Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 24



Ternyata tidak hanya main-main, Andi dan Riki benar-benar datang dengan membawa tas di bunggung mereka yang ternyata isinya adalah baju sekolah untuk besok, mereka ingin menginap di rumah Rahman. Tentu dengan senang hati Rahimah mengizinkannya.


Rahman yang keluar rumah untuk membakar sampah ia pun melihat Hawa yang duduk di teras rumahnya sedang bersantai dengan cemilan di tangannya.


Iseng Rahman pun menyap. "Mbak Hawa lagi ngemil yah?" Hawa tidak menjawab ia bahkan menatap dengan wajah masam, Rahman benar-benar heran melihatnya.


Khadizah keluar dari rumah Rahman dan ia juga melihat putrinya yang tengah bersantai, membuat ia juga mengajukan pertanyaan tapi berbeda.


"Hawa kenapa cuman duduk aja di situ? Sinih bantuin tante Imah dan Rahman berkemas." Khadizah berujar memerintahkan Hawa.


"Siapa juga yang nyuruh pindah? Kalau mau berkemas gak usah ajak-ajak." Ketus Hawa beranjak masuk ke rumahnya.


"Hawaa.. kenapa ngomongnya kaya gitu?" Khadizah segera menyusul Hawa yang tidak mendengar tegurannya.


Rahman pun ikut menyusul, ia mematung di depan pintu saat melihat Hawa yang menagis berbicara pada Mamanya.


"Aku kesel sama Rahman... kenapa pakai pindah segala? Kalau dia pergi, nanti siapa yang nemenin aku ngerjain tugas? Siapa yang nemenin aku di rumah? Kenapa dia mesti pindah?" Renteten pertanyaan yang di ucapkan Hawa sambil menangis saat Khadizah datang menegurnya karena tidak sopan padanya.


"Sayang.. kamu marah kerena Rahman yang akan pindah?" Tanya Khadizah yang mulai mengerti dengan keadaan Hawa.


"Iya.. aku maraahh, aku keseell, aku bencii sama dia. Kenapa musti ninggalin kita?" Khadizah mendekap Hawa dalam pelukannya agar putrinya bisa lebih tenang.


"Kenapa kamu marah seperti itu? Harusnya kamu mendukung Rahman. Dia mempunyai peninggalan Kakeknya di Jakarta, yang ingin ia rawat sendiri. Cuman ruko itu yang di miliki tante Imah, mungkin Rahman ingin membahagiakan Mama nya dengan cara seperti ini agar merasa lebih dekat dengan Kakek Ramlan." Khadizah membelai kepala Hawa yang terbungkus kerudung dengan sayang.


"Kita juga masih bisa ketemu sama Rahman kalau kita berkunjung ke rumah Nenek, kitakan pasti nginep? Jadi Hawa tetap bisa minta di ajarin tugasnya sama Rahman, walaupun gak sesering biasanya tapikan masih bisa sayang?" Hawa masih menangis sambil perpikir tenang dalam pelukan Mamanya.


"Tapikan kita sekarang jarang berkunjung ke rumah Nenek Ma.." Keluhnya setelah hening sejenak, ia pun sudah berhenti menagis.


"Itukan karena kamu sekolah sayang, jadi kita gak bisa sering-sering kesananya." Khadizah mengusap pipi Hawa yang bekas menangis.


Rahman yang sejak tadi diam di depan pintu pun berbalik pulang, ia akan membiarkan Ibu dan anak itu berbicara berdua.


Rahman kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, ia pun mulai membakar sampah kertas-kertas bekas sekolah dan kertas bekas milik kakeknya. Tak sengaja ia menemukan berkas milik sang Kakek.


Di bukanya map tersebut ternyata terdapat materi tentang pengembangan usaha milik sang kakek, ia pun dengan serius menelitinya hingga ia tersentak kaget saat ada yang menepuk pundaknya.


"Aman?"


"Allahu Akbar." Pekiknya sambil menusap dadanya saking kagetnya.


"Hehehe kaget ya? Maaf, gak sengaja tadi. Udah selesai belom bakar sampahnya" Kata Andi yang menusulnya.


"Udah.. yuk kita masuk" Ajak Rahman berjalan sembari meneteng berkas.


"Itu apa Man?" Tanya Andi penasaran.


"Bukan apa-apa, ini hanya kertas-kertas bekas milik Kakek." Tiba di dalam rumah ia pun menyimpan nya kedalam tasnya.


Tidak lama setelah mereka masuk rumah, Khadizah dan Hawa datang. Rahman yang sedang memasukkan piagam dan pialanya kedalam kotak tidak menyadari bahwa Hawa sudah di dekatnya.


