
Ketika tiba di depan rumah, Rahimah berpapasan dengan Maryam. Guna menghargai tamunya, ia pun memaksakan senyum.
Sempat berbasa-basi menanyakan keadaan Abizar, yang di jawab Rahimah alakadarnya karena ia juga tidak sempat menemui calon suaminya usai operasi.
Maryam juga menanyakan acara ulang pernikahan Rahimah yang terkendala dan meminta undangan berikutnya. Akhirnya Maryam pahit pulang bersama para kakak dan anaknya.
Ustadzah Habibah dan Khadizah sudah pulang ketika sampai di rumah Rahimah, mereka memang sengaja memberi ruang untuknya agar menenangkan diri.
Di dalam rumah, Soraya dan Nurul pun hendak menanyainya dengan berbagai pertanyaan tentang Abizar. Untungnya ada Dinda yang menjelaskan sehingga ia bisa pergi ke dalam kamar dan mengunci diri.
Samar ia mendengar, kalau tadi teman-teman Ustadz Abizar dari pondok pesantren datang hendak menghadiri pernikahan Rahimah dan Abizar, tapi karena ban mobil yang bocor membuat mereka telat datang.
Soraya pun mengarahkannya ke rumah sakit, dan kemungkian mereka berselisihan waktu masih di rumah sakit, tapi tidak sempat bertemu.
Perkataan Ibu Ismawati terngiang-ngiang di pikiraannya, mungkinkah itu yang membuatnya menjadi ragu akan pernikahan itu.
Memorinya berputar ulang tentang pengakuannya yang kapan mana mengenai Rahman kepada ibu Ismawati.
Seandainya pernikahan itu sudah berlangsung, dan mertuanya baru tahu ketika pernikahan telah terjadi ... Rahimah tidak yakin diterima dengan tangan terbuka kecuali karena terpaksa.
Hari ini, entah karena takdir Allah yang membuat mereka batal menikah ... sehingga ia bisa membuka mata hatinya yang terbatas. Bahwa pernikahan ini, seharusnya memang tidak perlu terjadi.
Bulir-bulir kristal selalu berjatuhan dari kelopak matanya tanpa diminta, Rahimah menatap nanar baju yang membalut tubuhnya.
Berdiri dari duduk, lantas segera mengganti bajunya. Menyimpan baju itu kedalam kotak kecil dan menyembunyikannya di bawah ranjang yang terdalam guna meluapkan sedikit rasa kesalnya akan hari ini.
Rahimah beringsut perlahan di pinggir ranjang, menyandarkan punggung sembari menangis lagi dalam diam.
Kembali ia mendengar suara Nurul yang marah-marah, pasti karena Dinda yang sudah menceritakan kejadian tadi sewaktu di rumah sakit.
Menengkulupkan kepalanya dikedua tangan yang bertumpu diatas lutut, Rahimah terisak karena yakin teman-temannya juga merasakan kekesalan atas ucapan ibu Ismawati.
Cukup lama ia menangis hingga tanpa sadar tertidur dalam posisi duduk, ia bahkan tidak ingat meninggalkan Rahman di lantai bawah bersama dengan Candra ketika sampai tadi.
"Kalau aja ada aku .., itu ibu Wati, sudah ku lakban mulutnya," sungut Nurul berapi-api.
"Bisa-bisanya dia bilang, batal aja sekalian," sambungnya masih berlanjut.
"Kira-kira, kenapa ya ... ibu Wati bisa berubah kaya gitu?" Soraya bertanya keheranan.
"Bukannya waktu itu, beliau semangat banget ya ngajak Rahman tinggal bersama!"
"Entahlah, mungkin Imah tau ... tapi dia kayanya belum siap buat cerita," sahut Dinda.
"Tante, mama mana?" tanya Rahman yang tiba-tiba datang.
"Mama kamu lagi sedih, dia sedang istrahat. Jadi jangan di ganggu," kata Nurul cepat.
"Emang ada apa Rahman?" tanya Soraya.
"Nggak kenapa-napa kok, tante. Kalau gitu Rahman ke kamar dulu, ayo Rayan," ajaknya.
"Master kalian sudah pulang?" Rahman dan Rayan seketika berhenti guna menjawab pertanyaan Nurul. "Iya, tante."
"Ya, sudah ... kalian main di kamar saja," suruh Soraya.
Setelah di ijinkan pergi, Rahman dan Rayan segera masuk ke dalam kamar.
"Apa perlu, kita kasih pelajaran sama Ibu Wati," Nurul kembali membahas masalah yang tadi sempat terjeda.
