
Sudah tiga hari Rahman menikmati perannya sebagai murid baru dan hari ini adalah hari ke-empatnya di sekolah tersebut.
Seperti biasa, Rahimah sudah bangun dari subuh untuk memasak, ia pun hari ini memasak banyak untuk bekal Rahman. Ia bahkan memasukkan nasi dalam tiga tempat bekal yang berbeda.
Satu untuk Rahman, satu untuk Rayan dan satu lagi untuk teman-temannya. Ya semenjak Rahman bercerita punya teman baru, Rahimah selalu membuatkan bekal lebih banyak untuk dibagikan.
Sebelum Rahman berangkat dijemput oleh Rayan, Rahimah memberi pesan pada Rahman.
"Rahman, jangan lupa anak kunci rumah dibawa, nanti mungkin mama akan pulang agak siangan. Mama sudah siapkan makanan kalau nanti kamu lapar, jangan pergi kemana-kemana selagi mama gak ada di rumah ya?"
"Iya ma," jawab Rahman sembari mendudukkan diri di kursi hendak memulai sarapan.
"Oiya, kunci pintu kalau sudah pulang, satu lagi ... jangan bukakan pintu untuk orang yang gak kamu kenal," Rahman mengangguk-ngangguk mengerti.
Rahman pun mulai sarapannya bersama sang mama dengan diam, ini adalah kebiasaan dari Rahimah sewaktu Pak Ramlan masih hidup di antara mereka.
"Emang ada acara apa di pesantren ma? Coba aja kalau Rahman nggak sekolah, Rahman mau ikut ...." kata Rahman saat sudah selesai dengan sarapannya.
"Huss, gak boleh ngomong kaya gitu. Lagian kamu itu baru aja sekolah, masa iya mau bolos. Mama juga nggak tau ada acara apa, Bu Ustadzah Habibah cuman ngomong minta ditemanin ke pesantren." Balas Rahimah sambil membereskan bekas makan mereka dan beranjak membawa ke tempat cuci.
"Nanti kapan-kapan Rahman ikut yah Ma?" kata Rahman bersiap.
"Iya, nanti kalau diajak lagi." Kata Rahimah sambil mencuci piring.
Mobil yang menjemput Rahman pun datang, Rahimah mengantarnya sampai ke halaman rumah.
"Rahman berangkat, Assalamualaikum." Rayan ikut melambaikan tangannya di dalam mobil.
"Wa'alaikumussalam." Rahimah tersenyum sembari membalas lambayannya.
Setelah kepergian Rahman, Rahimah juga bersiap untuk pergi. Karena sebentar lagi Ustadzah Habibah akan datang menjemputnya.
Beberapa menit kemudian, Ustadzah Habibah datang dengan mobil dan supirnya. Bergegas Rahimah turun dari lantai dua, kemudian mengunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam mobil ikut pergi bersama Ustadzah Habibah menuju pesantren.
"Memangnya ada acara apa Bu, di pesantren?" saat mobil sudah jalan Rahimah memberanikan diri untuk bertanya.
"Itu, saudaranya murid ibu yang belajar ngaji sama ibu ... ada yang masuk Islam dan hari ini dia akan mengucap syahadat di Masjid pesantren," jelas Ustadzah Habibah.
"Kalau gak salah, kamu pernah ketemu sama murid ibu yang seorang mua'laf itu. Kamu ingat nggak?" Ustadzah Habibah melirik sekilas pada Rahimah.
"Oya, kapan Bu?" Rahimah mengerutkan dahinya sambil menoleh ke arah Ustadzah Habibah.
"Waktu kamu masih sendiri dan belum ada Rahman, saat itu kamu ngantarin baju jahitan punya ibu ke rumah," seketika memori Rahimah memutar pada kejadian sepuluh tahun yang lalu, ia memang merasa ingat tapi hanya samar-samar karena sudah terlalu lama.
"Kaya ingat, tapi masih lupa-lupa," jawabnya ragu.
"Nggak apa-apa, nanti ibu kenalkan di sana," kata Ustadzah Habibah.
