Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 58



Setelah mendengar suara Rahman, Rahimah seperti enggan memutus telepon dari putranya, karena baru sebentar berbicara.


Rasa rindu yang menumpuk dan memenuhi dirinya membuatnya lupa akan masa yang sudah sampai pada waktu sholat Isya.


Dengan berat hati Rahimah menutup telepon, tapi ia meminta Rahman untuk berjanji agar menghubungi lagi besok pagi.


Semangat hidupnya kembali berkobar. Selepas sholat Isya Rahimah makan bersama dengan yang lain. Ia pun dengan penuh semangat membagikan kabar bahagianya kepada Ustadzah Habibah dan Khadizah.


Tentu mereka juga sangat senang mendengar kabar itu. Apa lagi Hawa, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Rahman yang sudah ia anggap seperti adiknya itu.


Sempat berbincang-bincang sebentar dengan Ustadzah Habibah dan yang lain mengenai kesehatan Intan, sebelum akhirnya mereka pamit istrahat.


Di dalam kamar Rahimah masih memikirkan sang putra dengan perasaan yang begitu bahagia, tidak sabar menunggu kepulangan anaknya.


Tapi seketika berubah saat ia terkenang tentang cerita Rahman mengenai penembakan yang terjadi kepada Abdar.


Cerita yang ia dengar ... jika tidak ada Abdar, maka putra nya-lah yang tertembak. Di sudut hatinya, Rahimah sangat berterimakasih kepada Abdar.


Mengetahui pengorbanan Abdar demi menyelamatkan nyawa putranya, Ia akan membalas budi dengan memaafkan kesalahan yang pernah Abdar buat dulu. Rahimah berjanji akan melupakan masa lalu dan menganggapnya tidak pernah ada guna membangun masa depan yang lebih baik bersama Rahman.


"Gak nyangka, ya? Kalau gak ada Mas Abdar, pasti yang tertembak itu Rahman," ternyata bukan hanya Rahimah yang kepikiran, Dinda pun demikian.


Tadi Rahimah sempat menceritakan tentang penembakan itu ketika berkumpul dengan Ustadzah Habibah.


Tidak tahu ingin berkata apa, Rahimah pun hanya mengangguk membenarkan.


"Imah," seketika Rahimah menoleh kepada sahabat serasa saudara yang perlahan ikut duduk di tepi ranjang.


Rahimah mengernyitkan kening ketika melihat wajah Dinda yang nampak serius.


"Aku pengen tanya sesuatu, ini serius?" Ujar Dinda menatap lekat pada bola mata kecoklatan milik Rahimah.


"Tapi janji dulu, kamu gak bakalan marah?" sambung Dinda. Rahimah menurunkan pandang pada jari kelingking yang di sodor kan Dinda.


Ia semakin heran, pembicaraan serius apa yang akan di tanyakan? Sampai-sampai harus berjanji.


"Apaan sih? Kok pakai janji segala?" tepisnya.


"Ihh, janji dulu." Kembali Dinda menyodorkan jari kelingking.


Tidak mendapat sambutan, Dinda langsung mengaitkannya pada jari Rahimah dengan paksa.


Rahimah menghela nafas pasrah. "Ya, udah. Emang apaan?" Entah kenapa perasaannya menjadi was-was mendapati tindakan Dinda, ia takut jika apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang di pikirkan Dinda.


"Ini tentang ...." Dinda menggantung ucapannya. Sebelum menjawab dengan pertanyaan, Dinda diam sejenak sambil menatap Rahimah.


"Rahman, dan ayahnya."


Jedaaar.


Tebakannya benar, apa yang ia pikirkan ternyata memang benar. Pasti Dinda juga curiga jika Abdar adalah ayahnya Rahman.


Jika tidak, mana mungkin tiba-tiba bertanya tentang ayahnya Rahman di saat Dinda membahas penembakan Abdar.


Mengerjapkan mata beberapa kali lantas ia pun balas menatap Dinda agar tidak terlihat kekhawatirannya.


"Apa?" tanya Rahimah pendek dengan setenang mungkin.


"Apa laki-laki itu adalah, Abdar?" tidak usah diperjelas, Rahimah sudah bisa menebak kemana arah membicaraan yang di bahas Dinda.


Membuang muka menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong, Rahimah diam membuat suasana terasa begitu sepi.


Bola mata Dinda bergerak-gerak gusar karena Rahimah yang tidak bersuara sama sekali.


"Kenapa, kamu bisa kepikiran ke situ?" tanya Rahimah lirih dengan tatapan masih kedepan memecah keheningan.


"Bukan cuman Aku, mungkin jika orang lain melihatnya ... Pasti akan berpikir seperti itu," aku Dinda jujur.


Menoleh kembali kepada Dinda.


