mengelegar.
Tubuh Adella bergetar ketakutan. Jika fakta itu terkuak, apa yang harus ia lakukan. Ia sama sekali bukan mudah Yakuza.