Cukup jauh perjalanan yang mereka tempuh, kurang lebih hampir satu jam barulah mereka sampai di pesantren.
Saat sudah sampai di pesantren, Ustadzah Habibah segera menuju ruangan Ustadz Rasyid dan menanyakan apakah orang yang ditunggu sudah datang atau belum.
Ternyata mereka belum datang, karena acaranya juga belum dimulai. Ustadzah Habibah pun mengajak Rahimah pergi ke bagian dapur di pesantren itu. Ustazah Habibah mengenalkan Rahimah kepada istri dan adik Ustadz Rasyid.
"Rahimah, kenalkan ini Madinah ... adik dari Ustadz Rasyid. Madinah berserta suami dan anaknya tinggal di pondok ini," kata Ustadzah mengenalkannya.
"Rahimah, mbak," mereka pun saling bersalaman.
"Madinah."
"Dan ini, istrinya Ustadz Rasyid ... namanya Indah. Mereka juga tinggal di sini, sama seperti Madinah."
"Indah."
Usai berkenalan Rahimah membantu Madinah dan Indah memasak untuk makan siang para santri putra dan putri, sambil memasak mereka saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.
"Jadi sebenarnya kamu asli orang sini? Tapi lama menetap di Bandung dan baru pindah lagi ke sini?" saat Madinah baru tahu prihal tinggalnya Rahimah.
"Iya, mbak. Sekarang, sudah hampir seminggu saya tinggal di sini," aku Rahimah.
"Berarti sebentar lagi dua puluh lima hari meninggalnya Bapak kamu dong yah?" timpal Indah.
"Kurang lebih, sekitar satu minggu lagi mbak," Indah dan Madinah pun ber-ohh saat tahu tentang itu.
"Kenapa kamu bisa sampai pindah ke Bandung?" Rahimah tersentak kaget, mendapat pertanyaan semacam itu dari Madinah. Ia tidak pernah berintraksi dengan orang lain selain dengan orang-orang yang sudah mengetahui tentang masalalunya, jadi ini adalah pertanyaan yang pertama bagi Rahimah.
Dulu saat di Bandung, Khadizah akan mengatakan jika ia adalah seorang janda yang ditinggal suami disaat Rahimah hamil. Jadi kebanyakan para tentang tidak pernah menanyainya.
"Emm, nggak ngerti juga mbak. Mungkin karena udah jalannya kali yah mbak, kita jadi sampai pindah?" bingung ingin bicara apa.
"Iya yah, mungkin takdir yang sudah membawamu ke sana." Rahimah hanya bisa menganggung mengiyaka apa yang di ucapkan Madinah.
...****************...
"Sebentar lagi kak Adit datang, tadi baru aja aku telepon." kata Maryam menyiapkan sarapan untuk kakak nya.
"Kenapa mesti hubungin dia?" Tanya Cristian dengan kening yang berkerut.
"Yah buat nyuruh dia ke sinilah, emang mau ngapai?" Cristian berdecak .
"Maksud kakak, ngapain nyuruh Adit ke sini?" tanyanya sekali lagi.
"Yah buat antar kita," jawaban yang tidak masuk akal pikir Cristian.
"Kamu ngajak Adit? Kamu pikir, kakak gak bisa nyetir apa? Lagian ... kamu juga bisakan nyetir sendiri? Kenapa mesti minta diantar Adit?" Cristian menggeleng tak habis pikir dengan Maryam, kalau Adit ikut ia takut akan di kerjai yang aneh-aneh oleh Adit nanti.
"Tujuan ku ngajak kak Adit, bukan cuman jadi supir tapi juga temanin kakak nanti, biar nggak takun dan gugup." Maryam meletakkan sarapan di hadapan sang kakak.
Roti dengan selai coklat dan teh panas, Maryam kembali mengoleskan roti yang lain untuk dirinya dan anaknya.
"Ngapain peke acara ditemanin segala, kakak juga nggak takut?" sungut Cristian sebelum akhirnya menggigit roti di hadapannya.
