
"Om!! Awas!!"
Seorang anak kecil menarik lengan pria dewasa yang berpakaian baju koko dan sarung hendak menyebrang dan hampir terserempet mobil dengan kecepatan tinggi.
BRUUG
Di bawah sinar rembulan malam yang begitu cerah dan bertabur bintang, dua orang terguling di pinggir jalan hingga menyita perhatin sebagian pengguna jalan lainnya yang habis melaksanakan Sholat di masjid itu.
"Om gak apa-apa?" tanya anak kecil yang memakai peci putih itu pada lelaki yang di selamatkannya. Ia membantu pria itu untuk duduk dan memeriksa kalau-kalau ada luka di tubuh orang yang berpakaian rapi itu.
"Tidak apa-apa, terima kasih" gumamnya.
Pria itu berdiri. Mengibas-ngibas sajadah dan bagian bajunya yang kotor, tapi seketika meringis kesakitan.
"Aawww," ucapnya sambil memengang telapak tangan kiri bagian bawahnya, yang terlihat robek akibat goresan batu yang tajam dan mengeluarkan cukup banyak darah.
"Om, terluka..!! Rumah Om di mana?" tanyanya ingin tahu.
"Rumah Om jauh dari sini," akunya sambil menelisik wajah anak kecil itu, karena kurangnya pencahayaan di tempat mereka berdiri membuat wajah mereka tidak jelas untuk di lihat satu sama lain.
Orang-orang yang tadi sempat melihat mereka berguling, tapi saat sekarang melihat mereka yang sudah berdiri, menjadi tidak peduli. (Miris, kalau sampai ada orang yang kaya mereka).
"Sebaiknya ikut kerumah saya saja, dulu Om. Biar tangannya di obati," ajaknya.
Ingin menjawab tapi terpotong oleh anak kecil itu. "Rumah saya di situ Om, tidak terlalu jauh kok!"
"Nama Om siapa?" katanya lagi.
Masih memegang tangannya yang terluka, ia pun menjawab pertanyaan anak kecil itu.
"Abdar." ucapnya singkat.
"Saya, Rahman Om. Ayo ke rumah saya saja dulu, biar nanti saya bantu ngobati tangannya. Kalau tidak segera di obati nanti bisa infeksi loh Om." ajaknya kembali.
Abdar mengangguk mengiyakan, mereka pun berjalan menyusuri pinggiran jalan raya menuju rumah Rahman.
Mengerutkan kening saat tempat yang dia tuju bukanlah sebuah rumah, melaikan sebuah ruko yang berlantai dua.
"Kau tinggal di sini?" tanyanya memperhatikan bangunan yang berada di depannya.
"Iya, ayo masuk Om," kata Rahman saat pintu itu terbuka.
Ikut masuk dengan bola mata yang tidak berhenti bergerak, memperhatikan setiap sudut ruangan. Ada dua kursi satu di antaranya adalah kursi panjang dengan meja sedang, dua mesin jahit di sudut ruangaan, ada lemari, ada sebuah sepeda motor metik, dan sepeda tinjak yang ia yakini milik anak itu.
"Ayo Om, naik ke atas," ajak Rahman yang melihatnya hanya berdiri di ujung tangga.
Tersentak kecil, Abdar pun menoleh, kini kedua mata mereka bertemu pandang. Abdar terkesiap melihat wajah Rahman, di bawah pencahayaan yang sangat terang ia bisa melihat jelas wajah dari anak yang bernama Rahman.
"Om Abdar, naiklah ... kenapa malah bengong di situ?" ajak Rahman sekali lagi, mengerjapkan matanya beberapa kali, ia kembali mengikuti Rahman menaiki anakan tangga.
"Assalamu'alaikum," kata Rahman saat sudah berada di lantai atas.
"Wa'alaikumussalam."
Terdengar sahutan dari arah paling dalam.
"Masuk sini Om," Rahman menuntun jalannya, melewati ruang tamu yang tidak terlalu besar. Sebenarnya jika di bandingkan dengan ruang tamu miliknya, tentu ruangan tersebut terbilang sangatlah kecil.
Terus berjalan mengikuti Rahman tidak jauh berbeda dengan ruang ramu, ruang Tv nya juga terlihat kecil di matanya.
"Rahman, cuci tangan dan kaki dulu," perintah Rahimah tanpa menatap lawannya.
Abdar bergeming, untuk kedua kalinya ia terkesiap melihat sesosok wanita yang tadi siang sempat mengusik pikirannya. Ia begitu kaget dengan apa yang ia lihat saat ini, sebenarnya Abdar belum siap jika harus bertemu langsung dalam keadaan yang sama sekali belum di rencanakannya.
