Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 92 Kejutan



"Udah dong yank, jangan ngambek gitu. Nanti jadi tambah cinta akunya," bujuk rayu Abdar.


Semenjak menikahi Rahimah, Abdar jadi piawai dalam hal menggombal tapi itu tulus dari hatinya.


Rahimah semakin merenggut masam, ia yang tadi bangun kesiangan karena pergulatan malamnya bisa memaklumi itu semua dan langsung mandi guna menjama sholat subuh nya. Tapi usai sholat, sang suami malah menariknya ke kasur dan kembali mengulang kejadian tadi malam sampai beberapa kali hingga menyebabkan ia harus mandi lagi.


"Nggak cinta juga nggak masalah," ketus Rahimah membuang muka ke samping tapi di dalam hati tersenyum senang.


"Ya enggaklah, biarin aja aku tambah cinta sama istriku ini, kalau mau bucin aja sekalian! Aku rela kok, asalkan demi kamu, jangankan cinta ... nyawa pun akan ku beri," ujarnya sambil menahan tawa karena geli.


"Apaan sih Mas, gaje," sahut Rahimah ketus menahan senyum.


"Udah ya, jangan ngambek lagi? Ayo kita sarapan dulu." Kata Abdar sambil mengusap lembut tangan sang istri.


"Sarapan apanya? Udah siang ini, mau jam sebelas." Sungut Rahimah langsung berdiri dari depan meja rias.


Tanpa peduli dengan Abdar ia berjalan cepat ke arah sofa, dimana sudah tersusun semua aneka masakan yang dipesan oleh suaminya itu.


"Hehehe, iya ya ... udah siang rupanya." Nyengir Abdar menyusul di belakang.


"Iya ya, udah siang rupanya!" Rahimah menirukan suara suaminya, tapi dengan suara yang sangat pelan sekali sampai Abdar bahkan tidak mendengar dan itu hanya seperti mengoceh.


"Ngomel apa itu?" Tanya Abdar sambil duduk di samping Rahimah.


"Laper," jawabnya pendek dan datar.


"Iya, iya ... ayo makan," ujar Abdar merasa bersalah.


Ya mau bagaimana lagi, ini adalah pengalaman pertama yang sangat menyenangkan baginya. Ibarat kata nih ya, kalau kita lagi asyik-asyik dapet mainan baru ... pasti nggak bakalan mau berhenti mainnya dan selalu mengulang-ngulang.


Hehehe πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


"Nanti habis dzuhur, kita pergi!" kata Abdar usai selesai memakan sarapan alias makan siangnya.


"Pergi ke mana Mas?" tanya Rahimah penasaran.


"Adalah, ini kejutan." Balas Abdar sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Pakai kejutan sagala, emang apaan sih mas?" Jiwa kepo Rahimah keluar seketika saat mengetahui ia akan diberi kejutan.


"Rahasia dong .., nanti aja pas kita ke sana."


Rahimah memajukan bibir bawahnya sebagai bentuk protes, dan itu malah membuat seorang Abdar Bariq merasa gemas.


"Iihh, mas Abdar." Ujarnya mendorong kesal.


Abdar hanya nyengir karena berhasil mencuri sebuah kecupan dari bibir yang dimonyongkan istrinya tadi.


"Hehehe."


Bunyi hp yang berdering mengambil atensi keduanya. "Siapa Mas?" tanya Rahimah karena hp Abdar-lah yang berbunyi.


"Tomi." Ujarnya sebelum menjawab.


"Assalamualaikum."


(....)


"Apa sudah beres?" tanya Abdar to the points setelah Tomi menyahut.


(....)


"Bagus, nanti ba'da Dzuhur kami akan langsung ke sana. Kau siapkan saja semuanya, jangan sampai ada yang terlewat." Pesan Abdar sambil melirik istrinya, Rahimah yang mendengar mengerutkan kening.


(....)


"Hmmm."


(....)


"Wa'alaikumussalam." Jawabnya sambil mematikan sambungan telepon.


"Emang kemana sih Mas?"


"Sabar dong, sebentar lagi kamu juga tau!"


Rahimah menghela napas pasrah, dan menunggu sampai waktunya tiba.


...******************...


.


Seperti apa yang dikatakan Abdar tadi, mereka sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat sebagai sebuah kejutan untuk Rahimah.


Derap langkah kaki mereka terdengar di lorong hotel, dan berhenti di depan lift. Menekan tombol lift dan masuk bersamaan, karena hanya mereka berdua saja ... Abdar kadang suka mencium punggung tangan Rahimah.


Sementara orang yang hendak menarik tangannya tapi tidak bisa hanya bisa menghela napas pasrah.