"Emang kakak nggak gugup apa? Atau takut gitu?" Cristian menatap sang adik yang juga sedang menatapnya dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Ngapai mesti takut dan gugup? Orang kakak biasa aja tuh." Ucapnya kembali mengunya.
"Aneh ... aku dulu gugup sama takut loh? Kok kakak enggak yah?" Maryam menyerahkan roti pada Intan.
"Kenapa jadi gugup dan takut mah?" tanya Intan dengan rasa keingin tahuannya.
"Emmm, gak ngerti juga ... tiba-tiba aja, mama jadi gugup dan takut waktu duduk di tengah-tengah orang banyak, dan semua orang pada liatin mama." Ucap Maryam sambil mengangkat bahunya.
"Emang bakalan banyak orang yah?" tanya Cristian menghentikan makannya dan menatap penuh pada Maryam.
"Iya dong, 'kan nanti acaranya di depan orang banyak."
"Ehh, kok gitu?" Cristian tersentak kecil saat tahu akan hal itu.
"Yah gitu, emang udah aturannya kali?" jawab Maryam ambigu, tiba-tiba Cristian jadi kepikiran.
"Berarti kaya Intan, dong mah? Waktu disuruh ibu guru maju ke depan papan tulis, buat bacain hapalan surat pendek ... Intan jadi gugup dan takut, karena pada diliatin teman-teman." Intan bergidik ngeri diakhir kalimatnya.
"Tapi itu cuman diliatin sama teman sekelas kamu sayang, kalau ini ... mungkin lebih banyak." Ucapnya santai sambil menggigit rotinya.
Cristian mengerjapkan mata beberapa kali, lalu ia menatap Maryam dan Intan bergantian. Ia bingung ingin bicara apa, mendengar penjelasan ibu dan anak ini.
"Emang buat acara apa sih mah? Kok sampai banyak orang gituh?" Tanya Intan di sela-sela mengunyahnya.
"Eemmm, buaaaaatt---,"
"Assalamualaikum, ikut sarapan dong?" kalimat Maryam menggantung karena kedatangan Adit.
"Wa'alaikumussalam." jawab serempang.
"Sinih kak Adit, biar aku olesin rotinya." Segera Mengambil roti untuk dioleskan selai.
"Mau rasa apa?"
"Nanas." Kata Adit sambil menarik kursi dan duduk di dekat Cristian.
"Jangan gugup yah bro, nanti gue temamin." Ujar Adit santai sampil menaik turunkan alisnya, seolah-olah mengejek.
Cristian tidak menyahut, ia kembali mengunyah roti miliknya. Tapi entah kenapa terasa sulit untuk dikunyah, entah karena pengakun Maryam yang menceritakan pengalamannya atau karena ejekan Adit.
Usai sarapan bersama, Cristian dan yang lainnya bersiap untuk segera berangkat. Hari ini Intan libur dan akan ikut mama dan om-nya pergi ke suatu acara.
Cristian yang awalnya tadi mengatakan tidak gugup dan takut ternyata ia baru merasakannya saat perjalanan sudah setengah jalan. Apa lagi saat mendengar perkataan Adit.
"Anggap aja semua orang tuh nggak ada di sana, abaikan mereka dan fokus sama tujuan lo." Ucap Adit meliriknya sekilas dan kembali menatap jalanan.
Semua orang! Apa akan ada banyak orang? pikir Cristian.
Cristian bahkan sekarang seakan tuli dengan keributan yang dibuat adik dan keponakannya itu di kursi belakang, pikirannya terbagi entah berapa bagian.
Cristian menelan ludah, tiba-tiba ia merasa gelisa. Ia meresa seakan ada yang menelannya hidup-hidup saat mobil yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan.
"Ayo kak turun, kita sudah sampai." Ajak Maryam yang sudah turun, tapi tidak dengan Cristian yang masih diam di dalam mobil.
"Eemm," gumamnya, keluar dengan pelan .
Mereka pun berjalan masuk melewati sebuah pagar besi besar nan tinggi, terdapat beberapa bangunan yang berjejer rapi dan terawat. Ada begitu banyak anak-anak yang berlalu lalang, ada yang keluar dan ada juga yang menuju bangunan tersebut.
