The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 85 (Bahagia)



Laura terlihat begitu semangat menyeret sang sepupu yang baru hitungan jam sampai di Jepang. Lea hanya mengikuti langkah kaki kakak sepupu nya itu. Di belakang tubuh ke duanya, Launa dan Cherry ikut serta. Launa hanya takut adiknya itu melakukan hal aneh pada adik sepupu mereka. Hingga, mau tak mau ia harus mengikuti langkah kaki ke duanya.


"Hah! Kolam." Keluh Launa melihat gedung besar di depan sana.


Jujur saja, Launa suka heran dengan sang kembaran. Kenapa sangat suka main ke kolam dengan air berwarna hijau itu. Di mana terdapat empat Buaya sang kakak di dalamnya. Entah apa yang di inginkan di tunjukan oleh Laura pada Lea. Saudara kembarnya itu sering kali tak terbaca. Hati kecil Launa berharap, Lea tidak akan syok. Apa lagi menangis karena ketakutan. Mama mereka akan sangat murka jika itu terjadi.


Kreat!


Pintu di buka oleh dua orang penjaga kolam Buaya. Sebelum membungkuk kan tubuh mereka pada putri Bos besar mereka. Ke empat nya masuk dengan semangat, yang paling semangat adalah Laura.


"Tara!!!!! Lihat lah bagus kan kolam nya," ujar Laura kala mereka berhenti di tepian kolam.


Kontan saja, Launa dan Cherry saling adu tatap. Ke duanya berpikir Lea akan menangis melihat seekor Buaya tua yang terlihat hanya empat langkah jarak antara mereka dan sang Buaya Jumbo.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


"Wah!!!" suara Lea terdengar nyaring,"Buayanya besar sekali. Mengalahkan boneka Buaya yang di beli papa!" Lanjut Lea antusias.


Eh? Launa dan Cherry terkangga mendengar seruan takjub dan melihat raut wajah kekaguman


Lea. Beda dengan Laura, anak perempuan itu terlihat tersenyum congkak pada sang kakak. Ia punya teman yang juga suka dengan Binatang kedepannya. Dan ini sangat membuat senyum sumringah di bibir Laura.


"Mau lihat dari dekat dong kak!" pinta Lea pada Laura.


Kepala Laura mengangguk. Anak perempuan bungsu Yamato itu mengulurkan tangannya untuk di pegangan oleh Lea. Lea menerima nya, melangkah masuk ke dalam kolam dangkal.


Dapat di lihat dengan jelas. Ke dua mata besar Jumbo membola malas. Jika Buaya besar tua itu bisa berbicara sudah pasti ia akan memaki anak manusia yang kian mendekat. Bola mata nya bergerak menatap teman seperjuangan yang terlihat sudah mencari aman. Begitu pula dengan keturunan mereka. Yang terlihat sangat jauh di ujung kolam. Seolah-olah mereka tau akan tabiat buruk si bungsu Yamato.


"Ada berapa gigi nya kak Laura?" tanya Lea kala sudah berada di samping tubuh Buaya besar itu tanpa rasa takut.


Laura tampak berpikir. Selama ia bermain dengan Buaya milik kakaknya. Ia tidak pernah menghitung berapa banyak gigi yang Buaya tua itu miliki. Lebih tepatnya ia tidak peduli pada Buaya. Hanya peduli saat menunggangi nya saja. Atau sekedar mendadani nya. Hanya sebatas itu saja.


"Entahlah. Kakak tidak pernah menghitung giginya!" jawab Laura jujur,"memangnya kenapa?" lanjut Laura kembali bertanya pada Lea.


"Kata papaku, Buaya di rumah ini sudah sangat tua. Menurut lagu Indonesia yang seringkali di putar. Lagu Burung kakak tua, katanya giginya tinggal dua. Jadi aku penasaran apakah giginya Buaya tua ini juga tinggal dua?" papar Lea dengan nada serius.


Jumbo mendengus dengan erangan kesal. Meskipun ia adalah binatang. Bukan berarti ia tidak mengerti obrolan manusia. Bagaimana bisa anak kecil itu menyamai nya dengan unggas. Dan soal nyanyian, anak perempuan satu ini tentu salah pengertian. Bukan gigi burung yang di nyanyikan tapi gigi sang kakek pemilik burung.


"Begitukah?" tanya Laura penasaran.


Kepala Lea mengangguk cepat. Sebelum tangan mungil nakal itu langsung menarik ujung bibir Jumbo ke atas tanpa aba-aba.


