Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 88 Puasa ..!!



Perlahan siang bergeser dan berganti oleh senja, Abdar yang tengah berkutat dengan berkas-berkas kantornya kini memutuskan untuk pulang.


Setelah sempat mencuri dengar percakapan para wanita tadi siang, Abdar memutuskan pergi agar memberi ruang untuk istrinya.


"Yang udah punya istri, nggak sabar pengen pulang," goda Adit berpapasan.


Keadaan kantor sudah sepi, mereka menuju lift.


"Ya iyalah, kasian nanti istri gw. Udah ditinggal waktu siang, masa iya sampai malam ... ntar nggak ada yang peluk lagi," Abdar tersenyum kemenangan.


"Sialan," sungut Adit kalah telak.


"Makanya buruan nikah sama Dinda, nanti keburu diambil orang."


"Gw juga pengenya gitu, tapi masa idahnya belum sampai beg0," kesalnya.


"Apa tadi lo bilang? Lo ngatain gw beg0? Mau lu gw potong gaji?" tanya Abdar sembari mengancam.


"Tau ah." Jawab Adit malas dan berlalu pergi lebih dulu.


Abdar menggeleng kepala, pasti temannya itu sedang marah kepadanya karena godaan nya tadi. Abdar pun mengangkat bahu tak acuh, tidak salahkan jika ia membalas godaan sang sahabat.


"Bukan salahku," gumamnya menyusul Adit yang sudah pergi.


...****************...


.


Malam hari ....


Usai makan malam Abdar mengajak Rahimah mengobrol ringan di dalam kamar, agar menciptakan keakraban. Ia ingin mereka saling mengenal satu sama lain.


"Kamu nggak keberatan'kan, kalau besok kita bertiga menginap di rumahku? Tadi sore Maryam menghubungiku, meminta kita agar menginap di sana," kata Abdar memulai pembicaraan.


Duduk di atas ranjang saling berhadapan setengah menyamping.


"Aku nggak masalah mas, tapi Rahman bagaimana?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Tadi waktu di masjid sudah ku tanyakan, Rahman tidak keberatan kita menginap di sana," balas Abdar.


Rahimah *******-***** tangannya, karena begitu gugup jika berhadapan dengan suaminya apa lagi ingatannya melayang tentang kejadian kemarin malam. Ia yang selalu di peluk juga cium oleh sang suami.


Dalam keadaan demikian Rahimah juga mencari bahan ngobrol, ia pun teringat sesuatu.


"Oya mas, tadi Aya cerita ... katanya mas Abdar menghubungi mas Zidan untuk menyewa hotel mereka ya?"


"Iya, aku meminta Adit untuk menghubungi Zidan," aku Abdar jujur.


"Emmm kalau boleh tau buat apa mas?" kendati Rahimah sudah tahu jawabannya tapi ia tetap bertanya.


"Untuk merayakan pernikahan kita."


"Apa perlu dirayakan mas?"


Rahimah jelas merasa tidak enak mengingat keadaan dirinya yang memiliki anak, bagaimana jika ada seseorang yang mengorek tentang kehidupan masa lalunya.


"Tentu, penting bagiku agar rekan bisnis ku mengetahui kebahagiaan yang hari ini kudapatkan. Jadi kita akan mengundang mereka untuk berbagi itu," jelasnya.


"Apa kau akan mengundang teman-temanmu yang lain? Catat saja di note, nanti ku serahkan pada Adit," sambung Abdar.


Rahimah menggeleng cepat, ia tidak terlalu punya banyak teman. Jadi tidak ada yang perlu diundang.


"Kau yakin?"


"Temanku hanya Dinda, Nurul dan Soraya. Tapi jika tidak keberatan tambahkan saja Maya," ingat pada Maya.


Mendengar nama Maya, Abdar memicing'kan matanya. Seperti nama yang sangat ia kenal, keningnya berkerut mengingat-ngingat sesuatu.


"Apa Maya yang kau maksud itu, Maya yang dulu mendorong mu ke kamarku?" tanya Abdar dingin usai mengingatnya.


"Mas tau Maya?" heran Rahimah.