"Nggak usah aneh-aneh kamu Nurul, kalau Imah tau kita ngerjain ibu Wati ... alamat di pecat jadi sahabat," peringat Soraya tidak setuju.
"Ya jangan sampai Imah tau, dodolll."
"Imah bisa tau, walau tanpa diberi tau, dodolll," balas Soraya kesal.
Nurul mencibirkan karena sarannya yang tidak disetujui.
Esok harinya ....
Hari ini rencananya Rahimah akan mengunjungi Abizar bersama trio wewek, sebenarnya kemarin sore ia sudah ingin menjenguk calon suaminya ... tapi Ustadzah Habibah melarang karena mendapat telepon dari Alara yang menyuruh mereka hari ini saja, dan sekaranglah mereka pergi.
Ustadzah Habibah juga ingin menjenguk, tapi melihat sudah begitu banyak orang ... beliau pun mengalah dan nanti setelah Rahimah pulang baru bergilir akan ke rumah sakit.
"Banyak bener buahnya," protes Nurul ketika melihat keranjang buah di kursi belakang yang di simpan Rahimah.
"Nggak apa-apa," sahut Rahimah.
"Iya, biarin aja. Nanti kalau ibu Wati ngomong yang pedes-pedes ... tinggal kita masukin buah aja kedalam mulutnya," Dinda ikut menimpali.
"Kamu ini, ada-ada saja." Rahimah menggelengkan kepala mendengar Dinda bicara.
Mereka berempat pun berangkat dengan Dinda yang duduk di belakang kemudi. Sambil ngobrol ringan demi mengalihkan perhatian Rahimah yang sekarang menjadi lebih sering melamun.
"Oiya, aku baru tau lo ... kalau mas Adit itu ternyata anak pertama," sekarang Dinda suka sekali menjadikan Adit sebagai bahan topik pembicaraanya.
"Dan alm. suami Maryam itu adiknya yang nomor dua," lanjutnya bercerita.
"Emang kamu tau dari mana?" Nurul memberi tanggapan yang juga ada di benak Rahimah dan Soraya.
"Dari adiknya mas Adit," jawab Dinda pendek.
"Kamu kenal sama adik, mas Adit?" Nurul menatap penuh pada orang yang sedang fokus menyetir di sampingnya.
Hari ini Nurul tidak mengajak Nuri, karena sudah ia titipkan pada mamanya sebelum ke rumah Rahimah.
"Nggak sengaja kenalan, pas ketemu di restoran aku waktu itu. Ada cewek kenalannya mas Adit minta di temenin duduk ... trus aku ikut gabung."
Flashback on ....
"Mas Adit, di sini juga?" tanya Aira.
"Hmmm," jawab Adit bergumam.
"Kamu kenal sama, mas Adit?" Ratu melirik keduanya.
"Dia, kakak aku," tunjuk Aira kepada Adit.
"Oya? Wah kebetulan dong," seru Ratu bersemangat.
"Ayo sini, kita duduk bareng." Ratu menarik Aira duduk di samping Adit.
"Hmm, dia siapa?" Aira memperhatikan Dinda yang duduk tepat di seberangnya.
"Ohh, kenalin ... dia Dinda, pemilik restoran ini." Ratu mengangkat tangan Dinda kehadapan Aira guna berkenalan.
"Aira." Ucapnya menyambut tangan Dinda.
"Dinda." Ujarnya sambil melirik Adit yang sekarang berubah dingin dan datar.
"Dinda, temannya mas Adit, Ai," katanya menjelaskan.
"Tumben mas Adit, punya teman cewek? Berhijab lagi!" komentar Aira.
Dinda terkesiap, mengetahui kalau Adit tidak pernah punya teman perempuan. Kakak dari wanita yang bernama Aira itu tidak merespon sama sekali atas pertanyaan sang adik, ia malah sibuk dengan minuman di depannya.
"Emm, mbak Aira mau pesan minum dulu?" tawar Dinda sopan.
Belum Aira menyahut, Adit sudah menyela dengan tatapan tajam. "Jangan panggil dia, mbak! Dia lebih muda dari Kamu," katanya tak terbantahkan.
Dinda mengangguk ragu, ia pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan Aira.
"Mas Adit, kenal sama Ratu di mana?" setelah pelayan pergi Aira langsung bertanya pada kakaknya.
"Mamanya rakan kerja," jawab Adit pendek tak berminat.
"Oh, kenal sama tante Tamara?"
