
"Vian!"
Seruan keras dengan decitan telapak sepatu menghujam lantai terdengar nyaring di lorong kosong gedung sekolah. Pria itu membalik kan tubuh nya, wajah gadis imut itu tampak dengan jelas oleh ke dua matanya saat tubuh Delta telah berada tepat di depan matanya. Gadis remaja itu tersenyum lebar pada pria bermata tajam ini.
"Ada apa?" tanya Vian menatap lambat wajah Delta.
Jujur saja, gadis satu ini terlihat aneh hari ini. Setelah tiga hari berlalu, gadis ini terlihat berbeda. Lebih banyak tersenyum dan ceria. Bukan keceriaan Delta yang menjadi masalah di sini. Namun tingkah aneh, seperti senyum yang di kembangkan terasa aneh di mata Vian.
"Setelah kelas terakhir ada rencana keluar nggak?" tanya Delta dengan nada agak ragu.
Sebelah alis mata Vian naik tinggi, pria ini keheranan denganĀ pertanyaan Delta.
"Seperti nya tidak ada," jawabnya,"memang nya kenapa?" lanjut Vian balik bertanya.
"Itu," Delta memberi jeda,"aku ingin minta tolong untuk menemaniku ke tokoh buku," lanjut Delta penuh harap.
Vian terdiam. Pria ini terlihat berpikir atau mungkin mempertimbangkan permintaan sahabat wanita nya ini.
"Aku agak takut pulang larut, orang tuaku sibuk. Mereka tadi siang kembali ke Indonesia. Dan aku tidak terlalu berani pulang sendiri," lanjut nya memberikan penjelasan.
Vian menghela napas."Ya, nanti aku antar mencari buku."
"Ah! Terimakasih Vian!" jawab Delta dengan penuh semangat.
Vian hanya mengulas senyum dan mengangguk pelan. Rasanya, hati Delta berbunga-bunga bisa mengajak Vian keluar. Meskipun dengan alasan aneh. Mencari buku. Gadis ini pikir sangat sulit mengajak Vian keluar dari rumah besar Yamato. Mengingat Vian sangat suka dengan eksperimen-eksperimen aneh nya. Membuat pria satu ini lebih banyak menghabiskan hari di rumah besar saat ada waktu luang.
Di balik pilar lorong, Ella tersenyum miring. Delta seperti nya memang sangat mencintai Vian. Bukan hanya sekedar suka semata. Namun rasa yang lebih kuat dari pada yang ia duga. Gadis polos itu seperti nya bisa di manfaatkan kedepannya oleh Ella.
"Kau bisa menjadi senjata ku untuk menyingkir kan Adella dari Sean. Setidaknya, kita bisa impas, kau mendapatkan Vian dan aku akan mendapatkan Sean." Ujarnya sembari menarik rambut coklat terangnya ke belakang.
Ella dengan perlahan melangkah meninggalkan ke dua remaja yang masih berdiri di lorong.
***
Bunyi Talempong terdengar nyaring di dalam ruangan aula besar yang biasanya di pakai untuk latihan bertarung. Atau hanya sekedar latihan beladiri dasar. Di lapangan, Launa dan Laura mengusap pelan peluh yang mengalir di sisi wajah imut nya. Dera tersenyum lebar, sebelum mematikan musik di ponselnya.
"Pinggul kalian masih sangat kaku tangan juga masih kaku. Jangan hanya latihan pedang dan bertarung. Kalian berdua harus bisa menari tarian tradisional Padang. Tari piring adalah tarian yang pertama yang harus kalian kuasai," jelas Dera dengan lembut.
"Tapikan di Jepang tidak perlu tarian itu, Ma!" ujar Laura dengan nada letih.
Dera mengeleng pelan."Sayang. Meskipun kalian tinggal di negara orang lain. Jangan lupakan darah yang mengalir. Memiliki ayah dengan darah Jepang dan tinggal di Jepang. Bukan berarti melupakan separuh darah kalian. Mama tidak melarang kalian mempelajari sejarah Jepang ataupun kebudayaan Jepang. Namun, mama juga ingin anak perempuan dan lelaki mama tau juga dengan budaya di negara mama," jelas Dera memberikan pengertian pada putrinya.
