
Adu pandang Sean dan Vian tak terelakkan, daun telinga ke duanya bergerak kecil. Sebelum kaki panjang ke dua pria remaja ini berlari. Mengejar Serigala yang telah di bebaskan.
"Sebelah sana!" Teriak Sean menunjuk arah jam dua.
Tubuh Vian berbalik arah. Inilah kesulitan Vian Yamato. Pria ini kurang tangkas dalam pertarungan langsung seperti saat ini.
Jleb!
Cras!
Bruk!
Pedang Katana di ayunkan. Hingga tubuh Serigala yang hampir saja menerkam Vian di tusuk dan terkapar. Darah mengalir dengan deras saat Sean menarik Katana nya.
"Terimakasih bantuan nya, brother!" ujar Vian tak lupa ia memperlihatkan senyum kotak khas miliknya.
Sean membalas dengan senyum miring."Jangan lengah, Bang. Level pertarungan kali dua kali lebih gila dari yang sebelumnya," peringat Sean.
Vian mengangguk pelan. Erangan terdengar samar-samar. Penciuman Serigala sangat lah tajam. Kematian kaum nya, membuat mereka menggila. Dari berbagai arah mereka keluar dengan begitu gagahnya.
"Berapa ratus, kali ini jumlah?" tanya Vian bola mata mengedar menatap binatang berbulu yang datang satu persatu.
"Seribu. Kali ini kita akan cukup kewalahan. Pegang erat Katanamu, meskipun kali ini ke dua tangan kita akan terasa kebas," ujar Sean.
Vian mendesah pelan. Hiro benar-benar menyebalkan. Vian berani bertaruh, latihan menyusahkan kali ini pasti di gunakan oleh sang ayah untuk berduaan dengan sang ibu. Mengingat, Hiro sangat sensitif jika di ganggu.
"Mari kita bereskan!" Ujar Vian sembari mengambil ancang-ancang. Ia mulai memperkuat ke dua kuda-kuda kakinya.
Tak lupa ke duanya mengambil posisi punggung yang saling membelakangi. Melindungi satu sama lain dari serangan. Gemuruh pedang dan erangan keras mengalun di hutan khusus milik Yakuza. Beberapa puluhan sampai ratusan tubuh Serigala mulai bergelimpangan di tanah.
Yeko memonitori area pertarungan. Jika di tanya kemana larinya tuan muda Yamato. Sudah pastinya, pria itu melakukan apa yang Vian pikirkan.
***
Genggaman tangan Hiro pada telapak tangan Dera membawa garis senyum yang tak pernah luntur dari wajah tampan Bos Yakuza ini. Musim dingin, merupakan musim yang sangat di tunggu banyak orang. Keluar di malam hari. Sekedar berjalan-jalan, memakan ramen khas negara Sakura ini.
"Kita mau makan apa?" tanya Hiro menoleh ke arah Dera.
"Makan apa ya?" Balas Dera. Wanita imut ini mengedarkan pandangan matanya ke segala arah.
Kedai kecil dari terpal terlihat tersusun rapi menggoda diri untuk singah.Belum lagi aroma dari masakan yang merayu Indra penciuman untuk datang dan mengecap rasa makanan. Dera menolak saat Hiro mengajaknya untuk ke restoran mewah. Wanita ini lebih memilih berkencan di tempat-tempat umum. Yang biasa di datangi oleh orang-orang biasa. Karena akan terasa luar biasa.
"Bagaimana dengan Oden?" ujar Dera kala matanya menatap tenda Oden.
Hiro mengangguk pelan. Ke duanya melangkah mendekati Oden. Oden, jenis makanan yang banyak di jumpai di Jepang saat musim dingin. Oden terdiri dari Yaitu; seperti sosis, bola ikan, gurita, cumi, tofu, rumput laut, dan makanan laut lainnya yang biasa disajikan dengan kuah kaldu ikan. Makanan hangat, murah, enak, pastinya cocok dengan musim dingin.
"Pesan Odennya dua porsi!" Seru Hiro kala sampai di depan si penjual.
"Baik tuan, Silahkan menunggu di sana!" Ujar si penjual menuju meja kosong di sudut tenda.
Dera merasa lapar seketika kala aroma kaldu ikan berhembus ke arahnya. Hiro menarik Dera duduk di kursi terbuat dari plastik. Hiro duduk di samping Dera. Tak lupa ia menggosok kan ke dua telapak tangan sang istri.
Ke duanya memilih pergi tanpa pengawalan. Meski di beberapa tempat, tetap saja di tempatkan anggota Yakuza. Hiro Yamato tidak ingin ambil resiko.
