Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 85 Sah?!



Setelah dirundingkan dan ditananyakan tentang kesiapan antara Rahimah dan Abdar, kini semuanya segera mempersiapkan akad nikah dadakan usai mendengar jawaban 'iya'.


Karena Rahimah yatim piatu, Abizar menyarankan untuk memanggil penghulu saja sebagai wali hakim ditambah lagi ia tidak sanggup untuk menikahkan wanita yang harusnya menjadi istrinya.


Dengan bantuan para warga dan sedikit paksaan, penghulu pun bersedia menikahkan tentu uang pun bertindak karena bukan jam kantor. Tapi tetap saja penghulu menasehati setelah menikah dibawah tangan mereka harus segera mengurus untuk mengesahkan pernikahan secara agama.


Tentu itu juga jadi pertimbangan penting yang disetujui semua pihak.


Maryam yang akan menjadi saksi bersejarah pernikahan dadakan kakaknya bersama Rahimah dengan semangat memberi dukungan untuk segera menikahi ibu dari keponakannya itu, sedang Rahimah juga sudah mendapat restu dari putranya.


Gegas Maryam menghubungi Adit yang tidak bisa ikut serta dengannya karena harus mengurus masalah Jack yang akan dihukum mati, tapi saat dilihat dari waktu sekarang pasti semua sudah beres tebaknya dan Adit pasti bisa menyusul, karena masih ada waktu menunggu kedatangan Adit hingga acara akan dilaksanakan selepas Azhar.


Ia berpesan pada Adit agar segera datang ke rumah Rahimah dengan sebuah cincin yang ukurannya sama dengannya tidak lupa juga meminta uang kes untuk mahar. Tentu Adit tahu ukuran jari Maryam mengingat ia dulu pernah menemani Adiknya membeli cincin untuk calon adik iparnya.


Dengan sedikit umpatan dari Adit mengiringi berakhirnya sambungan telepon, Adit bukannya memaki Maryam, bukan .... Tapi ia yang kaget mendengar Abdar akan menikah ba'da Azhar. Guna mengurangi rasa kesal, Adit menyumpahi sang atasan dan samar terdengar ke pendengaran Maryam.


Semua tamu laki-laki yang hanya kisaran lima belas orang terhitung dengan dirinya dan Abizar langsung menuju masjid ketika mendengar marbot melantunkan azan. Sedangkan para wanita melaksanakan shalat berjamaah di lantai bawah.


Didetik detik menjelang akad tidak hanya Rahimah, Abdar pun begitu gugup dengan detak jantung yang berdegup kencang dan tak beraturan.


Dipenghujung do'a Abdar memohon kepada sang pemilik kehidupan serta pembolak balikkan hati manusia agar rasa takut yang membelenggu nya lekas sirna dan dimudahkan setiap kata yang akan diucap saat akad.


Usai shalat Abdar kembali ke rumah wanita yang tidak lama lagi akan sah menjadi istrinya. Istri .... setiap kata istri tepikir dibenaknya ia semakin gugup.


Setibanya Abdar dan yang lain di depan rumah Rahimah bertepatan dengan datangnya Adit. Demi mengurangi rasa gugupnya Ia pun berinisiatif menunggu sang sahabat turut dari mobil.


"Berenggg sekkk, lu." Maki Adit ketika sudah berhadapan.


"Wa'alaikumussalam." Sahut Abdar menyindir.


Adit berdecak. "Assalamualaikum." kata Adit kesal.


"Wa'alaikumussalam," ulang Abdar.


"Kenapa nikah jadi mendadak gini sih?" sungut Adit kesal.


"Udah jangan tanya kenapa bisa kaya ini, gw aja juga pusing mikirannya," kepala Abdar tiba-tiba terasa berat, ia sudah sangat gugup tapi malah dipertanyakan sebab musabab yang malah menjadi beban pikirannya.


Adit mengernyit heran. "Maksud lu, memang nggak direncanakan?" tanya Adit memastikan.


"Ya kali, acara tahlilan digabung buat acara nikahan?" decak Abdar kesal.


"Serius?" Ditelepon tadi ia tidak bisa bertanya secara detel, karena Maryam yang lebih banyak bicara agar menyiapkan pesanannya dan hanya mengatakan alasan secara singkat akan menikah.


"Lu pikir gw main-main? Udah buru-- ...."


"Mas Abdar, ngapain di situ? Ayo buruan masuk, acara akan segera dimulai." Seorang pria paruh baya datang menghampiri dan yang sudah memotong kalimatnya.


"Hah, iya pak." Ujar Abdar tersenyum kaku.


