Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 51



Setelah melewati malam panjang dengan mata yang hampir terjaga semalaman, Rahimah dan Maryam di beri kabar oleh pihak kepolisian ... bahwa mereka menemukan tempat terakhir yang di datangi para penculik itu.


Dengan suka cita mereka membangun harapan, agar bisa menemukan Rahma dan Intan. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Saat kepolisian mendatangi tempat itu, rumah sudah dalam keadaan sepi dan kosong.


Kembali penyelidikan di mulai dari rumah yang di yakini pernah menjadi tempat penyekapan Rahman dan Intan.


Seluruh ruangan di periksa, di mulai dari luar hingga ke bagian terdalam rumah itu.


Terdapat cctv di dalam dan luar rumah itu. Kepolisian segera memutar ulang rekaman yang ternyata hanya menunjukkan rekaman dua hari yang lalu, sementara rekaman kemarin siang dan tadi malam telah hilang.


Rekaman yang hilang karena sengaja di hapus itu semakin menguatkan dugaan bahwa memang benar, jika Rahman dan Intan pernah di sekap di tempat ini dan untuk menghapus jejak mereka menghilangkan sebagian rekaman.


Candra yang juga ikut mengontrol perkembangan dan kebetulan juga pihak kepolisian pernah meminta jasa hacker darinya segera meminta Candra turun tangan.


Dengan senang hati Candra melakukannya. Untungnya ia juga selalu membawa laptop dalam tas punggungnya.


Duduk di sofa dan menyiapkan keperluannya.


Abdar, Adit, Zidan dan satu orang polisi ikut duduk di samping sisi kiri dan kanan Candra memperhatikan dengan diam. Sementara Pihak polisi yang lain masih melakukan penyelidikan.


Pertama-tama Candra menghidupkan laptop dan mengunduh atau download terlebih dulu aplikasi PC Inspector File Recovery sebagai media pembantu pengembalian rekaman CCTV yang hilang.


Kemudian, menyambungkan HDD atau hard disk CCTV pada laptop nya.


Selanjutnya, setelah terunduh Candra menjalankan program PC Inspector File tersebut. Terdapat tiga opsi atau pilihan yang tersedia. Antara lain Recover Delete Files, Find Lost Data, dan Find Lost Drive. Dalam kasus ini, Candra meng'klik opsi Recover Delete Files.


Mayoritas berada dan tersimpan di Local Disk D, maka ia memilih disk tersebut dan klik opsi OK.


Candra menunggu beberapa saat sementara sistem melakukan scanning. Status Good pun muncul setelah scanning berhasil dan file yang hilang telah kembali seperti semulah.


Banyaknya file yang kembali membuat ia harus memilih. File mana kira-kira yang menyimpan rekaman kemari. Ia pun memilih yang paling bawah, yang Candra yakin itu ada file yang paling baru di hapus.


Menggulir klik kanan dan Save To. Tidak lupa mengarahkan kursor ke tempat penyimpanan yang sudah ia sediakan. Candra kembali menunggu beberapa saat selagi sistem melakukan perpindahan file.


"Success," gumam Candra saat pemberitahuan perpindahan muncul.


Rekaman CCTV yang hilang sudah kembali dengan baik dan bisa di putar ulang di laptop nya.


"Apa sudah muncul file nya?" tanya Abdar tidak sabar saat mendengar gumam Candra di sampingnya.


Lekas mengangguk sebagai jawaban dangan jari yang masih bergerak. Kemudian ia memutar rekaman itu.


Dimulai dari Rahman dan Intan yang di angkat dan di bawa masuk ke sebuah ruangan. Semua menoleh ke arah ruangan yang ada dalam rekaman itu.


"Ruangan itu." Candra menunjuk ke ruangan yang ada di ujung.


"Kalau begitu saya akan kembali memeriksa ruangan itu lagi." Polisi yang berada di tengah-tengah mereka segera berdiri dan beranjak menuju ruangan yang sebenarnya tadi sudah pernah di periksa.


"Benar, ternyata! Rahman dan Intan di bawa ke rumah ini," Zidan berujar.


Mereka kembali memperhatikan rekamannya.


Hingga Rahman dan Intan kembali di bawa keluar dengan di gendong bak karung beras.