"Aku ketemu sama Mas Adit juga baru dua kali ini," kata Ratu.
Tidak lama pelayan datang dengan napan berisi pesanan Aira dan Dinda, yang juga baru memesan. Karena sejak ia duduk bergabung, Dinda belum pesan.
"Nggak lama lagi, kamu bakal sering ketemu Mas Adit. Kan udah kenal." Ujar Aira mengedipkan mata pada Ratu yang tidak sengaja dilihat Dinda.
Ratu terkekeh menanggapinya. "Oiya, Ai ... berarti kakak kamu yang meninggal itu yang nomer berapa?"
"Mas Zaki, dia nomer dua ... di atas aku."
"Kata Kamu, udah punya anak 'kan? Apa tinggal sama kalian?" Adit mulai merasa kesal mendengar pembahasan yang membuatnya bersitegang dangan sang keluarga.
"Nggak, Intan tinggal sama mama dan om-nya," Dinda yang hanya diam sebagai pendengar teringan seorang anak yang bernama Intan.
"Dinda, ayo kita pergi dari sini." Ajak Adit sambil berdiri dari duduknya.
"Hah," pekik Dinda tersentak.
"Loh, kenapa buru-buru Mas? Minuman Dinda juga belum habis," cegat Ratu.
"Iya, Mas! Biar mbak Dindanya menghabiskan minumnya dulu," Aira ikut-ikutan menahan.
Adit pun duduk kembali tanpa banyak kata, ia hanya menatap Dinda agar cepat menghabiskan minumannya.
"Mas Adit," panggil Aira manja, Adit meliriknya kesal.
"Gimana menurut mas Adit, tentang Ratu?" Ratu tertunduk malu mendengar Aira bertanya pada kakak nya seperti itu.
Dinda menyimak, ia bisa menyimpulkan kalau Aira ingin menjodohkan Adit dengan Ratu temannya.
Adit mengerutkan kening, ia pun melirik Ratu heran karena tiba-tiba menjadi pemalu tidak seperti tadi.
"Memang kenapa?" tanya Adit dingin.
"Ya, siapa tau tipe mas Adit gitu."
"Sorry ... dia bukan tipe ku." Ratu segera menatap Adit yang sudah membuang muka ke arah Dinda.
Adit segera berdiri dan berjalan dibelakang Aira agar bisa menghampiri Dinda.
"Ayo sayang, kita pergi." Adit langsung menarik pergelangan tangan Dinda dan pergi tanpa bicara, ia bahkan tidak peduli lagi pada Aira juga teman adiknya itu.
"Eh, mas Adit." Dinda hanya bisa pasrah mengikuti Adit yang berjalan cepat sambil terseok seok, diiringi tatapan Aira dan Ratu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Flashback off.
"Wah, baru juga hilang malu-malu kucingnya, ehh ... malah udah ada saingan," celutuk Nurul.
"Apaan sih, maksud Kamu?" Dinda pura-pura tidak mengerti.
"Itu tadi ... yang namanya Ratu, pasti suka sama mas Adit kan? Apa lagi punya sekutu yang siap membantu, buat pendekatan. Emm pasti kalah kamu," Nurul memantik api.
"Kalah apanya? Orang aku nggak suka kok sama mas Adit," bantah Dinda tersulut.
"Bilangnya nggak suka, tapi kok malah mau repot-repot gabung duduk sama mereka? Pasti karena takut, mas Adit di pepet cewek lain? Ngaku aja Kalee ... kalau cemburu."
"Siapa juga yang cemburu?" gerutu Dinda bergumam.
"Tapi kalau di pikir-pikir, kamu kayanya kalah banyak deh." Satu tangan Nurul memegang dagu, seolah sedang berpikir.
"Kalah, Apaan?" tanya Dinda cepat dan ketus.
"Pertama .., Ratu punya sekutu dari adiknya mas Adit, dan kamu enggak. Kedua ... Ratu masih sendiri, Kamu juga sendiri tapi belum cukup masa idah. Ketiga ... yang pasti kayanya Ratu masih perawan, dan kamu enggak." Dinda diam sambil melirik kesal ke arah Nurul.
Sementara Itu, Rahimah sedikit merasa terhibur. Ia dan Soraya tertawa tertahan agar tidak ketauan Dinda, kalau sedang mentertawakan nya.
Sesampainya di rumah sakit, Dinda mengalihkan topik pembicaraan agar Nurul berhenti bicara tentang ia yang sudah cemburu.
