
Setelah fakta tentang Rahimah yang dulu sempat di tuduhkan warga kepadanya sebagai wanita malam terungkap, tidak perlu waktu lama.. kini para warga beralih menggunjing dan menghina Maya yang sudah tega karena tidak berterimakasih dan malah dengan sengaja mendorong Rahimah ke dalam kamar seorang pria mabuk.
Pak Rt pun sudah meminta kejelasan secara pribadi terkait kasus Rahimah dulu pada Maya, awalnya Maya mengelak dan menyangkal segala fakta itu.
Tapi Pak Rt dan beberapa wakil dari warga mengancam akan mengusut kasus ini ke ranah hukum jika Maya masih tidak mau mengaku. Walau kasus ini sudah hampir sepuluh tahun, jika mereka mendapatkan bukti dari kejadian itu, maka Maya akan mendapat hukuman penjara seumur hidup.
Jelas saja Maya menjadi ketakutan dan memohon untuk tidak membawa kasus ini kemeja hijau. Pak Rt pun memberi solusi, menyarankan kepada Maya untuk bicara langsung pada Rahimah dan meminta maaf padanya atas kejadian yang dulu juga sekarang.
Masih dengan takutnya Maya menolak mentah-mentah saran dari Pak Rt untuk meminta maaf, tapi lagi-lagi wakil warga mengancap akan mendukung segala keputusan Rahimah jika Ia mau melaporkannya kepada pihak berwajib.
Setelah pembicaran yang cukup alot dan lama antara Pak Rt dan Maya juga beberapa wakil dari warga, akhirnya keputusan di ambil oleh Maya yang akan meminta maaf dan memohon agar Rahimah tidak melaporkannya ke pihak berwajib.
Malam ini sehabis Sholat isya Pak Rt, Maya dan beberapa warga tetuah yang bertindak sebagai saksi atas permintaan maaf dari Maya, akan berkunjung ke rumah Ustazah Habibah. Mereka akan membicarakan masalah terkait dengan cara bermusyawarah.
...----------------...
"Ayo Rahman, kita makan nugget. Tadi Mbak beli gorengen ini pas Kamu ke Masjid." Ajak Hawa, mereka berdua menuju dapur untuk memakannya.
Saat hendak menyuap makanannya Khadizah datang memberitahu mereka kalau di depan sedatang kedatangan tamu.
"Kalian diam di sini saja yah? Kalau sudah selesai makannya, langsung kekamar. Soalnya di ruang tamu lagi banyak orang." Suruhnya, Hawa dan Rahman mengangguk mengerti.
...Di ruang tamu~~~...
"Kedatangan kami kemari adalah ingin meminta maaf. Saya selaku ketua Rt disini ingin meminta maaf secara pribadi pada Nak Rahimah.. atas kejadian sepeluh tahun lalu yang tidak bisa mencegah Nak Rahimah dan Alm. Pak Ramlan yang sempat di usir." Ujar Pak Rt membuka percakapan setelah di persilahkan duduk di ruang tamu oleh tuan rumah.
Disana ada Pak Harun selaku Ketua Rt, Maya sebagai terdakwa, beberapa Pria yang sudah perumur tidak jauh berbeda dengan Pak Rt sebagai wakil warga, Ustazah Habibah dan Wahyu sebagai tuan rumah, juga Rahimah sebagai korban dari yang di tuduhkan.
"Saya tau permintaan maaf Saya ini sangat-sangatlah terlambat.. tapi demi mengurangi rasa bersalah Saya kepada Nak Rahimah, terutama kepada Alm. Pak Ramlan, maka Saya tetap ingin mengutarakan permintaan maaf Saya ini." Sambung Pak Rt Harun.
"Saya juga sebagai wakil para warga di sini, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Nak Rahimah dan Alm. Pak Ramlan. Karena dulu kami pernah berlaku tidak adil pada kalian." Sahut seorang Bapak-bapak.
