The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 59 (Ingatan Yang pulih)



Adella mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru. Kabut putih tebal membentang, menghalangi penglihatan nya. Tubuh Adella berputar beberapa kali. Bahkan ke dua matanya memicing, memperjelas pandangan. Daun telinga nya bergerak pelan, saat ada nada yang mengalun di arah jam dua belas. Kaki jenjang Adella melangkah mendekati arah suara.


"Apa ini?" Monolong nya di sela langkah kaki yang di ayunkan.


Kabut putih tebal itu menghilangkan bak di sapu angin dengan kekuatan penuh.


"Selamat ulang tahun!" seruan pertama yang menyapa gendang telinga nya.


Dahi Adella berlipat dalam. Kala netra indahnya menatap dua sosok anak berusia sembilan tahun. Anak lelaki itu menyodorkan kue kecil dengan satu lilin tanpa angka. Adella melangkah mendekat.


"Ayo, tiup lilinnya jangan lupa harapanmu!" lanjut anak lelaki itu dengan nada lembut.


Kepala yang sempat di tunduk di angkat perlahan. Hembusan angin membuat bekas luka terlihat samar.


"Apakah tuhan akan mengabulkan nya?" tanyakan dengan nada lirih.


"Ya, kali ini pasti." Jawab anak lelaki itu mengangguk yakin.


"Aku berharap aku bisa bebas dari tempat ini secepatnya!" ujarnya sebelum menghembuskan lilin yang menyala.


"Bukan begitu cara meminta Adella. Doa keinginan itu harus nya di dalam hati!" koreksi anak lelaki itu dengan kekehan pelan.


"Ah, aku tidak tau Vian. Ini pertama kalinya aku dan kamu bisa merayakan ulangtahun ku!" ujarnya dengan nada sendu.


Anak lelaki itu menatap pedih. Langkah kaki Adella terpukul mundur. Tempat yang ia pijaki tiba-tiba berubah. Bak film dokumenter. Bergerak cepat, satu persatu terlihat jelas. Dari pelatihan, penyelamatan Vian, rumah besar Yakuza Sampai ia berada di Indonesia.


"Ah!" Ke dua kelopak mata Adella terbuka dan hembusan napasnya memburu. Lelehan air mata di pipinya telah banjir. Bahkan Adella tidak tau jika ia kehilangan kesadaran.


Cahaya di luar sana telah meredup. Apartemen kecil yang Ia tinggali terlihat gelap gulita. Adella bangkit dari posisi tergolek di lantai tepat di samping sofa. Ia duduk bersandar di pinggiran sofa. Tangannya menggenggam kalung merpati. Di jari manis, cincin melingkar apik.


"Sa....kit...sekali, hiks...hiks!" Adella menangis sejadi-jadinya.


Gadis ini tidak mampu membendung rasa yang meledak. Kenangan masa lalu membuat dirinya benar-benar dalam kegelapan, sungguh menyakitkan. Kematian ibunya, pembullyan hingga tindak pemerkosaan.


Tangisan Adella mampu mengoyak hati. Kekosongan, ketidak bahagiaan hingga——ah. Biarkanlah ia tanggung rasa itu sendiri. Tiga jam gadis ini berada dalam tangisan. Hingga menatap kosong lantai.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiga ketuk kan di luar pintu apartemen membuat Adella menghentikan tangisnya.


"Nona Adella! Apa nona ada di dalam?" Seruan keras di luar terdengar jelas setelah tiga ketukan.


Adella berdiri dari posisi duduknya. Melangkah dengan tangan mengusap cepat ke dua sisi pipi nya yang basah.


"Ya, tunggu!" Jawab Adella serak kala sampai di depan pintu.


Klik!


Pintu apartemen terbuka. Memperlihatkan Adella dengan wajah samar. Mengingat gadis remaja ini tidak menyalakan lampu.


"Nona baik-baik saja?" tanyanya,"kenapa lampu nya tidak di hidupkan?" lanjut nya.


"Hem!" Adella berdehem. Mencoba membasahi kerongkongannya."Aku tertidur sampai tidak tau kalau sudah sangat malam," jawab Adella.


Kepala Ino mengangguk-angguk pertanda mengerti.


"Tuan muda Sean mengirimkan pesan padaku. Katanya nona tidak mengangkat telepon maupun membalas pesannya. Tuan muda khawatir. Kalau bisa nona Adella, segera membalas pesan ataupun menelepon kembali tuan muda Sean," kata Ino dengan nada tak enak hati.


"Ya. Aku akan menelpon nya kembali," balas Adella.


"Baiklah kalau begitu. Saya undur diri nona!" Ujar Ino membungkuk dan melangkah pergi.


Hembusan napas berat terdengar samar. Adella menutup kembali pintu apartemen. Sebelum merosot ke lantai. Entah takdir baik atau takdir buruk. Adella masuk ke dalam lingkungan Yakuza. Kembali bertemu dengan teman masa kecil nya. Dan bertemu Sean, sebagai cinta pertama nya.


