
Beberapa orang di meja mendengus melihat bagaimana Sean memperhatikan Adella. Pria remaja ini terlihat sangat manis jika pada gadis satu ini. Bahkan lupa tempat, seolah-olah yang lain hanyalah menumpang di tempat nya. Benar-benar membuat mereka semua meras kesal.
"Kalau pakai sweater di saat seperti ini akan memberikan kehangatan sedikit. Apakah kita perlu membelikan baju dingin tambahan untuk mu nanti?" tanya Sean dengan nada lembut.
Adella mengeleng pelan. Anak perempuan satu ini menatap malu pada teman-teman, sampai kakak dari pria yang tidak tau malu ini.
"Tidak usah, kau habiskan saja makanan mu di meja Sean!" ujar Adella dengan nada lirih.
"Seperti nya aku akan menumpahkan isi perutku kembali jika kau tetap melakukan hal menjijikan itu, Sean!" kesal Willem.
"Benar. Tidak bisakah kau makan saja dengan tenang. Dan biarkan Adella juga makan dengan tenang!" kini suara Delta ikut terlibat.
Sean mendengus. Pria remaja ini kembali menyentuh Sumput nya. Menyimpit beberapa lauk sebelum memakan nya dengan muka sebal. Vian tidak banyak kata, pria minim ekspresi ini melirik Adella diam-diam. Sebelum membuang muka kala manik mata Adella bertabrakan dengan ke dua manik matanya.
"Empat hari lagi Adella akan ke Paris. Jadi kita tabahkan diri saja. Karena beberapa hari ke depan tidak akan melihat betapa menyebalkan nya Sean," ujar David dengan senyum lebar.
"Cih! Kalian hanya iri saja padaku yang ada gandengan," tukas Sean kesal.
"Sorry, ya. Kita nggak iri ya padamu yang suka menggombali Adella. Seperti nya, Papamu harus membuang buku seribu trik membuat wanita terpesona itu!" kata David mendapatkan tatapan mematikan dari Sean Yamato.
Bulu kuduk David berdiri. Pria remaja itu cepat-cepat menunduk dalam. Karena Pendanggan mata menakutkan dari Sean.
"Wah! Aku tidak tau jika Sean memakai buku begituan," ujar Delta takjub.
Willem tersenyum konyol. Bukan hanya Sean saja yang membaca buku di nilai aneh oleh Willem. Hiro sampai Carlos, sang ayah juga melakukan hal yang sama. Hanya karena mereka di nilai tidak romantis. Hal hasil, ke duanya malah membaca buku trik membuat wanita jatuh cinta dan cara menjadi pria romantis. Hanya untuk wanita yang mereka cintai.
Sean Yamato bukan lah anak lelaki yang romantis. Sangat-sangat tidak romantis. Apa yang ia katakan dan ia lakukan hanya sebuah praktek nyata dari apa yang di tulis di buku yang di baca sang ayah. Benar-benar lucu.
"Lalu kau sendiri bagaimana Vian. Kau akan melakukan hal yang sama tidak seperti Sean jika mencintai seorang gadis?" tanya Willem penasaran.
Kontan saja Delta memasang pendengaran nya dengan jelas. Gadis imut ini penasaran dengan jawaban yang di dapat di mulut si pangeran es.
"Entahlah," jawab Vian seadanya.
"Loh kok begitu?" desak David.
"Aku belum menemukan gadis yang aku sukai. Jadi apa gunanya aku membaca nya," jawab Vian pada akhirnya.
Kontan saja sorak Sorai terdengar nyaring di ruangan khusus. Adella tersenyum lembut mendengar sorak Sorai orang-orang di meja. Benar-benar menyenangkan berteman dengan teman-teman Sean. Setidaknya itulah yang ada di otak Adella.
***
Kaca mata yang merosot itu di naikan perlahan. Wajahnya tampak polos tanpa dosa. Orang-orang mungkin menilai pria satu ini adalah seorang kutu buku yang pintar. Kamuflase yang sangat sempurna. Langkah kakinya terdengar pelan. Melangkah mendekati gadis berambut sepinggang yang terlihat tengah memilah-milah buku yang akan ia bawa pulang untuk di baca.
"Adella!" panggilnya pelan.
Kontan saja pergerakan tangan Adella meraih satu paket buku tentang Piano terhenti. Ia kembali menarik tangannya yang awalnya ingin menjangkau buku. Tubuh nya di balikkan. Dahi Adella berlipat kala melihat pria yang tempo hari sempat tak sengaja berbenturan dengan bahunya.
