Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 16



Rahimah dan Rahman saling berpelukan tatkala Jasad Pak Ramlan di kebumikan, mereka semakin erat berpelukan satu sama lain saat tanah itu sedikit demi sedikit menutup liang lahat Pak Ramlan.


Mereka bahkan tidak menangis lagi, hanya saja kesedihan tetap jelas terpancar dari wajah mereka.


Untaian Do'a pun mengiringi proses berakhirnya pemakaman, tapi mereka tetap di posisi itu walau pun Do'a telah usai, mereka seperti enggan untuk beranjak dari tempatnya berpijak. Sebagian orang sudah meninggalkan tempat pemakaman dan mereka tidak terusik akan hal itu.


"Imah.. Rahman.. ayo kita pulang." Ajak Ustazah Habibah menyadarkannya, merangkul pundak Rahimah, begitu juga Khadizah membimbingnya dari sisi sebelahnya.


Wahyu pun ikut mengambil alih Rahman dalam rangkulannya, tidak ketinggalan Hawa turut menggandeng tangan Rahman, Ia sudah menganggap Rahman seperti Adiknya sendiri.


Nurul dan keluarga kecilnya sudah pulang lebih dulu, karena kesehatan Anak mereka yang sedang demam mengakibatkan mereka tidak bisa berlama-lama.


Soraya beserta suaminya Zidan dan putranya Rayan dengan setia menunggu Rahimah di samping mobil. Pun Dinda menemani mereka menunggu Rahimah untuk pulang bersama ke rumah Ustazah Habibah.


Beberapa kali Rahimah menoleh ke pusara sang Ayah, Ia masih meresa tidak percaya dengan kenyataan ini.


Tiba di parkiran mereka segera masuk kedalam mobil, dan dengan perlahan mobil berjalan berharap meninggalkan kesedihan yang tertinggal bersama kenangan.


Rahimah berada dalam satu mobil bersama Ustazah Habibah dan Khadizah, di susul mobil Zidan lalu Dinda. Di dalam mobil keadaan hening.. tidak ada satu pun yang bersuara, Rahimah dan Rahman kembali berpelukan seakan-akan saling memberi kekuatan, mereka seolah masih dalam mimpi buruknya. Belum bisa keluar dari itu semua.


Di rumah Ustazah Habibah mereka sudah di sambut warga yang melakukan Do'a tahlil bersama.


Saat Rahimah berlalu melewati para Ibu-ibu, telinganya terasa panas oleh bisik-bisikan tentang dirinya atas tuduhan di masa lalu. Entah sengaja atau tidak tapi pembicaraan itu terdengar jelas di pendengarannya.


Di tambah lagi dengan keberadaan Rahman di sampingnya, Ia yang tidak pernah bersuami tapi memiliki seorang Anak laki-laki semakin memperkuat tuduhan mereka kepada Rahimah sebagai wanita mur***n.


Ingin rasanya Ia menyahut dan menyangkal semua tuduhan itu sambil berteriak, tapi Ia teringat bahwa ini masih dalam suasana berduka akan kepergian Ayah nya.


Tidak pantas bila terjadi keributan hanya karena Ia yang mengamuk, Ia yang sekarang bukanlah Rahimah yang dulu. Rahimah yang sekarang adalah Rahimah yang baru, Ia sudah bisa mengontrol emosinya yang berlebihan.


Seperti yang dikatakan Ayah nya terakhir kali saat mereka berbincang. Berpikir dulu baru bertindak. Tindakan Rahman yang berpikir dulu, telah memberi belajaran bagi dirinya, jika Anak seusia Rahman saja sudah bisa berpikir tanpa gegabah maka Ia juga harus seperti itu.


Untuk saat ini Ia akan membiarkan mereka yang telah mengunjingnya berbicara sepuasnya, lebih baik Ia berpikir tentang rencana masa depannya dengan Rahman. Pikirnya.


Acara Do'a tahlil bersama telah usai, semua para tamu di sajikan hidangan ala kadarnya. Seperti pada umumnya tamu yang berbela sungkawa, warga akan berbasa-basi memberi kata-kata penyamangat kepada keluarga yang berduka, semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan. Rahimah selaku keluarga yang di tinggalkan pun turut mendapat ucapan seperti itu saat kepulangan para tamu yang hadir.


Rahimah tersenyum kecut di dalam hati, Ia tau semua yang mereka katakan hanyalah sekedar omang kosong. Mereka hanya cari muka, mungkin karena muka mereka hilang di hadapan tuan rumah Ustazah Habibah sampai-sampai mereka harus mencari mukanya segala.


