
Kesehatan Pak Ramlan yang setiap hari semakin menurun, membuat Rahman yang melihat keadaan Kakek nya selalu sakit-sakitan membuatnya memutuskan untuk membeli sepeda bekas temannya dengan uang tabungannya.
Tentu Rahman sudah bisa menggunakan sepeda, karena jika di sekolah ia akan di pinjamkan sepeda oleh teman sekolahnya untuk belajar dan ia juga di bantu teman-teman sekolahnya sampai bisa. Dalam waktu kurang dari seminggu ia sudah bisa mengayuh sepeda dengan sempurna.
Awalnya Pak Ramlan dan Rahimah kaget melihat Rahman yang membawa pulang sepeda saat ia mengatakan hendak kewarung membeli sesuatu di dekat rumah Pak Rt, tapi tiba-tiba Rahman mengatakan bahwa ia sudah membeli sepeda. Pak Rahman dan Rahimah jelas tidak langsung percaya, mereka segera
mengonfirmasikan kepada pemilik warung yang berada di dekat rumah Pak Rt.
Dan ternyata tidak hanya pemilik warung itu saja yang membenarkan, bahkan Pak Rt juga mengatakan bawah ia sengaja di panggil oleh Rahman untuk menjadi saksi jual beli sepeda tersebut.
Pak Ramlan dengan bangga memuji cucunya yang berpikir secara dewasa, di usianya yang masih tujuh tahun, Rahman malah kepikiran mencari saksi untuk jual beli sepeda bekas itu. Pak Ramlan mempunyai keyakinan jika kelak Rahman akan bisa menjadi seorang pengusaha dengan perhitungan yang matang.
Mungkin karena sering melihat Mamanya, Nurul dan Dinda yang selalu berunding tentang jual beli baju buatan Mamanya. Memberi dampak positif bagi Rahman.
Seperti biasa di pagi yang cerah, Rahman berangkat ke sekolah menggunakan sepedanya. Sudah dua tahun ini Rahman menjalankan rutinitasnya sebagai pelajar sekolah dan taekwondo menggunakan sepeda, Rahman yang mempunyai keinginan yang kuat selalu berlatih sungguh-sungguh.
Sekarang Rahman menuai hasilnya, tidak hanya di sekolahnya ia menjadi juara kelas. Bahkan di turnamen kejuaraan taekwondo pun ia selalu memenangkan pertandingan, piala dan piagam pun sudah menghiasi isi Almari dinding di rumahnya.
Bahkan dalam kurun waktu dua tahun Rahman sudah menyandang sabuk merah dengan dua strip hitam. Ia hanya perlu berkerja keras sedikit lagi, maka dalam beberapa tahun mungkin ia akan mengenakan sabuk hitam. Sungguh pencapaiannya sangat cepat dan pesat yang Rahman lakukan di usianya yang masih sembilan tahun, Pak Ramlan dan Rahimah sangat bangga dengan pencapaian Rahman saat ini.
Saat Rahman tiba di sekolah ia segera memarkirkan sepedanya di tempat khusus sepeda, Ia pun bertemu dengan teman sebangkunya tapi usianya lebih tua temannya satu tahun.
"Aman.." Karena di sekolahnya juga ada anak perempuan yang bernama Rahma, jadi sebagian temannya lebih suka memanggilnya dengan panggilan Aman.
"Heem." Jika Ia berada di sekolah, entah kenapa teman-teman yang tidak terlalu akrab dengannya akan melihat Rahman seperti seorang anak yang pendiam dan dingin padahal tidak.
"Aku nanti nyontek SKI Kamu ya? Soalnya tadi malam lupa ngerjainnya." Rahman menggelengkan kepala melihat temannya yang selalu mencontek dengannya.
"Kebiasaan, waktu seminggu gak cukup rupanya.. ?" Ujarnya sembari berjalan meninggalkan temannya, walau begitu tetap saja Rahman tidak tega jika tidak meminjamkan bukunya.
"Hehehe tau aja Kamu, Aku kebanyakan lupanya walau udah sering Kamu ingetin." Dengan lekas Ia menyusul Rahman dan merangkulnya.
"Gimana dagangannya? Habis gak tadi malam?" Mereka sambil cerita menuju ke kelasnya.
"Pastinya.. tadi malam kita sampai jam 11 baru pulang, dan semuanya habis terjual." Rahman melirik sekitas Ia bisa melihat temannya yang tersenyum saat bercerita.
"Riki, kalau bisa Kamu berhenti dulu berdagang sampai malam. Sebentar lagi kita ada ujian, Kamu harus banyak belajar." Rahman membuka tasnya dan mengeluarkan bukunya lalu menyerahkannya kepada Riki saat mereka sudah duduk di kursinya.
