
Saat di perjalanan menuju Bandung, Hawa yang biasanya selalu mengajak Rahman bicara atau bermain tiba-tiba saja jadi pendiam.
Sama seperti halnya Hawa, Rahman juga sudah menganggap Hawa seperti Kakaknya sendiri. Melihat Hawa yang hanya diam dan tidak menghiraukannya, membuatnya merasa di acuhkan oleh sang Kakak.
Beberapa kali Rahman memberi pertanyaan atau pernyataan, tapi hanya di jawab Hawa pendek. Kadang juga Rahman memberi jawaban yang sama sekali tidak di tanyakan Hawa, tapi tetap tidak di hiraukannya sama sekali.
"Mbak Hawa nanti kita menggambar lagi ya?" Pancing Rahman, sudah gatal sejak tadi dia ingin bicara pada Hawa. Jika saja Hawa itu adalah teman baru, jelas Ia tidak masalah walah satu minggu tidak di ajak bicara.
"Ya." Jawabnya singkat.
"Aku punya ide baru buat gambar lo Mbak."
"Hmm." Gumamnya malas.
Dan biasanya Hawa yang cerewet sekali, kali ini kebalikannya, begitu juga Rahman yang tidak banyak bicara sekarang menjadi cerewet. Para orang dewasa hanya memperhatikan mereka sekilas dan tidak terlalu memikirkannya.
Pandangan Hawa juga tidak berpindah dari luar jendela mobil di sampingnya. Saat hendak tiba di halaman rumah Rahman pun dengan sengaja memegang pundak Hawa, mengatakan kalau mereka sudah sampai.
Tapi alih-alih berterimakasih, Hawa malah marah pada Rahman.
Posisi Hawa duduk tepat di belakang kemudi sang Ayah, di samping Ayahnya ada Mamanya, di sampingnya adalah Rahman dan di samping Rahman ada Rahimah
"Mbak Hawa, kita sudah sampai." Ucap Rahman saat itu yang langsung di tepis oleh Hawa.
"Gak perlu Kamu kasih tau, Aku juga udah tau." Ketus Hawa membuat dirinya mendapatkan teguran dari Sang Ayah.
"Hawa, kenapa Kamu bicara seperti itu?" Tegur Wahyu tegas. Membuat Rahimah tak enak hati melihat Hawa yang di tegur.
"Ayo, minta maaf sama Rahman." Rahimah yang mendengar perintah dari Wahyu dan melihat Hawa yang menunduk semakin tidak enak hati karenanya.
"Udah gak usah minta maaf segala, lagian juga Rahman yang salah. Pakai acara ngasih tau segala, padahal Hawa juga udah taukan." Ujar Rahimah menengahi.
"Iya Om, Rahman yang salah. Maaf yak Mbak?" Hawa segera turun saat mobil benar-benar berhenti.
"Hawa.." Panggil Khadizah, Ia juga heran melihat sifat yang sangat jarang di perlihatkan Hawa itu.
"Sudah Mbak biarkan saja, Hawa itu masih Anak-anak." Mereka juga turun dari mobil.
"Makasih ya Mbak Dizah dan Mas Wahyu?"
"Iya sama-sama."
"Kalau gitu kami ke rumah dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Setelah memberi salam Rahimah dan Rahman segera beranjak meninggalkan halaman Rumah Khadizah.
Tiba di rumah, Rahimah segera menyimpan tas ke dalam kamar. Karena sudah lama mereka tidak pulang ke rumah, akhirnya ruangan itu sangatlah berdebu.
Tentu Rahimah buru-buru mengambil sapu untuk membersihkan isi rumahnya, Rahman juga tidak tinggal diam. Kalau Rahimah menyapu di ruang tengah maka Ia pun ikut membantu menyapu di dalam kamar. Ya mereka selalu saling bantu membantu.
Selesai menyapu mereka juga mengepel lantai, melap meja dan apa saja yang mereka rasa kotor. Sambil berkerja mereka pun sambil mengobrol.
"Nanti sore kita pergi ke tempat pelatihan taekwondo dulu, Rahman mesti izin berhenti latihan."
"Memangnya Mama gak capek? Sebaiknya Mama istrahat saja dulu. Kita baru sampai dari perjalanan jauh, di tambah lagi kita juga membersihkan isi rumah. Nanti kalau Mama kenapa-napa gimana?" Rahimah yang terbiasa berkerja tidak merasakan kalau tubuhnya capek, tapi rasa lelah itu akan datang saat Ia membaringkan tubuhnya di malam hari.
Dan memang benar yang di katakan Rahman, mereka baru saja datang dari perjalanan jauh juga membersihkan rumah.