Omongannya lain di mulut lain pula di hati, apakah kata MUNAFIK pantas Ia sematkan untuk orang seperti itu? Ia tau, Ia tidaklah berhak untuk mengklim seseorang seperti itu. Mungkin juga Ia tidak sadar akan dirinya yang pernah seperti itu, tapi tidak bisa dipungkiri Ia yang dalam keadaan masih sedih lalu mendengar gunjingan seperti itu membuatnya menjadi Target musuh nyata bagi umat manusia. Bahwa Ia pun juga lemah atas rayuan SETAN, dan hatinya tergelitik untuk mengumpat orang-orang tersebut di dalam hatinya.


"Astagfirullahhalazim." Gumamnya lirih saat sadar. Menghela nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan, di pandanginya wajah Rahman yang terlihat sangat lelah akibat Ia juga terus menangis dari semalam.


"Imah, istrahatlah. Kamu juga belum Sholat Dzuhur kan? Ajaklah Rahman ke kamar." Rahimah mengangguk, Ia dan Rahman berlalu ke kamar tamu. Mereka segera melaksanakan Sholat dengan Rahman yang memimpin menjadi Imam.


Tidak henti-hentinya bagi Rahimah dan Rahman agar selalu mengirimkan Do'a, untuk Ayah, Ibu, Kakek dan Neneknya. Usai Sholat mereka istrahat sejenak melepaskan beban yang dari kemarin mereka pikul.


Ustazah Habibah menyarankan Rahimah untuk tetap tinggal di rumahnya sampai hari ke tujuh, barulah mereka di izinkan untuk kembali ke bandung. Sebenarnya Rahimah hendak menolaknya, tapi Ia segan. Mengingat jika bukan karena keluarga Ustazah Habibah Ia tidak mungkin bisa mengubur Ayah nya di samping kuburan Ibu tercinta.


Mau tidak mau akhirnya Ia memilih tinggal beberapa hari lagi di rumah itu, demi menghargai Ustazah Habibah.


Sampai hari ketiga, gunjingan-gunjingan tentang dirinya semakin membesar. Ia mulai geram akan semua itu, nyatanya kematian dari Ayah nya tidak membuat mulut Ibu-ibu di komplek itu diam.


Rahimah sangat marah, kalau seperti itu untuk apa kemarin mereka berbela sungkawa? Ya tentu karena tuan rumah. Ustazah Habibah juga tidak bisa berbuat apa-apa, Ia hanya bisa memberi nasehan-nasehan agar Ia bisa lebih bersabar.


Rahman yang tidak tau apa-apa pun turut bertanya kepadanya, mempertanyakan apa arti dari kata-kata yang sama sekali tidak pantas di ucapkan oleh seorang Anak di bawah umur?


"Ma.. kenapa orang-orang disini bilang Rahman Anak h**am? Memang apa artinya itu Anak h**am?"


"Rahman cuman tau Anak yatim, apakah Anak h**am itu sama artinya dengan Anak yatim?" Rahimah terhenyak mendapat pertanyaan dari Rahman seperti itu. Ia pun bingung ingin menjawab apa, Ia sama sekali tidak bisa menjelaskan apa arti dari kata-kata itu pada Rahman yang belum mengerti tentang orang dewasa.


"Siapa yang mengatakan itu padamu Rahman?" Ia malah menjawab dengan pertanyaan kembali. Kali ini Ia benar-benar marah, benteng pertahanan yang Ia bangun sekuat mungkin akhirnya runtuh sudah. Ia hanya manusia biasa, seandainya hanya dirinya saja yang di bicarakan maka Ia akan abai, tapi jika Rahman juga di bawa-bawa dan dikatai, mana ada seorang Ibu yang tinggal diam akan penghinahan dan merendahkan Anaknya tanpa tau sebab yang sebenarnya.


"Tante yang rumahnya itu Ma." Tunjuk Rahman.


Kemarahan Rahimah semakin membuncah saat Rahman memberi tahu orang yang mengatainya itu adalah orang yang berada di seberang rumah Ustazah Habibah.


Tentu Rahimah tau siapa orang yang di maksud oleh Putranya, hanya orang itu saja yang tidak pernah menyukainya sejak masih kecil dan pastilah orang yang sekarang adalah orang yang sama.


Di tariknya tangan Rahman dan dibawanya ke rumah yang di tunjuk oleh Putranya, Ustazah Habibah yang melihatnya pun bertanya kemana Ia akan membawa Rahman.


