Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 30 WARNING ... Mengandung unsur kekerasan, tidak untuk anak di bawa umur.



Peringatan ... terdapat adengan berbahaya, tidak untuk di tiru oleh anak di bawa umur.


......................


Rahman yang di ajak Masternya untuk ke dojang, hanya diam tanpa banyak tanya. Saat ia sudah sampai di tempat parkiran, Masternya memberitahukan tentang klien yang sudah dari dulu menunggu kabarnya untuk membantu mereka.


Masternya mengatakan, bahwa nanti setelah dari dojang ini, mereka akan langsung ke tempat yang sudah di rencanakan untuk pertemuan dengan kliennya.


Berjalan di samping master Candra menuju gedung, di halaman gedung tersebut banyak tumbuh tanaman bunga-bunga dan pepohonan yang cukup rindang. Cocok untuk mereka bersantai jika ingin melepas lelah sehabis berlatih taekwondo.


Memasuki gedung dojang, Rahman melihat banyaknya anak-anak seusianya berjenis laki-laki dan perempuan yang sedang berlatih taekwondo. Sebagian dari mereka mulai memperhatikan kedatangan Rahman bersama dengan Master Candra, dan beberapa detik berikutnya semua pun kini memandang Rahman dengan penuh keingin tahuan tentang dirinya yang baru mereka lihat hari ini.


Terdengar bisik-bisik yang menjadi backsound langkah kakinya di sepanjang jalan, tapi ia tidak peduli.


Rahman dan master Candra mendekati salah satu master yang melatih tersebut. Master itu tidak terkejut dengan kedatangan mereka, karena memang sudah di ketahuinya lebih dahulu.


"Hai bro, jadi ini anak yang kau katakan itu?" mereka bersalaman layaknya teman akrab.


"Ya, namanya Rahman," Master Candra nemerintahkan Rahman untuk bersalaman.


Rahman mencium punggung tangan yang belum ia tahu namanya, atau siapanya Master Candra.


"Ayo, kita keruanganku," ajaknya seletah meminta seseorang untuk menggantikannya.


Melewati deretan anak-anak, Rahman bisa melihat ekspresi yang tidak bersahabat. Mereka seperti mengibarkan bendera perang kepada dirinya, tapi ia coba mengabaikannya.


Memasuki sebuah ruangan, tidak jauh berbeda dengan ruangan yang di miliki master Candra yang berada di Bandung. Hampir sama, sebelas dua belas.


"Aku serahkan dia padamu ... tolong kau bimbing Rahman selagi dia jadi muridmu di sini, dan dia sudah memakai sabuk merah dengan dua stpir hitam. Sedikit lagi, Rahman akan naik sabuk DAN (sabuk hitam)," ujar master Candra penyerahan Rahman secara langsung kepada rekannya, saat dia sudah duduk di kursi sofa yang di sediakan dalam ruangan tersebut ... begitu juga Rahman yang di persilahkan duduk.


"Baik akan ku bimbing dia, tapi kalau sudah sabuk merah ... Rahman pasti sudah sangat berpengalaman walau tanpa bimbingan," pujinya mengakui sabuk yang di sandang Rahman.


"Ya itu benar, tapi walau pun seperti itu, kamu harus tetap bertanggung jawab atas drinya jika terjadi sesuatu." Master Candra mengucapkannya dengan nada suara yang terdengar serius.


Rekan master mengangguk mengerti, memang benar yang dikatakan master Candra. Karena dialah selaku penanggung jawab di tempat ini, jadi dia harus membimbing dan menjaganya sebagai murid baru.


"Baiklah Rahman, semoga kamu bisa betah di dojang ini. Kamu bisa memanggil saya master Yudi." ucap master Yudi tersenyum tulus.


Rahman mengangguk takzim. "Jonbi, master Yudi." Ucapnya juga membalas senyum sang master.


Rahman melihat-lihat keadaan sekitar di dalam ruangan tersebut, ia tidak terlalu menyimak apa yang di bicarakan oleh ke dua master itu. Sebenarnya Rahman cukup penasaran dengan latihan yang baru ia datangi ini, tadi ia hanya melihat sambil lalu.


"Rahman, kalau kamu mau ... kamu bisa melihat-lihat tempat ini di luar," usul master Yudi.


"Ya kalau Rahman ingin melihat, bisa sebentar, sebelum kita pergi," kata master Candra sambil menepuk pundaknya pelan, yang selalu paham dengan keinginannya.