Di pandanginya wajah Rahman yang memang terlihat lelah, Ia pun jadi tak tega melihat Anak nya.
"Iya Rahman benar sebaiknya kita istrahat dulu." Rahman duduk saat tugasnya sudah selesai. Pekerjaan membersihkan rumah cepat terselesai karena mereka yang saling membantu.
"Sebaiknya Rahman mandi dulu, kita sudah melewatkan waktu Dzuhur. Habis Sholat baru istrahat." Ucap Rahimah beranjak ke arah dapur.
"Iya Ma.." Segera mengambil Handuk dan sarung Ia pun pergi ke kamar mandi.
Saat Rahman mandi, Rahimah pun memasak nasi untuk mereka makan nanti. Usai Rahman mandi kini tibalah gilirannya menggunakan kamar mandi.
Selesai membersihkan diri mereka pun menunaikan Sholat. Rahimah yang selesai dengan Sholat nya pun berniat memanggil Rahman untuk makan.
Mengetuk pintu pelan tapi tidak mendengar jawaban, Ia pun masuk dan mendapati Rahman yang tengah tertidur masih memakai sarung serta baju kokonya.
Ya waktu Rahimah mandi tadi Rahman sedang Sholat, dan saat Rahimah Sholat Rahman sudah tertidur.
Tidak ingin mengganggu Rahman yang tertidur Ia pun juga kembali ke kamarnya untuk istrahat, Ia akan menunggu Rahman bangun jadi mereka bisa makan bersama-sama.
Tidak disangka mereka tertidur sampai menjelang Magrib, dan melewatkan Ashar. Jelas saja mereka sangat kelelahan, karena perjalanan jauh ditambah pula membersihkan rumah hingga akhirnya tertidur begitu nyenyaknya.
Rahman yang lebih dulu bangun segera membangunkan Rahimah, Ia akan pergi ke Masjid ikut bersama Wahyu.
Rahimah sempat Protes karena Rahman yang belum makan siang, tapi Rahman tetap memaksa dan mengatakan akan segera pulang saat selesai Sholat Magrib. Biasanya Rahman dan Kakeknya akan pulang usai Sholat Isya.
Rahimah pun mengizin Rahman pergi ke Masjid asalkan pulang saat usai Sholat Magrib. Dan Rahman memenuhi janjinya. Mereka pun Makan malam bersama dan Sholat Isya bersama.
Malam panjang pun kembali mereka lewati, tapi tentu sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Karena malam ini mereka hanya berdua dan sangat terasa sepi.
Rahimah masuk ke dalam kamar Rahman, yang ternyata sedang mengotak atik laptop hadiah juara dari lomba cerdas cermat tahun lalu.
"Sedang apa?" Ujarnya seraya masuk kedalam.
"Lagi kirim email buat Master, biar bisa janji temu sama beliau besok. Soalnya beliau biasanya sibuk." Rahimah mengangguk mengerti.
"Jadi kita kemana dulu besok?" Tanya Rahimah ikut duduk di samping Rahman yang duduk bersila di atas kasur dan memangku bantal berhadapan dengan laptop.
"Besok pagi kita ke sekolah dulu baru ke tempat latihat." Kata Rahman sambil menoleh sejenak pada Mama nya kemudian kembali menatap laptopnya.
"Mama boleh tidur sama Rahman gak?" Seketika Rahman menghentikan gerakan tangannya.
Memandang Mama nya lekat lalu tersenyum sembari mengangguk dan menjawab lembut.
"Boleh, ini Rahman selesaikan dulu." Rahman menyimpan laptopnya di atas nakas setelah selesai mengirim email untuk pelatih taekwondo nya.
Rahman mengerti kenapa Mama nya ingin tidur dengannya, pasti Mama nya yang terkenang kapada sang Kakak. Sekarang pun memorinya kembali berputar ulang, mengenang Kakek nya yang biasanya tidur di sampingnya dan sekarang terobati oleh sang Mama yang ingin tidur dengannya.
"Ma, Rahman kangen sama Kakek." Gumam Rahman lirih. Sekarang mereka tengah berbaring dan saling berpelukan satu sama lain.
Rahimah yang mendengar gumaman Rahman semakin mempererat pelukan mereka.
"Mama juga.." Ucapnya menahan air mata yang tiba-tiba datang.
Sepanjang malam Rahman memeluk Mama nya, hingga subuh datang membangunkan mereka.
Seperti biasa Rahman akan berangkat Sholat Subuh bersama Wahyu, dan Rahimah Sholat di rumah setelah Ia sudah selesai memasak di pagi buta.
...----------------...
