
Rahimah tersentak dari tidurnya saat mendengar suara azan berkumandang, ia pun lekas bangkit dan duduk. Sejenak ia diam mengingat Rahman, raut kesedihan tidak pernah hilang dari wajah cantik nya.
Melirik jam ternyata sudah masuk waktu magrib. Rahimah turun dari ranjang, berjalan gontai keluar kamar.
"Imah." Tepat saat ia menutup pintu, suara wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan air yang masih membasahi wajahnya mendapat perhatian penuh dari Rahimah.
"Bu, Usyadzah," balas Rahimah dengan suara yang bergetar. Rahimah berlari kecil guna menggapai tubuh ringkih itu.
"Sabar Imah." Usapan lembut di punggung Rahimah mengiringi tangisnya saat sudah memeluk Ustadzah Habibah.
"Ayo salat dulu," ajak Beliau mengurai pelukan sembari mengusap air mata yang berjatuhan di pipi Rahimah.
Mengangguk kecil, ia pun berjalan menuju kamar mandi. Berpapasan dengan Dinda yang sepertinya juga selesai mengambil whudu.
Dinda sempat menyentuh bahu Rahimah lembut tanpa suara kemudian berlalu memberinya ruang untuk berwhudu.
Usai mengambil whudu Rahimah bergabung dengan Ustadzah Habibah dan Dinda. Nurul dan Soraya sudah pulang sewaktu Ustadzah Habibah datang.
Mereka bertiga-lah yang mengabari Ustadzah Habibah di waktu Rahimah masih tidur.
Kini mereka melakukan salat berjalan dengan Ustadzah Habibah sebagai imam-nya. Selesai mengucap salam beliau memimpin do'a untuk keselamatan Rahman dan semoga pihak polisi mendapat titik terang.
Rahimah kembali memeluk Ustadzah Habibah ketika ia mencium punggung tangan yang sudah mengeriput itu.
"Tenangkan dirimu, Imah."
Rahimah masih terisak, ia pun tidak menjawab tapi anggukan kecil dari balik punggung Ustadzah Habibah cukup terasa.
Dinda hanya diam memperhatikan Rahimah dari sampingnya, tanpa terasa matanya juga sudah menganak sungai. Pandangannya mengabur, kini air mata ikut jatuh melewati pelepuk matanya.
Cukup lama Rahimah menumpahkan kesedihannya hingga ia pun mulai membaik. "Ayo kita makan dulu, kata Dinda kamu belum makan dari tadi siang."
"Masakannya udah aku panaskan tadi," aku Dinda.
Memang benar, rencananya ia akan makan bersama dengan trio wewek sehingga ia membiarkan masakannya di bawah tutup saji.
Rahimah menggeleng samar, ia tidak berselera sama sekali.
"Jangan biarkan dirimu lapar, kamu juga harus menjaga kesehatan mu dengan tetap makan tepat waktu. Jangan sampai karena kecerobohan ini malah membuat mu menjadi sakit. Bagaiman kalau kamu sakit, Rahman pasi akan sedih melihatnya."
"Tuhan tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hambanya. Kita akan terus mendoakan keselamatan Rahman dan mendoakan semoga akan ada kabar baik dari pihak kepolisian," ujar Ustadzah Habibah menenangkan.
Dengan berat hati dan tak selera makan Rahimah tetap ikut duduk di meja makan. Memakan nasi yang terasa tawar bagi lidahnya dan sulit untuk di telan.
Susah payah Rahimah kenalannya walau sudah ia kunyah sedemikian rupa, hingga akhirnya ia menyerah pada suapan ketiga.
Menyimpan sendok di piring, mendorong kecil kedepan dengan tanpa bicara Ustadzah Habibah dan Dinda pun sudah faham maksudnya.
Keduanya hanya bisa menghela nafas pasrah melihat Rahimah yang hanya diam dan menunduk.
"Maaf," ujar Rahimah lirih.
"Gak usah minta Maaf, ini bukan kesalahan. Kami bisa mengerti." Dinda meraih tangan Rahimah yang duduk tepat di sampingnya.
"Imah mau mengaji saja, Bu." Rahimah menatap tekat pada Ustadzah Habibah. Seolah meminta persetujuan untuk ia pergi lebih dulu.
