
Kelopak mata masih berat untuk bisa terbuka. Mengingat baru tiga jam ia terlelap dari tidurnya. Perasaan gelisah menghampiri diri memaksa ia bergegas ke kamar mandi. Yang memang terletak di dalam kamar.
Huk!
Huk!
Huk!
Dadanya terasa panas kerongkongan terasa sangat gatal. Basah, satu kata yang membuat mau tak mau kelopak mata sakura itu terbuka cepat. Matanya terbelalak melihat darah di telapak tangan.
"Darah!" monolognya lirih. Telapak tangan kiri yang bebas dari darah mengusap pelan dadanya terasa sakit.
Adella terdiam lama. Menatap nanar darah yang mengenang di telapak tangannya. Manik mata hitam teduh nya menatap lambat cermin besar di depan tubuh. Raut wajahnya memucat, kala hidung mengalir darah. Gerakan gesit punggung tangan kirinya menyeka darah yang keluar. Wajahnya semakin pucat kala, kerongkongan nya kembali terasa gatal dan panas.
Huk!
Huk!!
Darah segar semakin banyak keluar dari mulutnya. Tubuh nya merosot ke lantai kamar mandi. Hembusan napasnya tak teratur. Sebelum manik mata terselimuti kelopak mata. Merenggut kesadarannya. Racun bekerja delapan jam tanpa gejala. Benar-benar, tak terbaca.
***
Bibir pink tipis itu tak berhenti bergumam tak jelas. Sesekali ia menggigit pelan kuku jari tangan nya. Hingga tepukan di bahu kanannya membuat Delta berhenti.
"Hei, ada apa dengan mu?" Tegur Ella dengan nada pelan.
Gadis imut itu mengajaknya bertemu di pagi-pagi buta. Tepat di samping rumah besar Zhao. Delta membalikkan tubuhnya cepat. Sebelum menatap penuh kegelisahan gadis cantik di depannya ini.
"Aku takut," ujar Delta nyaris mencicit.
Sebelah alis mata Ella menungkik tajam mendengar perkataan Delta. Gadis naif ini benar-benar lucu di mata Ella.
"Apa yang kau takutkan?" ujarnya berpura-pura lupa dengan apa yang sudah ia dan Delta perbuat. Ella menurunkan tangan nya dari bahu Delta.
"Itu," Delta memberi jeda,"bagaimana jika ia mati dan kita ketahuan?" tanyanya cemas. Wajah cantik dengan balutan imut itu tampak memucat.
Ella menghela napas. Membawa uap dingin di udara.
"Delta. Dengarkan aku, racun itu adalah racun yang di ciptakan oleh Vian sendiri. Keunggulan nya adalah merusak dari dalam. Tanpa rasa dan tanpa gejala signifikan, meskipun ada kerusakan terjadi dan terseksi. Racun itu bahkan tidak akan terdeteksi dalam medis. Kau patut bersyukur mendapatkan racun itu diam-diam. Lagipula iniĀ semua demi Vian dan Sean. Gadis itu hanya akan menjadi penghancur hubungan persaudaraan mereka," ujar Ella memberikan masukan dan hasutan pada Delta.
"Tapi..."
"Jangan ragu Delta. Saat kau sudah melangkah, tidak ada jalan untuk mundur. Racun itu tidak akan bekerja cepat. Apa yang kau takutkan. Meskipun ketahuan dia terkena racun. Tidak akan ada yang mencurigai mu," potong Ella cepat,"Vian akan melihat siapa yang benar-benar mencintai nya. Kau sahabat Sean dan akan menjadi kekasih Vian kedepannya." Lanjut Ella menepuk pekan bahu Delta.
Kepala Delta mengangguk patah-patah. Meskipun hati terasa penuh dilema. Kala wajah Vian terlintas di matanya. Bagaimana Vian tersenyum dan hanya menatapnya dengan penuh cinta. Saat itu, Delta menekan rasa takutnya. Cinta, merupakan keegoisan yang membuat manusia mati hati, mati akal dan bodoh.