"Gak bisa, ini lagi rame-ramenya dagangan Bapak Aku laku. Jadi Aku mesti bantu Bapak dulu sampai Ibu sembuh." Riki segera menyalin PR dari buka Rahman.
"Tapi gimana nanti sama ujian Kamu? Kalau Kamu gak sempat belajar?" Riki juga Anak yang pintar, tapi akhir-akhir ini Ia sering begadang menemani Bapaknya berjualan Mie Ayam di pasar malam. Sudah satu minggu ini pasar malam dadakan di buku, karena Ibu Riki sedang sakit membuatnya yang harus menemani Sang Bapak berjualan.
"Tenang aja.. Aku udah punya gurunya, Nih" Tunjuknya ke arah Rahman, dengan pandangan tetap ke arah buku. Sebenarnya Ia hanya
"Woy nyontek lagi yah?"
"Wah.. hampir aja kecoret, kenapa musti ngagetin Aku sih Andi?" Kedatangan Andi secara tiba-tiba di saat Riki sedang serius menulis, jelas membuatnya terkejut sekaligus kesal.
"Hehe maaf ya." Ucapnya ikut duduk, kursinya tepat di depan Rahman dan Riki.
"Untung aja gak sampai kecoret." Gerutunya Rahman terkekeh melihatnya. Sedang sang pelaku ikut menahan tawa di depannya.
"Apa kamu Andi ketawa-ketawa?" Menatap kesal pada temannya.
"Ya ampun Ki.. cuman becanda, jangan marah ya." Pekiknya cepat, Riki kembali menulis bukunya.
Selesai Riki menulis Ia pun mengembalikan buku PR Rahman. "Ini bukunya, paling ini yang terakhir Aku nyontek" Ujarnya.
"Sekitar seminggu lagi pasar malamnya akan di tutup, dan ibu sudah mulai sehat. Jadi paling cuman malam ini Aku nemanin Bapak dagang, biar besok bisa belajar lagi." Sambungnya lagi, Rahman mengangguk mengerti.
"Hebat ya Kamu Ki, kecil-kecil udah bisa bantu jualan Bapak Kamu." Celetuk Andi memuji Riki.
"Apanya yang hebat? Musti paksa Bapak dulu biar di kasih izin bantu jualannya, kalau bukan karena Ibu sakit Aku juga gak di izinin buat jualan." Terang Riki merendah.
"Tetap saja yang di bilang Andi itu benar.. Kamu itu hebat, sudah bisa bantu orang tua Kamu jualan. Padahal umur Kamu baru sepuluh tahun." Mendengar pujian dari Andi Rahman juga ikut membenarkan.
"Ah biasa aja kali.. Kalian juga hebat. Kamu Aman juga sering bantu Mama Kamu ngegambarkan? Dan Andi juga sering jagain Adik bayinya kalau Mamanya lagi sibuk!"
"Kalau gitu kita sama-sama hebat dong.." Sambungnya membuat mereka bertiga tertawa.
Kelas yang awal hanya mereka bertiga sedikit demi sedikit pun mulai banyak dengan kedatangan siswa dan siswi, sebagian dari mereka memilih duduk saja saat mereka datang sama seperti Rahman dan teman-temannya.
Bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran akan segera di mulai. Pak Guru pun masuk kedalam kelas dan memulai pelajaran.
"Rahman dan Sifa, kumpulkan PR teman-teman kalian." Ujar Pak Guru setelah tadi memberi salam dan menyapa semua muridnya terlebih dulu.
Rahman segera berjalan mengumpulkan tugas temannya yang laki-laki, begitu juga Sifa yang teman perempuannya. Mereja pun meletak kan buku PR nya ke atas meja Pak Guru.
"Ini Pak" Kata Rahman yang tebih dulu menyerahjannya dan duduk kembali ke kursinya. Di susul Sifa belakangan.
"Lusa kita sudah memasuki UTS, jadi Bapak harap kalian belajar lagi gengan gian." Pesan Pak Guru
"Ya Pak.." Sahut serempak dari semua murid.
"Keluarkan buku pelajaran kalian, buka halaman 147." Semua lekas membuka halaman yang di maksud dan menyalinnya ke dalam catatan.
...****************...
"Ma.. nanti kita mampir beliin Om Tian Kue ya?" Ujar seorang Gadis kecil menuju ke arah mobilnya saat keluar dari gerbang sekolah menghampiri sang Mama.
"Emang Kamu mau buat kejutan ya?" Tanya sang Mama membukakan pintu depan mobil. Setelah Anaknya duduk ia segera memasang Safety Belt lalu menutup pintu dan membuka pintu sebelahnya.
"Boleh kan Ma?" Bukannya menjawab Ia malah balik bertanya.
