
Dera menatap laju turunnya salju dari dalam kamar. Samar-samar, ia kembali mengingat peristiwa itu. Dimana saat hari kepulangan Vian ke rumah besar.Ia tidak menyangka jika sudah cukup lama waktu berlalu. Hingga ibu empat orang anak ini merasa baru kemarin peristiwa itu terjadi.
"Apa yang kau lamunkan di sini?" tanya Hiro, entah datang dari mana mengusap pelan ke dua sisi pundak sang istri.
Dera tersentak dari lamunan nya. Wanita ini menengadah menatap wajah tampan sang suami. Sebelum tersenyum lembut. Tak lupa Dera menyandar kan punggung belakang nya di dada bidang Hiro. Pria Yamato ini memeluknya dengan perlahan.
"Sudah berapa lama semua nya berlalu. Aku masih merasa seperti mimpi," ujar Dera pelan.
Hiro mengangguk pelan. Waktu memang cepat berlalu, hingga tidak terasa sudah sembilan belas tahun berlalu. Hidup memang penuh dengan lika-liku. Dulu, wanita dalam pelukan nya ini sangat lemah. Melihat darah saja, ia langsung kehilangan kesadaran. Banyak yang berkata, seorang Dera Sandya tidak pantas menjadi nyonya Yakuza. Mengingat wanita ini begitu lemah dan penakut.
Bukan hanya itu saja, orang-orang juga berkata jika ia dan Dera tak seimbang jika bersama. Bukan hanya karena wanita ini tidak memiliki kehebatan dalam bertarung. Namun juga karena wajahnya yang tidak cantik. Dengan wajah kusam dan kulit sawo matang. Orang-orang benar, menganggap hal itu sebagai hal yang buruk. Lucunya, itu semua hanya pendapat sementara. Bukankah orang-orang dengan mudahnya menilai apapun yang mereka lihat. Seolah-olah, orang yang mendengar tidak memiliki hati untuk terluka.
Setiap orang memiliki fase perubahan tersendiri. Belum tentu dia yang terlihat jelek akan selalu jelek selama nya. Dia yang terlihat lemah akan terinjak-injak selama-lamanya. Hiro tetap pada pendiriannya, ia mencintai Dera dan akan merubah Dera menjadi lebih baik lagi. Agar yang menghina tau, kalau batu permata itu butuh di asah dan di poles.
"Aku sering kali menyesal saat ingat tentang itu," ujar Hiro pelan.
Dera menengadah menatap wajah tampan Hiro.
"Tidak ada yang perlu di sesali berlebihan. Karena apa yang telah terjadi tidak bisa di rubah Kak!"
"Ya, kau benar." Hiro mengangguk.
"Aku dengar, Leo akan kembali ke Jepang dari Mama mertua," ujar Dera sebelum menurunkan pandangan nya.
"Ya, katanya begitu. Mama ingin Leo dan Vera bisa hidup lebih baik dari pada di Belanda. Jika mau, Leo bisa mengelola kantor. Aku ingin mengurus satu saja. Agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan mu dan anak-anak kita," ujar Hiro penuh harap. Pria ini ingin melepaskan perusahaan untuk Leo terlebih dahulu. Mengingat sang adik juga pria yang hebat dalam mengurus perusahaan.
Vian masih terlalu muda untuk terjun di Perusahaan. Meskipun Vian akan melanjutkan kedudukan nya sebagai pewaris perusahaan. Masih butuh waktu lima tahun kurang lebih untuk Vian bisa mengelola perusahaan.
Vian masih harus banyak belajar lagi.
"Aku senang jika rumah besar ini semakin ramai."
"Ya, makin ramai makin seru. Perhatikan setan kecil itu akan terpecah kan," ujar Hiro sebelum terkekeh.
Dera menepuk pelan dada bidang Hiro. Sang suami masih saja memikirkan tingkah Laura pada mereka.
"Kenapa mikir ke sana sih," degus Dera pelan.
Hiro menarik pinggang sang istri. Menundukkan kepalanya, menjatuhkan nya di bahu kanan Dera.
"Kau tau putri bungsu mu itu sangat menyebalkan," bisik Hiro pelan dan dalam.
"Dia juga putrimu, Kak!" peringat Dera.