"Ayo, Dit." Ajak Abdar sambil berjalan di samping bapak tadi.


Adit tersenyum samar sambil menggeleng kepala, ia menyadari kegugupan Abdar tadi saat dipersilahkan masuk.


Menyusul Abdar, Adit ikut berbaur bersama para warga. Tapi kemudian ia dipanggil untuk menjadi saksi, satu lagi saksi dari Abdar adalah Zidan suami Soraya.


Kebetulan Zidan datang untuk menjemput sang istri dan putranya, ia sempat terkejut ketika ditunjuk Adit agar menjadi saksi bersamanya.


Abdar masih memakai baju koko dan peci putih yang ia kenakan dari siang tadi, duduk berhadapan dengan penghulu dan saling berjabat tangan.


"Ananda Abdar Bariq bin alm. Roberto Santiago, saya nikah 'kan dan kawinkan engkau dengan Rahimah binti alm. Muhammad Ramlan, dengan mas kawin cincin emas dua puluh karat dan uang sebesar seratu sepuluh juta tiga ratus ribu dua puluh dua ribu rupiah."


Semua orang melongo dan saling tatap tidak percaya karena mendengar mas kawin yang terbilang unik.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rahimah binti Alm. Muhammad Ramlan dengan maskawin tersebut tunai," ucapnya dengan sekali tarikan nafas dan sedikit hentakan di tangan.


"Sah?!" tanya penghulu kepada para saksi.


"Sah," jawab saksi.


"Sahhhhh ...." seketika menggema memenuhi isi ruangan tersebut saat para tamu yang hadir mengikuti menyebut kata sah.


Lantunan do'a dari penghulu mengaung didalam heningnya orang-orang yang mengamini sekaligus mengakhiri ijab kobul.


Rahimah pun digiring mendekati Abdar yang kini sudah sah menjadi suaminya. Semua mata kini memandang Rahimah yang ternyata memakai kebaya waktu ia hendak nikah kapan mana itu, dan sedikit riasan sederhana.


Didudukan di samping Abdar, Rahimah mencoba mengatur jantung yang ternyata bertambah tak terkendali.


"Silakan pasangkan cincinnya," instruksi penghulu membuyarkan lamunan Abdar yang terus menatap Rahimah kagum.


Mengambil cincin satu tangannya menanai meminta tangan Rahimah. Perlahan Rahimah menyerahkan tangannya dengan wajah yang menunduk malu.


Abdar tersenyum tipis ketika merasakan telapak tangan sang istri yang terasa sangat dingin dan berkeringat. Tadi, sebelum mengucapkan ijab kobul ia pun demikian, tapi sekarang hilang seketika berganti rasa lega berbeda dengan Rahimah yang tetap gugup.


Rahimah pun menyambut tangan Abdar dan mencium punggung tangannya.


"Sudah sah Mas Abdar, boleh cium keningnya." Semua orang tertawa mendengar cetus penghulu karena Abdar yang tidak melakukan apa-apa usai tangan nya dicium Rahimah.


Abdar tersentak kecil ia pun teringat do'a yang diajarkan Abizar saat di masjid tadi, dan sudah dihafalnya atas bimbingan Abizar.


Tangan kanan Abdar menyentuh ubun-ubun Rahimah yang terbungkus kerudung, tangan kirinya menggenggam tangan kanan Rahimah lembut seraya membaca Do'a.


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaihi. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." Mencium kening wanita yang kini resmi menjadi istrinya. Lama sambil menghirup dalam bau harum, ia pun tersadar saat penghulu kembali bersuara dan sukses memgagetkannya.


"Nanti bisa diteruskan lagi, Mas Abdar." Gelak tawa pecah lagi dari semua tamu, membuat semuran merah dikedua pipi Rahimah muncul.


Acara ijab kobul dadakan pun kini telah usai, semua para tamu diberi bingkisan sebelum pulang dari Maryam yang ternyata sempat memesan makanan siap saji.


Kini hanya tinggal Ustadzah Habibah, Maryam, trio wewek, Adit, Zidan dan sepasang pengantin yang sibuk difoto oleh mereka menggunakan kamera hp. Sementara Rahman, Rayan dan Intan di lantai atas menemani Nuri yang tertidur disore hari.


Abizar sudah pulang bersama para warga, tidak ingin mengganggu sesi foto sederhana yang mereka lakukan.


"Kedua tangan mas Abdar merangkul pinggang Imah, terus kedua tangannya Imah tengger di pundaknya mas Abdar," Nurul memberi arahan yang dibantu Maryam memindah mindah'kan tangan pengantin.


