
π·πΆπ½ πΉππππππ.
Setelah kejadian diamnya Mas Abdar dan berujung dengan aku membalas mendiamkannya, hingga terjadinya pertengkaran diam-diaman antara aku dan Mas Abdra selama seharian. Namun, kini kami telah berbaikan, tentu usai dia yang lebih dulu meminta maaf padaku.
Sebenarnya sampai sekarang masih ada rasa kesal, marah, dan sedih bercampur menjadi satu pada Mas Abdar. Aku pun sempat bertanya-tanya dengan sikapnya yang tiba-tiba bersikap dingin seperti itu.
Namun, rupanya ada alasan yang sangat kuat kenapa Mas Abdar bisa seperti demikian. Diluar dari perkiraanku, ternya dia sedang cemburu padaku dan Indra, salah satu teman sekolahku semasa SMA. Hihihi, cemburu!
Reaksi pertama yang aku rasakan waktu itu ialah terkejut, tapi karena aku sedang terbawa perasaan yang campur aduk hingga membuat aku menangis tanpa bisa dicegah, itu menjadi tersamarkan. Akan tetapi, seketika hatiku menghangat dan bertampah ππππππ saat mengetaui pakta itu.
Kenapa menjadi ππππππ? Entahlah, aku pun tidak tahu. Namun, aku sangat bersyuku dengan perasaan Mas Abdar seperti itu padaku. Itu berarti, Mas Abdar sangat mencintaiku, dan aku sudah tentu tidak akan menyia-nyiakannya.
Seperti sekarang ini. Kami tengah duduk bersila di atas kasur dengan aku yang membantu Mas Abdar mengoleskan minyak kayu putih, dan dengan telaten aku memijit pelan pundak juga tengkuknya.
Kasian memang melihat Mas Abdar yang selalu muntah di tengah malam seperti ini, tapi mau bagaimana lagi ... kami tidak tau penyebabnya.
Kami sudah memeriksakannya ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit itu, dan hasil yang didapat ialah ... Mas Abdar sedang baik-baik saja. Kunjungan ke ruman sakit jugalah asal mula pertengkaran itu terjadi, ketika kami secara tidak sengaja bertemu Indra yang sedang dinas waktu itu.
Heran juga dengan hasil pemeriksaan dokter yang bertolak belakang itu. Dia bilang Mas Abdar baik-baik saja, tapi apa yang terjadi saat ini? Mas Abdar sedang tidak baik-baik saja.
"Gimana, Mas ... sudah merasa enakan?" tanyaku sambil sedikit memiringkan kepala kearah wajahnya yang lurus kedepan dengan mata terpejam.
"Iya, sayang. Udah enakan," perlahan kelopak matanya terbuka sambil menoleh ke arahku.
Kami saling tatap, dan tanpa dikomando kami tersenyum tipis. Aku masih memijat tengkuknya, ketika tangan Mas Abdar terangkat dan mengusap lembut pipiku.
"Makasih sayang, udah bantuin aku," aku hanya tersenyum dan mengangguk samar sebelum akhirnya aku tersipu malu, karena tiba-tiba saja Mas Abdar mendaratkan kecupan di bibirku.
Aku hendak menarik diri, namun dengan cepat Mas Abdar berbalik dan menangkup kedua pipiku. Kali ini tidak hanya satu kecupan di bibir saja, tapi di seluruh permukaan wajahku. Aku yang selalu malu setiap mendapat perlakuan demikian, menjadi semakin malu.
Ah, Mas Abdar. Aku memang tidak bisa marah terlalu lama padanya. Terbukti saat ini. Semua rasa yang masih mengganjal di hati mengup begitu saja, bersamaan dengan diriku yang ikut terbang melayang.
"Hahaha, pipimu merah sayang."
Gegas aku menyembunyikan wajahku dibalik telapak tanganku, ketika mendengar apa yang dikatakan Mas Abdar barusan. Terasa panas memang, dan kuakui itu adalah benar.
Mas Abdar menangkap ketua pergelangan tanganku dan menariknya. Sempat terjadi tarik-tarikan, karena aku menahannya agar wajahku tetap terlindungi dari tatapanya. Akan tetapi, aku langsung menyerah saat suara bas itu mengalun begitu lembut.
"Sayang," panggilnya mesra.
Aku tertunduk ketika tanganku sudah jauh dari permukaan wajahku, dan tangan lebar juga besar milik Mas Abdar langsung memegang daguku.
"Lihat aku," bisik Mas Abdar memintaku.
Perlahan aku mendongkak dan menatap manik hitam pekat yang terpancar kebahagiaan, seperti yang aku rasakan saat ini.