Hiro tersenyum lebar. Putri bungsu yang menggemaskan, menyebalkan dan ingin sekali Hiro kunci setiap malam pintu kamar nya. Sungguh! Pria ini sangat ingin melakukan hal itu. Seperti saat ini.
Brak!
"Mama! Papa!" Teriak Laura di ambang pintu dengan meloncat-loncat kegirangan.
Baru saja di bicarakan si setan kecil sudah ada di depan mereka. Dera terkekeh melihat wajah kesal Hiro.
"Api!!!" Teriakan panik dari wanita cantik itu membuat seisi rumah heboh.
Para pembantu sampai satpam berhamburan masuk memadamkan kobaran api yang menjalar di dapur mewah keluar kecil Winata itu.
Crass!!!!
Para pembantu berserta satpam menghela napas lega melihat api di padamkan oleh tuan mereka. Benda merah berukuran sedang itu di letakan kembali di lantai. Sakura mengigit pelan bibir bawahnya melihat Bian menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"Tuan!" Ujar mereka serentak kecuali sang nyonya muda.
Wanita cantik yang hampir membuat rumah besar Bian hangus terbakar. Anak lelaki berusia tujuh tahun melangkah mendekati orang-orang masih terlihat mengantuk. Ia mengucek-ngucek ke dua kelopak matanya. Mendekati sang ayah.
"Hampir kebakaran lagi?" Tanyanya dengan nada serak.
Bian menoleh ke arah sang jagoan.
"Semuanya bubar!" titah Bian yang langsung di patuhi oleh mereka.
Kini hanya tinggal tuan dan nyonya Winata berserta tuan kecil Winata.
"Mama-mama, ini sudah hampir ke seribu tiga belas kali Mama hampir membuat rumah terbakar!" keluh nya dengan nada lucu.
Sakura hanya terkekeh kecil."Mama hanya ingin memasak teh saja!" jawabnya dengan tampang tidak bersalah.
Bian menghembuskan napas letih. Sakura benar-benar tidak pernah bersahabat dengan yang namanya api. Benar-benar membuat ia merasa pening seketika.
"Sudahlah!" ujar Bian yang tak pernah ingin memperpanjang masalah. Pria ini mengendong sang putra. Sebelum menoleh menatap sang istri yang menunduk dalam.
"Maaf," sesal Sakura.
Bian mengulas senyum tipis.
"Tidak apa-apa, lain kali biarkan si Mbok yang memasak apapun yang kamu mau. Dan yang penting kamu baik-baik saja!" Ujar Bian dengan nada lembut. Sembari mengusap pelan pipi chubby Sakura.
Brandon mengeleng pelan kepalanya melihat sang ibu. Kadang-kadang anak lelaki ini merasa kesal dengan sang ibu yang tidak bisa apa-apa. Dan sekaligus merasa kasihan melihat wajah sedih sang ibu.
Sakura mengangkat wajahnya. Menatap wajah bersahaja sang suami. Pria yang begitu lembut dan tulus. Sungguh, Sakura merasa bahagia karena mendapat pria Indonesia ini. Ia penuh dengan kelembutan dan kepedulian. Meski berkali-kali membuat masalah dan kesalahan. Bian Winata tidak pernah membentak ataupun memukul nya. Bian benar-benar pria yang penyabar.
"Mama!" panggil Brandon dengan nada lucu. Melihat Sakura menunduk dalam, membuat Brandon merasa kasihan.
Sakura tersenyum kala wajah nya di angkat. Ia melangkah dan memeluk tubuh sang suami. Hingga sang putra.
"Maaf, karena merepotkan dan membuat pangeran kecil dan suami tampanku khawatir!" ujar Sakura dengan nada lirih.
Bian memeluk Sakura dengan sebelah tangannya yang bebas.
"Kau kan memang begitu. Kalau tidak merepotkan bukan Sakura namanya!" goda Bian.
Kontan saja senyum lebar terbit di wajah Sakura. Inilah yang di sukai oleh Sakura dengan Bian Winata. Pria ini selalu tau cara membuat moodnya yang buruk langsung baik seketika. Dan Sakura merasa bahagia bisa hidup bersama Bian Winata dan Brandon Winata. Meskipun perang mulut dengan Keyra Winata tidak bisa di hindari. Mengingat adik iparnya itu benar-benar mengesalkan.