"Liat sini dan senyum ... jangan senyum kaku gitu, yang ikhlas dong," protes Nurul santai.


Kedua mempelai hanya bisa pasrah dengan segala arahan, tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuh mereka menegang setiap kali bersentuhan.


Rahimah mencoba tersenyum tapi tidak sanggup menatap kamera karena begitu malu, ia pun sedikit menunduk.


"Imah jangan nunduk, angkat sedikit lagi wajahnya," Dinda ikut menimpali merasa gemas.


Abdar yang melihat sang istri tengah tertunduk malu dalam dekapannya tersenyum tertahan guna tidak menyinggung perasaan Rahimah.


Tangan Abdar terangkat ringan menyentuh dagu sang ratu hatinya dan sedikit mengangkatnya, refleks Rahimah menatap mata Abdar.


Pandangan mereka bertemu dan terkunci untuk beberapa saat, bahkan saking menikmatinya wajah satu sama lain sampai tidak menyadari bahwa trio wewek sudah mengabdikan momen itu.


"Emhem ... bisa ganti gayanya nggak?" seketika itu juga Rahimah langsung menunduk saat suara Soraya membuyarkan lamunannya. Yang lain hanya cekikikan pelan.


...****************...


.


Keheningan di dalam kamar Rahimah begitu terasa dan sunyi karena sepasang pengantin itu tidak bersuara dari sejak mereka masuk lima belas menit yang lalu.


"Mas ...."


"Imah ...," keduanya kompak memanggil berbarengan.


"Mas saja dulu," kata Rahimah malu-malu.


"Emmm, mas mau mandi dulu ... gerah." Ujarnya sambil mengibaskan baju di bagian leher.


Abdar berjalan ke sudut lemari dan membuka tas baju yang sudah disiapkan Adit, ia pun mengeluarkan baju ganti untuk dibawa.


Rahimah diam mematung memperhatikan gerak gerik suaminya, tidak tahu harus berbuat apa hingga sampai Abdar keluar dari kamar ia baru sadar.


Sepeninggal Abdar, Rahimah bergegas membersihkan wajahnya dan berganti baju biasa. Melihat tas baju Abdar di samping lemari ia pun menyusunnya ke dalam lemari yang sama dengannya di bagian bawah bajunya.


"Apa kamu menyusun bajuku?"


Rahimah tersentak kecil dan langsung menoleh. "I-iya Mas," jawabnya terbata karena gugup.


Menggosok gosok rambut dengan handuk kecil lantas Abdar berjalan mendekat. "Apa ada sarung dan baju koko?" tanya Abdar sambil memperhatikan bajunya di dalam lemari.


"Ada Mas, biar saya ambilkan." Cepat Rahimah mengeluarkan persiapan Abdar untuk shalat magrib.


"Ini mas." Ujarnya sambil menyodorkan baju yang di minta.


"Terimakasih." Balas Abdar menyambut.


Abdar segera memasang baju koko berwarna putih gading yang sudah terbungkus baju kaos putih tipis, dan mengenakan sarung berwarna coral yang hanya memakai celana pendek hitam sebatas lutut.


"Kamu nggak mandi?" Abdar mengernyit dahi melihat Rahimah yang tetap pada posisinya di depan lemari memperhatikannya.


"Hah," pekik Rahimah.


"Iya, saya mau mandi." Segera beranjak dan berjalan keluar kamar.


"Ya ampun Imah, kenapa kamu sampai kagum gitu liat rambutnya yang masih basah," rutuknya mengomel.


Abdar tersenyum, samar ia mendengar Rahimah yang berbicara sendiri.


"Tok ... tok ... tok ...." Ketukan pintu menghentikan Abdar menyisir rambutnya.


"Iya, masuk."


Abdar tersenyum lebar ketika pintu terbuka memperlihatkan Rahman dari balik pintu. "Apa om sudah siap?" tanya Rahman canggung.


"Panggil ayah, mulai sekarang tidak ada yang melarang mu memanggil ku ayah."


"Iya ... apa ayah sudah siap?" larat Rahman tersenyum.


"Ya, ayah sudah siap! Apa kita berangkat sekarang? Tapi mama-mu belum selesai mandi?"


"Mau berangkat sekarang?" tiba-tiba Rahimah datang dan berdiri di belakang Rahman.


"Iya ma."


"Ya sudah, hati-hati dijalan." Seperti biasa, sebelum berangkat Rahman selalu mencium punggung tangan mamanya.


Garu-ragu Rahimah menyodorkan tangannya ke hadapan Abdar. Ia yang sudah mengerti segera menyambut dan diakhiri dengan kecupan kening.


