The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 103 (Kesalahan remaja)



Vian mengusap kasar wajah tampannya. Pikiran pintar nya terasa kacau. Mobil sedan hitam yang di bawa oleh bawahan sang ayah melaju dengan kecepatan stabil. Di samping tubuh nya, Sean terlihat lebih banyak diam. Ingin sekali tangan Vian menghantam kerasnya rahang sang adik. Sayang nya, ia masih mencoba untuk tetap menjaga kewarasan diri. Hingga tidak melayangkan bogem mentah pada wajah tampan kembaran nya ini. Mobil berhenti sesaat, kala sampai di kediaman Yakuza. Terlihat di luar sana penjaga mulai bergegas membuka pintu gerbang. Mobil kembali melaju dengan kecepatan stabil. Berhenti di depan pintu masuk rumah.


"Turun, Sean. Mama dan papa menunggumu di dalam rumah," ujar Vian dengan nada deep Voice seksi miliknya.


Pintu mobil terbuka di kedua sisi. Vian turun terlebih dahulu, melangkah cepat menuju arah lain. Pria remaja ini memilih area bermain untuk menjadi tempat pelampiasan. Sedangkan Sean turun dari mobil melangkah menuju rumah besar.


Yeko membungkuk hormat kala Sean sampai di pintu besar.


"Bos menunggu tuan muda di ruangan kerja," ucap Yeko memberi tahukan jika Hiro lebih dulu menunggu.


Sean tidak menjawab. Pria remaja itu hanya berwajah datar. Melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana rumah terasa sangat jauh berbeda. Tidak ada sambutan hangat dari Dera. Atau sekedar suara keributan yang di perbuat oleh si kembar bersama Lea.


Seakan tau apa yang terjadi. Vera, Leo dan si kembar berada di gedung lain. Sean masih melangkah dengan lebar. Beberapa maid membungkuk hormat pada Sean.


Tok!


Tok!


Dua ketukan terdengar jelas. Hingga suara Hiro menyeru untuk meminta sang pengetuk pintu untuk masuk terdengar. Telapak tangan besar Sean memutar engsel pintu.


KLIK!


Kreat!


Hiro berdiri membelakangi Sean. Pintu di tutup perlahan, Sean melangkah semakin masuk ke dalam ruangan. Hingga menyisakan dua langkah lebar antara ia dan sang ayah.


"Pa!" panggil Sean dengan nada berat.


Hiro tidak membalikkan tubuhnya tak bergeming.


"Pa!" panggil Sean untuk ke dua kalinya.


Hiro membalikkan tubuhnya. Menatap lambat sang putra. Raut wajah lelah dengan manik mata meredup terlihat jelas. Bos besar Yakuza ini sudah mendengar garis besar masalah Sean dari bawahan nya. Hembusan napas perlahan mengalun.


Hiro mengikis jarak antara ia dan sang putra. Hingga tubuh kekar Sean masuk ke dalam pelukan Hiro. Tepukan pelan di berikan di punggung lebar Sean. Apapun yang terjadi, sebagai seorang ayah dari Sean. Tentunya Hiro berpihak pada sang putra. Sesalah apapun Sean Yamato baik Vian Yamato. Hiro akan tetap membela dan berada di samping putra-putranya. Egois memang, namun inilah jiwa orang tua. Mereka cenderung membela dan berada di sisi anak mereka. Melindungi anak-anak dari luka, meskipun anak orang lain terluka di tangan anak-anak mereka.


"Tidak apa-apa. Papa mengerti, anak di usiamu memang selalu melakukan kesalahan. Apapun terjadi papa akan terus melindungi mu dari luka." Ucap Hiro di sela tepukan ringan nya.


Mata Sean menyendu. Kesalahan tetaplah kesalahan. Tidak ada yang bisa menjadi kan hal salah, menjadi benar. Begitupun sebaliknya, Sean bahkan terlalu malu untuk mengatakan kata maaf.


"Papa!"


"Ya."


"Aku terlalu jahat dan bodoh. Dia tidak akan pernah mau memaafkan aku bukan?"


"Dia akan memaafkanmu, apapun yang terjadi Sean!"


"Aku merenggut apa yang ia miliki. Dan tidak mempercayai apa yang ia sangkal!"


Hiro melepaskan pelukannya dari Sean. Menepuk pelan ke dua sisi bahu lebar Sean.


"Sean dengarkan papa!" ucap Hiro,"tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Kau terlalu remaja untuk mengerti getir dan manisnya kehidupan Sean. Mungkin kau dan Adella bukanlah pasangan yang cocok. Lepaskan dia jika terlalu sakit untuk tetap di jalankan. Biarkan dia dengan jalannya. Dan tidak bisakah kau anggap dia sebagai kesalahan kecil dalam hidupmu?" lanjut Hiro dengan nada tegas.