"Kalau begitu, saya keluar dulu ... ingin melihatnya," bergegas Rahman mengambil kesempatan untuk berjalan-jalan di luar.


Saat Rahman sudah ke luar ruangan, ia berniat berjalan mendatangi tempat banyaknya anak-anak tadi. Tidak sengaja di tengah jalannya ia malah di cegat oleh beberapa anak.


"Hai anak baru, lo sebagai murid baru di sini harus memberi hormat pada bos kita, dan panggil dia bos," kata salah satu anak menyuruhnya, sambil menunjuk kepada kawannya yang dia panggil bos.


Tentu saja Rahman tidak mau, siapa mereka yang dengan sombongnya memberi perintah kepadanya ... untuk membanggil bos.


"Aku tidak mau," ucap Rahman datar dan tegas.


"Lo murid baru jangan banyak tingkah, kalau lo gak mau nurut sama perintah kami ... lo bakalan ngerasain pukulan dari gue!" ujar orang yang ingin di panggil bos tersebut.


"Apa lo berani sama gue? Kalau lo berani, kita bertarung?" dengan angkuhnya anak laki-laki itu menantang Rahman, dia bahkan memandang remeh pada Rahman.


"Siapa takut? Aku terima tantanganmu," ucap Rahman dingin tidak suka di tatap seperti itu.


Mereka membawa Rahman ke tempat pertarungan, seorang anak yang memangil temannya bos itu bahkan dengan bangganya memberi pengunguman tentang pertarungan bosnya dengan Rahman kepada semua orang yang berada di sana.


Semua orang mengelilingi mereka berdua sambil duduk, anak itu berada tepat di depan Rahman dengan jarak beberapa meter.


Anak itu pun menunjukkan beberapa gerakan pembuka, memukul dan menendang, dari bawa hingga ke udara dengan cepat.


Tidak ingin di remehkan Rahman juga melakukan gerakan yang sama, kemudian menambah gerakan putar dan menendang dengan cepatnya.


Semua terpaku memandang takjub pada murid yang mereka kira baru masuk dalam pelatihan. Tapi setelah melihat kelihayan Rahman dalam bela diri dan melakukan beberapa gerakan, membuat mereka tahu dan yakin ... bahwa Rahman bukanlah murid yang baru belajar, melainkan murid yang sudah fasih dalam bela diri.


Anak itu kembali beraksi dengan menggunakan gerakan berputar-putar dari samping masih mendendang ke udara dan sambil melakukan salto di udara. Begitu juga Rahman.


Lagi anak itu menunjukkan gerakan salto di udara dan melakukan tendangan pada sebuah kayu yang di pengang oleh orang dewasa setinggi badannya, dengan posisi kepala di bawah dan punggung kaki menghantam kayunya.


Rahman juga mengikuti gerakan yang sama tapi menghantam menggunakan tumit, membuat anak itu kesal, karena selalu bisa di tiru oleh Rahman.


Anak itu menantang Rahman untuk bertarung satu lawan satu, yang langsung di setujui Rahman. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak satu meter, kemudian sama-sama membungkuk memberi hormat tanda saling menghormati.


Pertarungan satu lawan satu pun di mulai, saling memukul dan menendang yang hampir saja mengenai perut Rahman tapi ia segera menghindar.


Rahman membalas mengeluarkan gerakan memukul, melakukannya dengan sangat cepat di akhiri dengan tendangan di wajah dan bisa mengenai lawan tapi hanya membuatnya mundur beberapa langkah. Kembali maju saat kesempatan masih ada, mengeluarkan jurus memukul dengan cepat walau melesat kembali menendang yang lagi-lagi mengenai lawan hingga tersungkur ke bawah.


Rahman membiarkan musuh bangkit sempurna dan mereka bertarung kembali. Dua kali tendangan dari lawan hampir mengenai Rahman. Ia pun melakukan salto di udara untuk menghindarinya kemudian maju kembali kehadapan lawan dengan cepat, membuat tumpuan di bahu lawan dan sedikit mendorongnya kebawah agar ia bisa menaikan kakinya lalu menyapit leher lawan kemudian menarik badan lawan kedepan dengan sangat cepat, kedua tangannya bertumpu di lantai hingga membuat lawan jatuh terlentang dan sekarang Rahman dalam posisi duduk di atasnya siap memberi tinju di wajah sang musuh.


Semua penonton di buat tegang oleh aksi pertarungan mereka, Rahman yang sudah siap dengan tangan yang menggantung di udara ingin meninjunya, tapi sebelum Rahman melayangkan tinjunya, sang lawan keburu memohon minta di ampuni.


