Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 96 Rahman bin Rahimah, Berterimakasih



Malam datang menggeser matahari yang sudah lelah menyinari bumi, menyambut sejuk nya dingin bertabur bintang sebagai pelengkap malam ini.


Dengan langkah ringan selepas makan malam Abdar meminta izin pada sang istri ingjn berbicara berdua dengan Rahman, tentu tidak ada alasan bagi Rahimah untuk melarang ayah dan anak berbincang. Tanpa bertanya secara rinci ia langsung memberi ruang pada Abdar dan Rahman.


"Rahman." Panggilan lembut di ambang pintu yang terbuka mengambil alih atensi nya pada sebuah buku ditangan.


"Iya ayah." Beranjak dari duduk mendekati Abdar.


"Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu." Merangkul Rahman dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Apa itu, ayah?" Duduk bersila dan menghadap Abdar.


Abdar pun melakukan hal yang sama, duduk berhadapan. "Ayah tau, ini sudah sangat terlambat untuk mengatakannya ...," jeda Abdar.


"Tapi ayah tetap ingin menyampaikan permintaan maaf ayah pada kalian. Seandainya waktu bisa diulang kembali, ayah hanya ingin hadir diantara kalian dalam keadaan yang menyenangkan dan tidak membuat luka pada kalian," tuturnya panjang lebar sambil mengenang masa lalu.


Rahman diam memahami maksud dari setiap kalimat yang ayahnya ucapkan.


"Ayah benar-benar menyesal telah melakukan kesalah tanpa ayah sadari, maukah kamu memaaafkan Ayah?"


Mengingat apa yang Abdar lakukan sore tadi untuk mamanya sudah membuatnya lupa akan hal yang tidak pernah ia rasakan tentang seorang ayah, ia sudah yakin jika sang mama pasti akan hidup bahagia dengan ayah yang baru saja bergabung dalam kehidupannya.


"Apa pun kesalahan ayah dulu, tidaklah bisa dirubah. Tapi Rahman sebagai anak juga tidak bisa terus marah dengan Ayah ... jadi Rahman sudah memaafkan semua kesalahan ayah," ungkap Rahman apa adanya.


"Terimakasih, nak." Pelukan hangat, Abdar berikan pada sang putra diiringi rasa haru yang teramat dalam.


"Ada sesuatu lagi yang ingin ayah sampaikan padamu." Mengurai pelukan sambil memegang kedua bahu Rahman.


Tatapan seriua tak luput tersirat, "Ini tentang usah yang sedang ayah kerjakan," Abdar menatap lekat Rahman. "Ayah ingin memberikannya padamu," terangnya.


"Semuanya," sambung Abdar memperjelas.


Rahman masih diam menyimak.


"Kamu adalah anak kandung Ayah, dan ayah ingin memberi hak mu sebagai anak," ucap Abdar yakin.


"Rahman tidak bisa menerimanya semua itu, ayah," tolak Rahman seketika.


Raut wajah kekecewaan mewakili perasaan Abdar saat ini, ia pikir Rahman belum memaafkan dirinya sepenuhnya hingga bisa berkata demikian.


"Apa kamu belum bisa memaafkan Ayah, Rahman?" tanya Abdar memelas.


Dengan cepat Rahman menggeleng, "Bukan begitu, Ayah," ucapnya hendak menjelaskan.


"Rahman memang anak kandung Ayah, tapi ayah harus ingat. Kalau dibelakang nama Rahman bukanlah nama Ayah, melainkan nama mama. Rahman bin Rahimah," pernyataan Rahman begitu menohok di hati Abdar.


Ia seolah diingatkan akan kesalahan yang diperbuat dulu, walau Abdar tahu anaknya tidak bermaksud seperti itu.


"Maaf Ayah, bukannya Rahman mengungkit masa lalu ayah. Hanya saja itu adalah sebuah fakta yang akan selalu mengikuti Rahman kemana pun melangkah."


"Sekarang Rahman mengerti, apa dari makna nama di belakang Rahman. Dulu ketika Rahman tak sengaja membaca akta kelahiran Rahman ... dan yang tercantum adalah nama mama."


"Baru sekarang Rahman menemukan jawabannya, bahwa nasab Rahman adalah mama dan bukan ayah."