"Aku..."


"Jangan terlalu lemah Sean. Kau pemimpin Yakuza di masa depan. Jika kesalahan dan cinta menjadi duri dalam hidupmu. Lebih baik lepaskan dari pada mempertahankan dan mengejar rasa yang menyiksa Sean. Mungkin ini jalan Tuhan untuk kau dan Adella. Berikan dia waktu, dewasakan diri kalian masing-masing. Kelak jika kau memang di takdir kan dengan nya. Maka kalian akan bersama. Sekarang fokuslah dengan rencana awal kita. Besok kau akan langsung ke Selandia Baru," potong Hiro tegas,"tidak ada bantahan. Di sini papa akan mengontrol situasi. Dan menemukan jalan baru untuk mu dan dia. Jika kau merasa perasaan bersalah tunggal kan dia!" lanjut Hiro cepat kala melihat Sean akan membatah.


Sedangkan di gedung lain. Vian tampak bersandar di dinding gedung barat. Meskipun ia sudah mencoba mengalihkan pemikirannya pada hal lain. Entah kenapa ia masih merasa kacau.


"Sial! Brengsek!" Makinya sembari membalikkan tubuhnya. Menghadap ke arah dinding.


Bug!


Bug!


Bug!


Tiga kali tangan yang di kepal menghajar dinding menyalurkan emosi yang terpendam. Ia mengerang kesal sekali lagi sebelum menghela napas letih.


"Hah! Masih tetap sama," seruan di belakang tubuh membuat Vian membalikkan tubuhnya.


Derap langkah kaki terdengar. Jarak di antara mereka terkikis, anak perempuan cantik itu berdiri di depan tubuh Vian.


"Jika kesal selalu saja melampiaskan nya pada hal beginian. Lihatlah tangan Abang jadi terluka!" Ujarnya dengan tangan meraih tangan kanan Vian.


Manik mata indah itu tampak mengiba melihat tangan Vian. Ia meniupnya perlahan. Sama seperti dulu, saat Vian Yamato frustasi diam-diam. Gadis kecil imut dan polos itu akan meniup pelan tangan Vian. Seperti saat ini.


"Kenapa setiap aku meninju dinding. Selalu ada kau, Hem?" tanya Vian penasaran.


Bibir merah merekah itu di poutkan seperti bibir bebek. Sebelum mendengus kesal. Anak kecil yang selalu di ganggu oleh David berubah menjadi gadis remaja yang cantik. Gadis yang di nilai menjadi keturunan burung beo itu tersenyum lugu. Masih tetap sama.


"Abang pilih waktu nya selalu pada saat ada aku. Bilang saja Abang senang di tiup lukanya oleh Cleo yang cantik dan imut punyanya Oppa-Oppa Korea ini!" ucap Cleo.


"Bukankah itu aneh?" tanya sendiri,"siapa tau kalian jodoh!" lanjut nya dengan wajah polos.


"Mana bisa! Abangku tidak boleh sama kak Cleo. Karena kak Cleo itu terlalu lemah untuk Abangku!" bantah Laura cepat.


"Hei! Siapa juga yang mau jadikan Abang kalian sebagai kekasih," tukas Cleo cepat. Cleo dengan cepat menurunkan tangan Vian dari genggaman nya.


Mendelik kesal pada Lea dan Laura yang masih menatap nya dengan pandangan awas.


"Memangnya Abangmu ini tidak tampan?" bukan merasa terganggu Vian malah menggoda anak dari Clara dan Yeko ini.


Cleo mengeleng."Meskipun Abang Vian mirip Taehyung Oppa tetap saja. Abang buka tipeku!" balas Cleo mencibir melangkah pergi dari gedung.


Kini tinggallah Lea, Vian dan Laura di sana. Vian mengeleng kecil, sebelum menatap ngeri Lea. Ia harus jauh-jauh dari Lea. Anak ini akan membuat nya kesusahan.


...***...


Perempuan memakai hoodie hitam membalut tubuh. Celana jins putih di perlengkapan dengan masker hitam. Menarik cepat tangan gadis imut itu. Hampir saja Delta memekik keras kala di tarik masuk ke dalam gang di lingkungan rumahnya. Gerakan cepat, mulut Delta di bekap.


"Jangan berteriak. Ini aku, Adella!" bisiknya lambat.


Ke dua mata Delta membulat sempurna. Sebelum mengangguk cepat. Adella melepaskan tangannya dari mulut Delta. Gadis imut itu menatap Adella dengan pandangan tak percaya.