Rahimah hanya diam dan terus berjalan munuju keluar rumah dengan wajah merah padam, Ustazah Habibah langsung menyadari jika saat ini Rahimah sedang marah. Ustazah Habibah segera mengikutinya di susul Khadizah yang mengekor di belakangnya.


"Katakan Rahman, mana orangnya." Ujar Rahimah dengan suara dingin saat tiba di halaman rumah orang tersebut. Ustazah Habibah dan Khadizah masih belum tau apa yang membuat Rahimah marah.


Kebetulan disana ada orang yang sedang berbelanja, dan Mayalah yang melayani pembelinya. Detik itu juga Rahman menunjuk ke arah Maya, darah Rahimah seketika mendidih tatkala melihat wajah Maya. Sekelebat masa lalu pun melintas di ingatannya.


Dengan langkah cepat Rahimah kembali menarik tangan Rahman dan mendekat kepada Maya.


"Maya.. apa maksud Kamu mengatai Rahman seperti itu?" Panggil Rahimah lantang dengan aura dingin. Maya yang sedang fokos melayani pembeli tersentak kaget di buatnya.


"Rahimah.. tenang Nak, kendalikan dirimu." Ustazah Habibah menyentuh pundaknya agar lebih tenang, tapi Rahimah seolah tuli.


Faham maksud dari pertanyaan Rahimah, Maya malah tertawa.


"Hahaha.. emang kenyataannyakan? Itu Anak pasti Anak h**am lu." Ucapnya menunjuk-nunjuk Rahman.


Sontak Ustazah Habibah dan Khadizah juga marah mendengar Maya yang mengatai Rahman seperti itu, Rahman diam memperhatikan Mama nya yang marah.


Pelanggan Maya pun urung meninggalkan tempat itu, Ia malah jadi ikut menonton karena penasaran dengan perdebatan Rahimah dan Maya.


"Apa mulut Kamu itu perlu Aku tampar hah?" Rahimah menatap tajam pada Maya, kedua tangannya mengepal. Ia bahkan lupa bahwa salah satu tangan Rahman masih dalam genggamannya dan itu membuat Rahman harus menahan sakit. Tapi sejatinya Ia adalah seorang Anak taekwondo jadi Ia sama sekali tidak masalah.


"Kamu pikir apa yang terjadi sama Aku itu gara-gara siapa? Itu semua juga terjadi gara-gara Kamu." Maya langsung kaget melihat Rahimah yang berbicara dingin, Ia seperti tidak mengenal Rahimah yang sekarang. Ia pikir Rahimah yang sekarang tetaplah sama dengan Rahimah yang dulu sering Ia bully waktu kecil.


Dulu yang jika di bully nya hanya bisa meminta ampun untuk di kasiani, dan tidak berani melawan balik.Tapi sekarang jauh berbeda, Maya segera bersikap biasa-biasa saja agar Ia bisa kembali berakting.


Sekarang para tetangga mulai berdatangan, tidak sengaja ada yang lewat dan melihat perdebatan Rahimah. Mereka malah sengaja memanggil tetangga yang lainnya.


"Heh Rahimah, lo itu jangan asal nuduh gue.." Rahimah geram dan muak melihat Maya yang becara seolah-olah Ia lah yang menuduhnya.


"Apa perlu Aku ingatkan kejadian sepuluh tahun yang lalu? Kamulah orang yang diseret oleh pria mabuk itu ke dalam kamar, dan Aku yang menolongmu. Tapi bukan nya berterimakasih Kamu malah mendorongku masuk ke kamar pria mabuk itu dan meninggalkanku."


Seketika bisikan tetangga menjadi gaduh, semua orang kaget mendengar yang di katakan Rahimah. Selama ini Rahimah tidak pernah menceritakan apa penyebab Ia di per**sa, dan hari ini Ia membeberkan kenyataannya di depan para warga. Dulu karena Ia yang depresi dan menutup diri maka semua tersimpan dalam ketidak berdayaannya.


"Hahaha.. apa buktinya lo ngomong gitu? Semua orang juga bisa ngarang cerita kaya lo." Maya bersedekap memandang remeh pada Rahimah.


Lagi dan lagi bisikan-bisikan tetangga menjadi latar perdebaran mereka. Ustazah Habibah dan Khadizah diam ingin mendengar lagi penjelasan dari Rahimah yang tidak pernah mereka tau.


"Baik.. akan Aku laporkan Kamu ke kantor polisi." Maya tidak takut dengan ancaman Rahimah.


"Aku juga akan menyewa detektive untuk mencari bukti atas kelakuanmu sepuluh tahun lalu." Maya menegang mendengar bukti yang di bicarakan Rahimah.


