
TIK!
Setetes demi setetes racun ular mengisi botol kaca. Gio memakai pakaian khusus. Berbeda hal nya dengan Vian, pria remaja yang telah kebal dengan racun tidak memakai pakaian khusus. Mulai sarung tangan dan masker.
Ular hitam pekat itu mendesis. Di masukkan ke dalam kandang khusus. Vian terlihat fokus mengaduk-aduk cairan bisa Ular di campur dengan bisa Kalajengking.
Senyum miring terlihat. Bagi Gio, saat-saat menakutkan melihat wajah Vian yang seperti ini. Kala mencampur banyak bisa dan racun. Wajah iblis akan membuat manusia normal bergidik ngeri. Vian Yamato layaknya psikopat sejati.
"Bagaimana dengan sekolah akhir-akhir ini?" tanya Gio dengan nada informal.
Vian menoleh."Seperti biasanya."
Pria tua itu mengangguk pelan."Itu racun baru untuk di tes padanya?"
"Tentu. Dia harus merasakan setiap detik demi detik, menit demi menit. Kala bisa dan racun membakar darah. Dia mungkin tak tau siapa yang coba ia manfaatkan!"
Gio mengigit pelan bibir bawahnya. Dosa yang harus di tebus oleh Mirabel sangat menakutkan. Meski wanita gila itu menyembah untuk ke mati. Tidak di kabulkan. Seperti yang pernah Dera katakan, meskipun Mirabel mengemis akan kematian. Dia tidak akan mendapatkan nya. Penebusan dosa harus ia dapat kan. Karena wanita itulah, ia kehilangan masa-masa harusnya bahagia. Harus nya ia merasakan kehangatan keluarga. Semua nya tidak di raih.
Di pergunakan sebagai bahan percobaan dan alat untuk balas dendam. Vian merasa ini benar tak adil, hingga menjadikan Mirabel sama seperti nya.
"Ini sudah hampir penuh sembilan tahun. Seperti waktu yang di janjikan, oleh ke dua orang tuamu."
"Kematian?"
"Ya."
"Mimpi saja. Dia tidak akan pernah mati dengan mudah. Kematian terlalu mudah, Gio!"
"Ya. Tapi ini sudah lebih dari cukup."
"Tidak. Ini belum cukup!" tukar Vian dengan nada berang.
"Tapi——"
"Hanya racun? Kau pikir karena racun aku merasa murka padanya? Kau salah besar jika berpikir seperti itu. Aku marah karena kasih sayang yang harus nya juga aku dapat kan. Aku marah karena luka itu! Siksaan itu, harus nya ia tak mendapat kan nya!" murka Vian.
Ke dua sisi rahangnya mengetat. Bola mata coklat kelam itu terasa asing. Keturunan Yakuza memang berbeda saat marah. Pria bule ini merasa tekanannya.
"Ya. Ini salah. Dia harus tetap merasa kan rasa sakit bukan?" ujar Gio dengan nada mencicit.
Senyum miring kembali menyapa netra biru Gio.
"Ya! Harusnya begitu." Ujar Vian seraya mengembangkan senyum polos tanpa dosa.
Perubahan drastis. Membuat Gio tersenyum meringis. Vian terlihat kalem di luar, dengan pandangan mata terkadang penuh cahaya. Siapa sangka, Vian memiliki sisi iblis kental. Sampai saat ini, Gio masih tak mengerti.
Jika di ruangan khusus Rumah Yakuza Vian berkutik dengan cairan penuh bisa. Maka di lain tempat, Sean bertarung dengan Katana di tangannya. Peluh menetes membasahi tubuh bagian atas yang telanjang tanpa T-shirt. Memperlihatkan otot-otot yang menonjol di lengan tangan nya. Urat-urat leher terlihat jelas, kontras dengan kulit putih pucat nya.
Sixpack terbentuk sempurna. Di hiasi peluh. Napasnya tersengal-sengal. Di bahu kanannya lamban mahkota dengan mawar hitam terlihat jelas.
PRANG!
PRANG!
SRAK!
SRAK!
Dua pedang Katana saling beradu. Hiro terlihat tak goyah, wajah datarnya terlihat biasa saja. Beberapa kali Sean menyerang, lucunya Bos Mafia ini tidak mengeluarkan serangan. Tidak satupun. Hanya memakai kata bertahan dengan kuda-kuda kaki yang kuat.
Sudah tiga jam ayah dan anak ini beradu ketangkasan dengan pedang samurai panjang itu. Tidak satupun yang ingin menyudahi. Laura di kursi penonton terpukau melihat sang ayah. Aura penuh wibawa dalam balutan seksi kala peluh menetes di kedua sisi rahang tegasnya.
Launa hanya memperhatikan dengan sesekali mengusap bosan. Ke dua tuan putri Yakuza ini di haruskan menonton pertunjukan duel kakak dan ayahnya. Laura Yamato, sangat tertarik dengan pertahanan diri. Melihat betapa tangguh nya ke dua kakak dan sang ayah.
Beda pasalnya dengan Launa Yamato. Anak perempuan satu ini lebih tertarik dengan buku, memasak kue bersama Dera dan merajut. Benar-benar perempuan yang feminim.
"Kapan mereka akan selesai pamer kekuatan begitu, ini sudah mau masuk jam makan sore!" gerutu Launa.
