The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 91 (Anakku tidak aneh)



Vian menatap lambat gadis yang memakan bekal yang ia bawa. Pipinya tampak menggembung dengan makanan. Tangan Vian bergerak menarik tisu yang ada di atas meja. Menyerahkan nya pada gadis yang terlihat antara lapar atau kelaparan yang tidak makan dua Minggu.


"Lap! Kau makan terlihat seperti orang tidak pernah makan saja." Ujar Vian kala mendapatkan tatapan seolah bertanya dari Ara.


Gadis itu meraih tisu, mengusap pelan ujung bibirnya. Sebelum mengunyah makanan yang terasa sangat nikmat di lidah. Ara merasa hidup kembali saat memakan makan masakan ibu pria remaja di depannya. Sampai tanpa sadar, air mata meleleh di sela matanya.


Vian tertegun, melihat Ara menangis kala menyuapi lagi makanan ke dalam mulut.


"Hei! Aku hanya becanda. Kenapa kau malah menangis?" ucap Vian dengan nada bersalah.


Sontak saja kepala Ara mengeleng kecil. Sebelum telapak tangannya mengusap kasar ke dua pipinya yang basah. Menelan cepat makan di dalam mulut setelah di kunyah.


"Ah, maafkan aku!" Balas Ara. Gadis itu meletakan sumpit di atas kotak bekal."Makanannya terlalu enak, sampai aku mengingat almarhumah ibuku," jawab Ara. Sebelum menarik segaris senyum.


Vian tidak tau harus bereaksi seperti apa. Pria Yamato ini terlalu kikuk, sangat jarang memiliki ekspresi yang jelas. Tidak seperti Sean, yang memiliki banyak eskpresi.


"Tidak masalah," jawabnya dengan nada aneh.


Vian bukan pria yang mudah memberikan bujukan. Seperti saat ini, terlalu kaku. Ara kembali tersenyum sebelum menyumpit kembali makan, masuk ke dalam mulutnya. Vian hanya menjadi penonton setia. Pria itu memilih kabur dari rumah. Setelah ia menjadi anak buah Lea dan Laura. Sean sempat mengamuk karena Jumbo perutnya gembung begitu saja. Karena ulah Lea, entah apa yang membuat perut Buaya tua itu bengkak. Vian sendiri tidak tau. Karena saat sampai di kolam, Buaya tua itu sudah terlihat tidak lagi sehat.


Dari pada menjadi kambing hitam oleh Lea. Vian memilih keluar rumah. Dengan dalih jika ia ingin mengunjungi Ara. Dera yang tau Vian ingin menjenguk Ara. Ibu empat anak itu meminta Vian membawakan bekal untuk Ara. Dera beberapa kali bertemu dengan Ara saat di Rumah Sakit saat merawat Adella. Itupun, di kenalkan oleh Vian.


Vian kembali bergerak memberikan botol air saat makan yang dia bawa telah tandas tanpa sisa. Ara menerima nya dengan gumaman kecil. Mengatakan kata terimakasih.


Vian hanya mengangguk kecil.


"Bagaimana perkembangan papamu?"


Ara menghela napas."Tidak ada perubahan signifikan."


"Tidak mau di bawa keluar negeri saja?"


"Mau di bawa kemana coba?" ujar Ara lemah,"papa menderita mati otak. Sebenarnya, aku tidak tau harus bagaimana. Di satu sisi para Dokter sudah menyarankan untuk melepaskan bantuan pernapasan. Karena merasa sangat kecil kemungkinan sadar. Di sisi lain, aku tidak ingin kehilangan papaku. Sama seperti aku kehilangan ibuku," lanjut Ara. Kepalanya menoleh ke arah ranjang.


Hanya alat detak jantung yang terdengar mengisi ke kosongan yang ada. Hanya selang oksigen menjadi bantuan untuk sang ayah. Di sokong juga dengan cairan infus. Satu tahun, ayah nya tercinta seperti itu. Meskipun pedih, Ara terus bertahan dan bertahan.


Vian ikut menoleh. Ya, pria remaja ini tau dengan pasti. Sangat sulit untuk menyerah atas orang yang kita cintai.


"Beliau pasti akan secepatnya bangun. Karena tau, ada kau yang menunggu nya di sini," ucap Vian begitu saja.


Ara menoleh kembali pada Vian. Ia menarik ke dua ujung sudut bibir nya. Kata-kata yang Vian keluarkan sangat menenangkan.


"Ya, aku berharap begitu." Ujar Ara sembari mengangguk.


