Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 46



Sudah empat hari Rahimah dan Ustadz Abizar mengajari Intan juga Abdar mengaji, terhitung dari hari pertama belajar. Sudah tiga hari ini juga Rahimah mulai terbiasa bertemu Abdar.


Rahimah mulai merasa tidak takut lagi, ia hanya perlu mengabaikan dan menganggap Abdar sama seperti pria pada umumnya, tidak penting dan bukan siapa-siapa. Rahimah bahkan sekarang sudah lupa dengan mimpi yang pernah di alami.


Pagi di hari senin, sangat terlihat cerah walau tidak terlalu damai karena terdengar kebisingan lalu lalang kendaraan di depan ruko mereka.


Duduk berdua di meja makan, Rahman sedang menunggu roti yang di oleskan selai oleh Rahimah.


"Oiya ma, kemarin Rahman ketemu sama master Candra di dojang," aku Rahman yang kemarin malam belum sempat bercerita.


"Loh, bukannya sudah pulang ke Bandung?" Tanya Rahimah tanpa menatap Rahman sambil masih mengoleskan selai ke roti.


"Iya, sudah pulang. Tapi ke mari lagi, katanya sekalian menetap." jawab Rahman sambil bersedekap di atas meja.


"Latihan di sana?" refleks Rahimah bertanya mengingat master Candra adalah pelatih taekwondo di kota Bandung, melirik pada Rahman sembari meletakkan Roti di piring Rahman.


"Pindah juga," balas Rahman belum memakan rotinya.


Melihat roti yang masih belum di makan sang putra, Rahimah pun memilih menatap penuh pada Rahman. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang ingin di sampaikan anaknya itu.


"Ada apa?" Tanya Rahimah, melipat kedua tangannya di atas meja. Menunggu Rahman bercerita.


Rahman tersenyum sebelum menjawab pertanyaan sang mama. "Soal uang Rahman yang di pegang master Candra, ma." Rahimah mengerutkan kening tidak mengerti.


"Kemarin master Candra ngajakin Rahman untuk berinvestasi, ma ... dan Rahman langsung mengiyakan tanpa minta izin dulu sama mama," ujar Rahman lirih.


Sebelum Rahimah bertanya, Rahman sudah lebih dulu mengutarakan isi hatinya.


Tersenyum lembut menatap anak satu-satunya, "Gak apa-apa, sayang. Kalau kamu mau pakai uang itu? Asalkan di gunakan dengan baik ... mama sama sekali gak keberatan kok, karena itu adalah uang kamu."


"Lagian ada master Candra 'kan? Mama percaya, beliau pasti bisa membimbing kamu dalam memanfaatkan dan mengelola uang itu dengan sebaik mungkin." Ujar Rahimah menenangkan.


"Tapi, kata master Candra ... kalau mama mau buka butik masih bisa, karena uangnya banyak." Lagi-lagi Rahimah tersenyum mendengar putranya itu masih mencoba membujuknya.


"Sudah, jangan di pikirkan masalah itu. Mama masih memerlukan persiapan yang benar-benar sempurna. Dan menurut mama, butik ini masih perlu pertimbangan." Rahimah tahu kalau anaknya itu ingin membantu, tapi ia masih enggan memakai uang Rahman.


Di tambah saat ia yang mengingat gaji mengajarnya dari Maryam. Waktu membuka amplop pemberian Maryam, Rahimah terperangah dengan isinya. Bagaimana tidak, uang senilai sepuluh juta dalam bentuk cek membuat Rahimah bertanya-tanya, apa itu gajinya untuk sebulan.


Bagaimana jika tamu bulanannya datang, jelas ia tidak bisa mengajar pull. Ia sempat memikirkan hendak mengembalikan uang itu ke esok kan harinya. Tapi ternyata Maryam kembali menyerahkan amplop yang sama seperti kemarin.


Rahimah yang ragu untuk mengambilnya, segera di jelaskan Maryam ... jika uang itu gaji untuk sehari.


Sesaat ia tercengang dengan pernyataan Maryam itu, ia pun mengambilmya karena memang membutuhkan uang tersebut. Tidak masalah ada Abdar, pikirnya.


Contoh nyata adalah beberapa hari ini sudah membuatnya lega dan tidak takut untuk menghadapi hari esok.


Rahman mengangguk pasrah mendengar itu, ia tidak lagi memaksa Rahimah dan segera memakan kue di depannya.


"5 hari lagi 25 hari kakek kamu meninggal, nanti kita di suruh nginap lagi di rumah Ustadzah Habibah." Ucap Rahimah saat sarapannya dan Rahman sudah habis.


Ya, waktu acara peringatan yang 14 hari meninggalnya sang Ayah, Ustadzah Habibah-lah yang mengadakan tahli-an di rumahnya, itu semua keinginan Ustadzah Habibah dan Khadijah.


Agar mereka sekalian bisa berkumpul di rumah yang lebih besar, tidak ada alasan untuk Rahimah dan Rahman menolak.