Laura menoleh kesamping. Wajah saudara kembar'nya ini terlihat benar-benar jenuh.
"Kakak kembali saja dahulu. Biarkan aku yang di sini. Sampai Daddy dan Abang selesai!" ujarnya penuh semangat.
"Cih! Jika aku pergi. Abang Sean akan menerorku bahkan akan membawakan si duo bulu ke kamar ku!" kesal Launa,"Dan berhenti memanggil Papa dengan panggilan Daddy. Aku tak suka dengan panggilan yang biasa di pakai oleh rambut pirang!" lanjut nya.
Bola mata Launa berotasi."Kau lupa, kamarmu dan kamarku itu sama adik ku sayang!" cibir Launa.
Laura mencabik. Launa tidak asik di ajak bercanda dan berbicara banyak. Kakaknya satu ini terlalu serius dan monoton seperti Mama mereka.
***
"Senior!" Seruan keras dengan langkah cepat menyusul ke limanya membuat anak-anak beken ini membalik kan tubuh mereka.
Gadis cantik dengan lesung pipi di ke dua sisi pipinya kini telah sampai di depan kakak senior yang ia sukai.
"Senior David ini!" Ujarnya menyodorkan kotak berwarna pink yang berukuran medium.
Pria bermata hijau itu menerimanya dengan senyum mempesona. Wajah adik kelasnya ini terlihat malu-malu.
"Terimakasih atas hadiahnya, Anee!" Ujarnya menggerakkan kotak yang di berikan oleh adik kelasnya.
Sontak saja senyum di wajah cantik satu ini memudar.
"Anee?" ulang nya dengan wajah gak percaya.
David tercekat. Air wajahnya kontan berubah. Kala membaca di dalam hati name tag yang ada di atas kantong saku seragam adik kelasnya.
"Dasar kadal!" decak Delta.
"Playboy bodoh!" cibir Willem.
Sean melipat tangannya di depan dada melihat raut wajah kecewa adik kelasnya. Sedangkan Vian, ia terlalu malas dengan ulah David.
"Maaf. Aku teringat Anjing ku di rumah, Cia!" Ujarnya tak lupa senyum maut penuh keseksian membuat gadis remaja di depannya ini merubah ekspresi.
"Hah," ia membuang napas kecil,"Ternyata nama Anjing Senior sama dengan nama artis wanita remaja tercantik di Jepang ya!" lanjut nya kembali merubah raut.
"Eh?" David syok.
Tawa dari ke empat sahabat nya mengalun kala gadis cantik yang menjadi salah satu anggota team pemandu sorak itu menunjuk kan jari tengah nya pada David. Sebelum membalik kan tubuh nya.
Sial.
David Miyaki malu sekali. Beberapa orang yang menonton pertunjukan pagi terkekeh pelan.
Ini bukanlah pemandangan pertama kalinya. Sudah sering seperti ini. Seorang David Miyaki, tuan muda dari Pemilik Media Masa terbesar di Jepang menjadi seorang playboy cap kadal. Meskipun begitu masih banyak gadis yang terjerat dalam ke tampanan nya dan prestasi David dalam dunia modeling.
Berharap David bisa berubah saat menjalin hubungan dengan mereka para gadis polos yang penuh harap.
"Gila! Untung hanya jari tengah yang di perlihatkan padamu kawan!" Goda Willem sembari memangku pundak David.
"Brengsek! Kau!" kesal David.
"Kau lebih brengsek kawan!" balas Willem.
Kontan saja David tertawa pelan. Delta mendekati David dan Willem.
"Dia sudah kau apain?" tanya Delta dengan nada rendah.
David menghentikan tawanya."Baru di ajak kencan satu malam. Belum sempat ngapa-ngapain!" balas David dengan nada yang sama.
Kelima nya tertawa keras. Tidak ada yang tau apa yang membuat kelompok itu tertawa. Mata Adella menatap aneh ke arah kelima nya.
"Mereka geng beken nomor satu di sini. Yang tadi adalah David. Model Jepang, yang terkenal sebagai playboy. Si putih dengan senyum manis itu adalah Willem anak pemilik properti dan sekaligus pemilik Rumah Kecantikan ternama. Yang dua itu si kembar Yamato, yang berkulit eksotis itu bernama Vian anak pertama Yamato. Yang putih itu Sean adiknya Vian. Ke duanya adalah Pemilik Perusahaan terbesar nomor satu di Jepang. Bahkan menguasai daratan Asia Tenggara. Dan yang terakhir, di perempuan imut itu. Namanya adalah Delta Amanda baru menjejaki dunia modeling. Lucunya, dia bukan anak kolomerat ataupun anak yang berprestasi. Dia menjadi hebat karena bergabung dengan ke empat pria gagah itu," jelas Nika menjabarkan semua nya pada teman barunya ini.
Adella hanya mengangguk pelan. Sebelum melanjutkan langkahnya. Nika mendesah pelan, sebelum menyusul Adella.
"Kenapa kau meninggalkanku!" Kesal Nika.
"Kelas Seni akan di mulai sebentar lagi!"
"Hei! Kau tak tertarik. Padahal jika anak perempuan lain pasti akan berkata 'terus, lagi dan lagi'. Karena saking inginnya mendengar tentang Line 97 itu!"
Adella terkekeh."Aku ke sini bukan untuk hal yang begini."
"Hah, aku tak percaya!" Goda Nika.