The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 67 (Kehidupan Yang Berbeda)



Salju tampak lebat di luar jendela. Manik mata hitam bening Adella menatap setiap bulir salju yang terbang dan terjatuh. Bulir bening mengalir deras, tidak ada isak tangis yang mengalun dari bibir pink pucat itu. Ruang kosong terus terbentuk di dalam dadanya. Orang-orang melihat nya adalah sosok yang tangguh. Padahal ia hanya ingin menyembunyikan sosok rapuh dari dirinya. Ia benar-benar, hidup tanpa satupun sosok keluarga.


Diam-diam menatap iri pada Vian dan Sean. Kala mendapatkan kasih sayang dari Dera. Dan mendapatkan perlindungan kuat dari Hiro. Ke dua tangannya memeluk tubuh yang penuh dalam kesendirian. Wajahnya di benamkan ke dalam lipatan paha. Sebelum tubuh nya berguncang keras. Apa salahnya? Hingga harus hidup dalam kesendirian dan kesakitan. Apakah benar ia menang anak pembawa sial, seperti apa yang di katakan oleh orang-orang dahulu.


Flashback on


Rambut panjang menutup pipi sebelah kanannya. Setiap timbunan tidak membawa air mata. Anak perempuan berusia sebelas tahun itu hanya menatap nanar lubang kubur yang terus terisi. Semakin lama semakin banyak tanah yang masuk.


"Itu anak itu ya?" tanya wanita dengan wajah menakutkan.


"Ya, dia anak yang diculik itu katanya," jawab perempuan berkerudung hitam.


"Lihat lah dia tidak menangis melihat keluar terakhir nya di kubur kan. Cih! Apa gunanya kembali ke Indonesia jika dia terlihat menyeramkan begitu."


"Dia itu anak pembawa sial. Baru saja satu tahun sampai di sisi ibunya. Ibunya sudah mati karena penyakit!"


"Sssttt! Nanti dia dengar. Jangan sampai dia dekat-dekat keluarga kita. Melihat matanya saja aku ngeri!"


Adella semakin menunduk dalam. Tidak mampu menangis, bukan berarti ia tidak merasa terluka dan hancur. Terlebih dari siapapun yang tau, Adella lebih menderita.


"Nak! Ayo ikut ke Panti!" Tepukan di bahu menyandarkan Adella.


Kepalanya sedikit menengadah. Menatap pria paruh baya yang tersenyum hangat. Ia bahkan tidak tau jika kuburan sang ibu sudah tertutup. Orang-orang telah tidak lagi di samping nya.


"Ke——kenapa aku harus ikut bapak?" tanya Adella dengan nada lirih.


"Keluarga jauh dari pihak ayah mau pun pihak ibumu tidak ingin merawatmu. Mereka meminta Panti asuhan kami merawat nak Adella!" jawabnya.


Ulu hati Adella berdenyut pedih. Ia mengangguk pelan pada akhirnya. Melangkah menuruti pria paruh baya itu. Satu bulan di tempatkan di panti asuhan. Tidak satupun keluarga mau merawat nya. Mengingat bekas di sisi wajah'nya. Belum lagi beberapa oknum di panti yang tidak menyukainya. Tidak jarang ia tidur di gudang panti. Baik di kerjai oleh teman-teman panti. Sampai beberapa orang dewasa yang jijik melihat nya.


Adella kecil hanya bisa menangis dalam kegelapan malam. Sendiri di dalam gudang. Pada pagi harinya ia harus kembali di kerjai oleh teman-teman sekolah. Bahkan sampai di klaim sebagai murid nakal hanya karena teman-teman nya menyembunyikan buku pekerjaan rumahnya. Atau mengunting baju olah raganya.


Flashback off


Ketukan di luar pintu kamar membuat Adella mengangkat cepat kepalanya. Dengan cepat ia menghapus kasar air mata yang mengalir di ke dua sisi pipi nya. Sebelum berdiri dan melangkah menuju pintu.


***


"Ada apa memanggil ku ke sini?" tanya Ella dengan wajah polos tak berdosa.


Delta menatap lambat wajah Ella. Ke duanya duduk di cafe tak jauh dari gedung sekolah. Gadis imut Indonesia ini meminta untuk berbicara berdua dengan Ella.


"Kau, apakah kau menyukai William?" tanya Delta mencoba mencari tau tentang perasaan gadis di depannya ini.


Tidak mungkin Delta langsung ke inti masalah. Gadis ini tidak ingin, Ella curiga padanya. Apa lagi sampai Vian tau perasaan nya. Ia tidak ingin persahabatan mereka menjadi terasa aneh hanya karena perasaan nya. Apalagi sampai kehilangan hubungan baik dengan Vian. Delta takut ia akan di abaikan saat Vian tau jika ia memiliki hati pada pria satu itu.


"Eh?" Ella menarik sebelah alis matanya ke atas,"kenapa nona Delta beranggapan jika aku memiliki perasaan pada tuan muda Zhao?" lanjut Ella kembali bertanya.