Sesuai rencana awal pagi ini Rahman akan pergi ke sekolah, berhubung libur juga sudah usai.
"Mbak Hawa berangkat gak bareng teman-teman yah?" Ujar Rahman yang melihat Hawa hendak mengayuh sepedanya, sedang teman-temannya yang lain masih di ujung jalan dan belum sampai di halaman rumahnya.
"Enggak." Jawabnya pendek dan segera melesat pergi meninggalkan Rahman.
Rahman memperhatikan punggung Hawa yang menjauh, punggung yang bahkan lebih kecil dari Rahman. Ia merasa Hawa sedang marah kepadanya, tapi Ia tidak tau atas dasar apa yang membuat Hawa marah padanya.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat." Rahman tersentak kecil saat mendengar suara Mama nya berada di belakangnya sudah siap duduk di atas motor dengan helm di kepala, milik sang Kakek.
"Sudah Ma.."
"Mau kesekolah yah?" Belum Rahman naik ke atas motor suara Khadizah menghentikan niatnya untuk naik.
"Eh iya Mbak, kita mau minta surat pindah sekolah dulu. Sekalian ke tempat pelatihan Taekwondonya Rahman."
"Ya sudah hati-hati, biar nanti sore Mas Wahyu saja yang bantuin minta surat pinda sama Pak Rt."
"Makasih ya Mbak, maaf kami sudah merepotkan."
"Ya ampun Imah, kamu ini kaya sama siapa aja. Mbak sama sekali tidak merasa di repotkan kok, malahan Mbak seneng bisa bantuin Kamu." Ucap Khadizah tulus.
"Hehe sekali lagi makasih yak Mbak? Kalau gitu kita berangkat sekarang. Assalamualaikum."
"Iya hati-hati, Wa'alaikumussalam."
Perlahan Rahimah menstater motornya dan berlalu pergi menuju sekolah nya Rahman, tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sekolah.
Memarkirkan motornya Rahimah pun ikut menoleh ke samping saat mendengar Rahman di panggil teman-temannya.
"Aman. Kenapa gak pakai baju sekolah?" Panggil Andi yang berjalan mendekat bersama Riki.
Belum Rahman menyahut Andi kembali bersuara.
"Pagi tante. Kok tante ikut ke sekolah?"
"Eh Andi sama Riki ya? Ini tante mau ketemu kepala sekolah kalian, mau minta surat pindah sekolah buat Rahman." Andi dan Riki saling pandang karena terkejut.
"Kamu mau pindah sekolah Man?" Riki meyela dan bertanya langsung pada Rahman yang langsung di angguki Rahman.
"Yah kok pinda? Kemana pindahnya?" Timpal Andi ikut kecewa.
"Ke Jakarta." Bukan Rahman yang menjawab melainkan Rahimah.
"Sudah dulu yah? Tante sama Rahman mau ke kantor kepala sekokah dulu. Mumpung belum pada masuk kelas." Kata Rahimah menghentikan pembicaraan. Karena Ia ingin cepat selesai dan kembali pergi ke tempat pelatihan Rahman.
"Iya tante, nanti sore kita ke rumah yah tante?"
"Boleh.. kalau kalian mau sekalian aja bantu-bantu mengemas barang." Canda Rahimah yang ternyata di anggap serius oleh mereka berdua. Mana mungkin Rahimah tega meminta bantuan Anak kecil semuran mereka.
"Siap tante, nanti kita bantu." Rahimah terkekeh menanggapinya begitu juga Rahman.
"Sampai jumpa nanti sore, kalian sekalian aja bawa baju biar nanti nginap." Tawarnya sambil berlalu.
"Oke." Jawab Andi dan Riki serempak.
Sepanjang perjalan Rahimah dan Rahman yang menuju kantor kepala sekolah, semua teman-teman Rahman yang sekelas mau pun tidak selalu melihat mereka.
Tiba di depan dau pintu Rahimah mengetok sembari mengucap salam, mereka berdua pun masuk saat mendapatkan salam dan perintah dari dalam.
"Selamat Pagi Pak Zakaria." Ucap Rahimah mengantupkan tangan di depan dada.
"Selamat pagi Ibu Rahimah dan Rahman, silahkan duduk. Ada yang bisa Saya bantu?"
"Begini Pak Zakaria, kedatangan Saya kemari ingin meminta surat pindah sekolah Rahman. Karena kami akan pinda ke Jakarta." Sangat jelas terlihat raut wajah Bapak kepala sekolah yang sepertinya kecewa.
"Kalau boleh tau apa alasan Nak Rahman berkeinginan pindah dari sekolah ini?" Selidik Bapak kepala sekolah menatap Rahman.
