Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 45



Pertemuan antara Abdar dan Rahimah sempat membuat keduanya terdiam sesaat. Rahimah merasa tubuhnya menjadi panas dingin dan itu membuat ia gugup.


Kesadaran Rahimah dan Abdar kembali saat suara Intan terdengar mengudara memenuhi isi ruang tamu.


"Intan belajar ngajinya sama tante Imah, ya ma?" tanya Intan penuh semangat, mendongakkan kepala menatap sang mama yang berdiri di sampingnya.


Rahimah lebih dulu memutus kontak mata dengan Abdar, Ia beralih memperhatikan Intan. Terbesit sesal di hati, 'seandainya' waktu bisa di putar ulang mungkin ia sudah akan menolak tawaran untuk menjadi guru ngaji. Buru-buru Rahimah menggeleng dan beristgfar, menyadari bahwa dirinya sudah mengucapkan kata 'seandainya' yang mana Allah SWT sangat tidak menyukai hambanya mengucapkan kata-kata itu.


"Iya sayang, Intan belajar sama tante, Imah!" Tidak hanya Maryam dan Rahimah yang menatap penuh pada Intan Ustadz Abshar juga ikut melihatnya kecuali Abdar, ia masih menatap wajah Rahimah dari jarak jauh.


"Horeee, asyik .... Oiya tante Imah, tante tau gak? Kalau Intan satu sekolah loh sama kak Rahman." Kini Intan beralih melihat pada Rahimah. Dengan canggung Rahimah menggeleng kerena masih begitu kaget dengan adanya Abdar di sana.


Sementara Abdar, ia mengerutkan dahi dalam saat mengetahui kalau keponakannya itu mengenal Rahman sebagai anak Rahimah. Seingat Abdar waktu di pesantren Rahman tidak ada di situ, ia bahkan mengenal Rahman saat di mana Rahman menolongnya malam itu.


Melirik Intan dan bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana bisa keponakannya itu tahu kalau Rahman adalah anaknya Rahimah? Sedang ia baru tahu kalau Rahman adalah anak dari Rahimah baru kemarin.


"Loh, jadi Kak Rahman-nya satu sekolah ya sama Intan?" Tanya Maryam menunduk pada Intan.


Intan mengangguk dengan senyum lebar. "Iya, ma," jawab Intan.


"Loh, minumannya belum di minum yah? Ayo silahkan duduk, minum dulu, kok malah pada berdiri." Maryam yang melihat minuman masih memenuhi isi gelas segera mempersilahkan tamunya untuk kembali duduk dan minum terlebih dahulu. Tentu Rahimah dan Ustadz Abizar tadi segan untuk duduk sementara tuan rumah masih berdiri, mereka pun duduk setelah di suruh lagi.


"Maaf, bukan maksud saya menolak. Hanya saja ... saya sedang puasa kamis." Tolak Ustadz Abizar dengan mengantupkan kedua tangannya di depan d**a setelah kembali duduk.


"Ooh, maaf pak Ustadz ... saya tidak tau kalau Pak Ustadz sedang puasa kamis?" Balas Maryam tidak enak.


"Tidak apa-apa, itu memang salah saya karena tidak memberi tahukan lebih dulu tadi." Ustadz Abizar menjawab sambil tersenyum ramah.


"Kalau mbak Imah, gak puasa'kan?" Rahimah menggeleng jujur.


"Kalau gitu, pak Ustadz langsung saja ajari kakak saya mengaji. Kak Abdar ... ayo, bawa pak Ustadz-nya ke ruang kerja." Maryam beralih menatap Abdar yang masih berdiri mematung dari tempatnya di belakang Maryam tadi.


Mengangguk pelan Abdar mempersilahkan Ustadz Abizar untuk mengikutinya, sebelum beranjak Abdar sempat melirik Rahimah yang ternyata juga tidak sengaja meliriknya.


Menundukkan pandang dengan degup jantung yang tiba-tiba bertambah kencang, sesak dan gugup. Perasaan takut, sedih, marah dan trauma bercampur menjadi satu.


Setelah kepergian kakaknya dan Ustadz Abizar, Maryam mempersilahkan Rahimah untuk minum dulu. Tidak ingin membuat tuan rumah kecewa, ditambah lagi ia juga perlu menenanggan perasaan dan pikirannya Rahimah pun segera meminum minumannya, Maryam dan Intan menemani Rahimah di tempat tadi Ustadz Abizar duduk.


