The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 17 (Milik siapa?)



Nika melirik Adella di samping nya yang terlihat serius memperhatikan penjelasan guru Matematika mereka di depan sana. Sesekali ia menuliskan apa yang tercantum di atas papan tulis dengan teliti. Sesekali mengerut kan dahinya. Gadis cantik ini terus menerus menatap teman satu bangku nya ini. Yang tengah populer di bicarakan oleh orang-orang.


"Kau tak ingin belajar, huh?" tegur Adella tanpa menoleh menatap Nika.


Nika menelengkan kepalanya mengulas senyum lucu.


"Kau ada hubungan apa dengan Sean, Hem?"


Gerakan bolpoin di tangan Adella berhenti mendadak. Atensi nya beralih pada wajah cantik gadis Jepang satu ini.


"Memangnya ada hubungan apa aku dengan Sean?" bukanya menjawab Adella malah balik melempar pertanyaan pada Nika.


Nika Yamada mengerang rendah sebelum mencabik.


"Ayolah kawan. Kau tau sangat jelas apa maksud dari pertanyaan ku!"


"Aku tidak paham," tukas Adella.


Nika cemberut. Adella malah tersenyum tipis melirik dari ekor matanya teman satu bangku nya ini cemberut. Terlihat sangat lucu di matanya. Jika di kelas Adella tengah di teror oleh teman satu bangku nya. Beda lagi dengan Sean Yamato. Pria remaja satu itu malah tersenyum seperti orang gila. Guru yang menerangkan tentang atom di depan sana terabaikan. David tersenyum miring, membuka kamera ponsel mahalnya. Merekam setiap gerak gerik Sean yang sudah seperti orang tak waras.


Garis senyum yang selalu tinggi. Jari jemari panjang besar milik putra Mafia ini malah mengapit pensil. Bukan bolpoin yang harusnya beradu dengan buku tulis. Mencatat setiap nama atom yang keluar dari bibir pria di depan sana. Willem dan Delta terlihat fokus, ke duanya duduk cukup jauh dari David dan Sean. Yang memilih bangku paling belakang. Untuk Vian Yamato, pria itu seperti nya mendapatkan kepentingan lain. Tidak ikut pelajaran Kimia di jam yang sama.


Manik mata hijau bening milik tuan muda Miyaki ini di turunkan perlahan-lahan. Menatap bentuk sketsa yang telah terbentuk hampir sempurna. David ingin sekali menggoda Sean, sahabatnya satu ini. Namun mengingat guru di depan sana. Pria gagah itu tak berani membuat gaduh kelas.


Sean tersenyum lebar setelah merasa puas dengan gambar yang ia buat. Dari ekor matanya Sean menangkap basah David diam-diam menatap gambar miliknya. Kepala yang awalnya menunduk di angkat perlahan. Sean menoleh ke samping. David tersentak, mengulas senyum yang di paksakan.


"Apa yang kau tatap?" Tegur Sean dengan tangan bekerja menutup buku gambar miliknya.


David mendengus kecil.


"Cuma lihat saja, pelit!" jawab David kesal.


Sean menatap tajam David. Membuat David merasa ngeri dengan pandangan putra Mafia satu ini.


"Ti--tidak, maafkan aku. Aku tidak akan mencuri lihat lagi milik mu," cicit David mendapatkan pandangan membunuh dari Sean.


Sean Yamato adalah pria posesif. Masih melekat di ingatan David, saat ia tak senagaja memprovokasi Sean. Dengan merebut perhatian Dera, Ibu pria satu ini. Pada besok paginya, ia di kerjai oleh Sean. Pria berkulit albino ini membuat ia berenang dengan Buaya Amazon. Gila! Jujur saja, itu adalah kenangan yang sangat mengerikan. Banyakan di usia sembilan tahun, seorang Sean Yamato sudah dapat menunjuk jiwa posesif nya.


Jika saat kecil dulu Sean menghukum nya dengan berenang dengan Buaya Amazon. Maka sekarang, Sean akan bertingkah seperti apa? Untuk menunjukkan kepemilikan nya?


Sudahlah. David Miyaki terlalu takut dengan kegilaan Sean. Lebih baik mencari aman saja, dari pada dirinya dalam bahaya.


***


Diam-diam tiga orang remaja melenguh frustasi. Ayolah, mereka duduk di atap sekolah saat ini untuk menikmati makan siang mereka. Bukan untuk menjadi obat nyamuk dari dua remaja yang terlihat romantis. Sean berkali-kali meletakkan mulai lauk pauk sampai sayuran ke atas mangkok Adella. Meski gadis bermata bulat itu menolak. Bukan Sean Yamato namanya, jika menyerah begitu saja.