"Lalu kau menyukai Vian?" bukan menjawab Delta malah memberikan pernyataan kembali pada Ella.


Gadis cantik itu terkekeh renyah mendengar pertanyaan Delta. Wanita polos dan naif satu ini benar-benar lucu. Menanyakan perasaannya pada dua orang yang sangat jauh dari pemikiran nya.


Kontan saja Ella mencoba menghentikan suara tawanya. Sebelum memasang wajah sok lugunya.


"Maafkan saya nona Delta," ujarnya pelan,"pertanyaan nona Delta terlalu aneh di pendengaran saya. Saya tidak dalam menyukai siapapun. Apa lagi saya hanya bawahan atau peliharaan tuan muda Zhao," lanjut nya.


Delta memicingkan ke dua matanya menatap curiga Ella. Beberapa lama Delta bertahan dengan tatapan penuh kecurigaan tanpa membalas jawaban Ella.


"Benar kau tidak menyukai Willem ataupun Vian?" ulangnya untuk terakhir kalinya.


"Ya, tentu saja aku tidak mencintai mereka berdua nona," jawab Ella tegas,"karena yang aku sangat cinta adalah Sean. Kau terlalu naif nona. Tidak bisa menebak ke arah mana perasaanku," lanjutan kata yang hanya berada di hati kecil nya. Ella tersenyum selembut mungkin untuk mengecoh Delta.


Kepala Delta mengangguk pelan. Pertanda mengerti. Benar-benar naif.


***


Sean dan Vian saling duduk berhadapan. Di tangan ke duanya ada laporan pergerakan Ella. Membiarkan Ella bebas adalah pilihan yang pas bagi mereka. Dengan jelas, ke duanya dapat melihat kemana saja dan apa saja yang di lakukan oleh Ella di luar sana. Dengan kata lain, menyelam sambil minum air. Vian dan Sean dapat menangkap beberapa orang jika intensitas Ella bertemu dengan orang-orang di luar sana tertangkap.


"Apakah kita bergerak sekarang?" tanya Vian setelah selesai membaca laporan dari mata-mata Yakuza, yang sengaja di letakan untuk mengawasi Ella.


Sean mengangkat pandangan nya. Pangkal hidung nya mengerut dalam. Sebelum menarik pandangan matanya ke arah Vian. Saudara kembar tak indentik nya itu terlihat serius.


"Seperti nya saat ini masih belum. Karena kita belum tau siapa yang berada di belakang nya. Gadis ini masih selicik belut. Bagaimana pun Mirabel ada di tempat yang aman saat ini. Kita harus bergerak lebih hati-hati lagi Abang. Meskipun kita menangkap nya, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Mengingat gadis ini sama saja seperti Mirabel," papar Sean.


Kepala Vian mengangguk-angguk. Ke duanya kembali terdiam. Pintu rumah kaca terbuka perlahan. Dengan gerakan cepat Vian dan Sean menyembunyikan lembaran laporan yang awalnya ada di atas meja.


"Abang!" Seru Laura yang setengah berlari ke arah ke duanya.


Di belakang tubuh Laura ada Dera yang membawa nampan berisi beberapa cemilan sampai buah segar yang di potong. Satu teko jeruk peras tanpa gula. Tak lama, pintu terbuka lagi. Di mana Hiro mengendong Launa di tangan nya.


"Nanti lagi lanjut kan belajarnya," ujar Dera. Sebelum tangannya menuangkan beberapa gelas jeruk peras ke dalam gelas.


Hiro mengambil tempat duduk di samping Vian. Gerakan cepat Vian dan Sean merapikan buku yang berserakan di atas meja. Laura sudah mencomot potongan buah Apel. Launa memilih meraih gelas berisi jeruk peras. Meminumnya dengan perlahan.


"Sayang apel!" Seru Hiro dengan gerakan tangan menunjuk potongan buah apel sebelum membuka lebar mulutnya.


Sean berdecak kesal. Dera terkekeh pelan. Belum sempat Dera memasukan buah Apel ke dalam mulut sang suami. Sean lebih dahulu menyodorkan buah Apel pada mulut Hiro.


Vian, Launa dan Laura tertawa keras melihat wajah masam Hiro. Beda Sean, pemuda itu malah memasang wajah congkaknya. Sebelum berubah imut pada ibunya. Hiro mau tak mau mengunyah buah yang di masukan ke dalam mulutnya oleh Sean.


"Mama!" Ujar Sean dengan mulut terbuka.


Dera terkekeh menyuapi sang putra.


"Wah! Kau benar-benar anak setan Sean. Sudah sebesar ini masih saja suka mengganggu papa dan mama," sewot Hiro dengan wajah kesal.


Sean menelan Apel yang telah ia kunyah dengan cepat."Kalau aku setan. Maka papa raja setan!" ledek Sean.


Kontan saja tawa mengalun di rumah kaca. Bulir salju di luar semakin deras saja.