Saat melewati halaman yang banyak ditanami berbagai macam bunga, mereka disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan baju syar'inya dan kerudung yang menutupi dada.
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Habibah," sapa Maryam seraya mencium punggung tangannya, disusul putri kecilnya.
"Wa'aikumussalam," jawab Ustadzah.
"Mari langsung saja masuk ke ruangannya Ustadz Rasyid," ajaknya. Mereka segera mengikuti di belakang.
Tiba di ruangan Ustadz Rasyid, setelah mengucapkan salam dan dipersilahkan duduk mereka berbincang sebentar dengan Ustadz Rasyid dan Ustadzah Habibah.
"Ayo nak Maryam, kita ke belakang ... ada yang ingin ibu kenalkan sama kamu," ujar Ustadzah Habibah mengajar Maryam ke dapur di pondok tersebut.
"Baik Bu, kak aku ikut Bu Ustadzah dulu yah ... ayo Intan," pamitnya pada Adit dan Cristian, yang dibalas anggukan dari mereka.
"Nanti kita akan mengadakan pengucapan Syahadat saat acara pengajian rutin di masjid ini, bersama para ulama dan murid santri purta dan putri."
Cristian menelan ludah dengan susuh payah, sungguh ia tidak pernah terpikir bahwa akan mengucapkan Syahadat dihadapan orang banyak. Ia pikir cukup dirinya dan Ustadz Rasyid saja.
Tanpa terasa keringat dingin keluar dari telapak tangan dan pelipisnya, tiba-tiba tubuhnya terasa lebih lemas dari saat ia di dalam mobil tadi.
Inikah yang dimaksud adik dan sahabatnya tadi, jangan gugup dan takut, anggap semua orang tidak ada. Sungguh ingin sekali rasanya ia lari dari tempat yang ia duduki sekarang.
Padahal ia tidak pernah takut dengan siapa pun, bahkan saat ia melakukan khitan waktu itu tidak segugup dan setakut ini, entah kenapa mendengar orang yang akan melihatnya membuatnya menjadi benar-benar gugup.
Akan ada para ulama dan para santri, ia seperti akan menjadi tontonan gratis.
Tapi tunggu dulu ... memang kenapa ia harus takut, bukankah ia tidak melakukan kesalahan? Ia hanya akan mengucapkan Syahadat, jadi tidak perlu takut. Gumam Cristian di dalam hati.
Cristian tersentak kecil saat Adit yang duduk di sampingnya berbisik. "Santai aja, gak usah tegang kaya gitu kale," Cristian melototkan matanya pada Adit.
"Gak usah melotot juga kale, gak malu apa nanti dilihat pak Ustadz," Cristian menghela napas, saat melihat ke arah Ustadz yang melirik dirinya. Ia tersenyum canggung.
"Oiya pak Ustadz, apa perlu Tian mengganti namanya?" ucap Adit mengalihkan perhatian.
"Jika namanya tidak baik (menurut agama), maka disyariatkan untuk merubah namanya setelah masuk Islam. Karena, perubahan nama ini menjadi penanda yang jelas telah berpindah agamanya ia menjadi Islam. Karena, ia (boleh jadi) akan ditanya kenapa mengganti namanya, maka diketahuilah kalau ia masuk Islam. Kemudian, nama yang ia miliki saat masih belum berpinda ( belum beriman ) boleh jadi tidak sesuai (dengan ciri keislaman), maka digantilah dengan nama-nama yang Islami, seperti Shalih, Ahmad, Abdullah, Abdurrahman, Muhammad dan sebagainya. Jika namanya menunjukkan kalau ia "menghamba" kepada selain Allah, misal 'Abd al-Masih, 'Abd az-Zahrah, 'Abd Musa, 'Abd Isa, ini wajib diubah karena tiada yang disembah kecuali Allah. Maka wajib diubah dengan nama semisal Abdullah, Abdurrahman, dan semacamnya. Adapun jika namanya tidak mengandung unsur menghamba kepada selain Allah, namun nama-nama itu dikenal sebagai nama-nama orang non-Muslim, maka yang lebih baik adalah menggantinya." Jelas Ustadz Rasyid.