Abdar takut ... bagaimana dengan reksi dari wanita yang pernah ia sakiti tanpa ia sadari perbuatannya dulu.
Seorang wanita yang tengah sibuk menata makan malam di meja makan, tanpa menyadari kehadirannya.
"Mama, tadi Rahman nolongin Om ini yang hampir ketabrak ... trus tangan Om nya luka, karena jatuh waktu aku tarik," pengakuan dari Rahman membuat Rahimah mendongkakkan kepala menatap kedua lelaki yang berbeda usia.
Sama seperti Abdar, Rahimah juga kaget melihat wajah putranya yang mirip dengan orang yang berada di belakang Rahman.
"Oom, sini ... cuci tangan dulu, biar bisa di obatin. Itu kamar mandinya," kedua orang dewasa itu tersentak kaget bersamaan, Rahman lebih dulu pergi meninggalkan mereka.
Badannya bergetar, degup jantungnya berdetak tidak beraturan, saat mendapati wajah yang mirip dengan putranya. Ia begitu takut jika dugaan yang terpintas di otaknya ialah benar.
Jika itu benar, apa yang akan ia lakukan pada orang tersebut? Memakinya habis-habisaan'kah? Atau memenjarakannya'kah? Tapi hal terburuknya adalah saat Rahman mempertanyakan tindakan dari apa yang ia lakukan terhadap pria tersebut.
Sedang setahu Rahman mereka tidaklah saling mengenal, walau sebenarnya mereka memang tidak saling mengenal. Kehadiran Rahman bukanlah di sengaja hingga mereka harus saling mengenal. Rahimah juga wanita baik-baik, ia tidak akan terjurumus dalam pergaulan bebas. Lalu apa yang akan ia jelaskan jika ia melakukan tindakan tersebut pada pria di hadapannya itu ..!!
Rahimah tertunduk dalam dan diam, seluruh tubuhnya terasa panas dingin, sebuah kenangan buruk berputar di memori otaknya. Rasa sedih dan trauma yang sejenak telah terlupakan, kini hadir kembali membuka luka hatinya yang tertutup. Setetas air mata jatuh tanpa ia sadari.
"Om, ayo cuci tangannya dulu, itu kayanya bajunya juga kotor! Mau saya pinjamkan baju ganti?" Buru-buru Rahimah mengusap pipihnya yang basah saat tidak ada yang memperhatikannya.
"Gak perlu, emm mungkin sebaiknya Om pulang saja! Biar nanti di obatin di rumah, Om jadi gak enak mengganggu acara makan malam kalian," ucap Abdar bersikap biasa, menutupi kegundahan hati dan rasa gugupnya saat tadi melihat Rahimah yang menunduk. Ia merasa yakin, jika Rahimah telah mengenalinya.
"Jangan seperti itu Om, anda terluka karena saya yang membuat Om jatuh tadi. Jadi saya akan mempertanggung jawabkan apa yang saya buat."
Abdar menelan ludah dengan susuh payah, perkataan Rahman barusan seolah menjadi tamparan keras yang tak kasat mata baginya.
"Tap---," suara Abdar menggantung di udara karena Rahman yang keburu bersuara.
"Setelah tangan Om sudah di obati, Om sekalian saja makan malam bareng sama kita," ujar Rahman.
"Ekhemm," Abdar berdehem sebelum berbicara.
"Begini Rahman, Om sangat berterima kasih atas niat baikmu. Tapi sebenarnya itu bukanlah kesalahanmu, justru Om yang harusnya yang berterima kasih banyak ... jika tadi tidak ada kamu di sana, mungkin Om sudah tertabrak." Ujar Abdar sesantai mungkin.
"Jadi tidak ada yang perlu kamu pertanggung jawabkan," kata Abdar sambil melirik Rahimah yang diam mematung kembali menatap ke bawah.
"Sudah tanggung Om, buruan ke kamar mandi buat cuci tangannya" Rahman mendoreng pelan Abdar sampai ke kamar mandi.
"Sini Om, biar saya bantu kasih obat." Abdar di dudukkan Rahman di kursi meja makan setelah kembali dari kamar mandi, kemudian Rahman pergi sebentar meninggalkannya dan kembali lagi dengan kotak P3K.
Rahimah hanya diam melihat intraksi antara Rahman dan Ayah yang tidak di ketahui putranya. Ia seolah tak sanggup untuk bersuara.