Ustadzah Habibah tersenyum dan mengangguk mengiyakan, Rahimah pun segera berlalu dengan di iringan tatapan prihatin dari kedua orang itu.
...****************...
Sementara itu, pihak kepolisian sudah mencatat plat mobil si penculik dan mencek semua cctv di jalanan guna mencari dan menemukan persembunyiannya.
Tidak hanya pihak kepolisian yang melakukan pencarian, Abdar dan Adit juga melakukan demikian bersama anak buahnya. Tidak ketinggalan Canda dan Zidan turut membantu.
Jam bergulir hingga malam semakin meninggi tapi pencarian belum menemukan hasilnya. Mereka kehilangan jejak karena kini jalan yang di lalu penculik tidak terdapat cctv.
Mereka pun memutuskan pencarian akan di tunda hingga besok pagi. Mendengar itu Abdar dan Adit merasa kecewa, mereka takut terjadi apa-apa dengan keponakan kecilnya itu.
Di saat pihak polisi menghentikan pencarian, Abdar dan Adit tetap melakukannya tanpa mengenal lelah. Pun dengan Candra dan Zidan tetap ikut membantu mengikuti dari belakang mobilnya.
Tapi sebenarnya Candra juga memerintahkan anak buahnya dari dojang taekwondo untuk berpencar, menurutnya semakin banyak orang yang ikut membantu maka akan semakin banyak kesempatan untuk menemukan Rahman.
Candra juga selalu mencek Hp-nya, mungkin saja akan ada keajaiban bahwa Rahman mengirimnya email saat ada kesemparan dari milik penculik dan ia bisa melacak keberadaan mereka. Harap Candra.
Cukup lama mereka berputar putar melacak kira-kira jalan mana yang akan di ambil si penculik itu dari terakhir video cctv.
"Sialan," geram Abdar saat mereka memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Kemana kira-kira mereka membawa keponakan ku," ucapnya frustasi.
"Kalau terjadi apa-apa pada mereka, tidak akan aku biarkan mereka hidup." Adit ikut menimpali.
"Iya, akan ku buat hidup mereka menderita dan mati secara perlahan." balas Abdar.
Cendra dan Zidan hanya diam mendengarkan keluh kesah mereka, tidak sedikit pun ingin ikut berkomentar tentang sumpah serapah yang menurut mereka unfaedah.
Cukup dengar rehat sejenaknya, mereka akhirnya menyerah hingga waktu sudah menunjukkan jam 2 dini hari.
Sebenarnya Abdar enggan untuk berhenti mencari karena ia benar-benar tak tenang jika belum mendapat setitik harapan.
Tapi Candra cukup bijak dalam menasehati Abdar. Jika ingin kembali mencari, setidaknya mereka harus dalam keadaan sehat. Jika terus memaksakan diri bukan tidak mungkin mereka bisa sakit.
Menghela nafas beberapa kali guna memastikan pasokan oksigen tetap memenuhi paru-paru nya.
"Baiklah, kita lanjutkan besok." Ujar Abdar menyerah.
"Terima kasih karena sudah ikut membantu," ucap Abdar tulus sambil mengulurkan tangan di depan Candra.
Jika waktu pertama perkenalan Candra membiarkan tangan Abdar yang menggantung di udara sejenak, maka sekarang dengan cepat ia menyambutnya.
"Sama-sama, tidak masalah. Lagi pula ada murid ku yang juga di culik."
Kerena tujuan utama Candra membantu bukan semata-mata hanya menemukan keponakan Abdar, melainkan ada anak didiknya yang sangat di banggakannya juga turut ikut di culik.
Jelas itu yang semakin membuatnya bertekat menemukan Rahman dan Intan dalam keadaan selamat. Ia akan menyuruh anak buahnya bergantian mencari, jika anak buahnya merasa kelelahan.
Abdar dan Adit juga selalu meminta laporan dari sang anak buahnya, tidak ingin ketinggalan barang satu informasi saja.
Teringat akan nasehat Candra untuk menjaga kesehatan, Abdar juga menyuruh Tomi melakukan shift.
Mereka berpisah di persimpangan jalan, Zidan mengantar Candra kembali lagi ke sekolah karena ia meninggalkan motor sport kepada security.