Adit menyikut lengan Cristian, agar ia bicara dan jangan hanya diam saja. Mengerti dengan itu Cristian kemudian berdehem.
"Eheem."
"Kalau begitu, saya minta dicarikan nama ... saya ingin menggantinya," mendengar apa yang dikatakan Ustadz Rasyid, bisa disimpulkan kalau namanya adalah tergolong non-Muslim, jadi ia bernit menggantinya.
"Baik kalau begitu, sebentar lagi acaranya akan dimulai, mohon tunggu sebentar lagi," Critian pun mengangguk mengerti.
...----------------...
"Imah," mereka yang tengah berbincang terhenti saat ada yang nemanggilnya.
Rahimah, Madinah dan Indah menoleh ke arah pintu, bisa mereka lihat Ustadzah Habibah dengan seorang wanita muslimah yang cantik tengah menggandeng seorang anak perempuan dan berjalan ke arahnya.
"Iya, Bu ...." sahut Rahimah.
"Kenalkan ini Maryam, murid ibu yang ibu ceritakan dulu." ujar Ustadzah mengajaknya berkenalan.
"Loh, mbak ini yang waktu itu anaknya di rawat di rumah sakitkan?" tanya Maryam pada Rahimah.
"Ehh iya, adik manis ini kemaren yang seruangan sama Rahman yah?" ujar Rahimah sambil mengusap kepala Intan.
"Jadi, Rahman kemaren satu ruangan yah sama Intan?" tanya Ustadzah mengulang.
"Iya Bu," jawab mereka serempak.
"Berarti Imah ingat nggak sama Maryam? Yang waktu itu kamu nganterin jahitan ke rumah ibu?"
"Inget sih sedikit, pantes waktu di rumah sakit ... seperti pernah ketemu," ujar Rahimah.
"Iya ... aku juga kaya pernah liat mbak, tapi ragu hehe," ujar Maryam.
Setelah lama berbincang-bincang acara pun akan dimulai, para kiyai sudah menempati Masjid yang tersedia di pesantren dan begitu juga para santri putra dan putri.
...----------------...
"Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Wr.Wb," ucap Ustadz Rasyid membuka acara.
"Wa'alaikumussalam," jawab para jama'ah.
"Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin ammaba’adu."
"Puja dan puji syukur yang senantiasa kami haturkan kepada Allah SWT yang selalu memberikan syafaatnya kepada kita semua, baik berupa nikmat sehat jasmani maupun rohani, serta rezeki yang diberikan dalam setiap harinya."
"Sehingga dengan demikian kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat Wall Afiat, Aamiin, Aamiin Ya Robbal Alamin."
Semua dengan diam menyimak apa yang di sampaikan oleh Ustadz mereka.
"Selain bersilaturahim, kita juga akan disirami dengan tausiyah yang indah dan penuh berkah ini dan semoga juga dapat menambah ilmu bagi kita semua. Aamiin Ya Robbal Alamin."
"Dan tidak lupa sholawat serta salam kepada Nabi kita, Nabi Agung Nabi Muhammad SAW. Yang sebagaimana telah memimpin umat Islam yang merupakan agama yang paling diridhoi oleh Allah SWT."
"Tanpa berlama-lama, mari kita mulai acara hari ini. Acara pertaman akan diadakan pembacaan Al-Qur'an yang di bacakan oleh santri putra, dan artinya akan di bacakan oleh santri putri ... waktu dan tempat di persilahkan." Ustadz Rasyid mempersilahkan dua orang santri untuk mengaji dan terjemahnya.
...----------------...
...أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ...
“Apabila kamu membaca Al Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
...بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ...
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki."
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۗوَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْا ۗوَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَآ اُحِلَّ لَهُمْۗ قُلْ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِيْنَ تُعَلِّمُوْنَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللّٰهُ فَكُلُوْا مِمَّآ اَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ”Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ
"Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi."
