Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 93 Trio wewek



"Kalian lama banget sih? Emang dari mana aja? Kita nungguin sampai garing tau!" Nurul, orang pertama yang mencecar pertanyaan kepada mereka.


"Tadi macet di jalan," jawab Rahimah memang benar.


"Emm, alasan itu mah. Mereka pasti habis menghabiskan malam pasan terus disambung jadi siang panjangggg," kata Soraya sambil menekan kalimat diakhirinya.


"Cieee ... yang udah buka puasa, habis berapa ronde bang?" goda Nurul, tapi Abdar mengabaikannya.


"Kalau dilihat dari kedatangannya nih ya, kayanya lima ronde!" Dinda ikut menimpali.


"Kalian apa-apaan sih? Orang kena macet juga," kata Rahimah acuh tak acuh.


"Ayo, kita lihat kamar kita." Ajak Abdar merangkul bahu Rahimah mesra.


"Uuu ... ada yang bucin tuh. Dunia serasa milik berdua ... tau gak gays? Kita ini cuman ngontrak!"


Semua terkekeh geli.


Rahimah menghela napas pasrah, tidak bisa menolak suami yang tiba-tiba menyebalkan. Karena dengan sengaja ia menunjukan kemesraan dihadapan teman-temannya.


"Heh kalian, ayo temani mereka melihat-lihat keadaan rumah baru." Tegur Ustadzah Habibah sambil berlalu ke dapur.


"Ibu mau kemana?" tanya Dinda cepat.


"Ke dapur," jawabnya pendek.


"Ngapain bu?"


"Buat minuman untuk Imah dan suaminya."


"Aku ikut bu." Dinda segera menyusul Ustadzah Habibah.


Sementara itu, Soraya dan Nurul menemani Rahimah dan Abdar.


"Ini kamar kita sayang." Kata Abdar sambil mendorong pintu berwarna coklat.


Berjalan masuk Rahimah mengedarkan penglihatannya ke segala sudut, meneliti tempat letak ranjang yang berada di tengah-tengah dengan kursi panjang di ujung ranjang kaki tanpa sandaran. Tidak usah ditanyakan lagi ukurannya, yang jelas muat untuk membuat adiknya Rahman. πŸ˜…


Meja rias di samping dekat pintu, serta terdapat dua sofa santai tunggal di sisi satunya dekat balkon.


Terdapat tv yang menggantung tepat di seberang tempat tidur, di sudut ruangan ada pintu dan ternyata walk in closed berukuran besar.


Rahimah dan Abdar masuk melihat isinya. Dua wardrobe berdampingan dengan warna putih langsung menyambut perhatiannya karena ukurannya yang begitu tinggi, di depannya ada meja persegi empat ditutupi kaca bening yang sudah terisi macam-masam perhiasan, jam tangan dan dasi.


"Ya ampun mas," ujarnya terkesiap.


"Ini untuk istri cantik ku." Puji Abdar mengusap wajah Rahimah yang nampak pucat tak percaya.


"Duh, yang nggak ingat sama kita." Sindir Nurul sambil melihat perhiasan.


"Siapa juga yang ingat sama kalian?" Rahimah yang terharu tiba-tiba berubah kesal dengan Nurul.


Di sisi lain, ada wardrobe sepatu wanita dan pria. Abdar sudah tahu kesukaan sang istri, jadi ia menyiapkannya sesuai dengan keinginan Rahimah.


Tidak ketinggalan tempat parfum, berbagai aroma ada dan tersusun rapi di dalam almari kecil tinggi yang bisa di putar.


Di sudut ruangan itu pun ada pintu lagi. Penasaran Rahimah langsung membuka, dan ternyata adalah kamar mandi dengan bak mandi berukuran sedang, Rahimah tersenyum haru karena ia tidak pernah memiliki bak mandi dan sekarang ia mempunyai nya.


Puas melihat isi dari ruangan tersebut, mereka pun melihat balkon kamarnya. Karena rumah mereka tinggal di pinggir jalan, Rahimah bisa langsung memandang jalan raya.


"Ayo, kita lihat kamar Rahman," ajakan Abdar menyadarkannya bahwa masih banyak yang belum ia lihat.


Tepat di seberang kamar mereka terdapat dua buah pintu, dan mereka masuk ke salah satunya.


Kamar berwarna putih polos. Ranjang berukuran besar di samping jendela kaca, meja rias disisi satunya. Tv yang sama seperti di kamar Rahimah, Meja belajar di sudut kasurnya.


Di sudut lain ada pintu, mereka membuka dan masuk ternyata ada tiga pintu lagi. Kamar mandi dengan toilet yang terpisah, sementara pintu yang satunya adalah pintu menuju kamar satunya.


"Kaya jalan rahasia aja mas?" kata Rahimah kaget.


"Ahahaha, iya ... sengaja pengen aku buat kaya gini," balas Abdar.


"Memangnya, ini kamar buat apa mas?" tanya Rahimah heran.


Ukuran kamar sama dengan kamar Rahman, isinya pun hampir sama.


Jika tadi adalah kamar sang putra, kenapa harus ada kamar mandi sekaligus jalan rahasia untuk menghubungkan nya.


