
Langkah kaki kecil yang terlihat setengah berlari memasuki gang sempit terus di ikuti. Sean melangkah diam-diam mengikuti anak lelaki kira-kira berusia sembilan tahun kurang lebih. Anak lelaki itu menjauhi keramaian semakin masuk ke dalam tempat kumuh. Sean masih mengikuti nya.
"Abang datang!" seruan keras dari anak perempuan berusia delapan tahun mengandeng anak lelaki berusia lima tahun.
Sean bersembunyi di balik tumpukan kardus. Anak lelaki itu mengelus pelan puncak kepala adik-adik nya. Ke dua adiknya tersenyum dan menggigil.
"Kenapa menunggu di luar, cuaca sudah sangat dingin malam ini. Harusnya kalian menunggu di dalam!" Ujar anak lelaki itu mengusap pelan puncak kepala adik-adik nya.
"Kami lapar," jawab anak perempuan itu lirih,"adik juga lapar dan haus," lanjut nya.
Dapat Sean lihat. Anak lelaki itu menurunkan tangan nya, merogoh saku bajunya. Ada dua bakpao yang terlihat sudah keras. Entah kapan bakpao itu di buat. Ia memberikan nya pada adik-adik nya.
"Makanlah!" ujarnya pelan.
Tanpa menjawab ke duanya mengigit bakpao keras yang mungkin isian daging nya sudah basi. Anak lelaki itu merogoh saku celananya. Membuka dompet kulit mahal yang baru saja ia curi. Dahinya berlipat kala tidak menemukan satu helai uang kertas di dalam sana. Yang ada hanya kartu ATM yang berjejer.
"Ah! Kartu saja," keluh nya. Ia kembali menatap adik-adik nya yang melahap bakpao basi itu dengan pandangan sendu.
Sean menghela napas. Keluar dari persembunyiannya.
"Di sana tidak ada uangnya." Seru Sean di sela langkah kaki panjang nya mendekati ketiga anak kecil itu.
Kontan saja sang Abang melindungi adik-adik nya. Ke duanya bersembunyi di balik punggung ringkih sang kakak. Mereka bahkan mengambil langkah mundur di setiap langkah maju yang Sean ambil.
Sean mengulas senyum lembut. Ia dapat melihat ketakutan di wajah anak lelaki yang mencuri dompet nya. Saking takutnya, anak lelaki itu lupa menyembunyikan dompet kulit yang ada di tangannya.
"Ja——jangan, sakiti adik-adik ku!" Ujarnya tergagap merentangkan tangannya kebelakang kala ia terpojok.
Sean mengeleng pelan."Aku tidak akan menyakiti kamu dan adik-adik mu. Sebelum nya, boleh tau siapa nama kalian?" tanya Sean ramah. Pria ini berhenti dan berjongkok di depan tubuh ke tiga nya.
Anak perempuan itu menarik ujung baju sang kakak. Pertanda ia merasa takut dengan kehadiran Sean.
Kembali lagi Sean menghembuskan napas pelan. Membawa uap asap di udara. Ia mengulas senyum lagi setelah nya, guna meyakinkan anak-anak malang ini. Jika dirinya tidak bermaksud buruk pada mereka bertiga.
"Tidak perlu takut aku bukan orang jahat," kata Sean lagi.
"Ma——maaf," lirih anak lelaki itu menunduk dalam. Ia menurunkan ke dua tangan yang sempat ia rentang kan. Saat melihat ke dua netra coklat kelam Sean yang begitu hangat.
Telapak tangan Sean terangkat. Ke dua mata anak lelaki itu memejam takut. Ia pikir pria di depannya ini akan memukulnya. Seperti preman-preman jalanan lainnya. Akan tetapi tak kunjung ia rasakan pukulan di pipinya. Malah usapan lembut dari Sean.
"Jangan takut. Kalian pasti lapar kan ya?" Tanya Sean di sela elusan nya."Bagaimana kalau kita membeli makan dan baju hangat. Nanti Abang akan berikan uang untuk kalian juga!" Ujar Sean mengunakan kata panggilan 'Abang' pada dirinya. Agar lebih akrab.
Kelopak mata anak lelaki itu terbuka.