Rahimah tertunduk sedih, matanya langsung berkaca-kaca. Dalam hatinya ada rasa haru, kenapa permintaan maaf ini saat Ayah nya sudah tiada, kenapa tidak sewaktu Bapak nya masih hidup.
"Nak Maya juga sudah mengakui atas perbuatannya dulu yang pernah di tolong Nak Rahimah dari tarikan seorang Pria mabuk yang hendak membawanya ke dalam kamar." Kembali Pak Rt bersuara.
"Tapi alih-alih mengucapkan kata terimakasih Ia malah dengan sengaja mendorong Nak Rahimah ke dalam kamar Pria yang mabuk itu, dan pergi meninggalkan Nak Rahimah di sana." Jatuhlah sudah air matanya saat mendengar itu semua. Kenangan buruk itu kini mengingatkannya akan hari-harinya yang sulit dalam tekatan depresi.
"Nak Maya juga ingin meminta maaf secara khusus pada Nak Rahimah." Mata Rahimah tetap dalam pandangan kebawah, tidak berniat memandang Maya.
"Imah.." Terdengar suara Maya yang lirih dan bergetar. Rahimah bergeming, Ia masih merasa sesak atas perbuatan Maya yang mengatai Rahman Anak h**am.
"Dengan keadaan sadar atas segala kesalahanku di masa lalu dan sekekarang, Aku meminta maaf kepadamu dengan tulus." Rahimah mengusap air matanya yang jatuh di pipi, ada sedikit kelegaan di hatinya saat ini. Setidaknya dengan pengakuan Maya ini membuktikan bahwa Ia sudah di akui sebagai wanita baik-baik.
"Aku juga ingin meminta maaf kepada Anakmu. Aku berjanji tidak akan mengatai Anakmu lagi seperti kemarin. Aku sadar, kehadirannya juga karena kesalahanku yang dulu di masa lalu."
"Seandainya dulu.. Aku juga membawamu pergi bersamaku waktu itu, maka.. Kamu tidak akan memiliki anak tanpa suami. Sekali lagi Aku meminta maaf dengan tulus." Ustazah Habibah merangkul bahunya lembul sambil mengusap-ngusapnya beberapa kali.
Mengangkat kepala sembari menoleh kepada Ustazah Habibah, mata mereka bertemu Ustazah Habibah pun tersenyum dan mengedipkan mata satu kali sambil mengangguk. Isyarat tanda jika Ia harus memaafkan Maya.
Rahimah menatap Ustazah Habibah dengan mata sayu, seolah protes dengan saran yang di berikan olehnya.
Mengambil tangan Rahimah dengan tangan satunya, Ustazah Habibah pun berucap lembut menenangkan.
"Kita sebagai manusia biasa pasti pernah berbuat salah, dan orang yang berani meminta maaf itu pasti telah di gerakkan hatinya oleh Allah SWT. untuk mengakui kesalahannya. Meski pun kesalahannya terlampau lama apalagi kesalahannya itu sangatlah besar, bagaimana cara Allah SWT. menggerakan hatinya adalah rahasia Ilahi. Karena tidak semua manusia mampu seperti itu."
"Tidak semua manusia juga mampu memaafkan orang semudah itu, kecuali jika memang hatinya telah di gerakkan oleh Allah SWT. untuk memaafkannya. Sejatinya hanya orang-orang yang berserah diri kepada Allah SWT-lah yang bisa di gerakan hatinya."
"Memaafkan itu lebih baik daripada menyimpan dendam, karena hal itu bisa merusak hati dan pikiran kita oleh rayuan-rayuan Setan yang terkutuk. Biasanya Setan akan menambah-nambahkan kata-kata yang semakin menjerumuskan kita pada kebencian juga dendam, dan Setan sangat senang kepada manusia seperti ini, karena akan memperbanyak temannya kelak di tempat yang sudah di janjikan oleh Allah SWT. untuknya." Semua orang menyimak apa yang di katakan Ustazah Habibah.