"Aku, Aya dan Nurul. Kami sudah pernah membahas ini tanpa sepengetahuan Kamu, dan mungkin Ustadzah Habibah juga berpendapat seperti itu."


Lagi, Rahimah menghela nafas perlahan. Memang kenyataan, jika wajah yang mirip akan membuat orang berasumsi sebelum bertanya.


"Kemarin, Aya juga cerita ... kalau mas Zidan, heran lihat wajah Abdar dan Rahman yang mirip katanya."


"Mas Zidan pikir, kalau Abdar adalah ayah Rahman, terus Mas Zidan nanyain Aya ... emang ayahnya Rahman siapa katanya?" ujar Dinda memaparkan sambil menggapai tangan Rahimah dan menggenggamnya lembut.


"Kamu mengharap apa, dari jawaban ku?" tanya Rahimah.


"Jujur," balas Dinda.


Menggeser duduknya agar menghadap ke arah Dinda, Rahimah pun membalas genggaman tangannya.


"Kejadian itu sudah sepuluh tahun yang lalu, dan itu adalah pertemuan pertama dan yang terakhir kali."


"Sekarang, aku tanya sama Kamu ... apa kamu akan ingat dengan orang yang cuman sekali kamu temui dan kembali bertemu dalam waktu sepuluh tahun kemudian?" Dinda menggeleng.


"Kalau kamu mau aku Jujur! Jujur ... aku sama sekali gak ingat sama wajah lelaki itu, tapi jika dilihat dari wajah mereka berdua ... sepertinya memang begitu," ujar Rahimah jujur.


"Kalau memang, dia adalah Ayahnya Rahman ... Kamu mau berbuat apa?" tanya Dinda ingin tahu.


Rahimah hanya mengangkat kedua bahunya.


"Apa kamu ingin minta dia tanggung jawab, atas hadirnya Rahman?" dengan pasti Rahimah menggeleng.


"Memang tidak mudah bagiku untuk melupakan kejadian dulu, tapi bukan berarti aku akan menuntun untuk di nikahi olehnya, semantara kejadian itu sudah teramat lama. Jika memaafkan adalah hal yang terbaik ... maka aku sudah memaafkannya. Apa lagi Rahman bilang, karena mas Abdar ia selamat dari tembakan."


"Maka, aku pikir itu sudah cukup untuk mengganti kesalahannya yang dulu dengan cara seperti ini. Jika dialah orangnya dan untungnya dia masih selamat."


Dinda mengangguk mengerti.


"Apa kamu akan menikah?"


Pertanyaan itu mengusik Rahimah. Bukankah, tadi ia sudah mengatakan tidak menuntut untuk di nikahi.


"Aku dengar, kamu mau di jodohkan dengan Ustad Abizar?" Ujar Dinda menjelaskan maksudnya.


"Ustadzah Habibah memamg menyuruh ku untuk menikah! Tapi jika itu adalah Ustadz Abizar, maka aku merasa tidak pantas untuknya. Dia terlalu sempurna untuk seorang wanita biasa seperti aku Ini." Beranjak dari duduknya, berjalan ke arah jendela.


"Lalu bagaimana jika, Ustadz Abizar atau mas Abdar ingin menikah denganmu? Yaaa ... siapa tahu'kan, mas Abdar juga menyadari jika Rahman itu adalah anaknya. Trus Ustadz Abizar, merasa nyaman sama Kamu?" Ikut berjalan mendekati Rahimah yang berdiri di depan jendela kaca.


Kedua nya menengadah, melihat bulan yang hanya menampakan sepertiganya dengan ribuan bintang di sekitar bulan.


"Sepertinya itu tidak mungkin." Sanggah Rahimah sambil menggeleng samar tetap menatap ke arah langit.


"Seperti yang sudah ku katakan tadi, Ustadz Abizar tidaklah pantas untukku. Seorang wanita yang tidak pernah menikah tapi memiliki seorang anak, sedangkan beliau ... beliau adalah seorang Ustadz. Bagaimana nanti pendapat keluarganya jika mengetahui itu!"


"Ingit surat Yasin ayat 40?" tanya Rahimah.


"Mungkin seperti itu jika di ibaratkan, Aku juga tidak berharap bisa bersanding dengannya. Dan untuk orang yang sudah memberi kehidupan bagi Rahman, sepertinya juga tidak mungkin."


"Dia baru mengenal kami, tidak mungkin langsung ingin menikah dengan ku walau menyadari Rahman anaknya. Bisa jadi dia juga sudah mempunya calon pendamping," semenjak Rahimah mengajari Intan mengaji, ia tahu sedikit tentang Abdar yang belum menikah.


"Kenapa mesti surat Yasin sih? Aku kan lupa sama artinya, kenapa gak pakai ibaratkan ... bagaikan pungguk merindukan bulan. Itu lebih mudah di ingat," keluh Dinda.