"Namamu siapa, Hem?" tanya Sean lagi. Sebelum menurunkan elusannya di puncak kepala anak itu.
Sean berdiri tegap. Nino menyodorkan dompet Sean kembali. Dengan raut wajah bersalah. Sean mengulum senyum lembut.
"Kalian tinggal dengan siapa di sini?" tanya Sean mengedarkan pandangan matanya ke lautan kardus bekas yang di susun rapi.
"Kami tinggal bertiga. Mama dan Papa sudah tidak ada," jawab anak perempuan bernama Mia itu dengan nada lucu.
Hati Sean terenyuh. Meskipun ia adalah anak seorang Mafia. Memiliki kegilaan di luar nalar orang normal. Tetap saja, ia memiliki hati nurani yang akan tersentuh. Derap langkah kaki mendekati ke empat nya membuat mereka menoleh ke arah suara.
"Ayo makan, aku lapar!" Ujar Adella yang telah berdiri di depan ke empat nya.
Tak lupa gadis remaja itu mengulas senyum terindahnya untuk mereka. Sean membalas senyum Adella, tidak di sangka jika gadis ini membututi dirinya.
"Ayo!" Ujar Sean menoleh ke arah Nino dan adik-adiknya.
***
Willem mengeleng pelan. Kala atensi nya menatap ke dua orang tuanya. Sesekali suara hidung mengeluarkan ingus nyaris membuat nya jijik. Layar televisi besar di ruang keluar Zhao tengah menayangkan adegan sang aktor patah hati karena tidak bisa membunyikan aplikasi love alarm dari gadis pujaan hatinya.
"Kenapa Kim Jojo tega membuang Sun Oh yang mencintai nya," keluh Carlos menatap iba sang aktor Korea di dalam layar.
Kembali suara ingus beradu dengan tisu kering membuat Willem bergidik jijik. Ayahnya, entah apa dan sejak kapan ia menjadi penggila Drama Korea bersama sang ibu. Ke adaan Sari tak kalah kacaunya. Mika Zhao, hanya melirik ke dua orang tuanya dengan pandangan polos. Anak perempuan ini tidak mengerti hal-hal yang berbau romansa.
"Itu karena Kim Jojo tidak ingin tersakiti," jawab Sari dengan nada serak.
"Kalau tidak ingin tersakiti kenapa harus memulai hubungan?" tanya Carlos dengan nada tak terima.
Kemana jiwa Mafia yang garang bak harimau mengaum. Kenapa malah menjadi kucing manis yang menangis karena adegan drama picisan.
"Beruntung anak buah Papa tidak di sini. Mau taruh di mana harga diri Papa sebagai Bos Mafia Devil," cibir Willem.
Kontan saja suami-istri itu menatap ke arah Willem. Anak remaja itu di paksa ikut menonton drama yang berjudul Love Alarm yang di gadang-gadang kan sebagai film pendek terbaik. Dan, berakhir sakit hati kala ending nya menggantung.
"Kau tidak terlalu menonton dengan serius Will. Coba tonton drama ini dengan serius kau akan tau betapa menyenangkannya menonton drama Korea. Kalau soal harga diri, jika sedang dengan keluarga ya buang saja dulu, ya sayang!" Ujar Carlos sebelum mengecup pipi sang istri yang berada di samping nya.
Willem berdecak kesal. Tidak sang Ayah tidak sang sahabat. Kalau sudah dimabuk cinta, tidak ada ubahnya orang setengah gila. Itulah yang ada di otak Willem.
"Hah! Mika tidak tau apa yang sedih dari film itu. Lebih bagus nonton Upin dan Ipin!" timpal Mika.
Willem terkekeh pelan melihat wajah jengkel sang adik. Sari ikut tertawa pelan melihat ekspresi sang putri.
"Kita ke ruangan atas saja yuk, kita berdua nonton Upin dan Ipin. Biarkan Mama dan Papa yang nonton drama aneh itu!" Ajak Willem sembari bangkit dari posisi duduknya.
Wajah cemberut Mika langsung sumringah. Ia ikut berdiri. Melangkah bersama sang kakak dari belakang. Sari dan Carlos menatap gerak gerik keduanya. Sampai adik-kakak itu menaiki satu persatu anak tangga.