"Sepertinya mereka memang sudah menduga kalau kita akan datang ke sini. Maka dari itu mereka buru-buru pindah tempat!" Semua mengangguk ngangguk 'kan kepala, setuju dengan perkataan Candra.


Hanya ada aktivitas si penculik yang keluar masuk di rekaman itu, mereka pun mempercepat hingga rekaman di malam hari.


Kedatangan seseorang dan berinteraksi dengan para penculik yang membuat Abdar dan Adit menajamkan penglihatannya.


Mereka mengenal pria itu bahkan tidak hanya mengenal tapi sangat mengenal. Dulu ... dulu sekali, beberapa tahun yang lalu sebelum kejadian yang membuat sakit hati Abdar karena perbuatan kakak pria itu. Jika tidak pria itu sudah menjadi bagian dari keluarganya.


Adit sebagai teman juga asisten Abdar tentu menjadi saksi perjalanan hidup seorang Abdar.


Abdar menoleh, begitu juga dengan Adit yang menoleh ke arah nya. Pandangan mereka bertemu dan terkunci. Dari tatapan, mereka seolah membicarakan tentang sosok pria yang ada di rekaman itu.


Mengangguk samar secara berbarengan, mengisaratkan jika apa yang mereka pikirkan memanglah benar-benar sama.


"Mungkin, itu bos mereka. Sebaiknya ambil gambarnya untuk di cetak." Zidan bicara masih tetap fokus pada layar itu.


Lantas Adit berdehem. "Ehemm." Tidak juga mencuri perhatian yang lain padanya karena masih fokus pada rekaman kecuali Abdar.


"Aku permisi, dulu. Sepertinya anak buah ku memberi informasi." Alasannya sembari berdiri dan merogoh Hp-nya di dalam saku celana.


Yang lain sempat melirik sekilas kemudian kembali pada benda di hadapan Mereka, dan jawab singgat tanpa bertanya lebih lanjut.


"Silahkan," balas Candra.


"Kabari, jika ada perkembangan," Zidan menimpali.


Lagi Adit dan Abdar saling lirik, Abdar pun mengangguk. Dengan langkah lebar Adit berjalan ke luar rumah menjauh dari pendengaran mereka.


Mengotak atik Hp lalu mendekatkannya pada duan telinga. Terdengar suara nada sambung.


"Tuttt... tuttt... tuttt...."


πŸ“ž"Assalamualaikum, tuan?"


"Wa'alaikumussalam, Tomi cari informasi tentang Sherlin dan Adik nya, Sandy. Apa saja yang mereka lakukan beberapa tahun terakhir ini."


"Dan kabari aku secepatnya," Ucap nya tegas.


Tomi di ujung sana menaruh rasa penasaran dengan perintah ini, sudah lama sekali ia tidak mendengar perintah tentang mantan kekasih dari tuannya itu. Abdar.


Rasa penasaran yang membucah membuat Tomi reflek bertanya tanpa sadar.


πŸ“ž"Apa ini ada hubungannya, dengan penculikan itu tuan?"


Adit berdecak, mendapat pertanyaan yang menurut nya sangat lancang dari seorang anak buah.


"Apa aku perlu menjelaskannya padamu, agar kau mau melakukan perintah ini?" Tomi meringis ketakutan mendengar suara yang terdengar dingin. Walau tidak melihat langsung wajah asisten sang atasan, tapi ia yakin jika Adit sedang menunjukkan taringnya.


πŸ“ž"Ti-tidak tuan, sa-ya akan melakukannya segera," Ucap Tomi terbata karena gugup.


"Bagus, ku tunggu kabar darimu. Assalamualaikum."


Mematikan Hp dan langsung menyimpannya kedalam saku celana. Bergegas masuk ke dalam rumah yang masih dalam penyalinan.


Bergabung dengan yang lain. Mereka pun masing-masing menyimpan foto yang mereka duga bos sang penculik. Mereka juga sudah menyimpan foto penculik itu waktu masih di sekolah.


Selesai dengan melihat rekaman, mereka bubar karena tidak ada lagi yang akan mereka lakukan di rumah itu, kecuali berpencar.


...****************...


Sudah dua hari tim kepolisian dan para anak buah Abdar dari Candra melakukan pencarian, tapi belum membuahkan hasil sama sekali.