"Ya, setelah kejadian malam itu Adit menyelidiki kalian berdua. Tapi kami kehilangan jejak kamu."


Tangan Abdar terulur untuk mengambil tangan Rahimah.


"Maaf untuk masa lalu ku yang pernah Menyakiti mu," sesal Abdar tulus.


"Tidak apa-apa mas, aku sudah memaafkan mu dan melupakan kejadian itu."


"Kau tau Imah? Semenjak kejadian malam itu nafsu ku pada seorang wanita menghilang! Entahlah aku juga tidak mengerti." Ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


Ia merasa salah bicara, kenapa tiba-tiba membahas hal yang seperti itu. Di dalam hati Abdar mengerutuki kebodohannya.


Sedang Rahimah terperangah dengan pernyatan itu, ia malah berpikir yang diluar nalar. "Apa mas Abdar sudah tidak normal lagi? Tapi kemarin malam sepertinya normal-normal saja!"


"Sayang, kau kenapa?" Panggilan dan sentuhan lembut di bahu Rahimah membuyarkan lamunannya.


"Haa, nggak apa-apa mas," elaknya.


"Maaf jika aku mengungkit ngungkit masa lalu," kata Abdar tak enak, ia pikir Rahimah melamun karena kejadian dulu.


"Nggak apa-apa Mas." Ujar Rahimah sembari tersenyum menyakinkan.


Abdar mencium ke dua tangan sang istri bergantian. "Aku berjanji, akan menebus semua kesalahan ku dulu dan akan membahagiakan kalian." Janji Abdar menatap lekat wajah Rahimah, membuat sang empuhnya tersipu dan menunduk malu.


"Terimakasih mas, karena sudah mau menerima kami."


Rahimah tersentak kecil ketika ia ditarik Abdar dan masuk dalam dekapan sang suami. Kecupan dikening pun tak puas Abdar berikan hingga berulang berkali-kali.


"Aku yang harusnya berterimakasih, karena kau sudah memaafkan ku dan mau menerima ku."


Hening .... keduanya terdiam dalam suasana romantis yang mereka ciptakan sendiri. Perlahan Abdar menarik diri sambil menatap dalam wanita yang kini telah menyandang status istri dari Abdar Bariq.


Seolah tidak ada puasnya bagi Abdar untuk memandangi wanitanya. Sedikit demi sedikit ia mengikis jarak diantara mereka.


Kembali merapatkan diri sembari memegang dagu Rahimah agar menengadah padanya. Refleks istrinya itu menutup mata tanpa disuruh.


Benda kenyal nan lembut menimbulkan desiran aneh pada keduanya, perlahan Abdar memangut mesra bibir tipis istrinya. Tidak ada penolakan, ia pun memperdalam ciumannya sambil membimbing tangan Rahimah ke atas lehernya.


Menyadari Rahimah kehabisan oksigen sedang dirinya masih ingin mengecap walau juga nafasnya terasa pendek, Abdar melepas ciuman dan pindah kebagian leher. Entah mengapa ia begitu bersemangat dan enggan untuk menghentikan aksinya.


Abdar menghentikan kegiatannya ketika mendengar lengkuhan kecil keluar dari mulut sang istri, menoleh ke area bawahnya ia pun terkulai lemah.


Ingat jika Rahimah baru mendapat halangan, Abdar segera mengajaknya tidur sebelum miliknya semakin mengeras. Ia tidak ingin Rahimah melakukan saran dari teman-temannya tadi siang, sadar jika istrinya ini masih pemalu.


Rahimah tersipu malu, semuran merah bak buah cerry diwajah putihnya begitu kentara membuat Abdar tersenyum simpul dan gemas.


Tidur berdampingan Abdar tidak ingin membuang-buang kesempatan yang bisa ia nikmati, segera memeluk dan mencium pipi Rahimah sebelum ia mengucapkan selamat malam guna mengarungi mimpi indahnya.


Malam ini dan malam-malam berikutnya ia akan mencoba bersabar hingga malam yang ia harapkan itu datang.


Tidak lama keduanya tertidur sambil berpelukan satu sama lain.


BERSAMBUNG ....


.