
Lesung di pipi terbenam semakin dalam kala wajah tampan Vian terlihat mendekat ke arahnya. Tangan gadis itu melambai, kala manik mata coklat kelam nan tajam itu bertabrakan dengan manik mata hitam bening nya. Gadis itu menarik sebelah alis matanya kala melihat ada pria lain di belakang tubuh Vian. Hoodie merah maron membuat kulit putih pucat nya terlihat semakin mempesona.
"Sudah lama?" seru Vian dengan suara deep voice seksi miliknya. Saat sampai di depan Ara.
Gadis itu mengeleng kecil."Duduklah!" ucap Ara.
Vian menarik kursi ke belakang. Di ikuti oleh Willem. Pandangan mata Ara menatap Willem tertangkap oleh Vian. Pria ini lupa mengenalkan sahabat nya satu ini pada gadis di depannya ini.
"Ini pertemuan kalian yang pertama bukan?" tanya Vian.
Willem melirik Ara dan Vian berganti-ganti. Willem awalnya berpikir Vian mengajaknya keluar nongkrong di Kafe hanya berdua saja. Maklum, duo pria jomblo itu lebih suka keluar berdua saja atau paling mentok bertiga dengan Delta. Untuk David, tuan muda Miyaki itu terlalu sibuk dengan para gadis yang tak tau di tawari status apa. Yang jelas, mereka tidak akan nyaman jika ada David. Bahkan tanpa David saja, mereka sudah merasa kerepotan kala bermain di luar. Ada banyak gadis yang menjerit kecil atau berbisik lirih menatap mereka. Apalagi kalau ada David. Sang model bahkan kini merambat menjadi seorang aktor film. Sudah pasti mereka tidak bisa tenang.
Ara mengangguk kecil."Ya," jawabnya pelan.
"Ayo, kenalan dulu!" titah Vian.
Willem melirik ke depan. Ia mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Ara.
"Willem," ujarnya.
Ara meraih tangan Willem untuk bersalaman.
"Ara!" balas Ara.
Ara lebih dahulu menarik tangan nya. Willem mengangguk kecil, sebelum menggaruk kecil leher belakang nya yang tak gatal.
"Dia sahabatku dan Sean," ujar Vian kala tak tau harus berbicara apa.
Kepala Ara mengangguk kecil."Oh, iya. Ngomong-ngomong soal Sean. Apa jadi hari kemarin ia keluar negeri?" tanya Ara penasaran.
Vian menghela napas. Ia menyandarkan punggung belakang nya di kursi. Di ikuti oleh Willem. Bagi Willem sendiri ini terlalu terburu-buru. Ia sendiri tidak tau perkembangan hubungan Sean dan Adella. Setelah teror bom dua Minggu yang lalu. Sean seakan menarik diri dari banyak hal. Bahkan untuk di hubungi saja, pria tampan itu tidak mau mengangkat dan membalas pesannya. Untuk Vian sendiri, kakak dari Sean. Tidak mau menjadi penjelas kan situasi. Memilih bungkam dengan apa yang terjadi.
"Ya, begitulah. Papa dan mama memberikan izin," jawab Vian.
"Lalu pernikahan nya?" tanya Ara penasaran. Gadis ini jelas tau jika Sean dan Adella akan menikah. Dan pernikahan mereka seharusnya di selenggarakan kan Minggu depan.
Siapa sangka. Semua yang telah di siapkan hanya menjadi panjanggan yang kosong. Undangan yang telah selesai di cetak. Tenda dan dekorasi yang sudah jadi. Dan gaun pengantin wanita dan jas pengantin pria sudah di kirim kediaman rumah besar Yamato.
"Batal," jawab Vian jujur.
Willem menatap intens raut wajah Vian. Masih sama, tidak menemukan petunjuk untuk ke jelasan.
"Hah...sayang sekali, ya!" ucap Ara.
"Mau bagaimana lagi. Anggap saja mereka belum di takdir kan bersama."
"Ya. Takdir memang cukup rumit untuk di bicarakan," ujar Ara mengerti.
...***...
Tas ransel di pikul. Baju terlihat begitu kumuh, bahkan aroma tubuh benar-benar tak sedap. Langkah kakinya menuju kapal barang terlihat jelas.
"Ini!" Ujarnya sembari menyodorkan surat-surat berkas untuk identitas diri oleh seorang pria ke arah nya.
"Terimakasih." Jawabnya menerima berkas yang di sodorkan.
"Bersembunyilah dengan baik. Semakin jauh akan semakin baik. Bos Ken berkata, sulit untuk memilih antara nona dan tuan muda. Yang bisa kami bantu adalah penyelundupan. Kedepannya hanya nona Adella saja yang harus berusaha," ucap Very dengan wajah serius.