"Jika ada yang meminta maaf kepadamu? Terlepas orang itu tulus atau tidak, maka hendaknya kita memaafkannya terlebih dulu. Tuhan itu Maha Adil, Allah SWT. akan memberi ganjaran kepada setiap orang-orang yang mempermaikan kata-kata maaf, dan Allah SWT. akan senantiasa memberikan ketenangan kepada orang yang memberi maaf." Sambung Ustazah Habibah panjang lebar.
Rahimah menundukan kepala dengan dalam, entah kenapa hatinya tidak tergerak sama sekali walau sudah mendengar nasehat dari Ustazah Habibah, Ia pun menyakini jika dirinya selama ini selalu berserah diri kepada Allah SWT. tapi kenapa Ia tidak tergerak hatinya.
Ustazah Habibah tersenyum melihat Rahimah yang sedang dilema, Ia tau kalau Rahimah tengah mengalami perang batin. Antara ingin dan tidak memberi maaf.
"Semua ini kita kembalikan pada hakikatnya, apakah kamu ingin masalah ini berakhir indah atau buruk? Itu tergantung pada keputusaanmu, apakah kamu memberikan maaf kepada Maya atau tidak."
"Tidak apa-apa Bu Ustazah." Sela Maya.
"Jika Imah masih tidak bisa memberi Saya maaf, maka Saya akan memakluminya. Karena dilihat dari kesalahan Saya yang dulu dan sekarang, itu sangat besar dan memang sulit untuk di maafkan." Setelah lama hanya diam dan menunduk, Rahimah mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mendongkakkan kepala memandang semua orang satu persatu, di dalam hati Ia bergumam.
"Bismillah."
"Seperti yang di katakan Bu Ustazah Habibah tadi, Saya hanyalah seorang manusia biasa. Mungkin Saya belum bisa sepenuhnya untuk memaafkan, tapi.. saya juga tidak ingan merusak hati dan cara pikir Saya, jadi Insyaallah.. Saya akan mencoba memafkannya."
"Alhamdulillah." Ustazah Habibah tersenyum bangga atas apa yang di katakan Rahimah sekarang.
"Terimakasih Imah." Maya mengulurkan tangan, perlahan Rahimah menyambut uluran tangan Maya.
"Kami juga sudah memusyawarahkan kepada semua warga disini untuk membersihkan nama baik Nak Rahimah, dan meminta Nak Rahimah juga Putranya agar tinggal kembali di desa kita ini."
"Jika Nak Rahimah berkenan menirimanya kami akan sangat senang." Ujar Pak Rt.
"Untuk hal itu Saya belum bisa menjawabnya Pak Rt, Saya akan membincarakannya dengan Rahman dulu." Pak Rt Harun mengangguk mengerti.
"Baik, kami juga tidak bisa memaksakan kehendak Nak Rahimah. Semoga pilihan Nah Rahimah dan Rahman adalah yang terbaik." Semua akhirnya berjalan dengan lancar dan tidak berbelit-belit, Rahimah juga tidak akan melaporkannya ke kantor polisi. Para tamu pun meminta izin untuk undur diri. Tanpa mereka ketahui di balik pintu kamar yang letaknya memang lebih dekat dengan ruang tamu, ada seorang Anak kecil yang mendengar semua percakapan mereka.
...----------------...
"Tante, Rahman sudah minum obat belum? Maaf yah tante, Hawa gak tau kalau itu nugget udang." Kata Hawa menyesal.
Rahimah tampak perpikir alisnya pun betaut mendengar Hawa bertanya seperti itu. Tanpa menjawab pertanyaan Hawa Ia bergegas berjalan menuju kamar dan langsung masuk saat Sudah di depan pintu kamarnya.
"Ceklek." Terlihat Rahman yang sedang duduk bersila di atas ranjang sembari menggaruk-garuk tubuhnya yang mudah Ia jangkau.
"Rahman.." Panggilnya khawatir. Dengan pertanyaan Hawa dan melihat Rahman yang gelisa menggaruk tubuhnya sambil meringis. Ia tau kalau alergi Putranya sedang kambuh akibat memakan Udang.
