
Manik mata coklat tajam menatap hampa pada bulir salju yang melayang dan terjatuh. Udara di malam ini tak terasa sedingin malam kemarin yang benar-benar mampu melumpuhkan tubuh untuk tidak beraktivitas di luar ruangan.
"Kata almarhumah ibuku, jika seseorang menatap dengan kosong pada bulir salju. Saat itu, hatinya diam-diam mulai membeku," seruan di samping tubuh pria remaja itu menyentak Vian dari lamunan.
Pria itu menengok ke samping. Pangkal hidung mancung nya mengerut, sebelum pupil matanya melebar menatap wajah gadis yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.
"Gadis Gramedia," seru Vian tanpa sadar.
Gadis remaja berambut di kepang dua, masih dengan kacamata membingkai wajahnya itu tersenyum di paksakan. Panggilan nya dari pria di samping nya ini benar-benar terdengar menggelitik.
"Panggilan ku terdengar...aneh," ujarnya.
Vian menarik ke dua sudut bibirnya tanpa di sengaja. Gadis itu membuang muka ke depan. Menatap bulir salju yang terbang melayang melalui kaca tebal yang menghadap langsung pada taman Rumah Sakit. Vian mengikuti jejaknya.
"Kenapa kau di sini?" tanya Vian penasaran.
"Apa ada alasan lain lagi kalau datang ke Rumah penuh bau kematian, kesakitan dan....ah, sudahlah. Aku terlalu puitis," ujarnya tak melanjutkan kata.
Vian kembali menoleh menatap gadis culun di samping kanannya itu.
"Apa ada keluarga mu yang sakit?" tebak Vian. Melihat penampilan gadis di sampingnya ini.
Dengan baju kaos lengan panjang di padu-padan kan dengan celana panjang tebal. Tidak seperti seorang yang tengah menjenguk orang Sakit. Atau sebagai pasien. Kemungkinan besar nya adalah gadis di sampingnya kini tengah menjaga keluarga terdekatnya.
"Hah!" desah nya dengan hembusan napas pelan,"ya, aku tengah menjaga ayahku yang sakit," ujarnya jujur.
Vian mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Kau terlihat sedih," ujar Vian menatap sisa air mata di pinggir sudut kelopak matanya. Sangat jeli, satu kata yang bisa di dapat kan.
"Hah! Kelihatan sekali kah?" Tanyanya mengusap pelan pipi nya.
"Ya, dan tidak," jawab Vian ambigu.
Gadis itu menoleh ke samping. Membawa manik matanya berbenturan dengan manik mata coklat elang Vian. Dengan cepat ia kembali membawa pandangan matanya ke depan.
"CK! Jawaban mu terlalu ambigu," ujarnya dengan nada sedikit kesal.
Nada yang di keluarkan gadis itu membuat kekehan ringan di bibir Vian. Nyaman, satu kata yang di dapat oleh Vian pada gadis Gramedia. Begitu lah Vian memanggil nya saat ini. Mengingat mereka belum berkenalan untuk pertemuan ke dua kalinya.
"Jangan terkekeh, itu terdengar menyebalkan!" cegah gadis berkacamata itu.
Vian mengontrol tawa kecil yang keluar di bibir merah seksi itu.
"Baiklah, aku tidak akan terkekeh!"
Setelah berkata seperti itu, ke duanya di selimuti senyap lima menit sebelum gadis itu bersuara.
"Kita belum berkenalan. Siapa tau kamu mungkin akan menjadi sama seperti ku. Tinggal beberapa bulan di sini," ujarnya sebelum mengulur tangan ke arah Vian.
Vian meraih telapak tangan yang di nilai jauh lebih kecil dari pada telapak tangannya yang terlihat besar. Jika di bandingkan dengan gadis di sampingnya ini.
"Namaku, Vian!" balas Vian.
Ke duanya mengulas senyum sebelum menggoyangkan pelan ke bawah tangan yang tengah berjabat. Ke duanya melepaskan jabatan tangan masing-masing.
...***...
...Tuk!...
...Tuk!...
...Tuk!...
Jari telunjuk panjang Hiro di ketuk pelan di atas meja kerja nya. Dahinya berlipat dalam, seakan tengah berpikir keras. Yeko yang berdiri di depan meja Hiro hanya menatap datar. Seperti biasanya.
"Tidak ada keanehan di darah maupun di tubuh nya." Ujar Hiro di sela ketukan jarinya."Ini lebih aneh, tidak mungkin jika Adella baik-baik saja saat mimisan dan batuk darah!" Lanjut Hiro masih dengan pemikiran kritisnya.
