
Rasa dingin di musim dingin benar-benar mampu menusuk sampai ke tulang. Tubuh tua dengan seribu keriput semakin mengerut dari hari ke hari. Namun napas masih, saja bersisian dengan tubuh lemahnya. Manik mata yang dulunya terlihat indah kini tidak terlihat lagi. Wajah yang dulu nya cantik dan selalu di agung-agungkan hanya tinggal kenangan.
Mirabel, nama yang mungkin sudah terlupakan. Mengingat, semua anggota kelompok nya sudah di bantai habis. Entah apakah, di dalam diri wanita ini ada rasa menyesal karena mencintai pria yang salah. Atau sekedar menyesali dosa-dosa nya di sama lalu. Entahlah, tidak ada yang tau.
Kreat!
Pintu besi terbuka sangat pelan. Mirabel tidak perlu membawa atensi nya pada si pembuka pintu. Ke dua kaki yang di rantai, tak terlalu banyak mengambil perhatian.
Aroma tubuh berbeda menyeruak ke dalam Indra penciuman nya. Mirabel mengangkat pandangan nya. Manik mata yang dulunya tajam menatap sendu si penyusup. Dengan tudung hitam dan masker melekat di wajah.
"Wah! Wah! Wah! Benar-benar tidak aku sangka. Kau bahkan terlihat hidup segan mati tak mau," ejeknya dengan nada dalam.
Mirabel terkekeh ringan. Seolah-olah tidak ada beban di dalam dirinya.
"Kau sampai datang ke sini. Cukup hebat bisa selamat saat itu, huh!" jawab Mirabel tak kalah lirihnya.
Wanita bertudung hitam itu berjongkok. Menatap Mirabel dengan pandangan tak terbaca.
"Aku benar-benar kasihan padamu," ujarnya.
"Kalau kau benar-benar kasihan. Maka tolong bunuhlah aku," pinta Mirabel dengan nada penuh harap.
Kepala wanita itu mengeleng pelan."Terlalu mudah untuk mati. Harusnya kau bersyukur tetap hidup. Agar kau bisa melihat bagaimana aku menghancurkan orang itu. Termaksud lelaki yang kau cintai," jawabnya dengan nada pongah.
Kontan saja Mirabel tertawa sebelum terbatuk-batuk. Ke dua matanya mengeluarkan cairan asin di ke dua sudut matanya.
"Kau.....tidak akan pernah bisa menghancurkan nya. Kau tidak tau, betapa hebatnya pria yang aku cintai!" ujar Mirabel dengan nada yang mulai melemah.
"Oh, God! Bagaimana bisa kau masih mencintainya. Setelah apa yang dia dan anak-anak nya perbuat padamu?"
"Aku mencintai nya, sekaligus membenci nya. Aku berharap kau jangan pernah merasakan apa yang aku rasakan, Annabelle!" ujar Mirabel tulus.
Annabelle tersenyum pedih. Masih ingat wanita ini padanya. Setelah apa yang ia lakukan. Mirabel membuang dirinya, saat satu jam melahirkan. Menyembunyikan jika ia pernah melahirkan seorang anak dari pria yang memberikan ia kekuatan. Ayahnya, sangat mencintai Mirabel. Rela melakukan apapun untuk wanita ini. Sayangnya, Mirabel terlalu mencintai Hiro Yamato. Terbenam dalam obsesi di balut cinta.
Hingga wanita ini lupa diri. Lupa pada kenyataan jika Hiro hanya menginginkan dan mencintai Dera seorang. Bak bunga Matahari yang hanya menghadap ke arah Matahari. Bahkan sampai detik ini, wanita bodoh ini masih terbaring lemah dalam cinta yang semu.
"Bodoh, jika kau masih mencintainya!"
"Kau belum pernah merasakan nya. Cinta itu berbeda, saat kau mencintai nya. Maka kau akan mengorbankan semua nya untuk nya. Jika cinta mu berada pada tahap paling atas, kau akan merasa perasaan benci dan sayang dalam satu waktu," kata Mirabel pelan,"pergilah Bell! Di dunia ini Mirabel hanyalah wanita kesepian tanpa anak. Jangan libatkan diri pada kisah ibumu ini," usir Mirabel pada akhirnya.
Annabelle membuang muka. Benar-benar ibu yang bodoh. Itulah yang ada di otak Annabelle.
