
Decitan tapak sepatu beradu dengan lantai gedung Rumah Sakit terdengar nyaring. Beberapa perawat yang melintasi lorong gedung penghubung ruang perawatan dengan gedung UGD menatap takjub pesona pria remaja yang melewati mereka. Bahkan beberapa orang yang sekedar menjenguk, bahkan keluarga penunggu pasien yang berada di lorong tak luput dari ketakjuban. Dua pria berseragam SMA dengan visual yang sempurna.
Punggung belakang ke duanya basah. Banyak gadis iri pada bulir peluh yang menempel dan bergulir jatuh di dahi ke duanya membuat kembar tapi beda itu tampak semakin hot dan seksi dalam satu balutan.
"Ruangan itu!" Ujar Vian cukup nyaring menunjuk nomor rawat Adella yang berada tiga ruang jaraknya dari mereka.
113 adalah ruangan rawat gadis dengan senyum manis itu. Dera memberitahu kan keadaan dan dimana Adella berada. Sean dan Vian lalang kabut saat tau Adella di temukan di toilet sekolah, dengan keadaan yang nyaring membuat ke duanya gila.
Brak!
Pintu kamar rawat di buka kasar. Sontak saja orang-orang yang berada di dalam ruangan mengalihkan pandangan mereka ke arah ke dua remaja pria yang kini melangkah lebar.
"Abang Vian dan Abang Sean pasti bolos dari sekolah," tebak Laura dengan mata menatap ke dua kakaknya.
"Begitulah mereka," timpal Launa. Sebelum kembali meletakan beberapa buahan yang ada di ranjang ke kulkas.
"Adella!"
Seruan serentak dari ke duanya membuat Adella terkekeh kecil. Keadaan nya terasa lebih baik, saat ia mendapat pasokan infus. Meski wajahnya masih terlihat pucat dengan bibir kering.
"Hei! Ada apa dengan raut wajah kalian. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja!" tegur Adella tak lupa ia memasang senyum ceria. Gadis remaja itu tengah duduk bersandar pada dasbor ranjang.
Sean dan Vian kembali serentak menghela napas penuh rasa syukur. Sean mendudukkan bodi belakang nya di pinggir ranjang. Sedangkan Vian, menarik kursi singel terbuat dari besi ringan. Duduk di samping ranjang. Setidaknya, Vian ingat posisi nya.
"Lihat lah kalian bahkan berkeringat banyak!" lanjut Adella lagi. Sebelum tangan dingin itu bergerak menyentuh dahi Sean. Mengusap pelan keringat pemuda yang memiliki tempat khusus di hatinya.
Sean menahan tangan Adella. Mengecup tangan dingin Adella dengan ringan.
"Apanya yang tidak apa-apa, tangan mu bahkan sangat dingin!" Tukas Sean mengusap pelan punggung tangan Adella yang ia tahan.
Vian menatap lambat wajah Adella. Hatinya perih, manik mata yang selalu terlihat tajam tak terlihat untuk hari ini.
"Aku tidak apa-apa, sungguh!" ujar Adella dengan nada ceria.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja Adella," tegur Vian membenarkan perkataan saudara kembarnya.
Kepala Sean mengangguk cepat."Apa ada sesuatu yang mungkin tidak kami ketahui?" tanya Sean menatap Adella dengan pandangan penuh selidik.
Adella menarik tangan yang di genggaman Sean. Sebelum kembali terkekeh kecil.
"Aku tidak bohong. Aku baik-baik saja saat ini. Mungkin karena efek keletihan pulang dari Paris kemarin," ujar Adella,"mungkin," ujarnya lagi. Seakan meyakinkan dirinya sendiri jika ia baik-baik saja.
Sean menghela napas frustasi. Sedangkan Vian menatap dalam Adella. Tidak, gadis ini tidak baik-baik saja. Terlihat jelas dari cara ia memandang Sean. Pandangan nya kosong, Vian merasa ada yang janggal. Belum sempat Vian membuka mulutnya untuk bertanya. Suara sang ibu di ambang pintu masuk yang masih terbuka. Membuat ia mengurungkan niat untuk bertanya.
"Oh, kalian berdua sudah berada di sini." Ujar Dera di ambang pintu. Nyonya Yamato itu masuk dengan tangan kiri menutup pintu sedangkan tangan kanan ada hasil laboratorium dari pemeriksaan Adella.