"Ayo Mas, buruan," desak Rahimah tak sabar saat keluar lift.


"Iya, ini ambil kunci mobil dulu."


Tadi seorang resepsionis menghubunginya dan mengatakan kalau seseorang telah menitipkan kunci mobil, Itu tidak bukan ialah Adit.


Sebenarnya Adit sudah datang sejak tadi pagi agar menyerahkan secara langsung tapi ketika mengetuk pintu malah tidak ada kehidupan, jadi ia memutuskan menitip di bagian resepsionis.


"Permisi, saya mau mengambil kunci."


"Abdar," jawabnya pendek.


"Baik, ini pak."


"Terimakasih."


"Sama-sama."


"Ayo." Ajak Abdar sambil menautkan tangan mereka dan menariknya pelan berjalan ke luar hotel.


Samar Abdar dan Rahimah mendengar resepsionis itu memuji mereka bersama rekannya.


"Mereka serasi sekali ya?"


"Iya, yang cowoknya tampan dan yang ceweknya cantik. Sangat cocok."


"Iya, aku jadi iri."


Mereka saling lempar tatapan dan tersenyum seketika.


"Ugh, cantiknya istriku." Ujarnya sambil mengapit ujung hidung Rahimah.


"Makasih," balasnya malu-malu.


"Ahahaha," kelakar Abdar.


Sampai di parkiran Abdar langsung membukakan pintu depan samping kemudi untuk sang istri, setelahnya ia berlari kecil memutar ke pintu satunya.


"Bismillah," gumam Rahimah mengingatkan.


"Bismillahirrahmanirrahim," beo Abdar.


Deru mesin mobilnya terdengar halus, perlahan tapi pasti mobil itu bergerak meninggalkan tempat parkir dan masuk ke jalan utama, membelah padatnya kemacetan ibu kota.


"Toh, bukannya ini arah ke rumahku Mas?" tanya Rahimah saat menyadari rumahnya semakin dekat.


"Iya, kita memang pulang ke rumahmu," balasnya santai.


"Katanya tadi mau ngasih kejutan?"


"Iya sayang, kejutan nya di rumah kamu!"


"Oya?"


"Hmmm."


"Kita sudah Sampai, ayo turun."


Rahimah terpaku menatap bangunan besar berlantai dua dari balik kaca mobilnya. Ia jelas ingat, bahwa seminggu yang lalu rumahnya-lah yang berdiri kokoh di tempat itu.


Tapi sekarang Ia begitu terperangah, mendapati rumahnya sudah berganti dengan rumah yang besarnya dua kali lipat dari rumahnya yang dulu.


"Mas?" Panggil Rahimah sambil menoleh pada Abdar.


"Ini kejutannya."


Saat itu juga matanya memanas dan basah, pandangannya pun mengabur, detik berikutnya bulir kristal berjatuhan beriringan.


Entah apa yang ia rasakan saat Ini, yang jelas impiannya untuk membuka sebuah bulik di samping rumahnya hancur sudah. Karena rumahnya dan bangunan di samping itu sudah menyatu dan menjadi sebuah rumah baru yang terbilang sederhana tapi mewah.


"Kenapa menangis? Apa kau terharu?" tanya Abdar yakin.


"Terimakasih, mas." Ucap sedih sambil mengusap pelan air matanya.


"Sama-sama, aku hanya ingin kau bahagia. Aku tau, kau ingin tetap tinggal di rumahmu sendiri kan setelah menikah? Jadi aku putuskan untuk merubahnya sedikit," jelas Abdar panjang lebar.


Sedikit apanya? Ini malah terlalu berlebihan. Lalu bagaimana dengan pemilik bangunan itu?


"Oiya Mas, bagaimana sama pemilik bangunannya?"


"Itu sudah beres, rumah itu adalah milik kalian."


Rahimah menghela napas lega, tapi tidak urung kekesalannya hilang karena Abdar yang bertindak tanpa bertanya.


"Ayo turun, semua sudah menunggu."


"Semua? Maksudnya teman-teman aku sudah ada di dalam?"


"Iya."


Dengan langkah gontai Rahimah ikut masuk ke dalam rumah barunya.


"Assalamualaikum." Sapa mereka berdua mengetuk pintu.


"Wa'alaikumussalam." Sahut serempak dari dalam dan pintu terbuka.


Rahimah terkesiap melihat semua orang yang kini berkumpul menyambutnya.


BERSAMBUNG ....


Terimakasih karena masih mengikuti kisah Rahman dan keluarga kecilnya. πŸ™ Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan rezeki yang tak henti-hentinya mengalir. 🀲 Aminn. Jangan lupa untuk memberi dukungan like dan komentarnya.


Salam sayang .... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy Aliansyah 😘😘😘