Bertanya kepada resepsionis mengenai kamar rawat Abizar, yang sudah di pindahkan ke ruang pasien.
Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, bergegas menaiki lift dan menuju bangsa tersebut.
"Assalamualaikum," ucap mereka serempak di depan kamar rawat Abizar.
"Wa'alaikumussalam," terdengar sahutan dari dalam, tidak lama pintu pun di buka.
"Kalian, ayo silahkan masuk," Pak Baharudin yang menyambut mereka.
Rahimah masuk sambil membawa keranjang buah, ia pun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut guna menemukan ibu Adizar, tapi nihil tidak ditemukan.
"Imah," Rahimah tersadar oleh panggilan lembut dari orang yang mereka kunjungi.
"Mas Abi." Ucapnya tersenyum menatap laki-laki yang kini tengah duduk bersandar dengan ranjang yang di naikan sedikit dan di ganjal beberapa bantal.
"Silahkan, nak Imah," Pak Baharudin mempersilahkannya mendekat.
"Terimakasih, pak," ucap Rahimah tulus sambil berjalan di ikuti trio wewek.
"Bagaimana, mas ... apa sudah baikan?" Meletakkan keranjang buah di atas meja kecil di dekat ranjang pasien.
"Alhamdulillah, sudah baikan."
"Hai pak, Ustadz. Semoga lekas sembuh?" sapa Dinda.
"Doa kami juga, sama seperti Itu," kata Nurul menyambung.
"Terimakasih, semuanya."
"Maaf ya, Imah? Gegara musibah ini, kita batal menikah kemarin," sesal Abizar sedih.
"Tidak apa-apa, mas. Kita memang tidak bisa menolak musibah dari sang pencipta. Jadi, ambil hikmah saja."
"Mas janji, setelah sembuh kita akan melanjutkan pernikahan kita lagi," ujar Abizar bersungguh-sungguh.
Salam dan pintu yang terbuka membuat Rahimah tidak bisa menyahut, ia terpaku pada sosok wanita paruh baya yang datang menatapnya datar tapi hanya sebentar.
"Pagi, bu," Rahimah mencoba tetap bersikap ramah.
"Ya, Pagi," walau pendek tapi tetap membalas sapaan dari Rahimah.
"Bu," panggil Abizar kepada ibunya.
Ibu Ismawati segera mendekat sambil tersenyum. " Ada apa, nak?"
"Nanti setelah Abi sembuh, kita akan melanjutkan acara kemarin. Ibu sudah mengurus semuanya kan?"
"Kamu, jangan memikirkan itu dulu. Sebaiknya fokus saja pada kesehatan."
Abizar kembali hendak melayangkan pertanyaan, tapi Rahimah segera menyela. "Apa yang dikatakan ibu itu benar, sebaiknya mas Abi istrahat saja. Jangan banyak pikiran."
"Itu sama sekali tidak menggangu kesehatan Mas, Imah. Mas hanya ingin memastikan, kalau kita bisa melanjutkan acaranya nanti."
"Sudah, sudah .... Jangan bicara lagi, ibu mau menyiapkan makanan Bapak dulu." Alasannya sambil berlalu.
Trio wewek hanya menjadi penonton dan pendengar, tidak bisa masuk dalam pembahasan itu.
Abizar-lah yang lebih banyak bicara ketimbang Rahimah, ia selalu membahas acara yang akan diulang usai ke luar dari rumah sakit. Trio wewek pun sekekali di minta pendapat oleh sang pasien Itu, dan mereka hanya menjawab seadanya.
Setelah merasa cukup lama, mereka memutuskan untuk pulang. Ibu Ismawati bahkan tidak ikut bergabung lagi, ia lebih menyibukkan diri untuk keperluan suaminya.
"Kalau begitu, kami pulang dulu Mas," pamit Rahimah.
"Ya, kami mau pulang dulu pak Ustadz. Kasian Nuri kelamaan di tinggal," Nurul memberi alasan ketika Abizar terlihat hendak menahan Rahimah pulang.
"Baiklah, besok kalian kemari lagikan?" tanya Abizar penuh harap, tepatnya tertuju pada sang calon istri.
"Insya Allah, kalau tidak ada kendala ... Kami akan berkunjung lagi," janji Rahimah tak pasti.
Abizar mengangguk senang sambil menahan sakit di punggung, akibat terlalu bersemangat. Mereka pun berpamitan kepada kedua orang tua itu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Keluar dari bangsal, baru beberapa langkah ... Rahimah di panggil seseorang. Sontak mereka menoleh berbarengan.