Usai minum Rahimah segera bertanya, di mana tempat ia akan mengajari Intan, ia merasa harus segera mengajar guna tidak membuang waktu kemudian lekas pergi dari tempat ini dan tidak ingin berlama-lama.


Maryam menyarankan untuk belajar di kamar Intan saja. Rahimah mengangguk mengerti, mengikuti Maryam dan Intan dari belakang menuju kamar Intan.


Duduk bersila di atas karpet berbulu lembut dengan gambar kartun princess frozen di dekat ranjang berdampingan dengan Intan menghadap buku iq'ro. Tadi Maryam meninggal mereka berdua, sebelum pergi Maryam mengatakan kalau Intan sudah bisa mengaji sampai iq'ro empat.


Di mulai dengan membaca isti'adzah dan basmalah Intan terlihat serius ketika di suruh membaca apa yang di tunjuk Rahimah.


..."Ba', ban. Ta', tan. Sa', san. Ja, jan."...


Cukup mudah bagi Rahimah mengajari Intan, lembar pertama Intan sudah sempurna dan ia pun meneruskannya ke lembar berikutnya.


...۴...


...وَهُدًی قَعَدًا مُبَارَکًا شَهَادَهً...


...جَمِیعًا قُرُونًا عَضُدًا سَبِیاَهَا...


...زَاَقًا رَغَرًا طَعَامًا ضَآلًلا...


...******...


...سَمِیعًا عَلِیعًا عَزِیزًا حَکِیعًا...


...عَزَابًا اَلِیمًا وَاَصِیلًا ظَالِمًا...


...یَتِیعًا فَقِیرًا صَعِیدًا جُرُزًا...


...رَشُولًا طَهُورًا حَلِیمًا غَفُورًا...


Terdengar lancar saat pengucapannya karena memang Intan sudah lebih dulu di ajari sang mama.


Jika Intan demikian maka berbanding terbalik dengan Badar.


..."Ha', da, daaa,"...


"Bukan حَ، tapi خَ، jika ada titik di atas maka itu خَ، bila tidak ada titik sama sekali ... baru حَ. Dan ini ... bukan daaaa tapi دَ، jangan terlalu panjang menyebutnya." Perlu kesabaran dalam mengenalkan huruf-huruf itu, padahal tadi di awal Abdar sudah betul tapi karena gugup ia jadi lupa.


Sebenarnya Abdar sudah tahu huruf hijayah dari salah satu aplikasi di HP-nya, ia juga sudah hafal ... hanya saja jika di acak seperti itu ia menjadi bingung dengan huruf yang sama.


...خَ دَ دَ...


"Ya betul, seperti itu," Ustadz Abizar cukup puas dengan pembentulan huruf yang sempat salah tadi.


...حَ دَ خَ...


...حَ دَ بَ...


"Bukan بَ، tapi ثَ. Jika ada titik satu di bawah, maka itu baru بَ، jika titiknya tiga di atas ... maka ini ثَ."


"Seperti ini," tunjuk Ustadz Abizar pada salah satu huruf hijayah بَ.


...حَ دَ ثَ...


Ustadz Abizar hanya mengangguk, Abdar melihat dengan ekor matanya kemudian kembali melanjutkan bacaannya.


Tapi sebelum membaca Abdar sempat terdiam, seperti ragu ingin menyebutkan hurufnya. Abdar benar-benar heran dengan huruf-huruf itu ... seperti berubah yang membuatnya lupa. Menyadari itu Ustadz Abizar membantunya.


...جَ حَ دَ...


Ucap Ustadz Abizar.


...جَ حَ دَ...


Dengan pasti Abdar mengulanginya.


...اَ بَ تَ ثَ جَ حَ خَ دَ...


Hingga beberapa kali Abdar mengulangnya dan Ustadz Abizar pun menghentikan pelajaran sampai di situ dan menyarankan Abdar untuk menghafal lagi sendiri, baru besok kembali setor padanya.


"Terimakasih untuk pelajarannya hari ini pak Ustadz," demi kesopanan Abdar harus berprilaku baik. Tidak mungkin ia menunjukkan ketidak sukaannya pada Ustadz Abizar. Entah kenapa ia juga tidak tahu.


"Sama-sama, semoga besok sudah ada kemajuan, Mas Abdar."


Abdar mengangguk. "Mari," ajaknya keluar ruang kerja.