Adit ikut pulang ke rumah besar Abdar, ia akan menginap di salah satu kamar yang cukup banyak itu.
...****************...
Seseorang tengah duduk di kursi kerja berputar-putar kecil dengan tangan kanan yang memainkan sebuah pena dan tangan kiri mengusap dagu.
Menopang satu kaki pada kaki satunya sembari beradu pandang pada orang yang duduk tepat di seberang mejanya.
Sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya ia bersua.
Menautkan kedua tangannya dan di letakan pada permukaan meja, lantas orang yang bernama Shandy itu menjawab.
"Ya. Jika tidak langsung ku bawa pergi dari tempat ku ... bisa di pastikan, jika mereka bisa melacak jejak anak buahku!!"
Jack mengangguk mengiyakan. "Apa yang akan kau lakukan kepada kedua bocah itu?" Kembali bertanya.
"Entahlah. Kalau langsung di bunuh, rasanya tidak menyenangkan." Menghempaskan punggung kokoh ke sandaran kursi kala menjawab.
"Bagaimana, kalau kau jual saja? Ku dengar, anak-anak seperti mereka sangat di cari. Apalagi anak perempuan itu," ujarnya.
"Benar, kah?" seperti baru tahu.
"Ya, bukankah kau akan banyak untung? Bisa balas dendam sekaligus dapat uang. Sekali dayung dua pulau terlampaui."
Shandi tampak berpikir mendengar saran dari Jack. Balas dendam dan dapat uang juga. Terkenang dengan dendam nya, tiba-tiba darahnya mendidih.
Sangat kentara, terlihat jelas jika wajahnya berubah merah padam. Rahang yang mengeras dengan gigi bergesekan dan kedua tangan mengepal, menunjukan kemarahan yang amat dalam.
"Mungkin itu usul yang, bagus," jawabnya pada akhirnya.
"Good." Balas Jack tersenyum misterius.
"Apa kau tahu, siapa orang yang akan membelinya?" Jack semakin tersenyum mendapati rekannya yang memang tertarik dengan apa yang ia katakan tadi.
"Ya. Tentu aku mempunyai beberapa teman yang suka membeli anak-anak. Mereka akan menyelundupkan anak-anak itu lewat jalur kapal menuju malaysia. Dan akan ada yang menyambut mereka di sana."
Shandy mengangguk, wajah datar dan dingin membuat seorang Jack bahagia dalam hati setelah tadi ia menyebut dendam memantik kebencian di benak dan hati Shandy untuk seseorang.
"Apa aku boleh melihat mereka?"
"Iya, tentu. Kau bisa melihatnya.
...****************...
Ruangan hening terasa begitu sunyi.
Rahman dan Intan tengah menikmati makan malamnya dalam keadaan diam. Sesaat keduanya tadi sempat tegang, tatkala Broto muncul lagi untuk melepas tali yang mengikat kedua tangan mereka agar bisa makan.
"Wah, pintar juga ya ternyata kau ini." Kalimat itu keluar dari mulut Broto saat ia mendapati tali yang hampir putus dari tangan Intan.
Rahman hanya menunduk mendengar pujian yang entah itu sebuah pujian yang tulus atau hanya sebuah isyarat peringatan karena berani-beraninya hendak melepas tali itu.
"Kenapa minumnya pakai tangan kiri?" Teguran Rahman memecah keheningan. Ia merasa terganggu melihat Intan minum menggunakan tangan kiri.
"Tangan Intan 'kan kotor, Kak!" Mengangkat dan menunjukan tangan kanan yang terdapat butiran nasi.
Intan kembali melanjutkan suapan nasi ke dalam mulutnya. Rahman yang juga masih makan meresa terganggu mendengar jawaban Intan.
"Lain kali, kalau mau minum biasakan pakai tangan kanan." Seketika Intan menoleh dan berhenti mengunyah nasinya.
"Kalau tangan Intan gak kotor, Intan juga biasanya minum pakai tangan kanan kok," ucapnya dengan mulut penuh.
Rahman menghela nafas dalam melihat kelakuan Intan. "Itu juga, biasakan kalau mau ngomong itu ... habiskan dulu nasinya."
Dengan susah payah Intan menelan nasinya, ia ingin segera menyahut. "... 'kan tadi kakak yang ngajak ngomong," Rahman tepuk dahi. Karena yang di katakan Intan itu memang benar.