Ternyata yang memanggil dan menghampiri mereka adalah ibu Ismawati. "Bisa saya bicara sebentar denganmu?" matanya mengarah pada Rahimah, dan mereka tahu pertanyaan itu tertuju padanya.
Mereka sempat saling lempar pandang, sebelum akhirnya mengerti maksud ibu Ismawati yang hanya ingin bicara berdua.
Trio wewek pun berjalan lebih dulu setelah melihat Rahimah yang mengangguk meminta izin bicara.
"Ada apa, bu?"
Terlihat beliau menghela napas sebelum menyampaikan maksud tujuannya ingin bicara, berdua.
"Begini Imah, ibu ingin minta maaf atas perkataan ibu kemarin."
Rahimah masih diam mendengarkan.
"Ibu tau, kamu adalah wanita yang pengertian. Kamu pasti tidak akan mudah tersinggung, jika melihat kondisi ibu waktu itu. Ibu begitu khawatir dengan keadaan Abi, jadi kamu bisa memakluminya karena ibu terbawa suasana."
Rahimah mengangguk pelan.
"Kamu adalah wanita yang yang baik, ibu yakin kamu juga akan mendapatkan jodoh yang baik." Rahimah mengernyit mendengarnya.
"Bukan maksud ibu tidak suka padamu Imah, ibu suka denganmu .... Hanya saja, ketika kamu menceritakan tentang Rahman waktu Itu, ibu jadi kepikiran."
Rahimah menyerap setiap kata yang terlontar dari mulut orang yang menjadi lawan bicaranya.
"Terlepas bagaimana Rahman lahir, ibu yakin kamu adalah wanita baik-baik. Tapi ketika orang-orang di lingkungan ibu mempertanyakan asal usul anakmu, dan jika mereka tau siapa nasab-nya ... maka kita tidak bisa menghalau praduga dari mereka."
Rahimah mengerti arah pembicaraan tersebut, inilah alasannya waktu itu mengatakan fakta anaknya. Karena ia tidak ingin calon mertuanya menduga yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Jadi ibu mohon maaf ... alangkah baiknya jika kamu yang membatalkan pernikahan ini."
Dada Rahimah seketika menjadi sesak, matanya memanas dan mengabur. Bulir-bulir kristal menumpuk berdesakan ingin keluar dari pelupuk matanya.
Ia merasa terhina dengan kata-kata halus ibu Ismawati, jika ia yang membatalkan pernikahan ini ... maka pandangan Abizar terhadapnya terlihat buruk.
"Mungkin, inilah cara Allah memberi musibah pada Abi, agar kita bisa berpikir lagi sebelum terjadi."
Air mata Rahimah jatuh seketika tanpa diminta, ia bagai seorang wanita yang tak pantas untuk di nikahi. Begitu buruk'kah dirinya ini?
"Imah." Rahimah menunduk melihat tangannya yang di genggam oleh ibu Ismawati dengan pandangan yang tidak jelas.
"Apa Kamu, setuju?"
Dengan derai air mata yang tak henti-hentinya, Rahimah mengangguk mengiyakan membuat kedua sudut bibir ibu Ismawati terangkat sempurna. Sungguh berbanding terbalik dengan dirinya.
"Terimakasih." Rahimah tertarik kedepan karena pelukan dari ibu Ismawati.
Tidak ada yang Rahimah ucapkan selain hanya bisa mengangguk. Usai pelukan terurai dan genggaman terlepas, Rahimah segera berbalik badan, pergi meninggalkan Ibu Ismawati tanpa kata.
Dengan kasar Rahimah mengusap jejak air matanya. Sebelum menyusul ke tempat teman-temannya Rahimah berbelok ke toilet umum guna mencuci mukanya.
Menenangkan diri sejenak, berulang kali menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan agar ia bisa bernapas lega.
Merasa lebih baik, Rahimah kembali melanjutkan langkahnya ke tempat parkiran.
"Kanapa lama, banget?" tanya Nurul, mereka menatapnya lekat ketika Rahimah membuka pintu mobil.
"Nggak kenapa-napa, ayo kita pulang. Nuri pasti udah nungguin Kamu." Rahimah segera masuk kedalam mobil tanpa melirik yang lain.
Matanya menatap kosong ke luar jendela. Nurul kembali ingin bertanya, tapi di tahan oleh Soraya dan Dinda menggunakan isyarat mata.
Mobil pun perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit, sepanjang jalan keadaan di dalam mobil hening dan sunyi. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
BERSAMBUNG ....