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur."
وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمِيْثَاقَهُ الَّذِيْ وَاثَقَكُمْ بِهٖٓ ۙاِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
"Dan ingatlah akan karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati."
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۙ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar."
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ
"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka."
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ࣖ
"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal."
۞ وَلَقَدْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۚ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيْبًاۗ وَقَالَ اللّٰهُ اِنِّيْ مَعَكُمْ ۗ لَىِٕنْ اَقَمْتُمُ الصَّلٰوةَ وَاٰتَيْتُمُ الزَّكٰوةَ وَاٰمَنْتُمْ بِرُسُلِيْ وَعَزَّرْتُمُوْهُمْ وَاَقْرَضْتُمُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّاُكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَلَاُدْخِلَنَّكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ
"Dan sungguh, Allah telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengangkat dua belas orang pemimpin di antara mereka. Dan Allah berfirman, “Aku bersamamu.” Sungguh, jika kamu melaksanakan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, pasti akan Aku hapus kesalahan-kesalahanmu, dan pasti akan Aku masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tetapi barangsiapa kafir di antaramu setelah itu, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.”
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
وَمِنَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰٓى اَخَذْنَا مِيْثَاقَهُمْ فَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۖ فَاَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۗ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللّٰهُ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ
"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, “Kami ini orang Nasrani,” Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan."
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ
"Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari (isi) kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan."
يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
"Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus."
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ اَنْ يُّهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَاُمَّهٗ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۗوَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Sungguh, telah kafir orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam beserta ibunya dan seluruh (manusia) yang berada di bumi?” Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia Kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصٰرٰى نَحْنُ اَبْنٰۤؤُ اللّٰهِ وَاَحِبَّاۤؤُهٗ ۗ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوْبِكُمْ ۗ بَلْ اَنْتُمْ بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖوَاِلَيْهِ الْمَصِيْرُ
"Orang Yahudi dan Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki. Dan milik Allah seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada-Nya semua akan kembali.”
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلٰى فَتْرَةٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا جَاۤءَنَا مِنْۢ بَشِيْرٍ وَّلَا نَذِيْرٍۗ فَقَدْ جَاۤءَكُمْ بَشِيْرٌ وَّنَذِيْرٌ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ࣖ
"Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan, “Tidak ada yang datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.” Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka, dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain.”
صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ
“Maha benarlah ALLAH yang Maha Agung.”
...----------------...
"Terimakasih untuk santri putra dan putri, yang sudah berkenan membacakan sebagian dari surat Al-Maidah dan artinya. Dan hari ini juga akan menjadi hari yang bersejarah bagi seorang saudara yang hadir di antara kita, dia akan mengucapkan Syahadat untuk pertama kalinya," terang Ustadz Rasyid.
"Tapi sebelumnya kita akan mendengarkan dulu tausiyah dari Syekh Muhammad Hidayat, tempat dan waktu di persilahkan."
"Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh."
"Wa'alaikummussalam." sahutan dari para jamaah menggema di dalam Masjid.
"Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin ammaba’adu."
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang mana Allah SWT telah menciptakan tujuh lapis langit tanpa tiang, dan menciptakan tujuh lapis bumi tanpa gantungan, dan kita umat Nabi Muhammad SAW bernaung pada-Nya."
"Kemudian solawat bermutiarakan salam, tak jemu dan tak bosan-bosannya kita berikan kepada sang proklamator alam baginda Muhammad SAW dengan mengucapkan kalimat “Allahumma sholli wasalim wabarik ‘alaih.”
"Mudah-mudahan kita yang hadir disini senantiasa mendapat syafaat yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad yaitu pada hari tidak bergunanya harta yang berlimpah, pangkat, anak, dan cucu. Melainkan yang berguna hanyalah hati yang beriman."