Bukan hanya kabar perkembangan dari Rahman dan Intan yang di tunggu Abdar dan Adit, melainkan kabar dari Sherlin mantan kekasih Abdar dan adik dari wanita itu.


Semenjak penampakan sesosok pria yang mereka duga adalah Shandy menimbulkan kuat dugaan ada hubungannya dengan masa lalu.


Adit tengah duduk bersama Abdar di ruang kerja kediamannya itu dengan pikiran kosong karena masih dalam keadaan tidak tenang. Akhir-akhir ini pekerjaan mereka terbengkalai, tidak bisa fokus.


Dua hari adalah waktu yang sudah terlalu lama bagi mereka. Sehingga membuat mereka kepikiran apa yang akan terjadi kepada Rahman dan Intan kedepannya. Mereka selalu berdo'a untuk keselamatan Rahman dan Intan.


Tidak hanya Abdar dan Adit atau Rahimah dan Maryam yang mendo'akan kedua anak itu, tapi Ustadzah Habibah dan Ustadz Abizar juga melakukan do'a bersama di pondok pesantren.


Lamunan keduanya langsung teralihkan saat mendengar ketukan di pintu.


"Assalamualaikum." terdengar salam dari balik pintu.


"Waalaikumussalam," jawab kedua nya berbarengan.


Pintu terbuka lebar. Muncul lah Maryam dari balik pintu dengan wajah sembab karena Selalu menangis.


"Kakak, ada Mas Tomi nih!" Muncul lah Tomi dari arah belakang Maryam sambil membawa map.


"Selamat siang tuan?" Membungkukkan sedikit badannya.


"Siang. Terimakasih dek," ujar Abdar melihat ke arah Maryam.


Maryam pun pergi meninggalkan mereka.


"Bacakan!" Perintah Abdar tidak sabar.


"Baik tuan. Menurut informasi yang saya temukan, setelah pengasingan yang kami lakukan kepada Sherlin dan kekasih-- ..." tiba-tiba ia menjeda karena sadar salah mengucapkan kalimat.


"Emmm maksud saya, selingkuhannya. Selama satu bulan di sana kemudian ada yang menolong mereka. Seorang wanita yang sedang melakukan liburan dengan jet pribadinya." Dengan raut wajah serius Abdar dan Adit mendengarkannya.


"Setelah di selamatkan keduanya memutuskan tinggal di daerah yang jauh dari warga. Sherlin sengaja meninggalkan adik dan ibunya, hanya sekekali saja ia menjenguk. Tapi wanita yang menolongnya juga sering bertemu dengannya."


"Selang dua tahun---," kembali tomi memberi jeda. Sebelum Tomi melanjutkan laporannya, ia sempat melirik Abdar dan Adit sekilas.


"Sherlin di kabarkan tewas gantung diri."


Jedaaaarrr


Abdar dan Adit terkesiap, mereka terpaku dengan mata yang membesar karena saking kagetnya mendengar kematian Sherlin yang begitu menyedihkan.


Tomi pun menangkap raut wajah keduanya berubah pias tak menduga.


"Setelah kematiannya, seminggu kemudian sang ibu juga meninggal."


Lagi-lagi Abdar dan Adit di buat kaget oleh kehidupan Sherlin dan keluarganya.


"Lalu? Bagaimana dengan selingkuhnya?" Adit mewakili Abdar.


"Tiba-tiba dia mendatangi Shandy dan membawa pertemanan padanya. Mereka berdua bekerja sama membangun usaha, hingga usaha mereka sekarang sukses."


"Tapi di balik usah yang mereka geluti, mereka adalah seorang bandar nark**a."


Abdar dan Adit diam sejenak.


"Apa kau menemukan tempat tinggal mereka?" tanya Abdar.


"Ya tuan, mereka tinggal di daerah desa terpencil. Sepertinya ... agar pekerjaan mereka tidak tercium oleh polisi."


"Rumah yang pernah di jadikan tempat penyekapan Nona Intan hanya tempat persinggahan untuk mereka melakukan perdagangan." Papar Tomi.


"Jadi benar, kalau itu perbuatan Shandy?" geram Abdar.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan keponakanku, akan ku habisi mereka." Adit tidak kalah geram.


"Info apa lagi yang dapat?" Abdar bertanya dengan sedikit emosi.