"Ma.. panas dan gatal." Keluhnya.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Rahman segera turun dari ranjang sambil di bimbing Rahimah, tak tupa Ia memakaikan jaket pada Rahman dan dirinya.
"Mbak, Imah ke rumah sakit dulu yah. Alerginya Rahman kayanya kambuh lagi." Saai Ia hendak pergi kebetulan ada Khadizah beserta suami.
"Loh.. emang tadi Rahman makan Udang ya?" Khadizah merasa heran karena sejak tadi Ia sama sekali tidak melihat Udang.
"Maaf Ma.. Nugget yang kita makan tadi ternyata pakai Udang." Semua menoleh ke arah Hawa yang baru keluar dari kamar Ustazah Habibah.
"Kalau gitu cepat bawa Rahman ke rumah sakit, nanti tambah parah. Ini sudah lama dari mereka makan tadi." Sahut Ustazah Habibah.
"Biar Mbak sama Mas Wahyu yang nganter." Wahyu segera berdiri saat mendengar arahan dari Istrinya.
"Gak.. malah kalau berangkatnya cuman kalian berdua bisa bikin kita khwatir. Hawa kamu sama Nenek tunggu di rumah." Hawa mengangguk cepat.
"Kalian semua hati-hati." Pesan Ustazah Habibah mengantar kepergian mereka ke halaman.
Mereka segera menuju Rumah sakit terdekat, ternyata saat di periksa Rahman harus rawan inaf, akhirnya Khadijah dan Wahyu pulang karena paksaan dari Rahimah.
...****************...
Cristian yang disibukkan dengan begitu banyaknya pekerjaan di kantor, tidak menghiraukan kalau hari sudah berganti malam.
Saking fokusnya pada benda yang layarnya menyala di hadapannya, Ia tidak menyadari jika Hp-nya berkelap-kelip di atas meja sofa. Tadi sore setelah tamunya pulang, Ia lupa membawa kembali Hp-nya ke meja kerja. Alhasil beberapa telepon pun terlewatkan karena mode diam di aktifkan.
Saat Ia merenggangkan otot-otot kakunya di bagian pinggang dan lengannya, pandangannya pun tertuju tepat ke atas meja sofa dan bertepatan Hp-nya kembali berkelap-kelip. Ia Lekas berdiri dan menggapai Hp itu.
Diraihnya dan segera Ia geser ikon berwarna hijau saat sudah membaca nama yang tertera di layar Hp-nya.
"Ya ada apa?" Jawabnya pendek saat sambungan telefonnya sudah terhubung, Ia pun sambil duduk.
π(Apa Kakak masih di kantor?)
"Ya." Masih dengan jawaban pendek.
π(Tadi siang Intan demam, karena demannya tidak berhenti juga jadi Aku membawanya ke rumah sakit tadi sore, sekarang Intan sedang di rawat.)
"Apa! Rumah sakit? Apa sakitnya parah? Kenapa baru memberi kabar?" Tanyanya cepat dan beruntun. Ia pun melirik jam dinding sudah menunjukkan waktu 19:47 WIB.
π(Bagaimana bisa memberi kabar kalau Kakak tidak menjawab telefonku..! Sudah berkali-kali Kuhubungi tau?) Suara di sebrang terdengar kesal.
"Maaf, Kakak baru melihat telfonmu. Tapikan Kau bisa menghubungi Adit?" Ujarnya yang melihat Adit masuk ke ruangannya sambil mementeng berkas. Adit yang di sebut namanya mengerutkan kening sembari berjalan mendekat.
π(Telfon Kak Adit tidak aktif, jadi Aku juga tidak bisa menghubunginya.) Keluhnya.
"Baiklah Kakak akan ke rumah sakit sekarang, kirimkan alamat dan ruang rawatnya."
π(Gak usah Kak, sebaiknya besok sa..) Suara Maryam menggantung karena Cristian yang langaung mematikan telefonnya.
"Ada apa?" Adit langsung bertanya saat melihat Cristian mematikan Hp-nya.