Adella mengangguk kecil. Tangannya meremas ujung berkas. Aroma ombak di pelabuhan tercium anyir. Membuat ia merasa sedikit pening.
"Dan tolong, jadilah wanita yang hebat nona. Agar masa depan lebih indah untuk Anda," ujarnya.
"Baiklah. Anda bisa pergi," balas Adella.
Very membungkuk. Memberikan hormat pada Adella. Bagaimana pun juga, Adella Putri adalah anak dari Ken Uchiha. Saat ini mungkin marga Uchiha tidak bisa di pakai pada belakang nama Adella. Namun suatu saat Very berharap Adella akan menjadi seorang wanita hebat. Agar bisa melawan keotoritasan seorang Kris Uchiha.
Dan tidak mudah di injak oleh Kris. Mengingat obsesi Kris pada Adella di luar batas normal. Adella melangkah cepat menuju kapal pengangkut barang. Very menegakkan tubuhnya. Menatap punggung belakang Adella. Hingga punggung itu mengecil dan menghilang di balik kapal lain.
"Semoga Anda menemukan kebahagiaan nona Adella," doa Very.
...***...
Makan malam di puncak hotel memberikan sensasi tersendiri. Senyum segaris tampak terukir indah di bibir mereka.
"Bersulang!"
Seruan keras dan penuh semangat dari ke empat nya terdengar keras. Hingga denting gelas beradu terdengar jelas.
Ke empat nya menyesap sampanye dengan perlahan. Makanan di atas meja telah berkurang. Minuman sampanye menjadi penutup pesta.
"Hah!" David mendesah kecil,"tidak menyangka jika kita sudah tumbuh dengan cepat. Sekarang kita sudah lulus dari SMA. Dan sebentar lagi kita akan berpencar. Meneruskan pendidikan masing-masing. Kenapa rasanya sangat cepat, ya?" ujarnya dengan nada berat.
Delta tersenyum tipis."Ya, aku bahkan merasa baru kemarin aku bergabung dengan kalian. Tapi sekarang sudah mau pisah saja," timpal Delta.
"Waktu berjalan memang sangat cepat. Bahkan tanpa mau menunggu untuk kita siap akan sebuah perpisahan," balas Willem.
"Sayangnya. Sean tidak di sini bersama kita. Adella juga tidak ada, rasanya kurang lengkap," ucap David. Sebelum kembali menyesap cairan kuning bening itu dengan perlahan.
Mengobrol santai terasa lebih indah saat di temani oleh wine di atas meja.
Delta tercekat. Ia memilih meneguk kembali minuman di tangannya. Vian memutar-mutar cairan sampanye. Tanpa harus meneguknya.
"Dav! Kau setelah ini akan melanjutkan pendidikan di mana?" tanya Willem mengalihkan pembicaraan.
"Aku?" tanya David dengan wajah bodoh.
"Ya, siapa lagi yang bernama David di meja ini jika bukan kau, huh?" balas Willem dengan raut wajah sedikit kesal.
Davis terkekeh renyah."Aku hanya menggoda mu saja kawan!" balas David.
"Ih! Najis di goda olehmu. Aku masih suka wanita. Bukan kadal air pria sepertimu ini," tukas Willem kesal.
David masih asik dengan tawanya."Siapa tau, kau belok!" kelakar David,"aku berbicara dengan ke dua orang tuaku. Seperti nya mereka setuju jika aku mengambil kuliah yang berkaitan dengan modelling dan juga acting kedepannya. Lagipula aku ingin duduk di bangku kuliah dan belajar apa yang aku suka. Bukan apa yang orang tuaku suka," lanjut David mulai serius.
"Bagaimana orang tuamu bisa setuju?" tanya Delta penasaran.
"Aku kuliah dengan uangku sendiri. Dari uang pemotretan hingga main film beberapa bulan belakangan. Uang nya lebih dari cukup untuk kuliah. Lagipula, saat nanti kuliah aku akan tetap melakukan pemotretan dan main film," balas David.
Delta mungut-mungut mengerti. Kepala nya menoleh ke arah Willem.
"Lalu kau sendiri Will?" tanya Delta.
"Aku masih setia dengan keinginan papaku. Untuk kuliah di jurusan Manajemen Bisnis. Dan kampus negara yang di pilih adalah China," jawab Willem.
"Jepang dan China tidak terlalu jauh lah," balas Delta. Sebelum menepuk pelan punggung belakang Willem.
"Kau sendiri?" kini giliran Willem bertanya.
"Aku berada di Jepang. Sama seperti Vian," jawab Delta.
Kontan saja Willem dan David menoleh ke arah Vian Yamato. Pria yang sedari tadi hanya diam, tanpa kata. Tidak ada yang sadar jika Vian menghabiskan satu botol sampanye di depannya. Ke dua matanya tampak sayu.