"Kemungkinan Intan dan Rahman ada di rumah mereka. Saya sudah menyuruh anak buah untuk menyelidiki lebih lanjut."


"Secepatnya temukan Intan dan Rahman, jangan biarkan mereka terluka."


"Baik tuan, saya permisi." Bangkit dari duduk sedikit membungkuk kemudian melangkah pergi.


"Untung rekaman itu bisa kembali, sehingga kita bisa mengenali penculiknya. Dan kita tau kalau Shandy-lah pelakunya. Yaa ... walau informasi agak lama. Tapi setidaknya ada titik terang," ujar Adit.


"Ya, kau benar. Apa sebaiknya kita memberi kabar pada Candra dan Zidan tentang ini." Abdar meminta pendapat.


"Tentu, akan lebih baik mereka tahu. Jadi kita bisa bertindak cepat jika anak buah mu menemukan keberadaan Intan dan Rahman di rumah mereka."


"Hubungi Candra, kita akan bertemu."


Tanpa menunggu perintah dua kali Adit segera menghubungi Candra dan mengajak bertemu.


"Bagai mana?" Abdar langsung bertanya saat Adit mematikan Hp-nya.


"Kata Candra, dia sedang di rumah ibunya Rahman. Mereka berkumpul untuk menghiburnya," jawab Adit sambil menyimpan HP-nya.


"Apa kita harus ke situ?" tiba-tiba saja Abdar menjadi gugup.


Ia sepeti enggan untuk bertemu dengan Rahimah, tapi seperti ada pengharapan juga supaya dapat bertemu.


"Iya, sebaiknya kita ke sana. Dan ada baiknya kita ajak Maryam, agar dia juga ada yang menghibur." usul Adit.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang," di hati Abdar ada sedikit kegirangan karena akan bertemu Rahimah.


Abdar dan Adit berjalan keluar dan mencari Maryam di kamarnya dan mengajaknya untuk pergi ke rumah Rahimah.


Maryam hendak menolak, tapi Abdar dan Adit menyakinkan jika di sana banyak orang yang berkumpul dan bisa sedikit menghibur agar tidak selalu bersedih.


Akhirnya Maryam setuju dan ikut bersama kakak dan kakak dari suaminya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Mobil Abdar pun tiba di depan rumah Rahimah. Terlihat beberapa mobil sudah terparkir di sana, ada juga motor dari Candra dan ada satu motor lagi yang Abdar tahu siapa memiliknya.


'Apa dia ada di sini juga?' gumam Abdar berdecak kesal di dalam hati.


"Assalamualaikum," Ucap mereka serempak saat pintu sudah terbuka.


"Wa'alaikumussalam," Candra yang menyambutnya.


"Ayo masuk," ajaknya setelah sempat bersalaman.


"Sebenarnya saya hanya ingin bertemu Zidan, tapi ternyata dia sedang menemani istrinya di sini. Jadi Zidan menyuruh saya menyusul ke sini." Sembari berjalan Candra menjelaskan kenapa ia bisa ada di rumah Rahimah.


Berjalan masuk, mereka melihat sekeliling tanpa menyahut ucapan Candra karena sibuk memindai setiap sudut rumah itu hingga tiba di anak tangga teratas.


"Kalian sudah datang?" Zidan turut menyambut.


"Iya," balas Adit bersalaman.


"Maryam." Ustadzah Habibah menghampirinya.


"Ibu," Maryam menyalami Ustadzah Habibah.


"Ayo kita kumpul sama para wanita." Maryam mengikuti dari belakang.


"Mbak Imah."


"Maryam," Rahimah memandang sedih pada Maryam, karena tidak hanya ia saja yang merasakan penderitaan ini. Tapi Maryam juga, Rahimah sadar ... bukan hanya dirinya tapi ada ibu lain yang juga lebih menderita.


Maryam di kenalkan dengan Dinda dan Nurul.


"Kalau sama Soraya, katanya sudah kenal Ya?" tanya Ustadzah Habibah.


"Iya, bu. Waktu nganterin mba Imah waktu itu," tiba-tiba Maryam berubah sendu. Teringat bagaimana mereka bisa kenal, karena kasus penculikan Intan.


"Jangan bersedih, kami selalu mendoakan keselamatan mereka." Ustadzah Habibah yang menyadarinya segera menghibur.