"Jonbi, ma."


"Nanti mama mau ke pasar, kamu mau nitip apa sayang?"


"Nitip, apa ya?" Ujar Rahman sambil berpikir.


"Emmm, terserah mama aja deh," karena bingung dengan pilihan yang belum ia temukan, akhirnya Rahman menyerahkannya kepada sang mama.


Rahimah menyerahkan bekal makanan pada Rahman kemudian ia mengantarkan sampai depan Rumah. Usai Rahman pergi Rahimah juga pergi ke pasar menggunakan motor metiknya.


Tiba di pasar ia segera memarkirkan kendaraannya dan membeli keperluan rumah, tidak lupa membelikan sesuatu untuk putranya itu. Cenil.


Jajanan cenil bertekstur kenyal, rasanya manis, dan bertabur kelapa parut yang gurih. Terbuat dari ubi singkong dan tepung ketan atau kanji, ini adalah kesukaan Alm. Pak Ramlan dan mereka juga ikut menyukainya.


Beres dengan belanjaan, tanpa barlama-lama Rahimah segera pulang.


...****************...


Di lain sisi, jika Rahimah berpikir bahwa Abdar tidak penting ... maka orang tersebut berpikir sebaliknya. Sudah empat hari terakhir ini Abdar suka sekali mencuri-curi pandang pada Rahimah, entah kenapa ia merasa sangat penting untuk melihat wajah Rahimah.


Abdar bahkan bersiap lebih lama, sebelum Rahimah datang Abdar hanya menghabiskan waktunya di depan cermin, beberapa kali membetulkan peci yang sama sekali tidak bergeser dari kepadanya.


Karena keseringan memikirkan Rahimah tanpa sadar Abdar seringkali senyum-senyum sendiri sambil memikirkannya.


Untuk mengantisipasi agar ia tidak telat menyambut Rahimah, Abdar sudah memberi tahukan kepada security untuk melaporkan padanya jika mereka sudah datang melalui sambungan telefon di pos jaga. Jadi Abdar tidak perlu khawatir lagi.


Abdar sungguh begitu banyak menyimpan rasa penasaran pada Rahimah, di tambah misteri identitas Rahman yang masih di pertanyakan.


Laporan penyelidikan dari anak buahnya mengatakan jika pernikahan Rahimah tidak pernah terdaftar di kantor KUA Bandung atau pun Jakarta, bukankah ia hanya tinggal di dua kota itu saja, lalu kenapa pernikahannya tidak pernah terdaftar? Itu jelas membuatnya penasaran.


Setahunya Rahimah itu adalah seorang janda, dari pengakuan Ustadzah Habibah kapan mana saat di pesantren. Mungkinkah kecurigaan Adit itu benar? Pikir Abdar.


Abdar harus bersabar untuk menunggu hasil tes DNA yang ia lakukan kepada Rahman, pihak Rumah sakit mengatakan jika hasil tes DNA tersebut akan keluar dalam waktu 2 sampai 4 minggu.


Rahimah yang selalu menghindar jika bertemu pandang dengannya juga menjadi daya tarik bagi Abdar.


Entah kenapa Abdar merasa seperti seorang remaja di usianya yang sudah tidak muda lagi. Padahal selama ini ia sama sekali tidak pernah memikirkan wanita, lalu kenapa sekarang ia jadi kepikiran terus.


Mengingat kemungkinan jika ia yang ternyata sudah mempunya anak membuat hatinya menghangat, tapi ketika ia tersadar bagaimana itu semua bisa terjadi, ia begitu menyesal dan merasa bersalah.


Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Abdar merasa bahagia dan berjanji akan memperbaiki semuanya walau tidak bisa merubah masa lalu, setidaknya ia sudah berusaha.


Adit mengetuk pintu berwarna coklat tua itu dengan beberapa kali ketukan.


Tidak menunggu hingga Abdar yang berada di dalam kantor menyahut, sang sekretaris yang berlagak seperti pemilik ke dua di kantor itu langsung menyambar gagang pintu untuk masuk. Menyebulkan kepala sebelum Adit benar-benar melangkah, ia memeriksa keberadaan sang bos yang tampak sedang membubuhkan tanda tangan pada sebuah berkas.


"Tumben lu ingat mengetuk, pintu?" Ujar Abdar melirik sekilas dan kembali pada aktifitasnya.


"Mana gw tahu," katanya dengan wajah datar.


"Gimana? Perkembangan ngaji Elu?" Duduk di kursi tepat di seberang Abdar.


"Lumayan, gw udah bisa sedikit-sedikit ... tau bacaan kaya fat-- fat ... apa itu ...?" tanya Abdar lupa.


"Fathah," sahut Adit.


"Iya, itu dia." Seru Abdar semangat.


"Syukurlah kalau lu udah bisa," jelas Adit turis senang mendengar Abdar sudah mempunyai kemajuan.