"Insyaallah," gumam Ustadz Abizar menjawab sendiri sambil mengikuti Abdar yang membuka daun pintu berwarna coklat itu.


Di ruang tamu Rahimah, Maryam, dan Intan sudah duduk menunggu mereka.


"Kalau begitu, kami langsung pulang saja," ucap Ustadz Abizar sambil melirik Rahimah meminta persetujuan saat keduanya saling pandang. Tentu Rahimah lekas mengangguk setuju, tidak ada alasan lagi ia barlama-lama di rumah itu.


"Baiklah, terima kasih untuk pelajarannya hari ini. Besok mohon bantuannya lagi ya?" Mau tidak mau, suka tidak suka, Rahimah terpaksa mengiyakan seperti Ustadz Abizar, karena ia sudah ikut terjerumus menjadi guru ngajinya Intan. Ia mencoba mengabaikan keberadaan Abdar dan prilaku seperti biasa saja.


"Insyaallah," ucap Ustadz Abizar.


"Ini tolong di terimah!" Maryam menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Rahimah melirik sekilas pada Ustadz Abizar, kemudian ia mengambilnya.


"Terima kasih," ucap keduanya serempak.


Abdar tidak dapat berkata apa-apa ia hanya bisa memperhatikan Rahimah diam-diam. Saat mendengar apa yang menjadi dugaan Adit malam tadi, Abdar merasa ingin langsung menanyakannya prihal itu pada Rahimah, tapi tidak untuk saat ini.


Nanti, saat bukti berbicara ia akan bertanya langsung pada Rahimah secara empat mata.


Maryam, Abdar dan Intan mengantarkan mereka sampai depan rumah.


"Assalamualaikum." Kembali keduanya kompak memberi salam setelah tadi Rahimah sempat bersalaman dengan Maryam dan Intan.


"Wa'alaikumussalam." Balas Maryam, Abdar dan Intan.


"Ayo, Intan." Maryam mengajak putrinyamasuk kembali kedalam rumah saat melihat Rahimah yang berjalan ke arah kendaraannya.


Berbeda dengan Abdar, ia masih saja memperhatikan punggung kecil Rahimah yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Hingga punggung itu menghilang di balik bagar tinggi rumahnya.


Berbalik badan masuk ke dalam rumah besarnya, langkah Abdar terhenti saat telefon genggamnya bergetar dari saku celananya.


Merogoh saku dan membaca nama sembari kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Bergegas naik tangga dengan berlari kecil saat sudah tahu siapa yang menelfonnya.


Tepat saat ia membuka gagang pintu barulah Abdar menjawab telefon itu.


"Hemm." ucap Abdar.


📞"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussala," balas Abdar sambil menggaruk tengkuknya walau tidak gatal.


📞"Gw punya kabar bagus." terdengar jelas jika orang itu sangat senang.


"Apaan?"


📞"Tadi Andri kasih kabar ke gw, dia bilang sebentar lagi akan ada proyek besar-besaran dari perusahaan besar. Perusahaan itu akan membangun apartemen di dekat kampus."


"Trus, apa hubungannya sama gw," ujar Abdar sembari melangkah ke arah balkon kamar, membuka pintu dan duduk di kursi santai yang ada di balkon itu.


📞"Ckk, elu itu sekarang udah mulai bego ya?" Kesalnya pada Abdar.


"Enak aja elu ngatian gw bego, Dit. Elu yang bego," tidak terima di katai bego oleh lawan bicaranya.


📞"Habisnya, elu kaya enggak ngerti sama yang gw bilangin tadi?" masih terdengar kesal.


"Jelasin." jawab Abdar singkat. Ia mulai jengah karena pembicaraan yang bertele-tele, pikirannya sekarang sedang terbagi ... bukan hanya pekerjaan yang ia pikirkan, tapi juga ada Rahimah yang akhir-akhir ini memenuhi otaknya dan ia sedang tidak ingin main tebak-tebakkan.


📞"Kalau tender Andri terpilih, dia akan ngajak kerjasama perusahan kita sebagai tim pengiriman barang. Jadi ... gw harap sebelum proyek itu di mulai, elu sudah harus stend by di sini." Menghela nafas saat menyadari otaknya yang mulai tidak bekerja sama hanya karena urusan pribadinya.


"Masih belum 'kan? Hanya rencana 'kan? Ya udah, liat aja nanti." kilah Abdar sambil duduk bersandar pada kursi yang ia duduki.