Rahman pun urung melakukannya, dan ia memilih bangkit dari atas tubuh lawannya. Rahman pikir semua sudah selesai, tapi ternyata lawannya itu meminta bantuan pada rekannya. Yang bisa di katakan bahwa lawannya ialah beberapa orang dewasa, sekarang Rahman seperti hendak di kroyok ... sama sekali tidak seimbang.


Itu semua tidak membuat Rahman takut, ia bersikap seolah itu hal yang biasa. Satu diantara orang dewasa itu maju, dengan mudahnya Rahman melumpuhkan lawannya hanya dengan satu kali tendangan di kepala dan musuh langsung terjatuh.


Maju lagi musuh yang lain hendak menendang Rahman, tidak tinggal diam Rahman pun sedikit bergeser kesamping dan menarik kaki lawannya kedepan hingga membuat lawannya terjatuh dalam posisi split, musuh hendak bangkit tapi di tahan oleh Rahman dengan menekan paha belakang musuh menggunakan kakinya membuat musuh meringis kesakitan.


Di ujung sana orang yang menyuruh mengeroyok Rahman nampak tersentak kaget dan khwatir melihatnya.


Melihat masih ada dua musuh Rahman maju, karena ukuran tubuh musuh yang lebih tinggi dari Rahman membuat musuh bisa memegang kerah baju belakang Rahman dan menahan Rahman saat rekannya melakukan tendangan hingga mengenai dadanya.


Kali ini musuh memegang kendali tidak melepaskannya, saat musuh hendak membenturkannya ke tihang ... Rahman pun mengambil kesempatan. Menjadikan tihang tersebut menjadi tumpuan kakinya membuat gerakan salto ke udara dan sekarang posisinya di belakang musuh, saat musuh hendak berbalik dengan cepat Rahman menendang satu kaki musuh sehingga lawan hilang keseimbangan lalu terjatuh.


Rahman pun hendak melepaskan, ia kembali memanfaatkan keadaan. Di waktu ia terkepung dalam jarak dekat, Rahman menjadikan semua orang menjadi tumpuan saat orang yang masih memegang kerah bajunya belum melepaskan, ia menggunakan gerakan melayang dan perputar ke udara dengan bantuan orang yang menopang tubuhnya dan menendang satu persatu semua lawannya hingga terjatuh.


Efek dari gerakan Rahman yang berputar membuat kesempatannya melepaskan diri terbuka lebar, di peluknya lawannya dari samping dan sedikit memberi tarikan ke depan hingga lawan pun terjatuh ... dan sekarang semua musuh terjatuh meringis menahan sakit.


Rahman pun berjalan meninggalkan lawan-lawannya yang masih terbaring di lantai, ia mendekati orang yang menyuruh mengeroyoknya tadi.


"Jadi ... apa kau bosnya?" ujar Rahman dingin.


"Bukan, aku bukan bosnya ... kalau kau mau, kau bisa jadi bosnya," ucapnya ketakutan.


Rahman tidak menjawab lagi, ia berlalu pergi dari tempat pertarungan tersebut. Semua mata menatap kearah Rahman yang pergi dari area pertarungan, sembari berbisik-bisik mengatakan Rahman seorang yang hebat dan berbagai pujian lainnya.


Rahman terus berjalan, tanpa kembali menoleh kebelakang. Ia akan kembali keruangan tempat master Yudi dan Candra tadi.


Terasa cukup melelahkan bagi Rahman, karena melawan beberapa orang sekaligus. Yang ia perlukan saat ini ialah, minum banyak air putih dan beristrahat sebentar.


"Kau sudah kembali?" tanya master Candra saat Rahman sudah masuk.


"Ia master," ucapnya seraya duduk.


"Kenapa berkeringat seperti itu? Apa tadi kau sudah ikut latihan?" master Candra mengerutkan kening, saat melihat Rahman yang berkeringat.


Rahman belum menyahut, karena fokosnya sekarang ada pada minuman yang berada di atas meja di hadapannya duduk. Segera ia mengambil gelas berisi air tersebut dan meneguknya sampai habis.


Meletakkan kembali gelas kosong itu keatas meja, kini dehaga Rahman sudah sedikit berkurang, tapi belum benar-benar hilang.


Master Candra yang melihat Rahman minum dengan cepat, semakin berkerut dan saling pandang dengan master Yudi. Kemudian diam memperhatikan Rahman yang kali ini melirik minuman di depan master Candra.