***


"Hei! Berhenti lah mengaduk-aduk makanan mu, Sean!" tegur Willem.


"CK! CK? Ck! Baru dua hari, masih belum lama. Sudah kayak orang gila." Decak Delta tidak lupa mengeleng pelan kepalanya melihat tingkah sahabatnya.


"Kau belum merasa saja," tukas Sean dengan nada tak bersahabat.


"Itulah kenapa kita tidak boleh setia pada satu wanita kawan!" David berseru dengan senyum penuh kenangan.


Vian berdecak kesal, lantaran Sean menyadarkan kepala nya pada pahu kekarnya.


"Tidak ada hubungannya dengan setia!" protes Delta.


"Ya, benar. Apa hubungannya!" Willem menyetujui perkataan Delta.


"Kawan! Kalian tidak tau. Saat kita hanya menjalani hubungan dengan satu pasangan. Kita akan merasa sepi dan tak bersemangat untuk melakukan aktivitas. Kalau kata Atuk Dalang di dalam film Upin dan Ipin 'makan tak kenyang dan mandi pun gak basah' bukan kah itu berbahaya?" papar David tidak lupa ia menurunkan logat khas Atuk Dalang.


Delta terkekeh mendengar logat David. Bule campuran satu ini benar-benar lucu. Willem ikut tersenyum konyol. Sean semakin berdecak sebal.


"Kepalamu berat, Sean!" Seru Vian menggoyangkan bahu kirinya. Sean mengganggu acara makannya.


"Aku harus bersandar pada siapa, kalau bukan pada Abang Vian?" ujarnya mencoba mendramatisir keadaan.


"Habiskan makananmu!" Vian malas memperpanjang kata pada sang adik.


"Aku tidak lapar bang!" jawabnya lesu.


Vian berdecak sebal."Kalau tidak habiskan makanan nya. Aku akan adukan pada Mama. Kalau kau membuang-buang makanan!" ancam Vian,"dan menjauh dari bahuku!" lanjut nya.


Kontan saja Delta, Willem dan David tertawa keras lihat Sean Yamato langsung menuruti perkataan Vian. Kepalanya langsung di angkat, tangan kanan nya mengangkat sumpit dan jangan lupakan wajah kesalnya. Baru kali ini mereka melihat Vian mengancam Sean. Ternyata selain Dera, Vian adalah orang ke dua yang membuat Sean ciut.


"Abang tukang ancam!" cibir Sean. Sebelum menyuapi makanan ke dalam mulutnya.


Diam-diam Vian tersenyum tipis. Kembarannya ini memiliki sisi takut yang jarang di perlihatkan. Kini Vian baru mengerti artinya kedudukan seorang kakak. Seperti Launa dan Laura, saat Launa memelihatkan sisi ketegasannya, Laura yang bar-bar langsung ciut.


"Papa Hiro tidak menakutkan di mata Sean. Papa Hiro harus tau jika Sean takut nya sama Vian!" Ujar David penuh semangat.


David meringis kala pandangan tajam Sean layang kan padanya.


***


Hiro memijit pangkal hidung nya yang berdenyut. Laporan di tangannya di letakan kasar di atas meja kerja. Kursi kebesaran nya di putar, hingga pria ini menghadap gedung pencakar langit tepat di seberang gedung nya.


"Aku ingin honeymoon bulan besok!" ujarnya letih pria ini berharap jika Leo cepat kembali ke Jepang. Agar ia secepatnya bisa liburan berdua dengan Dera.


Tok!


Tok!


Dua ketukan di luar pintu ruangan kerjanya terdengar. Sebelum pria itu masuk ke dalam ruangan. Hiro kembali memutarkan kursi ke arah pintu masuk.


"Bos!" Panggil Yeko saat meletakan beberapa dokumen di atas meja.


"Huf!" Hiro mendesah,"kapan dokumen ini akan menghilang." Keluhnya memijit kembali pangkal hidung nya yang berdenyut.


Yeko dengan tampang dingin nya ingin tertawa melihat raut wajah frustasi sang Bos. Belum lagi, wajah frustasi Hiro menghadapi setan betina kecilnya di rumah. Laura Yamato masih merajuk perihal kencan Hiro dan Dera. Yang tidak mengikut sertakan diri nya.


"Yeko!" panggil Hiro dengan nada berat.


"Ya, Bos!"


"Laura, apakah masih merajuk?" tanya Hiro pelan.


"Masih Bos!"


"Yeko! Kabarkan Leo untuk pulang cepat. Dan pesankan tiket keluar negeri untuk anak-anak juga," titah Hiro.


Kening Yeko berlipat tak mengerti.


"Biar Laura maupun Sean tidak merajuk lagi," lanjut Hiro kala melihat wajah tak mengerti Yeko.


Pria itu mengangguk pelan pertanda mengerti.