Vian menguyah pelan makanan di mulutnya. Pria satu ini cenderung acuh.


"Apakah begini rasanya menatap drama picisan tepat di depan mata," sindir Delta pelan.


Sean mencabik."Diamlah. Dan makan saja makanan mu, Delta!"


Delta berdecak kesal. Willem dan David terkekeh pelan melihat raut wajah merenggut Delta.


"Kasihanilah Delta, ia tak punya teman yang di ajak romantis-romatissan, Sean!" goda Willem yang di hadiahi tawa keras oleh David.


Delta mencabik."Kau seperti punya saja!" kesal Delta.


Willem menarik sebelah garis senyum nya. Meletakan sumpit yang ada di tangan kanannya.


"Aku memang tidak ada yang punya. Karena aku cuma milik, Mika seorang!" ujarnya bangga.


Bug!


Bug!


"Sakit tau!" Protes Willem mengusap punggung belakang nya dengan susah payah.


"Salah sendiri!" jawab Delta.


"Mika mah adik mu, bukan pacarmu!" kesal David.


"Lah siapa yang bilang Mika pacarku!" tukas Willem sebal.


"Katanya kau punya Mika," cerocos Delta.


Kepala Willem mangganguk cepat."Ya, itu fakta kan. Aku punya Mika, adikku. Lagipula Sean dan Adella belum pacaran dan tidak punya status pacaran!" bela Willem pada dirinya.


Khuk!


Khuk!


Kontan saja Adella tersedak. Sean panik, pria remaja itu bergegas menyodorkan segelas air putih ke tangan Adella. Gadis berpipi chubby itu menerimanya dengan cepat. Meneguk isi gelas hingga tandas. Punggung belakang nya di tepuk-tepuk pelan. Air wajah khawatir terlihat jelas.


"A--aku, tidak apa-apa kok!" ujar Adella tergagap.


Sean mendesah lega. Ke dua mata Adella terlihat memerah. Vian meletakan sumpit nya di atas mangkok. Pria remaja berkulit eksotis itu telah menghabiskan makanan nya.


"Sampai kapan kalian akan berdebat dan membuat gaduh. Habiskan makanan kalian bertiga. Dan kau Sean! Cepat makan, jangan buat Adella tak nyaman!" tegur Vian dengan suara berat dalam milik nya. Memperingatkan orang-orang di atas meja.


Sontak saja ke empat nya melakukan apa yang di perintahkan oleh Vian. Oke, biar di perjelas. Sean memang menakutkan jika marah. Akan tetap, Vian Yamato lebih berbahaya saat marah. Pria irit bicara itu berkali-kali lipat lebih menakutkan dari pada Sean.


Adella tersenyum tipis melihat kepatuhan Sean dan yang lainnya. Pada akhirnya gadis cantik ini akan makan dengan aman dan nyaman. Tanpa di recoki oleh Sean.


***


Peluh menetes dengan derasnya. Rambut hitam legam di Cepol tinggi ke atas. Pedang kayu di tangannya di genggaman erat. Hiro tersenyum melihat istri mungilnya.


"Menyerahlah sayang," ujar Hiro.


Dera mengeleng cepat. Hembusan napasnya memburu. Ibu empat anak terlihat semakin tangguh saja. Meskipun umur telah bertambah Dera terlihat semakin mempesona dengan tubuh langsing dan mungil. Bertahun-tahun tinggal di Jepang membuat kulit sawo matang nya berubah menjadi putih. Meski tidak terlalu putih.


"Tidak. Aku tidak mau menyerah!" tukas Dera penuh tekat.


Yeko dan Clara yang berada di bangku penonton hanya mampu mengeleng kecil, melihat kelakuanku suami-istri di depan sana. Si kembar di bangku penonton terlihat tersenyum lucu.


"Mama kalahkan Papa!" teriak Launa dengan keras.


"Tidak. Papa harus kalah kan Mama!" bantah Laura tak kalah kerasnya.


Cherry hanya mendesah kecil melihat nona muda Yamato itu. Cherry duduk bersandar di bahu sang Ibu.


"Siap. Mama akan kalah kan Papa!"


"Papa akan kalahkan Mama!"


Seruan serentak dari ke duanya membuat ke dua putri mereka heboh.


"Sampai kapan mereka akan berhenti berlatih Bunda?" tanya Cherry sebelum menenggadahkan kepalanya.


Clara tersenyum lembut."Seperti biasanya. Bos Hiro akan menang." Ujar Clara mengusap punggung sang putri.


"Ya tentu saja, ia ingin bermanja-manja dengan Dera kalau menang!" bisik Yeko pelan di daun telinga Clara.


Kontan saja Clara dan Yeko terkikik geli.