"Mana tangannya Om," Dengan ragu Abdar menyerahkan tangannya untuk di obati oleh anak dari wanita masa lalunya.
Sama sekali Abdar tidak merasa sakit di tangannya, pikirannya terbagi sekekali ia melirik Rahimah yang duduk di sebrang mejanya.
"Mama ,..."
"Ehh, ad-ada apa nak?" Rahimah terkesiap, ia tergagap saat ia di panggil oleh Rahman.
"Rahman, gak bisa ngikat perbannya Ma ... bisa gak mama bantuin?"
Rasanya Rahimah ingin menghilang dari tempat duduknya sekarang, walau ia tidak yakin bahwa pria ini adalah ayah dari anaknya. Tapi sekali lagi keraguan itu di tepis oleh kemiripan wajah dari keduanya.
"Ma, buruan."
"Haa," pekik Rahimah.
Abdar yang awal menghadap kedepan, sekarang harus memutar sedikit badannya. Guna di bantu oleh Rahimah ... karena tangan kirinya yang terluka.
Mengambil alih perban yang sudah membalut sebagian tangan Abdar, dengan tangan bergetar ia mengikatnya ... Abdar juga merasakan tangan Rahimah yang bergetar.
Dari jarak sedekat ini, jelas Abdar dapat memperhatihan wajah Rahimah dengan seksama. Sejenak Abdar mengangumi wajah wanita yang polos tanpa make up itu, ini adalah momen yang tidak pernah ia bayangkan.
"Sudah," ucap Rahimah begegas pindah tempat duduk ke kursinya semula.
"Terima kasih," ucap Abdar tulus, ia menatap sendu pada Rahimah ada sedikit sesal yang Abdar rasakan.
"Ayo Om, mari makan," Rahman menyerahkan nasi yang baru saja Rahimah sajikan kepiringnya, dan Rahman mengambil piring baru untuknya.
Susah payah Rahimah menelan nasi di mulutnya. Begitu juga dengan Abdar ... ia bahkan lebih banyak menelan dari pada mengunyah.
Tiba-tiba telepon genggam Abdar bergetar, meletakkan sendok juga garpu dan mengambil selembar tisu ia kemudian menyapu tepian bibirnya sebelum merogoh kantung bajunya.
"Ya Hallo?" kata Abdar meringis saat membaca nama si pemanggil, ia teringat sesuatu.
___
"Sory, tadi ada insiden kecil."
___
"Iya, gue otw."
Menatap layar yang sudah mati, memudian ia melirik Rahman dan Rahimah yang langsung membuang muka.
"Ekhmee .... Emm Rahman, terima kasih atas bantuan dan juga makan malamnya. Sekarang Om harus segera pulang, karena sudah di hubungi teman Oom."
"Sama-sama Om, tapi nasi Om masih ada sisa, apa tidak di habiskan dulu?" tuntuk Rahman pada piring di hadapan Abdar.
"Maaf, jika om tidak bisa menghabiskannya ... karena om sudah di tungguin orang, kebetulan Om juga sudah kenang." tolak Abdar halus.
"Sekali lagi terima kasih, permisi ...." Ujar Abdar menatap Rahman dan sekilas melirik Rahimah, sejenak mata mereka beradu tapi Rahimah buru-buru menundukkan pandang.
"Ayo, biar saya antar," Rahimah memandang kedua punggung itu hingga menghilang dari penglihatannya.
Rahimah memegang dadanya dengan satu tangan, kemudian menatap tangan lainnya karena bergetar. Matanya sudah mengabur oleh genangan air mata, sejak tadi ia sudah menahan diri untuk tidak menangis dan mencoba bersikap biasa di depan putranya dan orang lain.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Om Abdar," pesan Rahman di depan pintu melepas kepergiannya, Abdar menganggung sebelum berlalu dan pergi.
Rahimah segera berdiri membawa piring kotornya ke wastepel saat melihat Rahman kembali.
"Hampir aja Om tadi ketabrak, Ma ... tapi langsung Rahman tarik, trus kita tadi sempat jatuh makanya tangan Om nya bisa dapet luka," jelas Rahman sambil membantu membersihkan meja makan.
"Trus kamu gak apa-apa'kan?" Rahimah melirik sekilas pada Rahman yang datang menghampirinya di wastapel sambil membawa bekas piring kotor lainnya.
"Alhamdulillah, Rahman gak apa-apa kok."