Nurul dan Soraya juga penasaran dengan konsep yang terbilang unik, kamar tidur yang seperti memiliki kamar mandi sendiri tapi ternyata dapat berbagi dengan kamar satunya. Mereka tadi belum sempat melihat isi bagian lantai atas.


"Kamar ini buat adiknya Rahman," jawabnya yakin.


Rahimah melotot sambil bersemu merah mendengarnya, sementara Soraya dan Nurul langsung cekikikan di belakangnya.


"Duh, yang sudah ada persiapan menunggu kedatangan adiknya Rahman," komentar Nurul.


"Nggak secepat itu juga kali mas, belum tentu langsung jadi! Ini malah menyiapkan kamar duluan."


"Kamu meragukan ku? Apa kamu lupa, Rahman itu jadi cuman sekali tem---." Belum Abdar menyelesaikan kalimatnya Rahimah sudah membekap mulutnya.


"Iya, iya ... nggak usah diingatkan juga kali," kesal Rahimah tentang anaknya.


Memang benar apa yang di katakan Abdar sehingga Rahimah kalah telak. Soraya dan Nurul juga ikutan membekap mulut karena tidak tahan ingin tertawa.


"Yank, jangan marah dong? Aku kan cuman mengatakan yang sebenarnya?" sesal Abdar.


"Bedalah mas, itukan dulu! Lagian aku bukan dalam masa subur." Sahut Rahimah ketus dan bersedekap sambil duduk di tepi ranjang.


"Hehehe, gitu Ya? Aku mana ngerti, aku pikirkan sama!" ucapnya sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tenang aja mas Abdar, bakalan sama kaya Rahman ... kalau buatnya tiap malam," sahut Nurul.


Rahimah mendelik kesal ke arah sahabat, sedang sang empuhnya langsung bersembunyi dibalik punggung Soraya, sambil nyengir dan hanya memperlihatkan sepasang mata dan dua jarinya. ✌


"Kalian di sini rupanya?" Dinda masuk mengagetkan mereka.


"Ayo minum dulu," suruh Dinda keluar.


Di tengah-tengah antara kamar Rahimah dan Rahman ada tempat santai untuk kumpul bersama dan ada tv juga.


"Bagaimana Imah? Rumah baru kamu bagus ya?" ujar Ustadzah Habibah ikut melihat-lihat.


Di rumah berlantai dua tersebut, terdapat lima buah kamar tidur. Satu diantaranya ialah kamar utama yang di tempati Rahimah dan Abdar.


Dua kamar tamu di lantai bawah, Mushola dekat ruang tamu, ruang makan dekat dapur, dan ada juga ruang tv selain di lantai atas.


"Iya bu, alhamdulillah bagus banget."


Tapi nggak jadi bikin butik.


"Kalau gitu kita baca do'a syukuran dulu, buat rumah baru."


Semua mengangguk setuju.


Dengan dipimpin Ustadzah Habibah sebagai pembaca do'a, hanya mereka yang hadir saja yang mengaminkan nya.


"Minum dulu Imah, nak Abdar."


Usai do'a mereka menikmati sajian yang sudah disiapkan.


"Iya bu, terimakasih." Ucap Abdar sopan mengambil gelas yang isinya berwarna orange.


"Mas, bukannya rumah ini baru aja kamu rehap? Kenapa bisa cepat gitu?" bisik Rahimah saat yang lain tengah sibuk menikmati kudapan.


"Itu karena, yang mengerjakannya lima puluh orang dan sudah ahli dalam bidang mengerjakan bangunan kecil."


"Bangunan kecil apanya? Dua gedung bekas ruko dijadikan satu, jadi bangunan besar itu namanya mas."


"Iya, besar. Tapi bagiku kecil," kata Abdar tak mau kalah.


"Apa mereka juga yang menyediakan isi rumah ini?"


"Sebagian," jawab Abdar pendek.


"Maksudnya?"


"Kalau untuk peralatan dapur, sofa dan kasur ... memang pekerja. Tapi kalau soal baju, perhiasan dan yang lainnya yang ada di ruang walk in closed ... itu tugas Tomi."


"Oh, jadi itu yang mas bicarakan sama mas Tomi tadi sebelum kita ke sini?"


"Hmmm itu benar, dan satu lagi ...."


"Apa?"


"Jangan panggil dia mas Tomi, cukup Tomi saja," perintah Abdar.


Rahimah memajukan bibir bawahnya. Kalau saja tidak ada orang, sudah dipastikan Abdar akan segera menyambar nya.


"Yang lagi bisik-bisik, pasti lagi merundingkan tentang berapa banyak mereka memberi Rahman adik!" kata Soraya yang melihat mereka dari tadi berbisik.


"Tadi ada yang pura-pura ngambek, eh tapi ternyata ada yang lagi rapat soal anak!" Nurul menambahkan.


"Wah ... aku ketinggalan up date ini," sahut Dinda


"Jangan percaya sama mereka, itu ngawur," kata Rahimah cepat.


Seketika tawa membahana memenuhi isi rumah itu.


BERSAMBUNG ....