"Heh, bukti..? Bukti apa maksud lo?"


"Tentu bukti tentang Aku lah orang yang menolongmu dan Kamu yang dengan sengaja mendorongku. Pasti di sana ada CCTV yang bisa Ku jadikan bukti." Maya panik mendengar itu, Ia sama sekali tidak terpikir ke arah situ.


"Imah.. Imah.. kejadian itu sudah sepuluh tahun berlalu, pasti lah bukti itu sudah tidak ada lagi. Lo pikir gue takut? Dengan lo ngomong gitu." Tanpa sadar Maya bicara seperti itu, dan semua orang bisa menyimpulkan bahwa dari kata-kata Maya tadi, Ia mengakui telah melakukan apa yang di katakan Rahimah itu memang benar adanya.


Rahimah tersenyum melihat kepanikan Maya walau pun tidak kentara, tapi Ia tau dengan manik mata Maya yang bergerak-gerak karena takut oleh ancamannya.


"Walau pun sudah dua puluh tahun kejadian itu, detektive tetap bisa menemukan buktinya." Bertambah paniklah Maya.


"Heh Maya.. ternyata Kamu lah yang menuduh Imah. Saya benar-benar tidak menyangka." Celetuk Ibu-ibu yang mulutnya sudah gatal untum menyela.


"Iya, Dia dulu bilang Imah itu wanita mu**han, tapi kalau kenyataan nya Imah lah yang menolongnya. Maka Maya lah wanita mu**han itu." Sahut Ibu yang lain.


"Dasar, tidak tau terimakasih. Sudah di tolong malah meninggal Imah dengan pria mabuk."


"Sudah laporkan saja Dia ke kantor Polisi."


"Iya.. lebih baik laporkan saja." Sahut-sahutan para Ibu-ibu.


Tubuh Maya gemetar mendengar warga yang memojokkannya, Ia menjadi panik bahkan Ia sudah tidak bisa berpikir lagi.


"Kalian pikir Saya takut? Saya juga bisa melaporkan kalian."


"Tenang-tenang ada apa ini?" Pak Rt datang bersama Wahyu dan Hawa. Wahyu yang melihat ribut-ribut berinisiatif memanggil Pak Rt.


"Ini loh Pak Rt, dulu Maya bilangnya Imah itu jual diri dan masuk ke kamar lelaki. Ternyata Maya yang mendorong Imah ke kamar pria mabuk itu."


"Allahu akbar." Pekik Pak Rt dan Wahyu.


"Benar itu Maya yang di katakan Ibu susi tadi?"


"Bohong.. itu sumua bohong. Saya yang di tuduh oleh Imah Pak Rt." Sangkalnya.


"Dasar pendusta."


"Iya, Kamu sendiri tadi yang mengaku."


"Sudah Pak Rt bawa saja ke kantor Polisi."


"Tenang-tenang.. jika benar yang di katakan oleh warga, maka Kamu harus bertanggung jawab atas tuduhanmu dulu pada Imah."


"Ya betul.."


"Betul.."


"Tanggung jawab Kamu, gara-gara Kamu Imah sampai harus punya Anak." Rahimah tersadar dengan keberadaan Rahman di sampingnya, karena kemarahan tadi Ia sampai lupa dengan Anaknya.


Di liriknya Rahman, mata mereka pun beradu pandang. Ada penyesalan yang Rahimah rasakan saat ini, karena Ia yang marah pada Maya sampai-sampai Ia lupa pada Rahman yang tidak mengerti apa-apa.


Lekas Rahimah berlalu membawa Rahman kembali ke rumah Ustazah Habibah, meninggalkan keributan yang terjadi karena dirinya tadi. Sekarang Ia tidak peduli dengan Maya, yang Ia pikirkan saat ini ialah keadaan Rahman.


Sampai di dalam kamar Rahimah segera memeluk Rahman, tidak ada yang bicara. Rahimah tetap memeluk dengan diam. Rahimah menarik diri, di usapnya wajah Rahman dengan lembut.


"Mama mohon sama Rahman.. jangan pernah tanyakan masalah ini. Karena Mama belum bisa memberi jawaban pada Rahman." Ucapnya sendu, Rahman mengangguk mengerti dengan tatapan Iba pada Mama nya. Walau Rahman belum mengerti, tapi dari semua yang Ia dengar tadi Ia tau bahwa Mama nya dulu telah di sakiti seseorang.


Kembali Rahimah memeluk Rahman yang juga di balas oleh Rahman.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊


Salam sayang ....


Noormy Aliansyah 😘😘😘