Sadar minumannya di perhatikan Rahman, master Candra pun mengambilnya dan menyerahkannya kepada Rahman yang memang belum sempat ia minum.


"Minumlah," kata master Candra yang kini yakin, bahwa Rahman baru saja melakukan latihan, karena melihat Rahman yang begitu kehausan.


"Terimakasih master."


Sama saat minum tadi, hanya dalam hitungan detik saja minuman dalam gelas itu sudah berpindah kedalam mulut Rahman dan melewati tenggorokan hingga jatuh ke dasar perut.


"Jadi ... apa kamu habis latihan?" melihat Rahman yang tidak lagi kehausan, master Candra segera menanyainya.


Menoleh pada sang Master, Rahman pun tersenyum dan dengan cepat mengangguk-nganggukkan kepalanya.


"Iya master," ujar Rahman santai.


"Wah Rahman, kamu sudah ikut bergabung rupanya dengan teman-teman barumu?" master Yudi ikut menyahut.


"Berarti saya tidak perlu memperkenalkanmu pada mereka, karena mereka pasti sudah tau saat melihat gerakanmu yang sangat berpengalaman waktu latihan," kini giliran Rahman yang mengerutkan kening.


"Tadi memang merekalah yang menyuruh saya melakukan latihan, tapi saya belum menyebutkan nama," Rahman tidak menceritakan pertarungan tadi, ia tidak ingin di sebut sebagai jagoan. Tadi bahkan ia tidak menduga akan bertarung di depan sumua murid taekwondo, Rahman pikir hanya mereka saja.


Master Yudi tertawa, saat mendengar pernyataannya tanpa Rahman mengerti arti dari tawanya.


"Hahaha jadi kamu di suruh oleh mereka melakukan latihan?" dengan ragu Rahman mengangguk.


"Aku yakin, latihannyanya pasti sebuah pertarungan?" kata master Yudi menyandarkan punggung di sandaran sofa, sambil mengusap dagunya dengan satu tangan yang ia topang denga tangan satunya.


Rahman meringis, sekarang ia sudah paham dengan maksud dari tawa master di hadapannya ini. Mungkin ini sudah biasa terjadi, hingga master Yudi bisa menyimpulkan seperti itu.


"Jadi berapa orang yang kamu lawan?" Rahman kalah telak, sepertinya pengusiran dirinya tadi dari ruangan ini memang di senggaja di lakukan oleh master Yudi agar ingin mengujinya.


Rahman pun mengangkat lima jarinya ke depan master Yudi, membuat sang master berdecak kesal.


"Apa mereka mengkroyokmu?" terdengar nada tidak suka yang di lontarkan oleh master Yudi.


Menggaruk kepala yang tidak gatal, Rahman menoleh pada master Candra meminta bantuan yang master sendiri tidak paham bantuan apa.


Master Candra hanya mengangkat kedua bahunya samar, karena memang tadi tidak tahu kejadian sebenarnya.


"Emm tidak master." Rahman mengelak tidak ingin memperpanjang urusan.


"Syukurlah kalau begitu," bisa Rahman lihat, master Yudi merasa lega saat mendengar jawabannya.


"Kadang mereka memang suka seperti itu, kalau ada murid baru. Mereka ingin memperlihatkan kekuasaan di tempat ini, sebagai seorang senior. Jadi nanti kalau mereka kembali berulah, laporkan saja langsung kepada saya," pengakuan master Yudi sudah menjelaskan, bahwa semua yang Rahman alami tadi memang sering terjadi. Tapi mungkin master Yudi tidak tahu betul cara mereka melakukan pertarungan.


"Dan maaf, membuat hari berkunjungmu hari ini tidak mengenakan," terdengar tulus, mewakili muridnya master Yudi meminta maaf kepada Rahman.


"Tidak apa-apa, master."


"Kalau begitu, kami pergi dulu," master Candra mengangkat pergelangan tangannya, melihat jam di tangannya.


"Baiklah Rahman, jangan lupa jam latihanmu jam tiga sore," kata master Yudi yang langsung di angguki Rahman.


Rahman dan master Candra di antar oleh master Yudi ke halaman gedung dojang, saat melewali anak-anak tadi ... mereka semua menunduk samar seolah memberi perhormatan kepada master dan juga dirinya yang hendak pergi dari tempat itu.


BERSAMBUNG ....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


#salamkakawananbarataan


(salamtemantemansemua)


Salam dari Urang Banua😊✌


Noormy Aliansyah