Rahimah menjadi malu, belum lagi disaksikan anak mereka. "Assalamualaikum," salam Rahman dan Abdar.


"Wa'alaikumussalam." Sahutnya menatap kepergian mereka.


"Hari yang mengejutkan," gumam Rahimah.


...****************...


.


Usai makan malam Rahimah dan Abdar kembali ke kamar yang kini resmi menjadi kamar mereka berdua.


Karena belum terbiasa satu sama lain, kecanggungan selalu datang menyusup diantara mereka.


Rahimah duduk di tepi kasur sisi kiri, sementara Abdar di sisi kanannya.


"Emmm ... maaf mas, kalau kasurnya kecil," ucap Rahimah setelah terdiam cukup lama dan segan.


"Tidak apa-apa, atau kamu yang keberatan berbagi denganku?" kata Abdar sambil menebaknya.


"Jangan salah paham Mas, saya lihat kasur saya lebih kecil dari Intan ... pasti kasur mas Abdar juga sama besarnya seperti itu? Saya takut mas Abdar nggak kerasan tidur di kasur sekecil ini," ungkap Rahimah jujur teringat kasur Intan.


"Besar kecilnya, tidak masalah. Asalkan yang punya kasur mau berbagi." Kata Abdar sambil menggaruk tengkuknya.


Memang terasa canggung, tapi jika boleh jujur ia juga berkeinginan tidur dengan orang yang sudah resmi menjadi istrinya. Istri ... ah menggemaskan.


"Silakan saja, saya tidak keberatan berbagi kalau mas Abdar sudi tidur dengan saya," ujar Rahimah menahan malu, ia tidak ingin terintimidasi oleh ucapan Abdar.


Abdar menelan ludah kasar atas tantangan sang istri. Sebagai lelaki normal, baru pertama kali ini Abdar menegang jika harus di tempatkan dalam satu ruangan dengan seorang wanita. Padahal wanita di hadapannya ini memakai baju tertutup lengkap dengan jilbab instannya, tidak seperti anak rekan bisnisnya yang seksi dan terbuka.


"Ehemm ," dehemnya.


"Kalau begitu .., boleh aku tidur?"


"Silakan, Mas." Rahimah menggeser tubuhnya sedikit agar muat untuk mereka berdua.


"Terimakasih." Perlahan Abdar berbaring sembari melirik Rahimah yang masih duduk.


"Apa kau tidak mau tidur?"


"Ya, saya juga akan tidur." Ucapnya ikut berbaring setelah meletakkan guling di tengah-tengah mereka.


"Emmm Imah."


Rahimah yang sudah memejamkan mata langsung membukanya saat suara lembut Abdar mengalun di sampingnya.


"Iya Mas?" pandangan mereka bertemu.


"Apa kamu tidur terbiasa seperti itu?"


Kerutan di dahi Rahimah muncul karena tidak mengerti pertanyaan Abdar, menurutnya pertanyaan itu sangat ambigu. Bantal gulingkan?


"Maksudnya, Mas?" dari pada salah menjawab sebaiknya ia balik bertanya.


"Itu." Tunjuk Abdar ke kepala Rahimah.


Ia pun mengikuti arah telunjuk Abdar, dan langsung faham apa yang dimaksud oleh sang suami.


"Ohh ini," reflek ia berseru.


"Apa kamu tidak mau, jika aku melihat rambutmu?" Rahimah jadi salah tingkah, bukan ia tidak mau memperlihatkannya pada Abdar, hanya saja ia belum terbiasa dengan keadaan ini.


"Bukan begitu Mas ...."


"Lalu?" sergah Abdar cepat.


Tidak ingin Abdar salah faham, lantas Rahimah duduk dan perlahan membuka jilbabnya. Abdar tak berkedip memandangi bidadari di sampingnya.


BERSAMBUNG ....


Akhirnya sampai juga di part ini .... 😌. Udah hampir sampai pada ujung kisahnya nih, maaf jika terlalu lama menunggu! πŸ™ Karena saya masih amatir dalam hal membagi waktu walau sebenarnya kerangka cerita sudah tersusun rapi di dalam otak tapi tidak langsung bisa saya tuangkan kedalam sebuah narasi.


Semoga tetap terhibur dengan cerita receh saya, dan tidak pernah bosan menemani hari-hari Rahman dan semua tokoh di dalam cerita 😊.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komentarnya agar saya bisa melihat kalau kalian ada πŸ€—πŸ€—πŸ€—.


Salam sayang ....


Noormy_Aliansyah 😘😘😘