Cherry dan Launa yang masih berada di atas terlihat tercekat melihat tingkah berani Lea. Sungguh. Orang-orang yang menatap cctv tertawa melihat bagaimana nasib Buaya tua yang benar-benar kehilangan harga diri nya.


"Iiiy! Kok dia berlendir!" Keluh Lea melepaskan bibir keras Jumbo.


Launa, Laura dan Cherry tertawa keras melihat mata beserta raut wajah Jumbo. Buaya itu merasa terhina namun tak mampu melawan. Mengingat yang melakukan kekurang ajaran adalah keturunan Yakuza.


...***...


"Sejak kapan ayahmu di rawat di sini?"


"Sudah mau satu tahun." Jawab Ara lirih.


Vian menoleh di sela langkah kaki mereka. Menatap wajah lesu Ara.


"Lalu bagaimana dengan biaya Rumah Sakit?"


"Orang itu yang menanggung semuanya."


Kepala Vian mengangguk lambat. Pertanda ia mengerti. Sedikit banyak Vian tau tentang kenapa Ara di Rumah Sakit. Gadis seusia dengan nya ini mendapat musibah satu tahun lalu. Kecelakaan tragis merenggut ibu Ara. Sedangkan ayahnya koma, hampir selama setahun. Ara terpaksa home schooling mengingat tidak ada yang bisa menjaga ayahnya. Hidup tidak mudah bagi gadis di sampingnya ini. Kehilangan ibu yang sangat ia cintai.


Keluarga nya berada di Jepang karena ayahnya mendapatkan promosi jabatan. Membuat ia dan sang ibu ikut ke Jepang saat usianya delapan tahun. Sampai saat ini.


"Tidaklah kau ingin sekolah seperti biasa?" Tanya Vian lagi.


Kepala Ara mengangguk pelan. Wanita berkaca mata ini ingin bisa bersekolah seperti dulu lagi. Tapi, ia takut dan tidak percaya jika orang lain merawat sang ayah. Menjadi anak tunggal, membuat Ara menjadi seorang diri. Dalam suka maupun duka. Seperti saat ini.


"Tentu saja. Tapi, jika ayahku sudah sadar. Aku ingin sekolah seperti dulu lagi."


Vian menatap iba Ara. Ini kali pertama nya ia cukup cerewet dalam bertanya ada gadis satu ini. Gadis itu tersenyum lembut, membuat lesung nya terlihat. Langkah nya dan Ara berhenti di ruang rawat masal.


"Di sini," tanya Vian. Menatap pintu di belakang tubuh Ara.


"Ya," jawabnya,"terimakasih telah mau berbincang-bincang dengan ku," lanjut Ara.


Vian mengulas senyum."Hem! Sama-sama. Jika ada masalah mungkin kau bisa hubungi aku." Ujarnya sebelum menggoyangkan ponsel di tangannya.


"Ya!" Ara ikut mengangguk.


...***...


Sean terlihat tersenyum cerah. Kala ia baru masuk ke ruang tamu rumahnya. Leo berdiri dari posisi duduknya. Vian tercengang melihat Leo yang ada duduk di antara papa dan mama mereka.


"Paman!!!" Teriak Sean berteriak keras.


Pria remaja ini setengah berlari mendekati Leo yang melangkah cepat. Leo sangat rindu pada keponakan nakalnya. Hiro terkekeh melihat kelakuan ke duanya. Saling berpelukan dan berputar-putar. Ke dua nya tampak bahagia. Vian mengeleng pelan kepalanya melihat kelakuan kembaran dan paman nya. Kedua memang serasi sekali, serasi dalam tanda kutip sama-sama kekanak-kanakan jika sudah berjumpa.


"Aku kangen paman!" Ujar Sean masih memeluk dan meloncat-loncat di ikuti oleh Leo.


"Paman juga kangen kenakalan mu!" Balas Leo.


Kedua berhenti berjingkrak-jingkrak. Leo menepuk pelan punggung lebar Sean. Sebelum melirik Vian di belakang tubuh Sean. Ia dan Sean melepaskan peluk kannya. Sebelum melangkah mendekati Vian. Leo memeluk keponakan pertamanya. Yang kelakuan nya hampir mirip dengan Hiro. Terlalu dingin dan apa adanya.


"Paman juga merindukan, pangeran es satu ini!" ujar Leo. Sebelum menepuk pelan punggung Vian.


Vian tersenyum. Sean sudah berlari mendekati Lea yang berada di sofa. Rumah besar terdengar gaduh.