Ke duanya diam. Mereka memikirkan apa yang di katakan sang ibu. Mereka memiliki darah yang berbeda. Dua negara yang berbeda. Dan dua budaya yang berbeda pula. Sebenarnya, jarang mereka berpikir untuk bisa melakukan warisan budaya daerah ataupun negara yang tidak mereka tinggali. Akan tetapi, Dera selalu menanamkan cinta ke dua Negera. Jepang dan Indonesia pada anak-anak nya.
Mulai dari belajar bahasa Indonesia, sejarah dan juga kebudayaan.
"Ayo duduk dulu istirahat!" ujar Dera.
Launa dan Laura langsung duduk di lantai dengan kaki yang di rentangkan.
"Apakah mama saat kecil juga belajar tari piring?" tanya Launa membuka pembicaraan kembali.
Kepala Dera mengangguk pelan."Senarnya, mama saat kecil dahulu bukan hanya tari piring saja yang mama pelajari. Ada banyak jenis tari yang mama pelajari. Mengingat ada banyak sekali tari di setiap daerah. Tapi kebanyakan tari-tarian yang di pelajari adalah tarian terpopuler di setiap daerah saja," jawab Dera.
Ke duanya mengangguk paham. Saat belajar dan membaca Sejarah Indonesia. Ke duanya tau dengan sangat jelas ada banyak budaya dan juga suku di Indonesia.
"Jika para wanita belajar tari piring lalu kalau lelaki Padang harus belajar apa mama?" tanya Laura penasaran.
"Silat. Gerakan yang benar-benar membuat banyak orang terpukau," ujar Dera tersenyum mengingat anak lelaki di sekolah nya dulu berlatih Silat sampai tengah malam,"sebenarnya sih, Silat bukan hanya di pelajari oleh pria saja. Wanita pun juga bisa mempelajari nya," lanjut Dera.
"Tapi katanya di Internet Silat memiliki hal mistis ma, apakah itu benar?" kini giliran Launa yang bertanya.
Silat. Salah satu ilmu beladiri yang bukan hanya di pelajari oleh orang Minang saja. Ada di beberapa daerah yang juga mempelajari nya. Namun, untuk khusus Silat yang di pelajari oleh orang-orang di Padang. Memang memiliki hal mistis.
"Saat mama masih sebesar kalian. Orang-orang tua di sana juga mengatakan hal itu. Katanya kalau silat sesungguhnya di lakukan pada malam hari. Di atas jam dua belas malam, tapi bukan dengan manusia. Mereka melawan harimau putih. Sebagai lawan untuk mempelajari silat. Dan itu tidak di tempat terbuka. Tapi di tempat tertutup, bahkan mereka juga kebal senjata tajam," jelas Dera. Ah, wanita ini jadi rindu masa kecil nya yang sering di takut-takuti kalau pulang malam akan ada Harimau yang mengikuti.
"Wah!!! Hebatnya!" seru Laura dengan wajah antusias.
"Apa itu benar nyata ma?" tanya Launa.
"Hem!" Dera memberi jeda,"kalau di zaman dahulu sih benar. Tapi semenjak zaman yang berkembang. Ilmu yang itu sudah jarang bahkan tidak ada di temukan. Karena di anggap akan merugikan anak cucunya."
"Menakjubkan dan sekaligus mengerikan," ujar Launa.
"Cih! Kakak sok kata mengerikan. Sejak kapan kakak punya rasa ngeri," cibir Laura.
Kontan saja Launa mendelik tajam pada sang adik. Dera hanya menghela napas pendek. Ke duanya selalu seperti kucing dan tikus. Tapi kadang-kadang juga terlihat manis. Sangat wajar, mengingat hubungan kakak-adik memang seperti itu. Saling meledek namun di dalam hati sayang.