"Intan demam tadi siang, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit." Ujarnya beranjak menuju meja kerjanya.
"Apa tadi Maryam juga menghubungi gue?" Adit segera mengambil Hp di saku celananya.
"Siall. Hp-nya mati." Pekik Adit.
Lelaki jangkung itu berbalik badan, lalu bergerak untuk melangkah dari meja kerjanya.
"Gue ikut." Ujarnya saat melihat Cristian membuka pintu hendak keluar.
"Heem." Adit meletakkan berkas ke atas meja saat mendengar gumaman Cristian lalu berlari kecil menyusulnya.
Lorong-lorong pun sudah sepi, karena para karyawan yang sudah pulang. Cristian berjalan cepat tanpa menghiraukan Adit yang mengekor di belakangnya. Saat sudah masuk ke dalam lift Adit mengeluh pada Cristian karena mereka yang tidak pulang dan memilih lembur.
"Gara-gara lo nih, lembur.. kita sampai gak tau keponakan masuk rumah sakit." Cristian mendelik tajam pada Adit tanpa suara. Sedang Adit langsung membuang muka ke samping, ini sudah biasa baginya jadi Ia tidak menghiraukan tatapan Cristian.
Keluar lift Adit mencoba mensejajarkan tubuhnya pada sang atasan sekaligus teman, agar tak terlalu jauh terbentang jarang antara mereka.
Mereka terus memacu langkah. Menuruni anak tangga di basement tempan mobilnya terparkir.
Tiba di parkiran Cristian melempar kunci kepada Adit yang langsung disambutnya, hampir saja kena kepalanya jika Ia tidak melihat.
"Bangg satt." Pekiknya kesal.
"Cepetan." Desak Cristian sambil masuk ke dalam mobil samping kemudi.
"Iya baweel." Sungutnya kesal melirik Cristian yang duduk di sampingnya.
Adit segera menstater mobilnya. Deru mesin pun berbunyi seketika, pelan mobil berjalan meninggalkan tempat parkir. Didalam mobil tidak ada yang bersuara hingga sampai di parkiran rumah sakit.
Cristian dan Adit langsung masuk ke dalam rumah sakit menuju kamar rawat inap Intan, di lorong rumah sakit Cristian segera mengirim pesan pada Maryam kalau Ia sudah sampai.
Terlihat Maryam sudah menunggu mereka di depan pintu kamar rawat pasein.
"Sakit apa kata Dokter?" Cristian berujar saat sudah sampai di hadapan Maryam.
"Kata Dokter kena DBD. Aku pikir cuman panas biasa aja, Aku juga gak perhatiin bintik-bintik merah di badannya." Ujarnya sendu terdengar suara penyesalan.
Sambil bicara tangannya meraih handle pintu dan membukanya, mereka segera masuk bergantian.
"Tapi sudah tidak apa-apakan kata Dokter?" Di lihatnya Intan yang sedang tertidur pulas begitu nyenyaknya.
"Alhamdulilah udah gak apa-apa."
"Syukurnya." Jawab Cristian dan Adit serempak.
Di perhatikannya ruang inap itu dengan seksama, Cristian pun berucap dengan nada protes.
"Kenapa memilih ruangan seperti ini?" Maryam menghela nafas mendengar sang Kakak bertanya.
"Aku gak kepikiran buat milih-milih kamar inap, jadi Aku pilih yang kamar kelas dua aja."
"Adit.. urus kepindahan Intan." Hampir saja Adit berlalu tapi segera di cegah oleh Maryam.
"Gak usah Kak Adit, ini sudah malam. Lagian juga Intan nya udah tidur." Cristian menghela nafas pasrah.
"Sebaiknya Kak Adit dan Kak Tian pulang aja, besok kalian baru kesini lagi." Adit mengangguk setuju.
"Adit saja yang pulang, bawalah mobilku, besok sekalian bawakan baju ganti."
"Baiklah." Adit pun pergi setelah mencium kening Intan sekilas.
BERSAMBUNG....
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. π
Salam sayang ....
Noormy Aliansyah πππ