"Rahman.." Segera menoleh Rahman pun tersenyum pada Hawa.


"Iya Mbak ada apa?"


"Maafin Mbak ya? Kalau tadi Mbah ketus sama Rahman?" Ucap Hawa tulus.


"Gak apa-apa kok Mbak, Rahman tau kalau Mbak itu bukan marah sama Rahman, tapi Mbak itu sayang sama Rahman." Sudut bibir Hawa terangkat menampilkan senyum yang mereka.


"Makasih Rahman, Mbah itu memang sayang sama kamu. Kamu udah Mbak anggap kaya adik Mbak sendiri." Kata Hawa lega.


"Rahman juga sudah anggap Mbak Hawa itu Kakak Rahman sendiri." Hawa ikut memasukkan piala ke dalam kotak.


Rahman tau, ia yang mengenal Hawa tidak pernah marah atau bicara ketus tapi tiba-tiba marah membuat Rahman percaya, ditambah tadi ia yang melihat Hawa meluapkan kesedihannya bersama sang Mama, kalau Hawa marah karena merasa sedih akan ditinggalkan olehnya. Jadi ia tidak pernah menganggap serius, ia malam meresa sangat senang karena telah di sayangai seorang Kakak seperti Hawa.


"Nanti kalau Mbak datang ke Jakarta Kamu harus bantuin Mbak ngerjain tugas yah?" Ucapnya di sela sibuknya.


"Oke Mbak dengan senang hati." Kata Rahman mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum. Hawa tertawa lepas melihatnya.


Pekerjaan mengepang barang pun menjadi lekas selesai karena banyak yang membantu.


Pengemasan selesai waktu ba'da Ashar. Khadizah dan Hawa pun izin pamit, mereka segerah mandi dan hendak melaksanakan Sholat. Karena barang-barang yang di tumpuk menjadi satu menjadikan ruangan tengah terasa luas, mereka pun dapat melaksanakan Sholat berjamaah.


Selesai Sholat Rahimah membuat makanan yang manis-manis agar stamina mereka cepat terasa pulih. Mereka menikmati kue martabak manis dengan di temani teh hangat.


"Wah tante Imah jago ya bikin kue, bisa bikin warung kue ini namanya kita tante." Kata Riki yang memang jago dalam urusan berdagang. Rahimah tertawa mendengar ucapan Riki ia bahkan tidak terpikir untuk membuka usaha makanan.


"Kamu ini ada-ada aja Ki, ya sudah makan yang banyak tante mau ke tempat tante Dizah dulu, mau kasih kue ini. Mumpung masih anget." Kata Rahimah berjalan keluar sambil membawa kue manis tersebut.


"Aman nanti kalau sudah di Jakarta jangan lupa yah sama kami di sini." Ucap Riki berubah sendu saat kepergian Rahimah.


"Gak akan, Aku pasti tetap ingat sama kalian. Kalian adalah sahabat Aku yang gak bisa tergantikan." Ujar Rahman menyakinkan.


Jelas saja Rahman tidak akan pernah melupakan Andi dan Riki, karena merekalah ia bisa memiliki sahabat dan karena mereka jugalah ia jadi bisa bersebeda. Bagi Rahman mereka adalah orang yang akan melengkapi sejarah hidupnya kelak.


Ia berharap walau terbentang jarak di antara mereka, tapi persahabatan ini akan tetap terjaga hingga mereka tumbuh dewasa.


Kembali mereka menikmati kue manis buatan Mamanya Rahman sambil bersantai, mereka pun mengenang saat-saat mereka bersama dan membuat janji akan berkumpul lagi jika waktu memberi kesempatan di masa depan bagi mereka semua.


...****************...


"Bod*hhh" Teriaknya nyaring membentak seseorang.


"Kau ini benar-benar bod*hhh, kenapa kau menyuruh orang sampai bisa tertangkap mengawasih seseorang?" Hardiknya membuat orang yang tengah kena marah tertunduk takut.


"Maaf tua." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Informasi apa yang sempat ia dapatkan?" Ujarnya yang sudah mulai tenang tapi tetap berbicara dingin.


Takut-takut ia pun menjawab sambil menahan degup jantung yang perpacu sangat kencang.


"Tii... tii.. tidak ada tuan." Ucapnya semakin menunduk.


"Bangg saatt." Umpatnya kembali geram sambil melempar pas bunga ke lantai di hadapan bawahannya berpijak.


"Baraakkk." Pas bunga yang terbuat dari kaca bening itu pecah seketika dan berhamburan di mana-mana. Reflek membuat anak buahnya mundur beberapa langkah karena kaget.