Wanita yang terlihat imut di usia yang tak lagi muda itu habis dari ruangan Dokter. Rumah Sakit Jepang sangat cepat dalam soal periksa pasien. Bahkan melakukan cek darah di laboratorium.
"Ma!" panggil Sean dengan nada manja khas miliknya.
Dera hanya tersenyum melangkah mendekati ke dua putranya. Sedangkan putri-putri cantik nya yang di perintahkan mengisi buah-buahan di dalam lemari pendingin kini telah duduk nyaman di atas sofa.
"Bagaimana dengan hasil tes darah Adella, Ma?" tanya Vian menatap apa yang Dera bawa.
Dera mengangkat amplop besar berisi hasil cek darah Adella. Memberikan nya ada Vian.
"Tidak terlihat kejanggalan ataupun masalah yang signifikan Vian. Dokter bilang, mungkin Adella harus cek keseluruhan untuk tau lebih lanjut apa yang membuat Adella mimisan dan batuk darah," jelas Dera lembut.
Pupil mata Sean melebar mendengar perkataan Dera. Sedangkan Vian, pria tertegun. Manik mata elang nya di layangkan menatap wajah Adella. Gadis itu kembali tersenyum, aneh.
...***...
Kreat!
Ella yang tengah membaca buku di atas ranjang mengangkat pandangan nya. Matanya indah miliknya terbelalak.
"Alex!" serunya dengan nada pelan dan wajah yang tidak percaya.
"Nona!" ujar Alex sebelum melangkah cepat mendekati sang nona muda.
"Kenapa kau menyusup kesini?" tanya Ella panik.
"Karena nona kemarin tidak menemui saya. Saya khawatir nona muda kenapa-kenapa. Karena itu saya ke sini," ujarnya.
Bola mata Ella berotasi kesal. Sebelum melangkah mendekati bawahan sang ayah.
"Sudah aku bilang jangan datang jika aku tidak meminta," kesal Ella dengan wajah menakutkan.
Dagunya di angkat tinggi.
"Maaf nona, keselamatan nona muda sangat penting untuk saya dan tuan besar. Jika nona kenapa-kenapa, maka tuan besar akan mengamuk."
Ella mendengus. Ayahnya memang menyebalkan sama seperti ibunya. Yang satu terlalu overprotektif dan satu menyebalkan karena menelantarkan nya. Tidak memberikan ia kasih sayang.
"Sudah sana keluar. Kau sudah melihat aku baik-baik saja bukan!" usir Ella sebelum berbalik.
Jleb!
"Akh...Alex!" Ella terpekik kecil kala jarum suntik di tusuk ke lehernya. Pandangan nya mengabur. Sebelum kehilangan keseimbangan Alex menangkap tubuh Ella.
"Maaf nona muda, sudah waktunya kembali ke Istanamu. Sebelum nona muda berulah," monolog Alex menghela napas pendek.
...***...
Dera menuangkan sabun cair dengan aroma terapi ke bathup setelah mengisi air panas dan mencampur nya dengan air dingin. Derap langkah kaki terdengar memasuki kamar mandi pribadi nya.
"Sudah selesai?" tanya Hiro yang masuk.
Kepala Dera mengangguk kecil. Istri besar Bos Yakuza itu melangkah mendekati sang suami. Membantu Hiro membuka handuk kimono yang melekat di tubuh nya. Hiro tersenyum dan melangkah masuk ke dalam bathup yang telah berisi air dan sabun dengan celana hawai pendek.
"Bagaimana keadaan Adella?" tanya Hiro di sela pejamanya.
Dera mengusap punggung belakang Hiro. Sebelum memberikan pijitan kecil di bahu sang suami.
"Sudah lebih baik. Hanya saja, Dokter belum menemukan apa penyakit pasti Adella saat ini. Mungkin besok akan di lakukan medical check up untuk melihat penyakit jelas dari Adella, kak." Jelas Dera di sela kegiatan nya.
"Bagaimana dengan Sean dan Vian?"
"Tentu saja mereka khawatir. Terlebih Sean."
"Vian bagaimana?"
"Vian?" Dera memberi jeda seraya berpikir,"entahlah. Di lihat ia mungkin terlalu tidak khawatir. Kakak tau sendiri bagaimana Vian. Anak kita satu itu memang sangat sulit memperlihatkan emosi nya," lanjut Dera.
"Ah! Ya, kamu benar sayang." Hiro menghela nafas.