"Itu berarti ayah tidak berkewajiban untuk menanggung semua keperluan Rahman atau pun memberikan harta yang ayah miliki."


Bisa Rahman simpulkan kenapa mamanya selalu menolak uang darinya, karena seharusnya yang menanggung Rahman adalah sang mama dan bukan sebaliknya.


Abdar terenyuh mendengar penjelasan putranya, sungguh ia tidak pernah tahu akan menjadi begini dikemudian hari.


"Tapi satu hal yang harus ayah tahu ... walau Rahman menolak semua harta yang ayah miliki, Rahman tetep menganggap ayah sebagai ayah Rahman dan memaafkan semua kesalah ayah dulu."


"Rahman tidak pernah menyesal terlahir ke dunia ini bagaimana pun itu caranya, Rahman sangat bersyukur karena terlahir menjadi anak dari kalian."


"Terimakasih, karena sudah menerima Rahman. Terimakasih karena sudah bersedia menjadi bagian dari kami," ucap Rahman tulus.


"Ayah yang seharusnya berterimakasih padamu, terimakasih karena sudah memaafkan semua kesalahan Ayah, terimakasih karena hidup dengan sebaik ini." Setetes air mata mengiringi suasana hati Abdar yang begitu menyesakkan dada atas pengakuan Rahman.


"Ada apa ini?" keduanya tersentak kaget dengan kedatangan Rahimah yang tidak disadari.


"Tidak ada apa-apa." Jawab keduanya kompak sambil menyembunyikan wajah dan mengusap air matanya.


"Benarkah?" Rahimah menelisik keduanya, merasa yakin ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


Baru saja ia masuk, tapi melihat pemandangan yang ganjil.


"Ya, tidak ada apa-apa ma," ujar Rahman menyakinkan.


"Baiklah, lalu apa yang sedang kalian bahas?" Rahimah melayangkan pertanyaan dan ikut duduk di samping Rahman.


"Aku sedang membahas masalah liburan, ada baiknya jika kita pergi berlibur?" dengan cepat Abdar memberi alasan.


"Apa itu harus?" tanya Rahimah ragu.


"Ya, itu harus. Benarkah Rahman?" Abdar meminta dukungan dari anaknya.


"Iya." Rahman mengangguk cepat.


"Lalu, kemana?"


Abdar terdiam sejenak memikirkan tempat yang kiranya cocok untuk pergi berlibur.


"Malaysia," celetuk Rahman.


"Malaysia?" beo Abdar dan Rahimah kaget.


"Hehe ... Rahman dan master Candra pernah merencanakan untuk pergi berlibur di negara tetangga itu, tapi sampai sekarang belum kesampaian." Ucap Rahman sambil nyengir.


Ia teringat dengan janji Candra yang akan kembali ke Malaysia guna berlibur.


"Baiklah, ayah akan urus Semuanya! Kita akan pergi berlibur ke Malaysia." Janji Abdar pasti.


"Mas yang urus, apa mas Adit yang urus?" sindir Rahimah, membuat Abdar garuk-garuk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Ya sudah, sebaiknya Rahman tidur." Perintah Rahimah sambil berdiri.


"Iya ma, selamat malam."


"Malam."


Abdar langsung menyusul Rahimah di belakang.


"Sekalian kita bulan madu!" Bisik Abdar sambil menutup pintu kamar Rahman.


"Ihh Mas, Abdar." Sontak saja Rahman melayangkan cubitan kecil dipinggang suaminya.


"Aww." Abdar meringis sambil mengusap-usap bekas cubitan sang istri.


"Jangan ngawur kamu Mas, di sini juga banyak yang jualan madu." Langsung pergi kembali ke kamarnya.


"Iya deh, nikmati madu yang di sini aja sampai puas."


"Brukkk." Pintu ditutup Abdar cepat seperti takut tawanan akan kabur.


Sudah Tamat ya ....


Terimakasih karena sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca karya receh saya selama ini, semoga teman-teman semua dalam keadaan sehat demi menyambut bulan suci yang tinggal beberapa hari lagi.


Untuk bulan Ramadan saya akan hiatus dulu Ya, jadi sampai ketemu lagi habis lebaran. Semoga teman-teman tidak bosan menunggu karya baru saya di bulan syawal πŸ™.


Salam sayang .... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy Aliansyah 😘😘😘