"Sa.. saya minta maaaf tuan.." Sungguh ia benar-benar merasa takut saat ini, kakinya bahkan gemetaran karena amukan sang majikan, tak terasa pelipisnya pun mengeluarkan keringat panas dingin walau AC nya tengah aktif.


Di dalam hatinya ia merutuki kebodohan anak buahnya yang tidak becus, sehingga membuat ia terkena getahnya.


"Kau bahkan melakukan dua kesalahan sekaligus Tomi" Ucap Cristian menyilangkan kedua tangannya persedekap sambil menyandarkan punggung tegapya.


Saat ini Cristian sedang berada di ruang kerja Cafe nya, setelah tadi dia baru saja melakukan metting di Cafe itu tapi harus kembali lagi karena kedatangan Tomi di kantornya dan keberadaan Adit disana cukup menggangu pembicaraannya, ia pun memerintahkan Adit untuk tetap berada di kantor itu sementara ia dan Tomi kembali ke Cafe tersebut dengan alasan ada urusan yang akan ia selesaikan.


"Hampir saja kau memberi tahukan penyelidikan ini kepada Adit. Dan sekarang kau tidak bisa memberi informasih lebih lanjut terkait kepastian wanita itu tinggal?" Menatap tajam kepada Tomi seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


"Maafkan kesalahan Saya tuan." Lagi dan lagi, hanya kata maaf yang di ucapkan Tomi pada Tuannya.


"Aku tidak membutuhkan maafmu, yang Aku inginkan adalah hasilnya. Aku ingin menyelesaikan masalah yang dulu sempat Aku buat tanpa sadar, setelah itu Aku tidak akan memikirkan masalah ini lagi." Bentaknya tinggi, Tomi terlonjat kaget karena ketakutan yang masih menguasainya.


"Cukup temui dia.. dan selesaikan masalahku yang lalu, dia pasti akan senang setelah mendapatkan uang kompensasi itu." Ujarnya beranjak pergi meninggalkan Tomi sendiri mematung di dalam ruangan kerjanya.


Memasukkan salah satu tangannya kedalam saku kantung celananya, dengan berjalan tegap Cristian meninggalkan Cafe tersebut lalu memasuki mobil mewahnya.


Setelah emosi yang sempat menghinggapinya membuatnya merasa malas jika harus kembali lagi ke kantor, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Ke rumah." Perintahnya singkat kepada sang supir, dengan patuh supir menjalankan mobilnya menuju kediaman bosnya.


Tiba di halaman rumahnya Cristian langsung masuk ke dalam rumah yang di sambut oleh pelayaannya, ia pun hanya menyahut dengan gumaman.


Menaiki anak tangga menuju kamarnya saat ia melewati kamar Maryam tiba-tiba langkahnya terhenti manakala mendengar suara keponakannya yang tengah mengaji. Karena daun pintu yang setengah terbuka membuat Cristian dapat melihat keponakan yang mengaji di dampingi oleh Mamanya.


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


وَالضُّحٰىۙ -١



waḍ-ḍuḥā



وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ -٢



wal-laili iżā sajā



مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ - ٣



mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā



وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ - ٤



wa lal-ākhiratu khairul laka minal-ụlā




wa lasaufa yu'ṭīka rabbuka fa tarḍā



اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ - ٦



a lam yajidka yatīman fa āwā



وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ - ٧



wa wajadaka ḍāllan fa hadā



Cristian bergeming mendengar suara merdu yang di lantunkan oleh Intan, membuat hatinya terasa sejuk dan damai. Hatinya bergetar meresapi setiap do'a yang ia dengar walau tidak tau apa artinya. Entah kenapa jauh di lubuk hatinya, ia merasa tertarik ingin mengetahuinya lebih dalam tapi merasa malu.


وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ - ٨



wa wajadaka 'ā`ilan fa agnā



فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ - ٩



fa ammal-yatīma fa lā taq-har



وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ - ١٠



wa ammas-sā`ila fa lā tan-har



وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ - ١١



wa ammā bini'mati rabbika fa ḥaddiṡ 



"Ka Tian sudah pulang?" Panggilan dari maryam membutnya sadar dari lamunannya dan ia pun mengangguk dan hendak berucap.


"Kenapa pulangnya lebih cepat?" Belum Cristian menyahut kembali pertanyaan Maryam dia berikan, Maryam sudah puas dengan anggukan Kakaknya tanpa jawaban.


"Apa ada masalah di kantor."


"Enggak, Kakak hanya capek makanya pulang lebih dulu." Dengan lekas ia menjawab.