"Saya sebenarnya tidak ada niatan untuk pindah dari sekolah ini, hanya saja Kakek Saya mempunyai sebuah ruko di Jakarta. Dan Saya merasa sangat di sayangkan jika ruko itu kembali terbengkalai tidak terurus, sementara Saya dan Mama Saya masih hidup juga sehat untuk merawat penginggalan Kakek Saya." Rahimah tersenyem bangga mendengar jawaban dari Putranya.
"Jujur Ibu Rahimah dan Nak Rahman, secara pribadi Saya sebenarnya berat melepaskan murid secerdas Rahman. Dari hasil UTS kemarin bahkan Rahman tidak ada salah dalam mengerjakan soal walau satu pun."
"Kalau Ibu Rahimah berkenan kami selaku pihak sekolah sudah berdiskusi untuk menaikkan Rahman ke kelas enam. Itu semua karena kecerdasan yang di miliki Rahman dan kami sangat bangga memiliki murid yang mempunyai prestasi di atas rata-rata." Tutur Bapak kepala sekolah panjang lebar.
"Maaf Pak Zakaria, tidak mengurangi rasa hormat Saya kepada pihak sekolah. Sekali lagi Saya meminta maaf kalau Saya terpaksa harus menolak tawaran Bapak. Karena ini murni keinginan Rahman yang ingin dekat dengan tanah kelahiran Saya juga ingin mengurus sendiri warisan dari Orang tua Saya. Kami akan memulai hidup berdua setelah kepergian Bapak Saya." Tolak Rahimah ramah.
Bapak kepala sekolah mengangguk-ngangguk tanda mengerti.
"Baiklah kalau begitu, dengan berat hati Saya melepas Nak Rahman. Tunggu sebentar, biar Saya suruh pengurus untuk membuatkan surat pindahnya." Pak kepala sekolah pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rahimah berdua. Selang lima menit Bapak kepala sekolah datang dengan surat juga amplop di tangannya, memberi cap stempel dan menandatanganinya lalu menyerahkannya kepada Rahimah.
"Do'a Saya semoga Nak Rahman bisa menjadi anak yang sukses dan kita bisa bertemu kembali di lain kesempatan." Ucap tulus Bapak kepala sekolah mengusap kepala Rahman saat Rahman mencium punggung tangannya.
"Terimakasih atas Do'a nya Pak."
"Terimakasih atas suratnya Pak Zakaria, kalau begitu kami permisi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Sahut Bapak kepala sekolah, kemudian menghela nafas berat.
Sebenarnya Pak Zakaria tidak ingin melepas Rahman dari sekolah ini, tapi Ia juga tidak bisa memaksakan keinginan seseorang.
"Ma.. Rahman ke kelas sebentar ya? Ingin menyapa teman-teman dulu." Karena kelas baru saja berbunyi Rahman yakin bahwa wali kelasnya pasti belum masuk kelas, jadi Ia berniat memberi perpisahan sebentar pada teman-teman sekelasnya.
Saat Rahman membuka pintu dan masuk kedalam kelas, kelas yang awalnya terdengar berisik dan gaduh seketika hening dengan pandangan semua mata tertuju padanya.
Mereka yang awalnya mengira itu adalah wali kelasnya menjadi kaget dan berubah bingung saat meliahat Rahman yang masuk dengan memakai baju biasa, ya mereka memang tadi sudah melihat Rahman yang memakai baju biasa tapi tidak semua teman yang melihatnya. Dengan perasaan kikuk karena mendapat tatapan seperti itu, Rahman pun memilih tersenyum pada semua temannya sembari menggaruk tengguknya walau pun sama sekali tidak gatal.
"Hai teman-teman." Ucap Rahman menyapa sambil tersenyum.
"Wah Aman, sudah selesai ke kantor kepala sekolah?" Teriak Andi Rahman mengangguk mengiyakan.
"Woy teman-teman, Aman kayanya mau ngasih salam perpisahan sama kita karena akan pindah sekolah ke Jakarta." Riki membantu menjelaskan maksud kedatangan Rahman ke kelas mereka.
Tampak sebagian dari teman-temannya mengeluh kenapa Ia harus pindah.
Asyik mengintrogasi Rahman hingga mereka tidak sadar dengan kemunculan wali kelas mereka. Pak guru yang hendak marah pun akhirnya urung saat tau kalau murid teladannya yang akan pinda sekolah. Jadilah mereka sejenak menjeda pelajaraan dan memberi salam perpisahan untuk Rahman.
BERSAMBUNG....
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. πβ
Salam sayang ....
Noormy Aliansyah