"Baiklah, seperti nya sia-sia aku berada di sini. Aku harap, kau masih memiliki napas saat aku datang kembali padamu. Kau memang wanita yang bodoh, tapi kau adalah ibu ku. Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini. Aku mungkin tidak memiliki kekuatan untuk saat ini. Ingat! Roda itu berputar. Siapa tau suatu saat aku bisa kembali membawa mu pergi dari sini. Papa, masih mencintai mu!" ujarnya.
Mirabel tidak menjawab. Hembusan napas perlahan terdengar. Wanita itu menegakkan kembali tubuh nya. Dan keluar dengan jalan yang tadi ia tempuh. Ke dua manik mata Mirabel menatap pintu keluar. Wanita ini berharap, Annabelle tidak akan pernah kembali lagi. Sama seperti saat itu. Saat ia membuang nya, pada pria bodoh itu. Pria yang mau menerimanya meski telah di sakiti berulang-ulang kali.
***
Aroma kuah bakso semerbak memenuhi rumah besar Yakuza. Bulir-bulir salju turun di luar sana dengan deras. Dera, Clara dan Sari terlihat memasukan mie, dan bakso ke dalam mangkok. Sebelum menuangkan kuah bakso ke dalam mangkok. Sedangkan anak gadis remaja membawa nya ke meja makan.
"Abang tidak usah bantu Kak Adella. Nanti kelihatan sama Abang Sean malah cemburu," ujar Cleo,"mending Abang bantu Cleo saja!" lanjut nya dengan menyungging senyum.
Vian menatap Adella dengan pandangan tak terbaca. Adella mengangguk dan mengembang kan senyum. Seolah-olah mengiyakan perkataan Cleo. Hembusan napas kasar dari mulut tidak luput dari pandangan Delta. Gadis remaja itu diam-diam mengeluh dalam hati. Namun tidak mungkin ia memperlihatkan ketidak sukaan nya pada orang-orang.
Vian mengambil alih nampan yang ada di tangan Cleo. Dapat mereka lihat Sean di tarik oleh empat orang anak perempuan. Membuat pria remaja itu benar-benar kesal. Willem tampak memberikan semangat pada adik-adik nya.
Adella melirik Sean, sebelum tersenyum manis. Kala manik matanya berbenturan dengan manik mata Sean. Pria itu memasang wajah teraniaya pada gadis yang ia sukai.
"Apa-apaan raut wajah Abang itu!" seru Laura protes.
"Tidak boleh kabur Abang! Abang harus menjadi kuda ku malam ini!" ujar Mika tidak ingin kalah dari sepupunya.
"Enak saja! Kau kan ada Abang Willem. Biarkan Abang Willem yang menjadi kuda mu dong!" tukas Laura. Di angguki. oleh Launa juga. Mengingat Launa juga akan ikut bermain setelah makan malam.
Kontan saja mata Mika menatap wajah tampan sang kakak. Bibirnya manyun seketika. Bukan nya Mika tidak suka dengan Abangnya sendiri. Sayangnya, Willem tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Gak ah, Abang Willem tenaganya kurang kuat!" bantah Mika.
"Kurang kuat apanya?" tanya Laura.
"Dua kali putaran saja Abang Willem sudah K.O!" ujar Mika membuat tawa David di sebelahnya mengeras.
Kepala orang-orang mengeleng melihat anak-anak perempuan yang kini masih saja berdebat.
"Abang Sean juga lemah kok," protes Willem kesal.
"Aku? Mana ada aku lemah!" bantah Sean dengan senyum menyerigai.
Derap langkah kaki terdengar jelas kala Cleo datang.
"Kalian salah. Yang kuat itu Abang David kan ya Bang?" tanya Cleo dengan senyum ambigu.
Clara melangkah cepat mendekati putri sulungnya. Meninggalkan dapur.
"Apanya?" tanya David dengan nada heran.
"Itu loh, kuat kalau sudah
diran——hhhmmppz!" Cleo melotot kala merasakan tangan sang ibu membekap mulut ember nya dari belakang.
"Ayolah, jangan berbicara aneh-aneh Cleo!" bisik Clara.
Pandangan orang-orang di sana tertuju pada Clara. Ibu dari Cleo dan Cherry. Wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu terkekeh di buat-buat kala pandangan mata pemanasan.
"Ayo! Makan!" ajak Clara dengan nada lembut. Clara merasa pusing karena anak perempuan nya benar-benar seperti titisan burung beo. Dari kecil sampai sekarang membuat ia dan sang suami pusing.