Maryam hendak mendekati Ctistian tapi keburu Intan bersuara.


"Ayo sini Om Tian, liat Aku ngaji.."


"Gak apa-apa, tadi Om hanya ingin ke kamar Om dan kebeteluan lewat sini pintunya tidak di tutup." Ucapnya.


"Ya sudah Om mau istrahat dulu, Intan lanjutkan ngajinya." Cristian pun beranjak dari tempatnya berdiri kembali menuju kamarnya.


"Ayo lanjutkan ngajinya." printah Maryam pada sang putri.


Dengan semangat Intan pun melanjutkan mengajinya sampai selesai.


Sementara Cristian di dalam kamar tengah memegang dadanya yang tiba-tiba menjadi terasa berdegup begitu kencang, setelah menolak tawaran Intan.


Ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan saat mendengar Intan mengaji, tapi tidak bisa di jabarkan bagaimana rasanya. Akhirnya Cristian memilih merebahkan diri di atas kasurnya sambil melihat langit-langit kamarnya, menerawang jauh akan bagaimana nasibnya jika ia memilih jalan yang sama dengan Maryam. Apakah ia bisa dan sanggup, akankah ia di terima dengan tangan terbuka.


Cukup lama ia berpikir dan menimbang-nimbang tentang keinginannya yang tiba-tiba hatinya tergerak memilih pilihan ini. Seletah ia merasa yakin, segera Cristian bangkit dari pembaringannya dan lekas mengganti bajunya menjadi baju rumahan dan pergi menemui Maryam.


Tiba di kamar adiknya ternyata Intan sudah selesai mengaji dan sekarang gadis kecil itu tengah bermain boneka-bonekaan di dekat ranjang bersama Maryam.


"Tok.. tok.." Menoleh keduanya mereka pun bersuara berbarengan.


"Ayo masuk Kak."


"Ayo masuk Om." Cristian terkekeh mendengar karena merasa lucu, masuk ke dalam ia pun ingin mengutarakan perasaannya pada sang adik.


"Emm Maryam.. bolehkah.." Suaranya menggantung di udara, dengan gugup dan ragu-ragu Cristian berbicara.


"Apaa?" Tanya Maryam merasa heran.


"Emm sebenarnya Kakak ingin meminta pendapatmu." Bingung ingin memulainya dari mana.


"Katakanlah, apa yang ingin Kakak tanyakan?"


Masih ragu tapi benar-benar ingin mengutarakannya.


" Eemmm..."


"Yaaa.."


Hening.. karena Cristian yang terlalu perpikir.


"Apaan sih Om?" Cristian terlonjat kaget karena Intan yang berteriak.


"Astaga.." Maryam tertawa geli.


"Kenapa sih Kak?"


"Maryam.." Lagi-lagi menggantung, membuat Maryam dan Intan saling pandang. Mereka merasa geram melihat Cristian yang bertele-tele padahal itu bukanlah sikap dari seorang Cristian Santiago.


"Kalau Kakak masih tidak ingin bicara, sebaiknya Aku gak akan dengerin Kakak lagi." Ancamnya.


"Eh jangan-jangan.."


"Ya udah ayo ngomong." Desaknya.


"Gimaaana.. kalllaau... Kakaak ingin.. sepertimu..?" Ucapnya terbata.


"Maksudnya..? Makaudnya Kakak ingin pakai kerudung juga gitu?" Tanya Maryam ambigu.


"Iish.. enak aja." Sungutnya kesal.


Maryam tertawa betsama Intan setelah pertanyaan konyolnya.


"Trus apa?"


Menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan agar rasa gugupnya berkurang, dia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba gugup di hadapan sang adik. Seletah merasa cukup tenang ia pun dengan mantap berbicara.


"KAKAK INGIN MASUK ISLAM." Ucapnya tegas.


Maryam terkejut, bahkan mulutnya ternganga tanpa sadar.


"Emangnya Om gak Islam ya?" Pertanyaan polos dari Intan menyadarkan Maryam, Cristian merasa malu mendapat pertanyaan dari Intan.


Tanpa menghiraukan Intan, Maryam berlari dan memeluk sang Kakak dan mengucap syukur.


"Alhamdulillah, dengan senang hati Maryam akan mencarikan Kakak seorang Ustad." Cristian tersenyum lega, ia merasa bebannya menguap sudah.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Yang belum mampir di karya pertama ulun, kalau ingin mengenal bahasa daerah ulun, bisa mampir di karya Jalan Takdir. Sekali lagi terimakasih..😘



#salamkakawananbarataan


(salamtemantemansemua)


Salam dari Urang Banua😊✌


...Noormy Aliansyah...