
Hari demi hari kesibukan yang Rahimah lalui menjelang Ramadhan ialah bekerja di butik barunya. Padahal pakaian yang ia buat adalah dengan merk baru ... dan Rahimah sempat sedikit heran karena pelanggan di tempatnya selalu bertambah banyak.
Walau masih ada baju lain dengan label terkenal, mereka malah memilih baju rancangan darinya. Tapi rupanya koneksi dari seorang Abdar yang menarik dan membuat pelanggan berlangganan tetap di tempatnya tersebut.
Rahimah tidak masalah, yang penting hobby-nya tersalurkan dan bajunya tetap laku dipasaran. Ia malah bersyukur, karena campur tangan suaminya ia tidak perlu repot-repot untuk promosi.
Di waktu senggangnya tiba-tiba trio wewek datang berkunjung, dengan senang hati ia menyambutnya.
"Assalamualaikum," salam serempak dari depan pintu ruang kerjanya membuatnya tersenyum lebar.
"Wa'alaikumussalam," sahut Rahimah sambil berdiri dan berjalan mengitari meja kerjanya guna mendekati trio wewek.
"Lagi ngerjain apa?" tanya Soraya melirik meja di mana tadi Rahimah tengah menyibukkan diri.
"Lagi gambar. Ayo duduk dulu." Rahimah membawa mereka duduk di sofa panjang.
"Nuri nggak ikut, Rul?" Rahimah mencari keberadaan anaknya Nurul.
"Nggak, lagi main sama neneknya tadi ... Jadi nggak mau ikut."
"Besok datang ke rumah aku ya, Imah! Mau ada acara empat bulanan," suruh Soraya sambil menerangkan.
"Wah nggak terasa ya, sudah empat bulan aja," seloroh Rahimah sambil mengusap perut temannya yang mulai buncit.
"Nggak terasa bagimu, lah bagiku ... rasanya sudah berbulan bulan," kesal Soraya.
"Hehe, iya ya ... kamu'kan tiap pagi harus setor ke kamar mandi dulu ya?" Rahimah meringis sadar salah bicara.
Soraya yang masih hamil muda setiap pagi selalu mengalami Morning Sickness, dan sekarang Rahimah menganggapnya begitu cepat berlalu sehingga ia menjadi kesal.
"Heran deh aku, perasaan waktu hamil Rayan nggak gini gini amat," keluh Soraya.
"Syukuri apa yang kamu rasakan saat ini, karena tidak semua perempuan bisa merasakannya," kata Dinda sendu.
Ketiganya menatap Dinda prihatin. Disaat ia yang hendak menjalankan program bayi tabung, ia malah digugat cerai sang suami. Dinda tentu turut bahagia melihat teman-teman dengan keluarga kecil mereka, tapi di lubuk hatinya ada rasa sedih yang ia pendam.
"Jangan sedih begitu, kami yakin ... sebentar lagi kebahagian yang tiada tanding akan hadir kepada kamu Din," hibur Rahimah merangkulnya sayang.
"Aku nggak sedih kok," elak Dinda.
"Apa lagi, bakalan ada bayi lagi di antara kita," sambungnya dengan senyum yang dipaksakan sambil ikut mengusap perut yang belum terlalu terlihat.
"Iya, sebentar lagi bulan Ramadan ... jadi buang jauh-jauh kesedihan dan jemput kebahagian di bulan puasa," ujar Nurul menimpali.
"Jadi jam berapa acaranya?" tanya Rahimah.
"Jam dua siang. Ajak sekalian mas Abdar sama Rahman ya!"
"Insya Allah," janji Rahimah.
Lama saling mengobrol, meraka pun dikejutkan oleh kedatangan Abdar. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam, mas." Rahimah langsung menyalami suaminya.
"Wah, lagi ngumpul rupanya?" kata Abdar sambil memperhatikan trio wewek.
"Mas Abdar, cepat bener pulang kantornya," heran Nurul.
"Baru juga jam tiga," ujar Nurul melirik waktu dilengan nya.
"Tadi ada keperluan, jadi pulang lebih dulu."
"Kasian ya, mas Adit ... pasti kerepotan jadi asistennya mas Abdar," sindir Dinda.
Abdar meringis, sadar karena telah di sindir. "Sayang, ingat sama rencana kita waktu itu. 'kan?" elaknya merubah topik pembicaraan.
"Rencana apa Mas?" tanya Rahimah sambil mengingat-ngingat sesuatu.
"Itu ... rencana kita yang mau ke Malaysia," ujar Abdar.
"Malaysia?" beo trio wewek serempak tersentak kecil.
"Kenapa Mas?" Rahimah mengabaikan rasa terkejut teman-temannya, karena begitu penasaran.
"Habis lebaran saja ya berangkatnya, nggak apa-apa kan?" tanya Abdar.
"Aku sih terserah mas Abdar aja, emang kenapa mas?" balas Rahimah bertanya.
"Nggak apa-apa, cuman lusa kita juga harus berangkat."
"Hah, maksudnya?" kata Rahimah tidak mengerti.