"Apakah Launa dan Laura tidak akan marah saat kita pulang nanti?" tanya Dera menatap lambat wajah sang suami.
Hiro mengangkat pandangan nya. Tersenyum lembut pada Dera. Kepalanya menggeleng pelan, meski hatinya tidak yakin dengan jawaban yang akan ia keluarkan.
Dera menghela napas pendek. Beberapa orang terlihat mengisi tempat yang semula kosong. Dera dapat melihat betapa bahagianya mereka yang hidup dalam kesederhanaan, saat matanya tak sengaja menatap satu keluarga. Canda tawa terdengar samar dari keluarga kecil tepat di samping mejanya. Ada tiga orang anak, dua diantara nya adalah perempuan satu lelaki. Dan ke dua orang tua mereka.
Samar-samar dapat Dera dengar pembicaraan ke lima orang itu. Gadis remaja itu bertengkar kecil dengan adik lelaki nya. Ibu dari sang anak remaja menegur sang anak lelaki dengan lembut.
Hati Dera terenyuh. Meskipun semua nya sudah menjadi masalalu. Meskipun kata ikhlas mencoba memagari diri. Tak bisa Dera munafik rasa rindu dan sakit pada diri nya. Kala ingat dengan ke dua orang tuanya dan adik lelaki nya.
"De!" Seru Hiro menggoyang tangan Dera di genggaman nya.
Dera tersentak dari lamunan. Tak lupa ia mengulas senyum lembut pada sang suami.
"Makannya sudah datang, ayo makan!" Ujar Hiro mengusap pelan punggung tangan Dera.
Wanita ini baru sadar, jika dua mangkuk besar Oden sudah terhidang di depan matanya.
"Ya," jawabnya.
Hiro melepaskan tangan Dera dari genggaman tangannya. Manik matanya menatap sekilas pada meja di samping mereka. Helaan nalaan pelan terdengar. Hiro tau Dera merindukan keluarga nya. Meskipun merasa bersalah, Hiro tidak mampu melakukan apapun. Kecuali mencoba membuat Dera bahagia dengan caranya.
***
Adella melangkah pelan menuju dapur apartemen kecil yang ia tempati selama seminggu di Paris. Beberapa kali ia menguap kecil, salahkan Sean Yamato. Pria remaja itu tak henti-hentinya mengeluh kesal karena Hiro Yamato. Mengingat perbedaan jam antara Jepang dan Paris. Adella tidak menegur Sean, untuk memperingatkan jika ia butuh tidur.
Ting Tong!
Bel pintu terdengar nyaring. Baru saja Adella ingin menuangkan bungkusan kopi instan ke dalam cup. Gadis remaja ini menghentikan pergerakan nya. Melangkah lebar mendekati pintu apartemen.
Klik!
"Selamat pagi, nona!" ujar pria berseragam pos dengan bahasa Paris.
"Ya, pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Adella dengan bahasa Paris yang jelas dan lugas.
"Paket dari Indonesia. Ini benar dengan nona Adella Putri?"
"Ya, saya sendiri!" Jawab Adella.
Pria dengan seragam pos itu mulai merogoh tas besar yang ia bawa. Sebelum menyodorkan paket ke arah Adella.
"Tolong tanda tangan di sini." Ujar pria itu menunjukan kertas tanda serah terima.
Adella mengangguk pelan kala menerima paket yang di atasnya ada kertas. Dengan telaten Adella menandatangani kertas tanda serah terima.
"Terimakasih," ujar sang pria kala menerima surat serah terima.
Adella hanya mengembangkan senyum. Sebelum masuk ke dalam kembali. Ia melangkah mendekati sofa. Duduk di sofa mini di dalam ruangan. Tangan nya dengan cepat merogoh paket dari ayah angkatnya.
Adella mengulas senyum kala membuka kotak berisi beberapa foto. Dimana ada banyak anak kecil yang Adella sangat hafal dengan wajah mereka. Anak-anak yang di obati dan di tolong oleh ayah angkatnya.
Dahi Adella berlipat kala tangan nya menyentuh cincin dan kalung berbentuk merpati.
"Kalung dan cincin siapa ini?" tanyanya dengan kerutan halus.
Adella mengangkat Cincin cantik, memasukan ke jari manisnya. Pas! Satu kata yang ia dapatkan.
"Eugh!" Tiba-tiba Adella merintih kala kepalanya terasa sakit. Ke dua telinga nya berdengung. Membuat penglihatan nya buram.