
Kuku jari di gigit perlahan. Tubuh anak perempuan remaja itu tidak berhenti mondar-mandir bak setrikaan kusut. Meski waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Adella masih belum bisa sekedar menutup ke dua kelopak matanya. Jujur saja, Adella merasa aneh pada dirinya sendiri. Bayangkan, ia menderita gangguan kecemasan.
Bagaimana bisa seorang penderita gangguan kecemasan memiliki kemapuan bela diri. Kekuatan bertahan yang sangat besar. Bukan hanya itu, ia juga bisa dengan mudah membaca gerakan dari orang-orang yang bertarung. Dengan mudahnya, ia bisa mengetahui titik kelemahan dan kelebihan.
Langkah kaki tungkai panjang nya berhenti mendadak."Harus kah aku melakukan hipnoterapi?" monolog nya ragu.
Hembusan napas gusar entah untuk ke berapa kalinya terdengar. Sedangkan di negara yang berbeda, seorang pria yang masih terlihat gagah di usia yang tak lagi muda. Melepas kan kaca mata yang membingkai hidung bangirnya. Pria ini, memijit pelan pangkal hidungnya. Hingga foto Adella dan ia tersenyum apa kamera terbentur dengan netra hitam pekat miliknya.
"Apakah, dia baik-baik saja di sana?" tanya pada dirinya sendiri.
Pria ini menyandarkan punggung belakang nya. Masih melekat jelas di ingat Anto, di mana ia dan rekan nya tengah melakukan aksi kemanusian. Team para medis terjun langsung pada lokasi kejadian. Gedung terbangkalai terbakar, melalap habis sampai ke perumahan warga di salah satu kampung di pinggir kota Jakarta.
Beberapa korban mati terbakar. Tidak ada yang tau apa penyebab dari kebakaran. Meskipun team forensik terjun ke lapangan. Meski terasa ada yang janggal, mengingat api yang melahap dengan hitungan detik ke rumah warga. Dan gedung sekolah baru. Di saat para siswa SMP, kelas tiga belajar kelas sore.
Anto merasa aneh dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa di saat itu, pintu yang tidak terkunci membuat tidak satu siswa pun lolos dari api. Hingga Anto menemukan sosok satu-satunya selamat. Dengan tubuh menderita luka bakar yang parah. Ia sempat koma satu tahun. Hampir satu tahun lima bulan, gadis itu sadar.
Anto yang saat itu merasa kasihan membiayai pengobatan gadis yang benar nama Adella. Ia sempat membawanya ke pinggir desa, hanya untuk memenangkan gadis remaja itu.
"Aku yang membakar gedung itu."
"Mereka, tidak memiliki perasaan sebagai seorang manusia. Dan aku, ingin memperlihatkan jika aku bisa menjadi seperti yang mereka inginkan."
"Mereka bilang aku, sengaja menggoda kepala sekolah."
"Aku hampir di lecehkan."
"Mereka tertawa, karena melihat diriku yang terus menangis. Dan mereka pantas mendapatkan nya kematian itu!"
Itulah kata-kata yang di lontarkan oleh bibir Adella berulangkali. Seperti kaset kusut. Gadis itu nyaris gila. Anto, menyelidiki tentang Adella. Benar saja, gadis malang itu mendapat perlakuan yang amat menjijikan. Dari teman-teman dan orang-orang sekitarnya. Ia hampir mendapatkan pelecehan seksual. Saat melawan, ia membanting sang kepala sekolah. Hingga pria tua itu menuduh kalau Adella menggodanya. Hanya untuk bisa mendapatkan beasiswa.
Itu hanya segelintir dari penderita Adella. Hingga Anto memutuskan untuk menyembunyikan indentitas dan mengunci rasa benci, ketakutan, kemarahan Adella. Setidaknya dengan begitu, Adella memiliki identitas baru, memulai dari awal lagi kehidupan yang benar. Anto belakangan baru tau, jika Adella benar-benar mampu memanipulasi semua nya. Hingga tidak satu buktipun mengarah pada nya. Sungguh hebat sekaligus mengerikan.
"Papa harap, senyum di bibir mu tidak akan luntur Adella. Dunia memang sangat menakutkan. Papa sangat berharap ada yang akan menjaga mu. Di saat semua nya terkuak!" Ujar Anto mengelus permukaan foto Adella yang tersenyum di kamera.
Anto sudah menganggap Adella seperti anaknya sendiri. Ia beruntung ada Ochi yang membantu nya. Hingga Adella mampu tersenyum lagi dan memiliki kehidupan baru.