"Ya, ada yang bisa aku bantu?" tanya Adella dengan nada lembut.
Kris tersenyum malu-malu. Seperti orang bodoh saja, itulah yang ada di otak orang-orang jika melihat senyum malu-malu pria ini.
"I——itu...." ucapnya pelan.
"Itu apa?"
"Bisakah kamu mengajarkan aku bermain piano. Dua bulan lagi Mamaku ulang tahun. Kata teman-teman di Sekolah ini. Kau adalah anak yang hebat dalam bermain Piano," jelasnya menunduk dalam.
Adella diam. Anak perempuan ini tampak menimbang-nimbang. Apakah ia akan membantu pria di depannya ini atau tidak.
Adella menghela napas. Ia menerima uluran tangan Kris.
"Namaku Adella," ujar Adella dengan lembut.
Anak perempuan ini menarik kembali tangannya dari tangan Kris.
"Se——se.. sebelumnya, aku minta maaf karena meminta bantuanmu secara tiba-tiba. Aku ingin meminta bantuan anak-anak yang lain. Tapi mereka tidak ingin membantuku. Karena penampilan ku yang begini. Aku pikir bisa meminta bantuan mu. Maaf, karena aku lancang meminta bantuan orang sehebatmu," ujarnya tergagap dengan nada pelan. Tak lupa di buat-buat mengiba.
Adella mengigit pelan bibir bawah nya. Ia merasa kasihan mendengar perkataan anak lelaki di depan nya ini. Entah, kenapa ia merasa sangat kasihan pada Kris. Seolah-olah ia merasakan pernah adalah di posisi Kris saat ini.
"Kalau tak mau tidak apa-apa," ujar Kris lagi.
"Ah, tidak apa-apa. Aku akan mengajarkan mu. Tapi kemungkinan Minggu besoknya lagi karena aku harus ke Paris beberapa hari lagi," jawab Adella dengan senyum lembut.
Senyum lebar tampak di wajah Kris.
"Untuk pelajaran pertama mungkin aku akan membantu mu Mencari buku dasar bermain Piano," ujar Adella.
"Terimakasih," balas Kris dengan senyum penuh semangat.
Adella mengangguk pelan."Mau cari bukunya sekarang. Kau mungkin bisa memilih lagu yang kau inginkan. Lebih baik hapalkan notasi baloknya terlebih dahulu sebelum menyentuh Piano," ujar Adella.
"Baiklah, mari kita cari!" Ujar Kris penuh semangat.
Adella mengangguk pelan. Gadis ini mengedarkan pandangan matanya. Mencari rak khusus notasi piano dasar.
"Ayo, ikut aku!" titah Adella.
Kris mengangguk dan melangkah mengikuti langkah Adella dari belakang.
***
"Ayo!!! Kita maju ke depan!" Teriak Lea dengan tangan bergerak memukul bahu sang ayah.
Leo langsung menuruti keinginan sang putri. Benar-benar lelah menjadi kuda tunggangan Lea Yamato. Nomi dan Zeo terkekeh keras melihat bagaimana sengsara nya Leo. Sekarang Leo baru tau, betapa menyiksa nya menjadi seorang ayah. Yang harus menuruti keinginan anak mereka.
"Lea turun dulu, ayo makan. Makan malamnya sudah selesai," seru Vera di ruangan makan.
Kontan saja Ayah dan anak itu langsung menoleh ke ruangan makan. Leo tersenyum senang. Beda dengan Lea yang langsung cemberut.
"Ah! Tidak seru," kesal Lea.
"Princess Lea, kita turun dulu ya. Makan dulu, setelah makan kita main lagi!" Ujar Leo membujuk Lea, tak lupa mengusap pelan tangan kecil sang putri yang ada di bahunya.
Lea mau tak mau turun juga dari atas punggung sang ayah. Leo mengerang perlahan, punggung belakang nya benar-benar terasa encok.
"Bagaimana rasanya jadi ayah, Hem?" goda Zeo pada sang putra.
"Senang sekaligus menyiksa," balas Leo sebelum bangkit dari posisi tengkurap nya.
Kembali lagi Zeo terkekeh.
"Tapi kenapa Abang Hiro bisa kuat ya dengan empat orang anak," tanya Leo penasaran.
"Hiro pasti juga sengsara. Dia tidak pernah bilang saja padamu. Kalau kau lihat bagaimana Laura bertingkat padanya. Kau mungkin akan sujud syukur karena Lea tak separah itu," kata Zeo dengan pelan. Takut setan betina kecil Lea mendengar perkataan mereka.