"Pulanglah. Jangan temui aku lagi, kecuali untuk rencana kedepannya. Jika tidak ingin ketahuan, maka jangan bergerak terlalu jelas!" ujar Ella lagi.
***
Dera tersenyum lebar kala makanan telah terhidang di atas meja makan. Ke dua putri cantik nya sudah tampak semakin cantik dan imut jika sudah memakai seragam sekolah. Manik mata hitam bening itu melirik tangga atas. Sebelum dahinya mengerut dalam.
"Kenapa Ma?" tanya Launa melihat kerutan di dahi sang ibunda tercinta.
"Aneh, biasanya Adella sudah bangun pagi-pagi sekali. Tapi kenapa hari ini sulit di bangun kan ya?" ujar Dera.
"Mungkin karena hari ini kak Adella tidak ada jam pelajaran Ma. Kemarin dia bilang, waktu nya di sini sudah akan habis!" Sahut Cleo sembari meletakan beberapa piring di atas meja membantu Clara.
"Ah, iya." Balas Dera menepuk pelan dahinya. Wanita itu tersenyum."Tapi kenapa Sean dan Vian juga tidak turun ya. Padahal ini sudah jam berapa?" Omel Dera melirik lambat jam yang berada di dinding ruang makan.
Kontan saja Launa dan Laura saling adu pandang. Kakak lelaki nya itu pasti kembali melakukan perburuan gilanya. Jika sudah melakukan hal penuh darah, mereka berdua akan lupa waktu.
Tap!
Tap!
Tap!
Bunyi sepatu pantofel mahal membentur lantai marmer terdengar jelas. Hiro tampak gagah dengan jas kerja dengan warna putih gading. Seperti mempelai pria yang akan melakukan pesta pernikahan. Selalu memberikan kesan, pria singel dengan umur dua puluhan. Melihat wajah awet mudanya.
"Kenapa wajah istriku cemberut begitu pagi-pagi, hem!" Hiro mengusap pelan pipi Dera dengan gerakan lembut.
Dera tak mampu untuk tidak tersenyum jika mendapat perlakuan manis dari sang suami.
"Putramu kemana, kak?" tanya Dera dengan nada lembut menatap tepat ke arah bola mata indah yang selalu mempesona dia setiap saat.
"Pagi-pagi malah tanya anak. Pagi-pagi itu, yang harusnya di perhatikan itu aku sayang!" Ujar Hiro tak lupa ke dua telapak tangannya mencubit ringan ke dua sisi pipi Dera. Membuat wanita dengan senyum bersahaja itu mencibir.
"Kalau kakak kan sudah hampir dua puluh empat jam di perhatikan masih kurang?"
"Kuranglah. Bagiku, meskipun seluruh sisa hidup mu kau berikan untuk memperhatikan ku. Rasanya tetap kurang sayang!" goda Hiro.
Dera merona. Berbanding terbalik dengan wajah sebal orang-orang di meja makan. Clara menatap Yeko yang sudah duduk di samping nya dengan pandangan memperingati. Wanita ini ingin, Yeko si dingin bisa seperti Hiro. Tidak masalah wajah datarnya itu terlihat pada siapapun. Tapi, Clara ingin romantis nya hanya untuk nya saja. Itu saja sulit.
"So Sweet! Drama Korea aja kalah kalau sama papa Hiro mah!" Seru Cleo dengan sorak-sorai.
"Hah! Papa berhenti lah. Itu membuat bulu roman ku berdiri!" kini suara si bungsu terdengar.
Hiro terkekeh pelan. Melirik ke dua putri cantik nya. Tak lupa kedipan mempesona pada kedua putrinya. Sebelum menoleh ke arah Dera memberikan kecupan di dahi. Tidak di bibir! Meskipun itu lumrah dan sah-sah saja. Bagi Hiro dan Dera, hal itu cukup intim untuk di perlihatkan pada anak di bawah umur. Ataupun di depan khalayak umum.
Ruang makan kembali riuh setelah aksi Hiro mengecup Dera. Cherry mengeleng pelan melihat orang-orang berada di ruangan.