"Mas sangat bersyukur telah dipertemukan denganmu waktu itu. Dan Mas minta maaf karena dulu sudah menyakitimu akibat pertemuan pertama kita," tiba-tiba saja mata itu berubah sendu.
"Kamu bahkan harus berjuang membesarkan anak kita sendiri tanpa ada aku di sisimu. Mas benar-benar jahat sama kamu dan Rahman. Dan mungkin juga ini adalah balasan dari Tuhan kepada, Mas."
Aku yang awalnya ikut terhanyut oleh raut wajah sedihnya Mas Abdar. Seketika mengerutkan kening, karena mendengar kalimat terakhirnya itu.
"Balasan apa, Mas?" tanyaku penasaran.
Mas Abdar berdecak dengan sedikit merajuk, dan itu malah membuatku menahan senyum.
"Kenapa sih, kok cemberut gitu? Tapi beneran, Mas ... aku nggak ngerti sama balasan yang kamu maksud," kataku jujur sambil kuusap pipinya, berharap dia tidak ngambek lagi.
"Itu tadi, barusan ...," ucap Mas Abdar masih kesal.
"Barusan?" ulangku mengerutkan kening hingga terdiam. Mengingat-ngingat kejadian apa yang dimaksud Mas Abdar.
Seketika aku tertawa tepas, memecah heningan yang sempat tercipta. Berbeda dengan Mas Abdar, yang langsung menatapku tajam.
"Maaf," ucapku sambil menghentikan tawa.
Namun, itu hanya bertawan sebentar, karena aku yang memcoba menyembunyikan tawa dengan senyum malah membuat aku tertawa kembali, walah itu kecil.
"Tau ah," kesal Mas Abdar langsung berbaring dan menggulung diri dalam selimut.
"Hehe, maaf Mas. Aku nggak bermaksud mentertawakanmu, tapi teorimu itu yang membuat aku tertawa," bujukku sambil membuka selimutnya.
Akan tetapi, itu sangat sulit. Mas Abdar menahannya begitu kencang, hingga aku tidak bisa membukanya. Aku terdiam sejenak melihat selimut yang menyembunyikan tubuh gagah suamiku. Hingga akhirnya sebuah ide muncul begitu saja.
"Ya sudah kalau Mas, betah kaya gitu. Mending aku tidur di kamar kosong aja deh," perlahan aku berbalik dan hendak turun dari ranjang.
Namun, tiba-tiba selimut itu terbuka. Bahkan sampai jatuh ke lantai, karena terlempar akibat gerakan membuka yang sangat cepat.
Satu kakiku sudah menapak di lantai marmar putih dengan garis-garis ππππππ ketika sebuah tangan menarikku dan membuatku terjatuh.
"Mau ke mana, kamu?" secepat kilat Mas Abdar sudah berada di atas tubuhku, mengunci pergerakan dengan kedua tanganku yang di pegangnya di sisi kiri dan kanan sejajar kepalaku.
"Mau tidurlah," jawabku santai tidak terintimidasi.
"Tidur di mana?" desak Mas Abdar bertanya.
"Di kamar kosong," balasku menahan tawa, ketika ingin bahwa pancinganku berhasil mengeluarkannya dari dalam selimut.
"Nggak boleh," suara Mas Abdar benar-benar tegas.
"Kenapa nggak boleh," tantangku sambil mencoba melepaskan diri. Nmun, tetap saja tidak bisa, dan aku pun menyerah juga pasrah dengan keadaan ini.
"Karena di sini kamar kita."
"Tapi tadi Mas lagi kesal sama aku, jadi mending aku biarin sendiri dulu."
"Gimana Mas, nggak kesal? Mas lagi meratapi diri karena muntah-muntah tiap malam. Tapi kamu, malah diketawain," ingat Mas Abdar kembali kesal, dan aku kembali terkikik geli.
"Gimana aku nggak ketawa, Mas? Masa muntah-muntah .., kamu anggap hukuman dari Tuhan? Yang ada, hukuman dari Tuhan itu berat, Mas. Seperti ... ketabrak mobil atau kereta sekalian deh. Terus cacat, koma, atau ketembak kaya waktu Mas di Malayasia dan pas aku mau nikah sama---," aku terkesiap saat tangan Mas Abdar kini membekap pelan mulutku.
"Jangan sebut nama dia," amcam Mas Abdar yang aku balas dengan anggukan.
"Sekarang kamu harus mempertanggung jawabkan kesalahanmu, karena sudah membawa-bawa dia di antara kita."
Seketika aku tertawa kecil ketika Mas Abdar menegakkan tubuhnya sambil melepaskan pakainnya, dan langsung membungkam mulutku dengan---, ah lupakan saja.
π