The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 60 (Pesona Sean Yamato)



Hiro kembali memijet pangkal hidung nya. Ada beberapa dinasti luar negeri yang ingin di kunjungi. Beda orang beda tempat yang ingin di kunjungi. Begitu lah yang terjadi di ruangan tengah rumah Yakuza saat ini. Bahkan, sang istri juga ikut serta membuat Hiro pening dalam satu waktu.


"Tidak kita harus nya berlibur ke Thailand. Di sana banyak tempat wisata, apalagi katanya kalau hantu Thailand itu lucu!" oceh Laura dengan semangat empat lima.


"Tidak! Tidak. Kita harus ke Arab. Kapan lagi naik Onta," bantah Launa tidak mau kalah.


"Tidak anak-anak, kita harus main ke Korea. Mama mau ketemu Lee Min Ho atau tidak ke konser EXO," itu suara Dera. Ibu empat anak ini sangat ingin berlibur ke Korea. Mengingat ia adalah pencinta drama Korea. Jika ada Sari dan Carlos di sini saat ini. Sudah pasti mereka berdua akan mendukung Dera. Sesama pencinta drama Korea.


Sean mengeleng kan kepalanya."Tidak. Kita harus ke Paris," tukas Sean tidak mau kalah.


"Kita ke Indonesia. Aku mau main ke Padang. Kau mau ke Paris karena Adella bukan?" ujar Vian yang tau isi otak Sean. Pria remaja ini sangat ingin bermain ke kampung halaman sang ibu.


"Nggak, kok!" bantah Sean dengan nada melengking.


Dera, Laura dan Launa. Ketiga nya hanya mengeleng pelan. Sebelum kelayakan pandangan mata pada Hiro. Begitu pula dengan Vian dan Sean. Mereka meminta Hiro Yamato memihak mereka.


"Papa!"


"Kak!"


Dua seruan meminta pembelaan. Jangan lupakan ada empat anak dan satu istri. Hiro bangkit dari posisi duduk nya. Wajah nya tampak lesu.


"Rundingkan saja apa yang kalian mau. Jangan bawa-bawa aku," kata Hiro. Sebelum melongos pergi meninggalkan ruang tengah.


Gemuruh ketidak relaan dari keluarga kecil itu terdengar. Hiro meninggalkan ke lima orang di ruang tengah.


"Bos!" seruan di anak tangga membuat kaki yang sempat menampaki satu undak tangga terhenti.


Hiro menarik kembali kakinya. Turun dari anak tangga, membalik kan tubuh nya menatap sang tangan kanan.


"Ada apa?"


"Kata Ino ada sedikit masalah di Paris," ujar Yeko dengan nada pelan.


Kedutan halus di dahi Hiro terlihat jelas.


"Masalah berkaitan dengan Adella?"


"Ya, Bos!"


Hero mengembuskan napas kasar. Ia tidak tau apa yang terjadi pada gadis remaja itu.


"Kita bicarakan di ruangan kerja!" Ujar Hiro sebelum membalik arah.


Yeko hanya mengikuti saja sang Bos dari belakang. Samar-samar Yeko dapat mendengar pertengkaran kecil dari orang-orang yang berada di ruangan tengah.


***


Jaket hitam membalut tubuh langsing Ella. Tungkai kaki jenjangnya membelah jalan Osaka Jepang. Masker hitam di wajah hanya mampu menutupi setengah wajahnya. Tidak dapat menutupi dirinya. Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang. Dan bergerak ke kiri dan ke kanan. Wanita ini takut ada yang membututi nya.


Kreat!


Ting!


"Selamat datang!" sapa sang pelayan Cafe saat pintu terbuka dan tertutup kembali.


Ella mendekati sang pelayan.


"Satu kursi di dekat bayangan nyata," ujar Ella dengan kata kunci.


"Arah jam dua ada bayangan yang di cari," jawab sang pelayan wanita itu. Sebelum melangkah menuju meja yang sudah di pesan.


Ella melangkah mengikuti sang pelayan wanita itu. Pelayan cantik itu menarik satu bangku yang berada di pojok. Di belakang kursi ada sekat membayang. Tampak sebuah bayangan yang membelakangi kursi yang kini di duduki oleh Ella.


"Pesanan nya Nona?" tanya sang pelayan.


"Hot Cappucino," balas Ella.


"Baik, mohon ditunggu!" Ujarnya sebelum membungkuk dan melangkah ke meja bartender.


"Apa ada berita baru nona?" seruan di belakang tubuh Ella terdengar kala Ella menyadarkan punggung belakang nya ke kursi.


"Belum. Aku hanya baru bertemu dengan dia. Berita ini jangan katakan pada Daddy. Kondisinya sangat buruk, aku tidak ingin Daddy merasa sedih mengetahui kondisi wanita itu," ujar Ella pelan.


"Apa nona butuh bantuan lebih dari kami?"


"Tidak. Tolong diam saja. Bergerak dalam bayangan. Jangan pernah melihat kan diri kalian jika aku belum memberikan pertanda," kata Ella.


"Apakah Joker tau dengan pergerakan yang kita lakukan nona?"


"Tidak. Dia pria yang bodoh, sangat bodoh. Kita harus memanfaatkan Joker. Buat kondisi ayah Kris memburuk. Kalau bisa buat pria tua itu tidak bisa berbicara. Dengan begitu ia akan sangat dendam pada Yakuza. Setidaknya, sekali dayung dua...tiga pulau terlampaui!"