"Tapi, mesti di ulang-ulang terus ...," suaranya terdengar kesal, Abdar bahkan sempat menghentikan pergerakan tangannya membuka lembar kertas.


"Emang gitu kalau belajar ngaji, semua orang juga pernah ngerasain di ulang-ulang kaya gitu," Abdar mengangguk mengerti.


"Oiya, gw dengar Intan juga di ajari guru ngaji ya?"


"Hemm," gumam Abdar.


"Nanti gw mau ke rumah elu, sekalian liat guru ngaji nya." Mendongkakkan kepala menatap Adit.


Abdar baru ingat, kalau Adit belum tahu guru mengajinya.


Menelan ludah, Abdar takut kalau Adit sampai ingat dengan Rahimah.


"Gak usah di liat, Ustadz Abizar yang ngajarin gw." ujarnya dingin.


"Cih, gw mau liat guru ngaji nya, Intan. Kata Maryam, guru ngaji Intan cewek 'kan? Siapa tau jodohnya gw." Kata Adit sambil memainkan kursinya ke kiri dan kanan.


Mendengar itu rahang Abdar tiba-tiba mengeras. "Gak ada jodoh-jodohan, cari yang lain aja, yang ada bikin malu," ketus Abdar tanpa sadar.


"Loh, 'kan ... siapa tau itu jodoh gw. Kata orang jaman dulu nih yah, jodoh itu harus di jemput ... bukan nya hanya menunggu. Jadi kali-kali aja itu jodoh gw yang minta di jemput." Dengan wajah yang berseri Adit mengatakannya.


"Dia udah punya jodoh, jadi elu gak perlu repot-repot mengkhayal," kilah Abdar bersikap biasa.


"Masa sih?"


"Perasaan Maryam bilang, guru ngaji nya Intan itu ... yang waktu di kenalkan sama Ustadzah Habibah di pesantren!" Abdar kalah telak, di dalam hati ia menggerutu kepada adiknya selalu mengadukan perkembangan Intan pada Adit.


"Iya, emang dia orangnya dan dia udah punya jodoh." Saat mengatakan itu Abdar memang terlihat tenang tapi di dalam hati, ia sedang gusar.


"Perasaan waktu Ustadzah Habibah mengenalkan dia, bilangnya janda deh?" ucap Adit sambil mengusap-ngusap dagunya.


Abdar sudah mulai kesal dengan Adit.


"Mau gue kasih, tau?" Abdar segera berpikir guna menghentikan Adit berpikiran untuk mendekati Rahimah.


"Iya," dengan pasti Adit mengangguk ganggukan kepalanya.


Diam sejenak sebelum mengucapkannya, Abdar sedikit ragu untuk mengatakan itu.


"Ustadz Abizar," terpaksa Abdar menyebut nama itu.


"Wahh, kalau lawannya seorang Ustadz, jelas gw mundur, terlalu sulit buat di jadikan rival." Dengan wajah santai Adit mengangkat kedua tangannya ke atas sejajar kuping seperti takbir.


Mendengar itu Abdar ikut lemas, bagai jika yang di katakan nya itu benar. Dalam hati Abdar menyesali ucapannya.


"Ya udah, itu berkas udah selesai belum? Kalau udah kita makan siang dulu," tunjuk Adit pada berkas di hadapan Abdar.


Mengangkat tangan melihat waktu yang melingkar di pergelangan kirinya. Menyimpan berkas dan pena, Abdar pun berdiri disusul Adit.


"Ayo," ajak Abdar tidak semangat.


...****************...


"Bagaimana, laporanmu?" tanya nya pada orang yang berdiri di hadapannya hanya terhalang meja kerja.


Duduk di kursi kebanggaannya dengan kaki yang bertumpu, menunggu jawaban anak buahnya.


Berwajah sangar dengan alis tebal dan hitam menghiasi mata tajamnya, hidung mancung serta rahang yang tegas.


"Ini tuan, dia tinggal dengan adik dan keponakannya." Sang anak buah meletakkan sebuah map coklat di hadapan bosnya.


Mengambil dan membukanya. "Cantik." gumam nya.


"Pantau terus, bila ada kesempatan ... segera bertindak." Ujarnya sambil memperhatikan foto ibu dan anak yang sedang tertawa.


"Baik, tuan. Saya permisi," mundur selangkah lantas ia sedikit membungkuk dan berbalik kemudian pergi menghilang dari balik pintu.


"Kau akan merasakan, apa yang aku rasakan Tian," ucapnya tersenyum misterius, kali ini ia memegang foto seorang pria.


"Sudah lama aku bersabar untuk menunggu hari itu tiba," Sambungnya lagi.


BERSAMBUNG ....


Sambil menunggu Rahman up, kalian bisa baca karya teman mimin yang gak kalah seru nih.


*Bercerita tentang seorang putri yang melewati waktu ke jaman moderen dan harus berbagi suami.


Yuk kepo'in cerita nya.🤗*



Salam sayang srmua😘


Noormy Aliansyah