"Terkait dengan apa yang dikatakan oleh Ustadz Rasyid tadi, bahwa akan ada seorang saurada dari kita yang akan memeluk agama Islam, maka orang tersebut bisa kita katakan dia adalah orang yang istimewa. Kenapa? Karena hidayah datang kepadanya, dan kita sebagai orang yang lebih dulu memeluk agama Islam ... harus mendukungnya."
"Seorang yang menjadi mualaf tentunya akan mendapat keistimewaan dimata Allah SWT."
"Pertama. Dihapus Keburukan dan Mendapat Kebaikan."
“Jika seorang hamba memeluk Islam, lalu Islamnya baik, Allah menulis semua kebaikan yang pernah dia lakukan, dan dihapus darinya semua keburukan yang pernah dia lakukan. Kemudian setelah itu ada qishash (balasan yang adil), yaitu satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipat. Adapun satu keburukan dibalas dengan sama, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengampuninya” (H.R. Nasai, no. 4998, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 247).
"Kedua. Rizki yang Cukup dari Allah SWT."
“Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam dan dia diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (ridha; menerima) dengan apa yang Dia berikan kepadanya.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah)
"Tidak sedikit orang mengaku muslim sebatas tampilan, atau karena dilahirkan dari orang tua yang muslim, atau karena mengikuti lingkungannya yang mayoritas muslim. Tidak cukup seseorang mengaku sebagai muslim, ia harus memahami arti pengakuannya sebagai muslim."
"Ada hal yang harus ada pada diri seseorang agar menjadi seorang muslim yang sejati, bukan pengakuan tanpa bukti, dan agar pengakuannya sebagai muslim itu pengakuan yang jujur dan dapat dipertanggung jawabkan."
" ‘Komitmen Muslim Sejati’ menjelaskan, agar pengakuan seseorang sebagai muslim itu benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan, maka ada hal yang harus dilakukan sebagai konsekuensi atas pengakuannya sebagai muslim."
"Pertama, mengislamkan akidah. Pengakuan sebagai muslim yang harus dilakukan adalah mengislamkan akidah, yaitu akidah yang benar (salimul aqidah) sesuai dengan Alquran dan Sunah. Mengimani apa yang diimani oleh kaum muslimin pertama, salafussaleh dan para imam yang telah diakui kebaikan, kesalehan, ketakwaan, dan pemahaman yang lurus tentang Islam."
"Kedua, mengislamkan ibadah. Ibadah merupakan puncak ketundukan dan kesadaran mengenai keagungan Allah. Ibadah sebagai penghubung antara makhluk dengan Sang Pencipta, dan berpengaruh dalam interaksi antar sesama makhluk. Sehingga, dalam diri seseorang akan terinternalisasi adanya hablum minallah dan hablum minannas."
"Ketiga, mengislamkan akhlak. Tujuan utama dalam Islam adalah agar kaum muslimin memiliki akhlak yang mulia. Agar dapat mengislamkan akhlak, konsekuensinya harus menghiasi diri dengan sikap wara (hati–hati) terhadap syubhat, menahan pandangan, menjaga lidah, malu, pemaaf dan sabar, jujur, rendah hati, menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela orang lain, dermawan dan pemurah, dan menjadi teladan bagi orang lain."
"Keempat, mengislamkan keluarga dan rumah tangga. Tidak cukup menjadi muslim seorang diri, karenanya seorang muslim yang sejati hendaknya dapat mengajak (berdakwah) dan berjuang agar masyarakat yang berada di sekitarnya juga menjadi masyarakat muslim yang sejati. Dan, masyarakat terdekat itu adalah keluarga."
"Kelima, mengendalikan hawa nafsu. Pergulatan melawan nafsu akan terus terjadi selama menjalani kehidupan. Sebagai seorang muslim hendaknya selalu berjuang untuk mengalahkan nafsu. Karena itu, sungguh beruntung orang yang mau menyucikan jiwanya dan merugi orang yang mengotori dirinya."
"Ada tiga tipe orang dalam melawan nafsu. Yaitu, tipe orang yang mampu mengalahkan hawa nafsu; yang selalu kalah melawan nafsu, dan yang kadang menang dan kadang kalah dalam melawan nafsu. Nah, termasuk tipe yang manakah kita?"