"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya," jawab Rahimah sambil menatap lembut bulan sabit.


Menghela nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan sembari menutup mata.


"Ayo tidur, ini sudah terlalu malam." Ajak Rahimah berbalik badan berjalan kembali ke arah ranjang di ikuti Dinda.


...****************...


Abdar terbangun dari tidur singkatnya. Mengerjapkan mata beberapa kali guna menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada kornea matanya, ia pun merasa begitu dahaga.


Detik berikutnya mata itu terbuka sempurna. Melihat sekeliling ruangan yang bertembok putih dan bertirai hijau serta khas dengan ciri bau obat-obatan, Abdar pun tersadar di mana ia berada sekarang.


Mengulang memori tentang kejadian tadi siang menjelang sore ketika ia di dorong Shandy dan di tembak oleh seseorang.


Ia pun khawatir saat mengingat Rahman yang tertindih oleh dirinya. Apa Rahman ikut terluka, Ingin bertanya, tapi tidak ada siapa-siapa.


"Awak, dah sedar pakcik?"


(Anda, sudah sadar tuan?)


"Suster, apa anda melihat teman saya?" tanya Abdar menatap perawat yang usianya lebih muda dari Maryam.


"Teman? Apa maksud awak tu ... kawan?" balas bertanya.


(Teman? Apa maksud anda itu ... teman?)


"Kawan awak pesan, dia kata nak rehat kat hotel. Esok pagi balik."


(Teman anda tadi titip pesan, dia bilang mau istirahat di hotel. Besok pagi akan kembali.)


Abdar mengangguk mengerti. Kembali ia merasa haus kemudian bertanya.


"Apa ada air minum, Suster? Saya ingin minum."


Sang suster tidak langsung menjawab karena ia tidak terlalu mengerti bahasa Abdar, ia mencoba mengulang kata dalam otaknya agar bisa di serap.


"Ya, tetapi anda perlu melakukannya secara beransur-ansur, pakcik."


(Boleh, tapi harus bertahap ya tuan.)


*Gays ... ti**dak semua orang ya, bisa minum setelah operasi. Jika ada yang melakukan operasi besar dan merasa haus ... sebaiknya bertanya dulu pada dokter atau perawat sebelum minum. Biasanya akan diperbolehkan minum jika pasien sudah buang gas (kentut*).


Dengan di bantu perawat Abdar bisa duduk dan minum, usai minum ia kembali berbaring masih di bantu oleh perawat.


"Terimakasih," ucap Abdar tulus.


"Sama-sama, pakcik. Esok pagi awak akan dipindahkan ke bilik pesakit, Nanti saya minta maaf."


(Sama-sama tuan. Besok pagi anda akan dipindahkan ke ruang pasien, kalau begitu saya permisi.)


Abdar mengangguk pelan sembari perawat itu berlalu pergi.


Menatap langit-langit kamar itu, Abdar teringat dengan Shandy yang mengatainya seorang pembunuh. Sepertinya ia akan mencari tahu apa sebenarnya yang di maksud Shandy. Pembunuh kakak. Gumam nya.


...----------------...


Keesokan paginya. Sesuai janji, Rahman menghubungi sang mama selepas sholat subuh.


Usai saling melepas kangen, mereka kembali ke rumah sakit.


Tidak memakan waktu lama, karena memang hotelnya dekat rumah sakit mereka cepat sampai hanya dengan berjalan kaki.


Di lorong rumah sakit, Rahman memperhatikan setiap ruangan-ruangan yang mereka lewati. Dari kejauhan di ujung lorong tepat saat di persimpangan jalan sempat mencuri perhatian Rahman.


Terlihat seorang anak laki-laki seusianya dan perempuan tengah menangis sambil berpelukan.


"Ada apa, Rahman?" tepuk Candra di bahunya karena melihat Rahman yang berhenti.


"Tidak apa-apa, hanya saja ... itu." Tunjuknya kepada dua anak tadi.


Mengikuti tunjuk Rahman, Candra akhirnya mengerti.


"Mungkin ada keluarganya yang meninggal, ayo," Ajak Candra merangkul bahu Rahman.


Menyusul Adit yang lebih dulu menaiki lift. Tiba di ruang observasi ternyata Abdar sudah akan di pindahkan ke kamar pasien.


Jadi mereka langsung melanjutkan perjalanan ke bangsal yang akan di tinggali Abdar. Dengan menggunakan kursi roda Abdar duduk di dorong Adit.


Rahman melirik sekilas wajah Abdar dan tangan yang terbungkus penyangga yang menggantung di lehernya.


Ia baru menyadari jika wajahnya sedikit mirip dengan Abdar, mungkin karena ia adalah anak-anak jadi selama ini ia tidak terlalu memperhatikan dan tidak memikirkan.