Sean terlihat mengusap ingus yang mengalir karena menangis. Buaya tercinta terkapar lemah di dalam ruangan khusus. Dera menghela napas melihat keanehan sang putra. Tunggu! Dera meralat pemikiran nya. Bukan hanya sang putra saja, di samping sang putra dengan keadaan yang sama. Hiro berdiri menatap cermin tebal transparans. Ke duanya seperti seorang pria yang tengah menangis dan takut kehilangan kekasih. Rumah besar sempat gembar dengan apa yang terjadi. Saat di temukan Jumbo mengapung dengan perut yang membesar. Untuk berpikir hamil itu adalah hal mustahil bukan? Karena Jumbo berjenis kelamin pria. Dan juga, Buaya bukan nya beranak tapi bertelur.


Ayah dan anak yang aneh. Itu lah yang paling tepat. Derap langkah kaki mendekati ke tiganya terdengar jelas. Leo tersenyum kecil pada Dera. Saat sang kakak ipar menoleh ke arahnya.


"Aku terkadang merasa Buaya tua itu adalah anak gadis Abang Hiro dan Sean," bisik Leo kala berada di samping Dera.


Dera terkekeh kecil mendengar pernyataan sang adik ipar. Kontan saja Hiro dan Sean menoleh menatap Leo dengan pandangan bengis. Beda ke dua anak dan ayah itu, maka beda lagi dengan Leo. Pria itu hanya mampu tersenyum lima jari. Leo Yamato, tidak terlalu suka dengan si duo tua-tua keladi. Karena pernah di samakan dengan ke duanya. Namun bukan berarti Leo tidak punya rasa iba pada Buaya kesayangan kakak dan keponakan nya itu.


"Kenapa malah tersenyum. Kau senang kan dengan keadaan Jumbo!" tuding Hiro sedikit kekanak-kanakan di mata Dera dan Leo.


"Benar. Paman pasti punya dendam besar sama Jumbo. Sampai-sampai Lea membuat Jumbo yang imut sengsara!" kini giliran Sean yang ikut menuduh Leo.


Leo mengangkat ke dua tangannya. Pertanda menyerah, Dera tidak bisa untuk tidak terhibur dengan apa yang kini tengah terjadi.


"Jangan salah paham. Sebenci-bencinya aku dengan Jumbo. Tidak mungkin aku melakukan hal aneh. Apa lagi meminta Lea," tukas Leo,"asal kalian tau saja. Lea itu memiliki sifat agak——gila. Dia memiliki jiwa membunuh yang besar. Terlebih padahal yang di anggap mengenaskan. Vera saja sering gerpekik dan kesal saat melihat peliharaan yang ia beli selalu mati," lanjut Leo menejelaskan kelainan pada putri sulungnya.


Dera terbelalak mendengar penjelasan Leo. Jujur saja, Lea terlihat sangat normal di luar. Tersenyum dan terlihat sangat ceria tanpa gejala aneh. Namun siapa sangka jika Lea memiliki kelainan.


Hiro dan Sean saling adu tatap. Beberapa detik sebelum kembali mengalihkan pandangan mereka pada Leo.


"Hah!" desah Hiro pelan,"keturunan Yamato tidak ada yang beras," keluh Hiro.


"Enak saja!" Dera menyela,"siapa bilang anak-anak ku tidak beras. Anak-anak kita normal semua kak. Meski ada keanehan soal binatang. Tapi, anak-anak kita normal. Enak saja ngomong begitu," lanjut Dera protes.


Hiro tercekat. Ia lupa jika ada istri tercinta di antara mereka. Ia tersenyum di paksakan.


"Ah, maksud ku. Keturunan Leo saja kok sayang!" Tukas Hiro sebelum menarik Dera masuk ke dalam pelukannya.


Leo mencibir."Kakak ipar tidak tau saja. Anak kakak ipar itu tidak ada yang normal tau nggak...hhppz!" Leo tak mampu meneruskan perkataanya kala tangan besar Sean membekap mulut sang paman.


Dera menatap curiga pada Sean. Anak remaja itu tersenyum aneh. Sebelum menyeret Leo keluar dari ruangan khusus. Hingga menuju pintu keluar. Dahi Dera berlipat dalam. Kepalanya menengadah menatap sang suami.


"Apakah anak kita aneh kak?" tanya Dera dengan wajah tak percaya. Menolak apa yang ada di otaknya saat ini.


Hiro gemas. Pingin cubit ke dua pipi Dera. Kalau perlu Hiro mau bawa Dera ke tempat dimana tidak ada yang mengganggu mereka. Dimana hanya ada mereka berdua saja. Kalau saja tidak ingat jika Laura dan Launa masih kecil. Mungkin, Hiro akan langsung menyerahkan semuanya pada Sean dan Vian.


"Tidak. Anak kita tidak aneh kok," jawab Hiro dengan nada lembut.


Senyum terbit di wajah Dera. Ya, wanita ini menolak jika anak-anak nya aneh. Yang ada di mata Dera adalah, anak-anak nya itu normal. Tidak ada yang aneh.