"Sepuluh pintu masuk yang dijadikan setan sebagai sarana melalaikan manusia agar selalu kalah melawan nafsu. Yaitu: ambisi dan buruk sangka; kecintaan kepada hidup dan panjang angan–angan; keinginan untuk santai dan bersenang–senang; bangga diri; sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain; dengki; riya dan keinginan dipuji; kikir; sombong; dan tamak."
"Dan, sepuluh sarana menutup pintu masuk setan: sikap percaya dan menerima; rasa takut terhadap datangnya kematian yang tiba–tiba; menyadari akan hilangnya nikmat dan keburukan hisab; mengingat karunia dan takut akan akibat yang menimpa; mengenali hak dan kehormatan orang lain; sikap menerima dan rela pemberian dari Allah kepada makhluk-Nya; keikhlasan; sadar akan sirnanya semua yang ada di tangan makhluk dan kekalnya pahala di sisi-Nya; rendah hati; percaya dengan apa yang ada di sisi-Nya; dan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia."
"Keenam, yakin masa depan adalah milik Islam. Keberadaan Islam sebagai agama yang berasal dari Allah menjadikannya lebih layak dan dapat mengatur kehidupan, mengendalikan dan memimpin umat manusia. Kepercayaan kepada Islam harus mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah benar-benar milik Islam."
"Jika seseorang dapat melakukan hal tersebut, maka akan dapat menjadikan hidupnya hanya untuk Islam, sebagaimana ikrar yang selalu diucap ulang, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS al-An’am [6]: 162)."
"Jadi ... menjadi mualaf memang sangat mudah. Akan tetapi, untuk mendapatkan keberkahan, kebaikan hidup dari Allah SWT, kamu yang ingin memeluk islam harus berdasarkan ketulusan hati, ikhlas hanya karena Allah SWT. Setelah itu, laksanakan kewajiban seorang islam dan menjauhkan larangannya."
"Semoga Allah membimbing kita kaum muslimin agar menjadi sorang muslim yang sejati. Amin."
"Amin." Jawab para jama'ah serempak.
"Baik, untuk saudara kita yang akan menyempurnakan agamanya ... dipersilahkan maju ke depan," Cristian tersentak saat Adit membisikan kata, "Ayo maju ...."
Cristian berjalan kedepan mendekat kepada pak Kyai, kakinya terasa begitu berat dan bergetar saat ia coba untuk melangkah.
Ditambah lagi semua mata tertuju pada Cristian seorang, membuatnya menjadi gugup.
Ia pun dipersilahkan duduk di samping kyai, dan dituntun membaca basmalah, kemudian membaca syahadat.
Dengan memejamkan sekejap matanya dan memantapkan hati yang bergetar, dengan berlahan Cristian mengikuti ucapan pak Kyai.
"Asyhadu anlaa ...."
^^^"Ashadu anlaa...."^^^
"ilaaha illallaahu,"
^^^"ilaaha illallaahu,"^^^
"wa asyhaduanna,"
^^^"wa asyhaduanna,"^^^
"muhammadar rasuulullah."
^^^"muhammadar rasuulullah."^^^
Sekali lagi pak kyai mengulang dengan menyambungkan keseluruhan syahadat.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Yang juga diikuti Cristian.
"Alhamdulillah," kata semua orang mengucap syukur.
Setelahnya Cristian disuruh untuk mandi besar yang dibantu oleh Ustadz Rasyid, Ia pun diberikan baju koko dan sarung baru untuk dikenakannya. Kemudian kembali melakukan proses memberikan nama baru untuknya, yakni Abdar Bariq. Berhubung waktunya mendekati waktu Dzuhur, Cristian/Abdar juga disuruh untuk ikut melakukan sholat berjamaah.
BERSAMBUNG ....
Maaf jika terdapat typo 🙏
Mohon dukungan seikhlasnya.😁
Abdar: Bulan purnama.
Bariq: Bercahaya, kemilau.
Salam dari Urang Banua😉😘
.
Noormy Aliansyah