
Karena badannya terasa begitu lelah dan bagaikan remuk seribu keping akibat dari perbuatan Abdar hari ini, akhirnya Rahimah memilih esok pagi untuk pergi ke butik yang katanya adalah miliknya.
Selepas sholat Dzuhur Rahimah tertidur kembali, tapi sebelum ia benar-benar mengarungi alam mimpi ... ia sudah melayangkan ultimatum kepada Abdar agar tidak meminta layanan plus-plus lagi untuk malam ini.
Dengan wajah pucat terpaksa Abdar mengiyakan, karena kalau tidak ... maka sudah dipastikan pabrik adonan roti akan ditutup untuk seminggu kedepan.
Padahal ia sudah merancang akan menyambung acara pagi tadi, tapi harus pupus karena ia yang salah perhitungan.
Selama Rahimah tidur, Abdar menyibukkan diri membuat camilan yang terbuat dari tepung tapioka dan bawang yang dihaluskan. Cireng.
Selesai memasaknya dalam air secukupnya dan mengental, Abdar pun mendinginkannya sejenak baru membantunya dengan tepung yang kering sedikit demi sedikit dan menggoreng nya ke dalam minyak panas.
"Emmm, harum ...." Gumam Abdar yang mencium bau harum dari rempah-rempah bawang sambil membolak balikkan cireng dalam wajan.
Mengangkat dan meniriskannya kemudian menatanya ke dalam sebuah piring berukuran sedang.
Menyisihkan masakannya, Abdar pun memotong bawang dan cabe rawit juga menambahkan kecap ke dalam mangkuk kecil.
Menyusun di atas napan lantas Abdar membawanya ke lantai antas.
"Sayang." Panggil Abdar lembut sambil menciumi pipi Rahimah bertubi-tubi.
"Sayaaanggg," ulangnya.
"Emmm," lengkuhan kecil keluar dari bibir tipis Rahimah.
"Ayo, bangun. Sebentar lagi Azhar lo." Tangannya dengan lembut mengusap pipi sang istri.
"Emm, sudah hampir sore ya Mas?"
Abdar merasa gemes melihat tinggah Rahimah yang baru bangun tidur. Kedua tangannya terangkat keatas, dan badan sedikit ditarik ke belakang membuat tonjolan di dad4nya terlihat mengusung kedepan.
Jadi pengen gw kurung lagi nih bini.
"Iya, ayo bangun."
"Bau harum apa ini Mas?" Rahimah menajamkan indra penciumannya.
"Cireng," kata Abdar santai.
"Cireng," beo Rahimah mengerutkan kening.
"Mas beli?"
Abdar menggeleng semakin membuat Rahimah mengerutkan kening dalam.
"Tadi aku buat sendiri di dapur." Akunya sambil menunjukan sepiring penuh cireng yang masih mengepul asapnya.
"Mas bisa buat cireng?" tersentak kaget ketika tahu sang suami bisa memasak, lebih-lebih itu ada cireng.
"Tentu! Kamu pikir mas tidak bisa memasak? Kami adalah anak yatim piatu, kami juga mandiri dan bisa memasak walau di rumah banyak pelayan." Jelas Abdar sambil mengetuk kening Rahimah pelan.
Rahimah tersenyum malu, karena sempat mengira Abdar tidak bisa memasak dan sekarang malah terhidang camilan yang begitu sangat menggoda.
"Hehe maaf mas."
"Tidak apa-apa, ayo makan."
Tanpa rasa malu Rahimah langsung menyantap masakan sederhana dari sang suami, ini adalah masakan pertama yang Abdar buat untuk Rahimah. Ia akan mengingatnya baik-baik, dan menyimpannya dalam memorinya yang paling dalam.
"Pelan-pelan, ini tidak akan habis. Di kulkas masih ada kalau kau mau lagi," tegur Abdar yang tidak biasa melihat Rahimah makan dengan cepat.
"Enak," ujar Rahimah jujur.
"Ahahaha." Abdar tertawa, karena ini adalah pertama kalinya sang istri berbicara saat sedang makan.
"Kalau kau suka, nanti akan aku buatkan satu minggu sekali," janji Abdar bergurau.
"Setuju, mas harus buatkan aku cireng seminggu sekali," tanggap nya serius.
Abdar terkesiap dan tepuk dahi. Alamaaaa.