Mereka pun terlibat perbincangan hangat guna menghilangkan ke sedihan yang melanda.


Sementara itu.


Abdar dan Adit tengah berkumpul di ruang tamu, ada Zidan, Candra, Ari, dan Sesorang yang di pandang Abdar dengan tatapan tidak suka tapi tidak di perlihatkannya. Ustadz Abizar.


Dinda datang menyajikan minuman untuk tamu yang baru datang. Setelah Dinda pergi Adit melanjutkan ucapannya.


Untuk sementara mereka sepakat agar para wanita tidak di beri tahu dulu.


Mereka tengah mendengarkan penjelasan Adit yang tadi di sampaikan Tomi, tapi tidak dengan masalah pribadi Abdar dan Sherlin.


Adit hanya menceritakan bahwa Orang yang menculik Rahman dan Intan itu sudah tercium wajah sebenarnya dan ada titik terang mengenai tempat penyekapan.


Ustadz Abizar dan Ari hanya ikut mendengarkan.


Tiba-tiba Hp Adit berdering, itu dari Tomi.


"Katakan?" ucapnya setelah saling memberi salam.


πŸ“ž"Tuan, ternyata memang benar. Rahman dan Intan ada dalam rumah itu. Saya akan share lokasinya tuan."


"Segera," perintah Adit tak sabar.


"Tomi, bilang ... tempat penyekapan Rahman dan Intan memang benar di situ. Dan Dia akan mengirim alamatnya." Belum ada yang menyahut Hp Adit kembali berbunyi.


"Ting." Bunyi pesan masuk.


"Ini, alamatnya." Menunjukkan kepada semua orang.


"Biar saya yang menghubungi polisi," Candra segera berdiri dan menjauh menelfon kepolisian tetang penemuan ini.


"Ternyata pihak polisi juga sudah menerima laporan dari anak buahnya, tentang tempat penculik itu. Rencananya tadi mereka ingin mengabari kita." Kata Candra setelah kembali.


"Lalu kapan kita menangkap Mereka?" tanya Abdar sudah tidak sabar.


"Nanti malam, mereka akan bergerak."


"Kenapa tidak sekarang?" Abdar terdengar kesal mendengarnya.


"Tenang, kita harus menyiapkan strategi yang matang sebelum mengepung mereka. Kalau tidak mereka akan kabar sebelum kita beraksi." Candra maklum dengan ketidak sabaran Abdar dalam hal ini.


Setelah beberapa rencana tersusun, mereka berpamitan. Mereka pun mengumpulkan anak buah masing-masing untuk pengepungan nanti malam.


...****************...


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Shandy kepada Jack


"Ya, aku sudah menyiapkan nya. Apa kau sudah membawakan baju ganti untuk mereka?" Jack balik bertanya.


"Hemm, mereka sedang membersihkan diri. Jadi kapan kita membawa mereka kepada pembeli?"


"Nanti malam, kita akan berangkat ke Riau menggunakan mobil. Kemungkinan besok malam baru kita sampai, dan lusa kita bawa mereka ke Dermaga Sri Junjunan. Aku sudah mengatakan pada pembeli untuk bertemu di pelabuhan saja."


Shandy tahu bahwa mereka tidak bisa menggunakan jalur udara, bukan hanya karena ada anak kecil yang akan mereka jual ... tapi transaksi nark**a juga sedang mereka lakukan. Jika nark**a nya hanya sedikit mereka masih bisa menyusup dalam pesawat, tapi kali ini mereka melakukan transaksi besar-besaran.


Jadi mau tidak mau, mereka harus melakukan jalur darat dan hanya bisa istrahat dua jam dalam 3 atau 4 kali pemberhentian sebelum tiba di penginapan.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan mencek ulang persiapan." Shandy berlalu pergi.


Jack tersenyum misterius menatap punggung Shandy yang menjauh dan menghilang dari balik pintu.


"Dendam mu terbalas'kan, begitu juga dengan dendam ku."Gumam Jack dalam hati.


BERSAMBUNG ....


Yuhuuu, yang mau cerita tentang Raja mafia bisa mampir di karya teman aku. Ceritanya seru dan mencengangkan ..!! Yang merasa penasaran langsung saja ke TKP.😘



Noormy Aliansyah