Sebelum mata coklat tajamnya menatap dokumen dari Rumah Sakit. Dokumen medical checkup Adella yang menyatakan jika tubuh gadis remaja itu baik-baik saja. Sedangkan tidak dengan yang terlihat. Gadis itu tampak pucat dan beberapa kali mimisan. Hiro bukan pria bodoh yang awam masalah yang seperti saat ini. Besar kemungkinan Adella meminum racun. Ia meminum racun yang benar-benar hebat. Racun yang tidak mampu di deteksi. Itu satu garis kesimpulan yang dapat Hiro Yamato tarik. Jika benar itu yang terjadi, besar kemungkinan nya jika orang yang memberikan adalah seorang ahli racun. Sama seperti putranya.
"Minta laboratorium kita memeriksa darahnya. Minta Gio ini mengecek darah Adella. Jika kita tidak cepat bergerak, nyawa gadis itu jadi tahanan nya. Sean akan mengamuk jika terjadi apa-apa pada Adella," ujar Hiro lagi. Pergerakan telunjuk tangan yang di ketuk di atas meja berhenti seketika kala pandangan mata tajam Bos Mafia ini menoleh ke arah Yeko.
"Baik, Bos!" Ujar Yeko sebelum menunduk cepat dan keluar dari ruangan kerja sang Bos.
Yeko berhenti kala baru satu langkah keluar dari ruangan kerja sang Bos. Ia menunduk penuh hormat pada nyonya Yamato yang terlihat membawa nampan berisikan buah-buahan yang di potong dengan segelas teh hangat. Pria itu melangkah cepat setelah memberikan hormat. Tampak tergesa-gesa di mata Dera. Wanita imut ini melangkah cepat menuju ruang kerja sang suami.
Hiro yang menatap seluet tubuh Dera dari dalam ruangan langsung berdiri cepat. Dan melangkah mendekati sang istri yang baru masuk.
"Sayang!" Seru Hiro dengan senyum lebar. Kala meyosong Dera yang melangkah mendekati sofa yang berada di sudut ruangan kerja Hiro.
Dera meletakan nampan ke atas meja kayu terbuat dari pohon jati. Sebelum duduk di sofa panjang. Ia yakin, sang suami akan memilih duduk di samping nya. Hanya hitung detik, Hiro sudah duduk di samping Dera. Dan merebahkan kepalanya di paha sang istri.
"Kenapa Yeko terlihat keluar terburu-buru kak. Dia mau kemana?" tanya Dera.
"Dia ke laboratorium. Untuk melakukan cek darah Adella. Aku pikir Rumah Sakit biasa, tidak akan berpengaruh untuk mencari tau apa yang menimpa Adella. Dan kau tau sendiri bagaimana posesif nya Sean, sayang. Ia bahkan menerorku dengan banyak panggil dalam satu jam. Jika sampai terjadi apa-apa pada Adella, maka sudah pasti kita akan kewalahan!" ujar Hiro panjang lebar.
Dera menghela napas pelan. Hiro memang sedikit—ah, tidak. Sang suami memang pria yang egois. Pria ini mendahulukan orang-orang tercinta baginya di atas segala-galanya. Tidak segan menyakiti bahkan melenyapkan nyawa orang lain hanya untuk menyelamatkan apa yang menurut nya penting.
Tidak seperti nya yang memang sensitif dan memikirkan perasaan orang lain. Masih melekat di ingatan Dera, saat Adella di beritakan mati. Bahkan pria memilih ini mencoba melindungi hati putra-putranya. Itu terkadang cukup menganggu Dera sesekali. Terkadang Dera merasa aneh dengan Hiro. Pria yang kini menyentuh tangannya dan mengecup punggung tangannya.
Pria tampan ini tersenyum terlihat polos dan lugu. Jika orang-orang tidak tau jati diri pria ini. Mungkin orang-orang hanya akan beranggapan Hiro Yamato pria lemah dan kemayu. Pria yang hanya bisa mengenang pena dan menatap layar komputer. Tanpa mereka tau, kegilaan apa yang sesungguhnya ada pada Hiro Yamato. Pria berdarah dingin, mampu membunuh untuk kepentingan nya. Dan orang yang ia cintai.
"Sayang!" Seru Hiro entah untuk keberapa kalinya. Telapak tangan Hiro mengusap pelan punggung tangannya.
Dera tersentak dari lamunannya. Manarik garis senyum di bibirnya.
"Maaf kak," seru Dera pelan.
Kata maaf sering kali terdengar ambigu. Entah berapa banyak penyesalan dari kata maaf. Wanita ini merasa masih belum mengerti Hiro sepenuhnya. Pria ini selalu memperlihatkan topeng lain padanya. Topeng suami sempurna dan ayah yang hebat. Itu membuat Dera sering meragu. Untuk bisa mengatakan jika ia mengenal sungguh-sungguh seorang Hiro Yamato.