"Lusa kita berangkat Umroh."
"Hah, Umroh?" pekik keempat wanita itu.
"Mas, kok dadakan sih?" keluh Rahimah.
"Kalau pergi umroh, berarti kita akan melewati sahur pertama di sana dong?!"
Trio wewek saling pandang, karena tidak dihiraukan mereka memutuskan untuk diam menyimak pembicaraan pengantin baru tersebut.
"Iya sayang, karena Rahman dulu bilang dia mau liburan ke Malaysia .., dan aku lupa kalau sebenarnya sudah punya rencana! Jadi biar dia puas, habis lebaran kita tinggal lama di Malaysia! Kalau pulang Umroh, takutnya kamu kecapekkan."
"Tinggal lama?" heran Rahimah.
"Hmmm, dua minggu."
"Apa itu nggak apa-apa, Mas?"
"Apa yang kamu takutkan? Jelaslah, itu tidak apa-apa."
Rahimah melirik Dinda yang sedang memajukan bibir bawahnya, seperti mengejek. Paham dengan itu, Rahimah kembali menatap sang suami.
"Apa Itu tidak akan merepotkan mas Adit, Mas? Nanti dia bisa kesulitan menangani kantor kalau kamu nggak ada," keluh Rahimah.
"Tenang saja, di kantor sudah mas tambahkan asisten baru buat bantu-bantu Adit. Jadi jangan terlalu dipikirkan," ucap Abdar menenangkan.
"Emang bener?" gumam Dinda pelan sekali.
Soraya dan Nurul yang berdiri di samping Dinda tertawa tertahan karena samar terdengar, mereka tahu kalau Adit mulai mendekati Dinda.
"Tapi kita belum ada persiapan Mas," kata Rahimah.
"Tenang saja, semua sudah beres."
"Baiklah, Mas." Rahimah tidak masalah berapa lama mereka pergi, hanya saja ini terlalu mendadak baginya. Ia juga khawatir tentang pekerjaan Abdar. Untuk pergi ke Malaysia, Rahimah tidak akan memikirkannya ... karena masih terlalu lama. Rencana hanya rencana, sebab bisa berubah nantinya.
Kaya akoh .... π π€
"Oiya Mas, tadi Soraya mengundang kita buat acara empat bulanannya, mas bisa datangkan?" tanya Rahimah.
"Bisa! Jam berapa?" Abdar langsung bertanya pada Soraya.
"Jam dua siang, mas."
"Oke, kami akan datang." Abdar segera mengiyakan.
.
...*******************...
.
Rahimah dan anak juga suaminya sudah bersiap guna menghadiri acara empat bulanan Soraya yang akan dilaksanakan di hotel keluarga Zidan.
"Sudah siap, ayo kita berangkat." Abdar menggandeng mesra Rahimah.
"Ayo," balas Rahimah tersenyum malu.
"Rahman, ayo sayang." Rahimah melambaikan tangannya pada Rahman yang berjalan mendekat.
"Iya, ma."
...-------------------...
.
Setibanya di hotel, sudah terlihat banyaknya mobil yang terparkir guna menghadiri acara. Karena halamannya begitu luas, jadi tidak menyulitkan Abdar untuk memarkirkan mobilnya. Di sana sudah ada Nurul bersama keluarga kecilnya, dan Dinda dengan kesendiriannya.
"Imah, sini?" panggil Dinda sedikit berteriak.
"Ayo Mas." Rahimah mengajak Abdar dan Rahman dengan semangat.
Mereka bersama menuju ruangan acara. Acara pun segera dilaksanakan dengan pengajian yang dipimpin oleh Ustadzah Habibah. Semua berjalan lancar tanpa kendala, hingga sampai pada penghujung acara.
Ternyata selain pengajian, mereka juga mengadakan baby shower. Di sudut ruangan ada begitu banyak balon berwarna merah muda dan biru muda yang tadi tertutup oleh dinding putih besar sehingga tadi tidak terlihat.
Dengan seorang MC yang mengambil alih acara, dan turut mengucapkan selamat pada keluarga Soraya dan Zidan. Rayan tidak luput mendapat pujian serta menjadi bintang karena akan menjadi seorang kakak.
Kini ketiga orang yang menjadi pusat perhatian para tamu sudah berdiri dengan sebuah balon putih yang di pegang Soraya dan Zidan, Rayan bertugas untuk memecahkan balon tersebut.
Seketika tepuk tangan dan sorak sorai menggema di dalam ruangan tersebut saat Rayan memecahkan balon, ada sebuah kertas berbentuk hati dan berwarna merah muda.
Sudah dipastikan, jika adik dari Rayan adalah perempuan. Tanpa sadar Rayan turut tersenyum ketika tahu adiknya perempuan.
"Aku juga akan membuat acara seperti ini nanti, untuk menyambut adiknya Rahman," bisik Abdar lembut sambil merangkul Rahimah.
"Amin, semoga Mas." Rahimah mengaminkan.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Semoga bisa mengobati sedikit rasa rindu kalian kepada keluarga kecil Rahimah. π€π€π€