📞"Iya ... gw cuman kasih tau," sungutnya. "Assalamualaikum." Sambungnya lagi.


"Wa'alaikumussalam." Melirik waktu yang terdapat di atas sudut kanan layar HP-nya, ternyata sudah lewat waktu Ashar.


Berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar, ia pun berniat mengerjakan sholat wajib.


Usai sholat Abdar menyempatkan diri membuka leptop nya guna melihat pelajaran huruf hijayah. Hingga beberapa menit HP-nya kembali bergetar.


"Bagaimana?" tanya Abdar to the point.


📞"Hallo, tuan. Misi pertama selesai."


"Bagus, lanjutkan tugas berikutnya." Ujar Abdar hendak mematikan HP-nya, tapi teringat sesuatu kembali HP itu ia letakkan di telinga.


"Tomi, apa kau tadi tidak mengucapkan salam?" Suara Abdar terdengar kesal.


📞"Haa, ma-maaf tuan, saya tadi lupa," dengan ragu Tomi meminta maaf.


"Ckk, lain kali biasakan mengucap salam, ya sudah ... Assalamualaikum." perintahnya diakhiri salam, kemudian mematikan benda pipih itu setelah mendapat balasan.


...****************...


Di tempat lain, ada seseorang yang tengah menggerutu dengan atasannya. Adit.


Tapi rupanya bukan hanya Adit yang kesal dengan bosnya, Tomi pun juga.


"Breng seek, awas aja lu ... kalau sampai gak stend by pas waktu proyek itu di mulai." Adit bahkan menghempaskan kasar tubuhnya ke kursi kerjanya, saat tadi ia sempat berdiri mengambil map di ujung meja seberang ia duduk.


"Gw gak mau ngerjain semua ini terus-terusan, gak nyadar apa dia kalau gw hampir gak punya waktu libur demi mengurus perusahaan ini? Berasa gw yang punya ini tempat kerjaan." Adit masih menggerutu sembari men'cek laporan karyawan.


"Kalau aja gw gak ingat sama Maryam dan keponakan, udah berhenti gw." Adit bahkan dengan sengaja menekan penanya kala menulis sesuatu di atas kertas laporan itu.


"Untung dia teman gw dan mereka Adik sama keponakan dia juga, hufff." Menghela pasrah.


Lagi-lagi Adit menghela nafas, guna memaklumi bos sekaligus temannya itu dan kembali bekerja dengan tumpukan kertas-kertas laporan karyawannya.


...****************...


"Ba-baik tuan, Wa'alaikumussalam."


"Sejak kapan tuan Cristian mengucap salam? Bahkan seingat ku, kemarin malam saja tuan tidak memberi salam." Ucap Tomi bersungut-Sungut sambil menyimpan HP-nya kembali ke dalam jaket kulit.


"Dasar, tuan Cristian ... kalau tuan itu muslim, pasti sudah ku beri salam, tapi 'kan tuan itu non muslim." Kekesalan Tomi memuncak.


Abdar lupa, jika seluruh anak buahnya belum ada yang tahu kalau ia sudah menjadi seorang mua'laf.


Tomi pun berbalik dan berjalan ke seberang jalan di mana mobilnya terparkir, sekarang Tomi harus mengerjakan misi selanjutnya. Rumah sakit pelita tujuannya.


...****************...


Rahimah dan Ustadz Abizar yang melewatkan sholat Ashar di jalan segera berpisah di persimpangan rumah Rahimah, Ustadz Abizar memutuskan sholat di masjid di sekitar rumah Rahimah.


Rahman datang saat Rahimah sudah selesai sholat dan sedang memasak di dapur.


"Assalamualaikum." Ucap Rahman mendekati Rahimah.


"Wa'alaikumussalam," balas Rahimah berbalik dan menyambut uluran tangan Rahman.


"Mandi gih, trus sholat." Rahman mengangguk dan meninggalkan sang mama.


Memandang punggung Rahman yang menjauh, Rahimah menatap sendu.


"Apakah takdir menginginkan kamu tahu siapa ayahmu, nak?" gumam Rahimah dalam hati.


BERSAMBUNG ....


Gays, ada rekomendasi novel keren lagi nih dari teman aku. Pasti di jamin seru, keren, dan bikin baper.


Aku paling demen sama Damar dan Aleta, jadi gemes deh. Pokoknya kalian mesti bacaa....🤗



Salam dari Urang Banua😘


Noormy Aliansyah