Padahal selama ini Rahman tidak pernah bicara disaat ia sedang makan. Karena sudah terbiasa hidup bersama kakek dan mamanya yang tidak pernah bicara waktu makan. Tapi sekarang, ia malah bicara hanya karena terganggu melihat Intan yang minum dengan tangan kiri dan berlanjut menegurnya karena bicara dalam keadaan mulut penuh makanan. Biasanya ia juga tidak menegur teman-temannya.
"Dengar ya Intan. Ini yang pertama dan yang terakhir, kita ngomong pas lagi makan dan---,"
"Perasaan yang ke tiga deh, Kak?" celetuk Intan membuat perkataan Rahman menggantung di udara karena terpangkas.
Lagi-lagi Rahman menepuk dahi. "Lupakan itu, dengarkan kakak baik-baik. Kalau kamu mau minum dan kebetulan tangan kanan kamu kotor, yang harus kamu lakukan adalah seperti ini."
Mengangkat botol minumnya dengan tangan kiri kemudian meletakkan punggung tangan kanannya yang terdapat butiran-butiran nasi di bawa botol sebagai tumpuan, mendorong botol sampai kepermukaan bibir dan mencodongkan nya keatas dengan tangan kanan yang tetap melekat di bawa botol.
"Glek... glek... glek...," menegurnya beberapa kali tegukan.
"Kenapa seperti itu, Kak?" tanya Intan polos. Wajahnya menunjukan rasa penasaran, melihat Rahman memperaktekkan gerakan tadi.
"Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan kanan karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.' (HR Muslim)."
"Kamu mau, di katai orang sama seperti setan?" Dengan cepat Intan menggeleng dan di akhiri dengan tubuh yang bergedik ngeri.
"Terus, kalau makan sambil ngomong itu ... apa setan juga suka ngomong kaya gitu, Kak?" Kembali Rahman menghela nafas.
Ia harus membuang-buang waktu makannya hanya untuk pembahasan yang seharusnya Intan sudah tahu.
"Faktor yang dapat menyebabkan orang tersedak saat makan adalah berbicara. Mau kamu tersedak?" Intan kembali menggeleng cepat.
"Cepat makan, dan ingat... ini yang terakhir bicara saat sedang makan?" Anggukan Intan menjadi jawaban yang Rahman dapatkan.
Kali ini Intan melakukan apa yang di katakan oleh Rahman tadi. Selesai makan mereka mencuci tangan dengan sedikit air minumnya.
"Kak, Intan mau pipis."
Melirik ke arah pintu yang tertutup rapat, mau tidak mau ia harus berteriak dan menggedor pintu itu agar sang penculik mendengar kemudian mengantarnya ke toilet.
Mungkin ini juga bisa di manfaatkan untuk melihat keadaan.
"Oommm, dung ... dung ... dung ...oommm dung ... dung ...," teriak dan gedoran pintu membuat ruangan gaduh dan tidak lama bunyi kunci terdengar.
"Ceklek," seketika pintu terbuka.
"Heh, anak kecil. Kenapa teriak-teriak?" penculik muncul dari balik pintu dengan raut wajah merah padam.
"Kami mau pipis." Tanpa rasa takut Rahman mengatakan apa alasannya berteriak.
Berkacak pinggang masih dengan merah padam karena marah sangat kentara di wajahnya.
"Cuittt." Ia bersiul guna memanggil temannya.
"Ada apa, Sugi?" tanya Broto sembari menepuk bahu temannya.
"Mereka mau pipis, ayo kita antar mereka," jawab Sugi si penculik.
"Hei kalian cepat kemari," Sambungnya lagi.
Intan meraih pergelangan Rahman guna membunuh rasa takut karena tatapan sang penculik itu. Kemudian berjalan keluar dari gudang besama Rahman.
Baru kaki mereka melangkah, tiba-tiba suara seseorang menghentikan nya. "Mau kemana kalian?" atensi mereka seketika mengarah kepada kedua pria yang berjalan mendekat ke arahnya.
BERSAMBUNG ....
Aku punya rekomendasi cerita horor lo, seru dan keren. Yuk mampir di karya teman aku.😘
Noormy Aliansyah