
Hai gays, apa kabarnya hari ini? Semoga puasanya tetap semangat sampai beduk ya! π
Buat teman-teman yang sudah senantiasa meluangkan waktu guna menemani perjalanan Rahimah dan keluarga kecilnya, saya ucapkan banyak-banyak terimakasih π.
Untuk saat ini, Rahman belum saya tambahkan extra part ya. Karena saya sedang menggarap Dinda dan Adit π.
Beberapa waktu lalu saya sempat mengatakan jika karya baru, akan saya up date sehabis lebaran! Namun, ternyata saya tidak bisa menahan diri untuk tidak up date hari ini. Jadi saya putuskan untuk menerbitkan karya baru hari ini π .
Semoga teman-teman semua, mau kembali memberikan dukungannya kepada karya baru saya, dan saya tunggu kehadirannya. π
Cuplikan ....
Di sebuah kamar besar dan luas, seorang wanita berusia 31 tahun tengah sibuk merias diri di depan cermin yang menempel di meja rias. Akan tetapi walau usianya sudah kepala tiga ia masih terlihat berumur 25 tahunan.
Adinda Larasati Zainudin yang lebih akrab dipanggil oleh teman-temannya Dinda, dengan fasilitas lengkap terlihat sudah status soaialnya. Tapi tidak ada yang menyangka kalau gadis cantik itu adalah anak dari seorang pengusaha.
Gandhi Zahir Zainudin berasal dari pulau Kalimantan, pengusaha batu bara dan perkebunan yang cukup dikenal oleh orang Banua, tapi tidak di Jakarta ... karena memang hanya sebagian saja yang mengenalnya, dan Asmita Numari Zainudin seorang dokter kandungan asli Jakarta.
Semenjak duduk di bangku sekolah dasar Dinda sudah menyembunyikan identitas aslinya. Apa lagi Dinda memilih masuk ke sekolah swasta, tentu tidak ada yang merasa curiga akan jati dirinya.
Kepiawaiannya dalam hal berdandan sudah tidak diragukan lagi walau tanpa memakai make up pun Dinda tetaplah terlihat cantik, hanya saja semenjak menyandang gelar seorang janda beberapa bulan lalu Dinda mulai jarang memakai alat make up nya.
Suaminya Angga Gauhar Wistara saja bahkan tidak tahu kalau Dinda adalah anak dari orang kaya, mungkin seandainya suaminya tahu Dinda berharta pasti tidaklah digugat cerai.
Ini semua karena perjanjian dirinya dengan keluarga, dimana semua keluarga menentang pernikahannya dan sang suami. Dinda pun disuruh memilih, menyembunyikan identitasnya atau batal menikah, akhirnya Dinda tetap menikah. Namun, tidak menyangka pernikahan yang hanya seumur jagung harus hancur seketika karena hadirnya pihak ketiga.
Khusus malam ini, Dinda sedikit merias wajahnya tanpa berlebihan, hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan memuji kecantikan alaminya.
Bukan tanpa alasan kenapa Dinda demikian, karena malam ini adalah hari resepsi pernikahan temannya Rahimah. Acara tersebut akan digelar di salah satu hotel ternama dan terkenal, tidak lain ialah milik temannya Soraya, tapi entahlah ... mungkin juga karena akan ada kehadiran seseorang di tempat tersebut.
Mengoleskan blast on sebagai sentuhan terakhir, Dinda memandang puas hasil karya tangan nya. Mata bulat tidak terlalu besar, dengan bulu mata lentik asli hanya ditambahkan maskara dan dibingkai eliner saja.
Soft lens berwarna hitam pekat menyamarkan bola matanya yang coklat, serta kelopak mata sedikit berwarna hampir sama dengan pipinya tidak terlalu tebal.
Merapikan pakaian yang membalut tubuh rampingnya, baju gamis sederhana berkain satin lurus dan dilapisi brokat berwarna cream senada dengan jilbab yang sudah melilit di kepalanya, satu kata untuk Adinda Larasati Zainudin ... Sempurna.
Bunyi dering ponsel menyadarkan Dinda dari aktivitasnya. Mengambil benda bersegi di atas meja dan mengangkat nya setelah mengetahui identitas si penelpon.
"Assalamualaikum, ma!" senyum mengembang seketika terpasang dari wajah manisnya walau orang di seberang sana tidak melihatnya.
π"Wa'alaikumussalam, Adin," terdengar balasan dari sang mama.
"Apa mama bisa pulang?" tanya Dinda to the points.
Ayah dari ayahnya kemarin harus masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung, untungnya ada sang Mama yang bisa memberikan pertolongan pertama sebelum dirujuk. Walau bukan bidangnya, tapi Mama Mita cukup tahu apa yang harus dilakukan, sehingga mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.
Sebelum sang kakek sakit, beliau sudah menyerahkan restoran yang dibelinya sekitar lima tahun yang lalu dari teman lama kepada Dinda, khawatir tidak bisa mengurus. Sebenarnya sudah lama hendak diberikan kepadanya, hanya saja Dinda selalu menolak.
"Yahh." Dinda memelas, bahkan kedua bahunya ikut turun.
"Berarti mama nggak jadi ikut dong ke resepsi pernikahannya Imah?" sambungnya dengan nada kecewa.
π"Maafin mama, sayang. Tapi kamukan sudah biasa pergi sendiri! Lagian, apa kamu lupa? Teman-teman kamu tidak ada yang kenal sama mama! Mereka taunya mama kamu itu Bunda Vita kan?"
"Iya sih," ujar Dinda mengerutkan kening sembari berpikir.
Dinda yang dulu masuk di sekolah biasa terpaksa harus ikut tinggal bersama Bunda Vita, adik dari sang mama agar jarak rumahnya tidak terlalu jauh menuju sekolah. Itu sebabnya ia bisa berteman dengan Rahimah, Soraya, dan Nurul.
Bunda Vita yang divonis mandul jelas begitu bahagia mengetahui sang keponakan yang mau tinggal bersamanya, ia dan suaminya hanyalah seorang karyawan biasa.
Sebenarnya sang mama tidak memberikan izin, tapi ketika Mita mengetahui dirinya hamil lagi Mita pun membiarkan Dinda dirawat sang adik, dengan syarat seminggu sekali menginap di rumah sendiri.
Setelah menikah Dinda tinggal di rumah sang suami, dan usai bercerai ia kemudian memilih tinggal di rumahnya sendiri.
π"Kenapa nggak ajak Bunda Vita aja, sayang?" tanya mamanya tersirat saran.
"Tadi siang Adin sudah hubungi Bunda Vita, takut mama nggak bisa ikut! Tapi ternyata Bunda Vita juga ada acara," jalas Dinda.
π"Tapi mama nggak bisa ninggalin kakek dan papa kamu, Adin. Kasian mereka," kembali menjelaskan keadaan yang tidak bisa ikut hadir.
"Iya ma, Adin paham kok. Nggak apa-apa kalau mama nginep di rumah sakit .... Besok Adin dan Bunda Vita akan ke sana, salam buat papa dan kakek ya ma!" maklum Dinda.
π"Iya sayang, apa kamu sudah mau berangkat?"
"Iya ma, Adin sudah siap." Dinda mengangguk padahal sang mama tidak dapat melihat.
π"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya Adin. Assalamualaikum."
"Iya ma, Wa'alaikumussalam," satu helaan napas lolos dari mulutnya seiring ponsel yang Dinda matikan.
...?????...
Langsung klik saja profil saya biar bisa baca 'Cinta Lembayung Senja.' Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, salam sayang Noormy_Aliansyah ππ.