***
Dera mendesah pelan. Vian malah tersenyum ke arah sang ibu.
"Vian melakukan eksperimen apa lagi kali ini?" Tanya Dera dengan telaten mengompres dahi panas sang putra.
"Hanya percobaan obat baru, Ma!" jawabnya kelewatan acuh.
"Sudah berapa kali Mama katakan. Sudahi, Mama tidak suka Vian pegang-pengan obat atau racun tak jelas itu. Mama tidak menuntut Vian untuk menjadi anak yang harus kuat atau harus apapun. Mama hanya ingin, Vian hidup dengan sehat dan bahagia. Vian sakit begini Mama merasa, nyawa Mama semakin berkurang!" Cerocos Dera dengan wajah kesal.
Vian malah terkekeh ringan. Anak remaja satu ini memang sangat senang melihat wajah khawatir sang Ibu. Berbeda dengan Sean. Sean sangat tidak suka Dera mengkhawatirkan dirinya. Menurut Sean, melihat wajah sang ibu bersedih dan khawatir padanya sangat menyiksa. Beda lagi pendapat Vian, melihat wajah khawatir sang ibu. Ia merasakan perasaan bahagia, perasaan di mana ia benar-benar merasakan kehidupan.
Hiro masuk ke dalam kamar sang putra. Ia duduk di bibir ranjang sebelah kiri.
"Sudahlah, De! Vian adalah anak yang kuat. Hei! Bung! Kau benar-benar suka membuat Mama mu khawatir ya!" goda Hiro.
Vian menarik ke dua sisi garis bibirnya ke atas.
"Karena kalau lihat Mama khawatir. Wajahnya memiliki banyak ekspresi Pa!" jawab Vian mendapatkan pelototan dari Dera.
"Lihat kan, wajah Mama itu lucu. Apa lagi kalau Mama nyerocos, itu benar-benar terdengar lebih seru dari pada suara motor balapan!" kelakar Vian.
Hiro terkekeh. Sebelum ia mendapat cubitan di pinggang. Hiro mengaduh. Mengusap pinggang dengan wajah nelangsa.
"Kok malah aku yang di cubit. Kan yang ngomong putramu, De!" protes Hiro dengan nada lucu.
"Vian gak boleh di cubit. Kalau anak nya melakukan kesalahan, maka Papanya yang harus di hukum," papar Dera.
Tawa Vian melambung. Pria yang selalu berwajah datar irit bicara ini akan berbeda. Jika sudah di lingkungan keluarga. Apa lagi jika di depan Dera dan Hiro. Ia merasa bebas tanpa harus merasa waspada.
"Lalu kalau Launa dan Laura yang melakukan kesalahan, siapa yang di hukum?" tanya Vian kala selesai dengan tawanya.
"Papa!"
"Mama!"
Seruan serentak dari Dera dan Hiro kembali menyumbang kekehan dari Vian. Menurut Vian, Mama dan Papanya itu lucu. Sangat lucu.
***
Jeri jemari kecil Launa di lapisi dengan sarung tangan plastik terlihat tengah bekerja di atas perut pria yang telah di bius beberapa menit yang lalu. Anak berusia sembilan tahun ini terlihat tidak ada takut-takut nya. Ia dengan hati-hati membedah perut pria yang tak sadarkan diri dia atas meja besi dingin. Yeko, pria itu hanya menatap Launa dari luar ruangan yang membekukan itu. Masker khusus dan baju khusus menyelimuti diri Launa. Di samping tubuh Launa ada beberapa perawat dan seorang Dokter ahli bedah.
"Kuras darahnya!" titah Launa dengan penuh wibawa.
Dua orang perawat langsung melakukan nya.
"Hati-hati dengan beberapa pembuluh darah nona muda. Jangan sampai, ada pembuluh darah yang pecah," interupsi Rebecca pada anak didik nya itu.
Kepala kecil Launa mengangguk. Bola matanya bergerak mengikuti pergerakan tangan mungil yang mencoba meneliti organ dalam manusia.
Tidak ada yang beres. Itulah yang akan orang biasa pikirkan tentang anak-anak Yakuza. Jika ada yang melihat senyum di balik masker Launa. Anak perempuan ini sangat gemas saat ini. Entah mengapa hasrat membunuh terasa begitu menggoda diri. Padahal ini bukan pertama kalinya ia melakukan operasi kecil.
"Nona kecil, jangan aneh-aneh lagi!" seruan dari spiker di dalam ruangan membuat senyum miring Launa luntur.
Yeko dapat merasakan pandangan aneh Launa. Kala melihat cairan darah yang di sedot dan organ jantung yang berdetak.