"Siap, Bos!"


"Selamat menikmati nona," ujarnya pelan.


"Terimakasih," jawab Ella sebelum mengembangkan senyum pada pelayanan wanita cantik itu.


Kepala pelayan itu mengangguk. Sebelum melangkah pergi. Ella menyesap perlahan minuman nya. Sebelum kembali membuka mulut.


"Pergilah dari sini setelah lima belas menit berlalu," ujar Ella memberikan titah.


"Baik, nona!" jawabnya pelan.


Ella mendesah letih. Sebelum tersenyum samar kala ingat nya melintas wajah tampan Sean. Sekarang Ella barus mengerti kenapa Mirabel, sang ibu tergila-gila pada Hiro Yamato. Pesona keturunan Yamato sangat sulit untuk di tolak.


"Josep!" panggil Ella pelen.


"Ya, Bos." jawab Josep cepat.


"Ada gadis bernama Adella Putri. Dia adalah anak pindahan ke Jepang. Sekarang tengah berada di Paris. Aku tidak bisa bergerak bebas di sini. Habisi dia di Paris dan buat seolah-olah dia mengalami kecelakaan. Atau tindakan bunuh diri. Berhati-hatilah melakukan tugas ini, karena ada tiga orang yang mengawali nya di Paris," jelas Ella pelan.


"Saya akan melakukan tugas sebaik mungkin. Jika ketahuan pun, saya akan langsung bunuh diri nona. Jadi nona jangan khawatir," balas Josep.


"Bagus," kata Ella dengan senyum lebar yang terbit. Ia tidak ingin Sean bersama Adella.


Sean Yamato adalah miliknya. Tugas nya adalah menyelamatkan Mirabel. Bagaimana pun, Mirabel adalah ibu kandung nya. Setelah menyelamatkan Mirabel. Ia akan hidup di sisi Yakuza. Ella bersedia memutus hubungan dengan ayahnya. Asalkan ia bisa bersama Sean. Ia akan membunuh gadis manapun yang akan menghalanginya diri mendapatkan Sean.


Sehebat apapun Adella. Ella tidak akan menyerah untuk membunuhnya.


***


Vian mendesah dengan wajah jijik mendengar gombal ala buku yang pernah di baca oleh Sean. Kembaran nya kini tengah melakukan video call via Line. Tak tanggung-tanggung, adiknya itu malah melakukan video call di depannya.


"Kenapa rambut nya di potong sependek itu?" tanya Sean dengan nada lucu.


Dapat di lihat di layar ponsel. Adella terkekeh dan menyentuh rambut yang telah di potong sedikit di atas bahu. Ia terlihat lebih fresh dengan rambut pendek.


"Kenapa?" tanya Adella memberikan jeda,"tidak cantik ya?" lanjut nya.


Kontan saja kepala Sean mengeleng cepat.


"Tidak! Bukan begitu maksud nya. Sayang saja rambut nya di potong!" tukas Sean.


Kembali terdengar kekehan dari seberang sana. Vian masih memasang wajah jijik. Jiwa jomblo nya merasa tersiksa dengan ke romansa Sean dan Adella.


"Yang potong rambut siapa, yang sok sayang siapa," kesal Vian.


Sean memutar kepalanya ke samping. Di mana di sana Vian dengan posisi tiduran tengah bermain game di ponsel nya.


"Lihatlah Adella! Wajah merana Abang Vian!" Kelakar Sean membawa kamera ponselnya pada Vian.


Adella tersenyum melihat Vian. Ah, Sahabat kecilnya. Sudah sangat lama ia dan Vian lost contek. Sejak ingatannya kembali baru kali ini ia melihat wajah Vian dengan jelas. Kapan Vian menoleh dan melambaikan tangan.


"Lama tidak bertemu Vian" ujar Adella membawa alis mata Vian menungkik tajam ke atas.


"Ini baru empat hari Adella," jawab Vian dengan senyum kotak.


Sean menarik ponselnya. Menghadap kan kamera ponsel ke arahnya. Sean tampak manyun, pria ini cemburu.


"Pada Abang Vian saja di bilang lama. Padaku sering di bilang lebai kalau ngomong begitu," protes Sean.


"Kamu kan sangat sering hubungi aku. Sering Video call. Beda sama Vian," bohong Adella.


Sean masih memasang wajah merenggut. Hingga layar ponsel mengelap.


"Kok mati lampu?" tanya Sean kala layar ponselnya gelap.


"Seperti nya begitu. Udah dulu ya Vian aku mau cek dulu!" balas Adella yang tidak terlihat oleh Sean.


"Oke deh! Nanti telepon lagi ya!" ucap Sean.


"Ya," jawab Adella.


Pip!


Video call terputus. Vian melirik Sean sebentar sebelum kembali fokus pada game.


"Kenapa rasanya gak enak ya?" Monolog Sean menyentuh dadanya.


"Apanya?" tanya Vian tanpa memutuskan pandangan matanya dari layar ponsel.


"Entahlah. Rasanya perasaan ku gak enak!" jawab Sean dengan nada ragu.


Pemuda ini tidak tau apa yang membuat ia merasa tak enak hati saat ini.