"Biar Mama yang bersihin ... sebaiknya kamu istrahat gih, kamu pasti capek'kan seharian mesti sekolah dan berlatih. Mama habis ini juga langsung istrahat di kamar." usir Rahimah halus, ia membelakangi Rahman tidak berani menatapnya karena takut air matanya tumpah tidak terbendung.
"Kalau gitu Rahman ke kamar dulu ya ma?"
"Iya." Rahman pergi meninggalkan Rahimah sendiri, tanpa ia ketahui Rahimah meneteskan air mata menatap punggung sang putra.
...****************...
"Kemana tu anak? Tadi dia bilang nungguin gue di mobil," kata Adit heran mencari keberadan Abdar.
Adit perpikir mungkin Abdar sedang pergi ke warung yang terdekat, jadi ia duduk berjongkok di samping mobilnya dikarenakan kunci mobilnya juga ada di tangan Abdar.
"Mana kuncinya, tadi sama dia lagi," gerutu Adit celingak celinguk, mencari keberadaan Abdar.
Adit yang tadi tiba-tiba sakit perut, menyarahkan kunci mobilnya pada Abdar karena ia mengatakan akan menunggu di dalam mobil.
Tapi setelah lama menunggu, hingga nyamuk-nyamuk mulai menyerangnya Abdar belum juga datang.
Mendesa tidak percaya, sekarang ia di buat kesal, seandainya tadi kunci mobil itu tidak ia berikan kepada Abdar ... sudah di pastikan, ia akan memilih meninggalkan Abdar sendiri.
Mengingat ia yang belum makan sama sekali, hingga sekarang perutnya terasa keroncongan karena kosong. Semakin mendesa, saat ia tersadar dengan Hp di kantung bajunya.
Dengan perasaan dongkol, karena tidak tahu kemana perginya Abdar ia pun menekan kontak nomer Abdar, tidak perlu menunggu lama teponnya langsung terhubung.
"Hee, DODOOL, OTAK UDANG ... LO DI MANA?" salak Adit marah, saat mendengar sahutan dari sebrang telepon.
"Buruaan, gue udah kenyamukan ini," teriaknya emosi, setelahnya mematikan Hp dan menyimpannya.
Cukup lama Adit menunggu hingga orang yang di tunggu pun datang. "Sialan loo, dari mana ajaa? Gue udah kenyamukan nungguin lo!" ketus Adit saat Abdar sudah di hadapannya.
"Kalau aja tadi kunci mobil sama gue, udah gue tinggalin lo ...," kata Adit bersungut-sungut.
"Coba aja, kalau berani? Elo lupa apa? Kalau ini mobil punya gue," kata Abdar sambil menyerahkan kunci mobil pada Adit dengan tangan sebelah kiri, agar Adit melihat lukanya jadi ia tidak perlu menjelaskan pertemuannya dengan Rahimah.
"Ehh, kenapa sama tangan lo?" bukan kunci yang di ambil Adit, melainkan tangan si pemegang kunci.
"Tadi 'kan udah gue bilang? Ada insiden kecil," ujar Abdar menarik tangannya.
"Buruan, masuk mobil," Adit yang sudah membuka mulut hendak berbicara terhenti karena perintah dari Abdar.
"Emang tadi ensiden apa?" tanya Adit saat sudah duduk di balik kemudi, rasa kesalnya berganti dengan rasa penasaran.
"Gue tadi hampir keserempet mobil, tapi ada anak kecil yang narik gue dan kita jatuh. Dan ini akibat dari jatuh itu."
"Serius lo? Trus elo di obatian anak kecil itu?"
Abdar menganggung.
"Di rumahnya?"
Kembali mengangguk menjawab pertanyaan Adit.
"Seharusnya tadi lo hubungin gue, biar gue susul ... ini gue nunggu di sini malah jadi makanan nyamuk," Kembali kesal karena ingat ia yang kenyamukan.
Abdar tidak lagi menanggapi Adit, ia sibuk dengan pikirannya sendiri meleyang entah kemana. Rasa penasaran terus mengelayut di pikirannya.
BERSAMBUNG ....
Terima kasih semuanya karena masih setia menunggu momen ini, dan akhirnya sudah aku keluarkan setelah lamanya di semedikan.😊
Jangan lupa bantuannya untuk karya ini, like, komen, gift, vote serta 5 bintang akan sangat membantu untuk kelangsungan cerita selanjutnya, biar Author-nya tambah semgangat ...!
Yang sudah ngasih aku ucapkan banyak-banyak terima kasih, semoga selalu di beri kesehatan dan pintu rezkinya di perluas. Amin🤲🤗
Salam dari Urang Banua😘
Noormy Aliansyah