"Ahahaha," kini giliran Rahimah yang tertawa lepas.
Selesai memakan camilan, Rahimah pun pergi ke kamar mandi dan berwudhu karena memasuki waktu azhar.
Karena Rahman lebih tahu tentang bidang agama, Abdar pun menyerahkannya pada sang anak untuk menjadi imam. Tentu Rahman menerimanya dengan suka rela, ia tahu kalau sang ayah masih dalam tahap pembelajaran.
Usai sholat Rahman pun disajikan cireng buatan Abdar, tentu Rahman terpukau karena buatannya sangat enak. Ia juga tidak pernah menyangka kalau sang ayah pintar dalam hal memasak.
"Wah, masakan ayah enak! Rahman bisa belajar sama ayah nih, nanti."
"Tentu, nanti kita akan atur waktunya. Jangan sampai om Adit memarahi ayah, karena sering bolos ke kantor gara-gara waktunya bentrok sama jadwal membuat cireng."
"Ahahaha, iya."
.
...πππππ...
.
Seminggu menjelang bulan Ramadan, Abdar sudah mengatamkan bacaan iq'ro-nya. Ustadz Abizar secara langsung juga sudah menyampaikan bahwa ia tidak bisa lagi melanjutkan mengajari Abdar mengaji.
Bukan tanpa alasan kenapa demikian, itu karena kesibukan Ustadz Abizar di pondok pesantren tidak bisa lagi ditinggalkan.
Ia pun sudah menyiapkan mental untuk ikut tadarus di masjid setiap malam sehabis sholat tarawih.
Banyak sudah kemajuan yang Abdar peroleh selama ini, jika ada sesuatu yang tidak ia ketahui Abdar tidak segan-segan untuk bertanya pada istri dan anaknya.
"Mas, nanti kalau sudah masuk bulan puasa ... Imah mau menghabiskan waktu di butik, nggak apa-apa'kan?" ia harus meminta izin dulu pada Abdar.
"Iya, tidak masalah! Asalkan sebelum mas pulang, kamu sudah harus ada di rumah." Peringat Abdar serius sambil meminum teh hangat buatan Rahimah.
Sekarang mereka sedang menikmati waktu santai di sore hari sehabis Abdar pulang dari kantor.
"Iya Mas, Imah mengerti."
Asal diizinkan saja ia sudah cukup senang, tidak masalah jika ia pulang lebih awal dari para karyawannya. Ia hanya ingin menyelesaikan baju pesanan Maryam yang sempat tertunda beberapa hari lalu.
Jika Ia menghabiskan waktu di butik, maka baju Maryam, Intan dan Abdar akan segera cepat selesai.
"Oiya, tunggu sebentar." Abdar beranjak dan meninggalkan Rahimah ke ruang kerjanya.
Lima menit kemudian Abdar kembali dengan membawa sebuah map di tangannya.
"Ini, beberapa hari lalu mas lupa memberikannya padamu." Menyerahkan map berwarna coklat yang langsung disambut Rahimah.
"Apa ini Mas?" tanya Rahimah bingung.
"Buka saja!"
Perlahan Rahimah membuka dan mengeluarkan isinya. Setelah melihat apa yang berada dalam tangannya, ia pun tersenyum lebar.
"Buku nikah, Mas!"
Dua buah buku nikah berwarna merah dan hijau, yang didalamnya terpampang pas foto mereka berdua.
"Kapan mas punya foto aku?" ucapnya setelah sejenak terdiam.
"Gampang itu, apa sih yang nggak bisa mas lakukan buat kamu."
Rahimah memajukan bibir bawahnya, "Tapi pasti, atas bantuan mas Tomi," tebaknya.
Abdar kada telak, karena apa yang dikatakan Rahimah itu memanglah benar.
"Hehehe, istriku ini pinter banget sih." Sambil mengapit hidung Rahimah gemas.
"Udah pintar dari orok kali," guraunya.
"Ahahaha, Iya ... memang sudah pintar dari orok, bahkan menular sama Rahman," ucapnya bangga.
"Ya sudah, Imah simpan ini ke kamar dulu ya Mas." Pamitnya berdiri.
"Hmmm," gumamnya menyahut.
Rahimah tidak masalah dangan gumaman Abdar, karena selama tinggal dengan sang suami ia sudah mengerti watak dari seorang Abdar Bariq.