"God! Dia menghabiskan satu botol sampanye sendiri. Ah, dia sudah pasti teler," ucap David sebelum mengeleng kecil.
Delta menatap khawatir Vian. Pria remaja itu kembali meneguk cairan bening itu. Willem menarik gelas di tangan Vian. Pria itu mengerang kesal karena di ganggu Willem. Beberapa kali ia cegukan.
...***...
...Tuk!...
Cincin perak dengan ornamen emas tipis mengelilingi lingkaran di letakan di atas nakas. Ia harus memulai awal yang baru untuk menutup masa lalu. Rasa menyesal terlanjur mengrogoti diri. Otak yang pintar belum tentu membawa kata dewasa ikut hadir. Kisah cinta dan hati yang mendamba hancur karena ketidak percayaan diri pada orang yang di cintai.
Kini Sean mengerti, jika menginginkan hubungan yang kokoh. Kepercayaan yang harus nya lebih dahulu di tanam oleh diri. Adella kini telah tiada lagi di sisi. Dan Sean, ingin memulai hal baru tanpa Adella. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hingga saat takdir kembali mempertemukan ia dan Adella. Kisah cinta mereka tidak akan seburuk kemarin.
"Adella! Maafkan aku," sesal Sean dengan manik mata sendu,"terimakasih atas segalanya dan tunggu aku kembali. Aku akan mencarimu, menebus perasaan bersalah yang ada pada diriku. Aku mohon tolong tunggu!" lanjut nya.
Jika di Selandia Baru, Sean dengan kegundahan hati. Maka di atas kapal yang melaju lancar dengan sedikit goncangan. Wanita itu tengah mengeluarkan isi perutnya. Hingga merosot di lantai kapal yang dingin.
"Hei nona. Apakah kau tidak apa-apa?" tanya wanita paruh baya yang kini mendekati Adella.
Menepuk pelan punggung belakang Adella pelan. Adella merasa pusing. Wanita paruh baya itu membantu Adella berdiri. Dan keluar dari kamar mandi kecil di dalam kapal. Ke duanya melangkah menuju kabin kecil untuk penyewa kapal ilegal itu.
"Boleh aku periksa?" tanya dengan nada lembut.
Adella tidak menjawab. Hanya menatap wanita itu dengan wajah tak terbaca. Wanita itu tersenyum lembut.
"Jangan takut. Aku tidak berniat buruk. Dan aku adalah dokter," ujarnya.
Adella mengangguk ragu. Wanita itu bergerak menekan kecil urat nadi pergelangan tangan Adella. Dahinya berlipat kecil, hingga pangkal hidung nya mengerut.
"Kenapa dengan ku?" tanya Adella khawatir.
Wajah tua itu di angkat. Sebelum mengulas senyum."Kau hamil nona," ucapnya pelan.
Adella membeku. Hamil, satu kata yang membuat ia lupa cara bernafas.
"Dan kehamilanmu cukup lemah dan rentan. Kau terlalu muda untuk hamil nona. Tapi aku tau, kau pasti memiliki kisah tersendiri. Aku akan membantumu. Jika mau bertahan atau mengugurkan nya," lanjut nya pelan.
Mempertahankan nya atau mengugurkan nya. Yang mana yang akan ia pilih. Kabur dalam sendiri sudah sangat merepotkan. Lalu, jika ada bayi yang ikut serta. Akan sangat merepotkan.
"Sean! Aku harus bagaimana. Aku terlalu muda untuk menjadi ibu. Dan terlalu takut membunuhnya," hanya hati kecil Adella yang bersuara.
...***...
Delta tersenyum malu-malu. Kala bertemu dengan Vian. Ia meraih tangan Vian dengan lembut. Menggenggam nya dengan perlahan. Vian hanya mengulas senyum.
"Hari pertama jadian dan hari pertama kencan," ujar Delta pelan,"sudah siap?" tanya Delta pelan.
Vian mengangguk kecil. Dua kali Delta mencuri ciuman dirinya. Hingga ia memutuskan untuk mencoba hubungan baru dengan Delta.
"Ya. Jangan menyesal menjadi kekasihku, Delta!" balas Vian.
"Tidak!" jawab Delta mantap.
Vian hanya mengulas senyum kotak khas milik nya. Keduanya melangkah memasuki wahana permainan.
...END...
..."Cinta bukanlah tentang seberapa besar kau mencintai dia. Namun tentang seberapa besar kau mempercayainya. Karena cinta tanpa rasa percaya pada pasanganmu. Sama saja membangun istana pasir. Akan hancur kala di terpa badai dan di sapu riak ombak!"...
...~The King, Son Of Mafia~...