"Hei! Adella. Apa yang terjadi?" tanya nya kala ingin menarik kebawah masker di wajah Adella.


Gerakan Adella memang gesit. Gadis itu menangkap tangan Delta.


"Tidak apa-apa," jawab Adella. Sebelum menurunkan tangan Delta dan melepas kannya.


"Apanya yang tidak apa-apa. Di bawah matamu memar Adella!" tukas Delta dengan nada melengking.


Adella menunduk. Semakin menarik masker ke atas.


"Itu tidak penting saat ini," ujar Adella,"aku punya permintaan. Ah, tidak. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," lanjut Adella.


Sebelah alis mata Delta menungkik.


"Tolong berikan aku pinjaman uang. Aku butuh uang untuk kabur dari Jepang. Dan aku titip Sean dan Vian padamu. Aku tau kau mencintai Vian. Tolong jaga Vian, pelan-pelan raih hatinya. Meskipun Vian terlihat dingin, ia dalam pria paling hangat yang aku temui. Jaga juga Sean untukku, tolong temukan wanita yang hebat dan cocok untuk Sean." Ujar Adella dengan tangan dingin meraih tangan Delta.


Gadis itu bingung."Hei! Ada apa dengan mu?" tanya Delta kebingungan.


"Nanti kamu pasti akan paham. Saat ini aku tidak punya banyak waktu. Waktu yang aku miliki terbatas Delta."


"Apa ada yang berbuat jahat padamu?"


"Ya."


"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus hubungi Sean!" bantah Delta. Sebelum tangannya merogoh saku celana nya.


"Tidak!" Adella mencegah tangan Delta meraih ponsel.


"Kau mau menyelamatkan nyawaku?" tanya Adella dengan nada bergetar.


Kepala Delta mengangguk."Ya."


"Jika aku tetap di Jepang. Tidak akan ada yang baik. Tolong bantu aku, Delta!" pinta Adella pelan,"aku mohon. Anggap saja ini sebagai kompensasi atas racun yang kau berikan padaku dulu!" lanjut Adella.


"Kau...kau!!!" Delta tergagap tubuh nya bergetar ketakutan.


Adella menghela napas pelan."Ya aku tau kau yang memberikan nya Delta. Karena terakhir kali aku mengonsumsi makan luar adalah bersama mu. Dan aku tidak mempermasalahkan nya. Mungkin ada kesalahpahaman antara kau dan aku. Tapi satu yang aku tau. Kau adalah gadis baik Delta. Karena itu tolong. Sekali ini bantu aku. Aku ingin menghilang. Aku tidak ingin di sisi Sean maupun di sisi orang gila itu!" jelas Adella.


Delta linglung. Kepalanya mengangguk pelan. Sebelum permintaan maaf mengalun.


...***...


"Selandia Baru?" teriak Dera tak percaya,"kakak gila!" makinya.


Untuk pertama kalinya Dera meninggikan nada pada sang suami. Bayangkan, putranya akan terbang besok siang ke Selandia Baru. Ia baru di beritahu sekarang. Bahkan ia sendiri tidak tau apa yang terjadi antara Sean dan Adella.


Hiro mengulas senyum. Memeluk tubuh Dera. Mengecup pelan dahi Dera.


"Sayang. Hubungan Adella dan Sean cukup buruk. Mereka bertengkar hebat. Dan Sean merasa frustasi. Ada baiknya kita pisahkan mereka sementara waktu. Dan biarkan mereka sama-sama mendewasakan diri. Lagipula Sean dan Adella masih memiliki banyak waktu untuk pendidikan mereka sayang!" bohong Hiro.


Dera mengerutkan pangkal hidungnya. Dahinya ikut berlipat. Bukankah ini terasa aneh? Karena Sean yang ngebet ini nikah dengan Adella. Yang cinta setengah mati juga Sean. Lalu bagaimana bisa Sean setuju?


"Apa ada yang kakak sembunyi kan?" tanya Dera dengan nada penuh selidik.


Hiro mendesah."Tidak sayang. Adella juga setuju untuk melanjutkan pendidikan nya di Paris," balas Hiro sebisa mungkin untuk tidak membuat Dera curiga.


"Hah!" Dera menghela napas letih,"kalau begitu aku sudah bisa merasa tenang!" ucap Dera.


Hiro mengangguk pelan. Memeluk erat tubuh Dera. Ia tau suatu saat nanti Dera akan marah besar dengan dirinya dan Sean. Tak apa, asalkan Sean putranya bahagia. Dan keluarga nya bahagia. Tak masalah bukan mengorbankan Adella.