Saat kejadian yang membuat Abdar jatuh di atas tubuhnya kemarin, Rahman bisa melihat dengan jelas dalam jarak yang begitu dekat dan sekarang ia lebih sering melihat wajah Abdar.


"Kamu gak apa-apa kan, Rahman ... waktu tertindih om?" tidak sengaja mata mereka bertemu.


Hati Abdar bergetar.


Tapi Rahman bersikap biasa saja dan langsung menggeleng pelan.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Abdar kembali melihat lurus kedepan.


"Sebaiknya Rahman pulang saja lebih dulu bersama Kamu." Menoleh kepada Candra.


"Baiklah, kami akan pulang setelah sarapan di kantin dulu. Sebelumnya biar kami mengantar kau sampai kamar."


"Sebentar lagi kepolisian akan datang, kalian bisa kembali menggunakan helikopter bersama polisi dari Jakarta." Adit menimpali.


"Ya, itu lebih bagus. Kalau menggunakan pesawat, aku takut akan di tangkap saat melewati imigrasi," canda Candra seketika mereka tertawa.


Jelas saja mereka tidak bisa naik pesawat di karenakan mereka yang tidak membawa Visa. Jika tidak ada bantuan pihak kepolisian waktu itu, tentu mereka tidak semudah itu menumpang di kapal ferry dan sekarang mereka juga harus kembali dalam lindungan polisi sama seperti kemarin.


Tiba di bangsal, Abdar langsung istrahat di temani Adit dan Candra izin pamit ke kantin sambil menunggu polisi datang.


"Kalau begitu saya pergi membawa Rahman Sarapan dulu, nanti kalau polisinya sudah datang, hubungi saya."


Usai berpamitan Rahman dan Candra segera turun ke lantai satu.


Di lantai satu lagi-lagi Rahman melihat anak kecil yang tadi menangis sambil berpelukan tapi sudah tidak menangis lagi dan berpapasan dengannya.


"Bella tak payah takut...ada abang."


(Bella, kamu tidak perlu takut ... ada kakak.)


"Bang mail, tiada siapa yang akan sayang kita."


(Bang mail, tidak akan ada yang sayang sama kita.)


"Kau tidak perlu risau tentang mereka, abang besar yang akan mencintai kau."


(Tidak perlu pedulikan mereka, kakak yang akan menyayangimu.)


Samar Rahman mendengar percakapan keduanya, walau tidak menggunakan bahasa Indonesia Rahman sedikit mengerti arti pembicaraannya.


"Kita makan dulu," ujar Candra yang berjalan di depan saat sudah dekat dengan kantin.


...----------------...


Sementara itu ....


"Segera hubungi Tomi, dan cari informasi tentang wanita yang menolong Sherlin waktu itu," ujar Abdar tiba-tiba saat hanya ia dan Adit saja di kamar Inapnya.


"Emang kenapa?" tanya Adit.


"Kemarin Shandy bilang, kalau gw adalah pembunuh. Gw takut ini ada kesalah fahaman tentang kematian Sherlin. Mungkin saja wanita itu sempat berteman dengan Sherlin sebelum dia meninggal."


"Jadi, ini tujuan Shandy menculik Intan dan Rahman agar dia bisa balas dendam."


"Emm, sepertinya iya."


"Baiklah, gw akan menghubungi Tomi." Mengeluarkan Hp di saku baju.


"Assalamualaikum, Tomi ...." Adit pun memerintahkan tugas untuk Tomi agar bisa menemukan wanita itu.


"Kapan gw, bisa keluar?"


"Sebentar lagi dokter akan ke sini, nanti lu tanyain aja sendiri," ucap Adit santai.


Abdar berdecak kesal melirik sang asisten.


"Sebelum kita kembali ke Indonesia, gw pengen nemuin Shandy dulu. Kalau pun masalah ini belum selesai, kita akan tetap di KL untuk mengurusnya."


"Ok," jawab Adit pasrah. Ia tahu setelah ini akan ada banyak pekerjaan yang menantinya pulang.


Bau-baunya, lembur lagi ini. Gumam Adit dalam hati .


BERSAMBUNG ....


Terimakasih karna sudah mau membaca karya receh saya, semoga kalian suka. Mohon dukungan like dan komen karena itu sangat berharga buat para Author biar semangat nulisnya. Kalau berkenan jangan lupa kasih bunga atau kopi buat menemani begadang.๐Ÿค— Koin juga boleh๐Ÿ˜˜ Semoga rezeki kalian di perluas dan di mudah kan . Amin ๐Ÿคฒ


Sambil nunggu Rahman balik ke Indonesia, saya mau rekomendasi kan cerita yang juga seru. Siapa tahu kalian suka.