"Boleh, dan Kue nya udah di situ." Tunjuk Mama nya ke arah belakan setelah duduk di belakang kemudi, Mengikuti arah tunjuk Mama nya ke kursi penumpang Ia pun melihat kotak kue besar.
"Yeee Mama udah beli, trus kadonya mana Ma?" Menatap penuh pada Mamanya.
"Udah di rumah, nanti Kamu juga liat." Ujarnya sambil menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan parkiran sekolah.
"Asyikkkk, Om Adit datang jugakan Ma?"
"Iya Intan sayang.. Om Adit juga datang kok." Ucapnya sambil mencolek ujuk hidung Anaknya karena gemes.
"Hihihi." Ia terkekeh geli sembari menutup mulutnya. Mama nya tersenyum melihat tingkah laku Anak gadisnya.
"Mungkin lebih awal dari biasanya, saolnya tadi Mama udah telpon Om Tian. Kalau Intan pertu bantuan yang gak bisa di kerjain sendiri, dan Intan-nya mau Om Tian aja yang bantu." Terangnya menjelaskan.
"Ok, siip Ma." Sambil menunjukkan dua jembopnysΔ£ kepada sang Mama.
"Tadi gimana sama pelajarannya? Bisa kan?" Katanya sambil melirik Intan sekilas.
"Bisa dong, bentar lagi ulangan loh Ma." Ujarnya penuh semangat.
"Oya." Ujarnya pura-pura tidak tau.
"Kalau gitu Intan harus banyak belajar lagi. Biar nanti pas ulangan bisa dengan mudah di kerjakan." Dengan cepat Intan mengangguk saat memandang Mamanya.
Tiba di depan rumah Intan segera turun walau mobil belum terparkir sempurna. Membuat Mamanya memperi peringatan tegas kedapa Intan.
"Intan, lain kali tunggu Mama memarkirkan mobilnya dengan benar dulu baru Intan boleh turun." Ucap Maryam menahan langkah Intan yang hendak berlari masuk rumah, melihat raut wajah Mamanya dengan muka yang serius membuatnya menunduk takut sambil berucap.
"Maaf Ma.." Menghela nafas dan mengusap kepalanya putrinya lembut.
"Mama gak marah kok. Mama cuman ngasih tau Intan, kalau hal yang Intan tadi lakukan itu adalah hal yang termasuk berbahaya." Mendongkakkan kepala menatap Mamanya, sekali lagi Intan meminta maaf dengan pandangan merasa bersalah.
"Intan minta maaf ya Ma? Intan janji gak akan kaya gitu lagi." Menatap lekat pada sang Mama, Maryam tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Mama maafin. Asal janji gak kaya gitu lagi." Intan ikut tersenyum dan cepat mengangguk.
"Ayo Ma.. kita siapin kadonya." Ajaknya menarin lengan Maryam.
"Nanti dulu, biar Mama ambil kuenya dulu."
"Oiya, Intan lupa." Segera melepas lengan sang Mama dan menunggunya di tempatnya berdiri.
"Ayo.." Mereka pun masuk ke dalam rumah beriringan.
...****************...
"Assalamualaikum, tok.. tok.." Ucap Rahman di depan pintu rumah, tapi tidak mendapat sahutan.
"Assalamualaikum... tok.. tok.. Ma.. Kek..?" Ucapnya lagi sambil memutar handle pintu, dan ternyata tidak di kunci. Ia pun masuk memperhalikan sekitarnya, terlihat sepi. Mengerutkan kening berpikir kira-kira kemana orang rumah, kenapa Mama dan Kakeknya tidak terlihat.
Melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak sendal, berjalan masuk kedalam kamar Kakek nya. Sekarang Rahman tidur dengan Kakek nya, Ia yang memita tidur bersama sang Kakek.
Saat membuka pintu ia dikejutkan oleh beberapa orang yang berada di dalam kamar sembari bernyanyi dan bertepuk tangan dengan Mamanya yang memegang sebuah kue berukuran sedang.
"Selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun Rahman.. semoga panjang umur.." Rahman terpaku memandang orang satu persatu, ada rasa haru yang di rasakannya saat ini. Ia melihat ada Khadizah, Wahyu, dan Hawa ternyata ada Ustazah Habibah juga di sini, Soraya bersama Zidan suaminya dan Rayan putranya yang masih memakai sekaragam sekolah dari sekolah yang berbeda.
Ia juga mendapati Nurul dengan suami yang tengah menggendong putri kecilnya. Juga Dinda dengan kesendiriannya.
Ini adalah pertama kalinya Ia di beri kejutan seperti ini, biasanya meraka hanya akan merayakannya bertiga di malam hari sambil makan malam dan membaca Do'a selamat.
Rahimah berjalan mendekat ke arah Rahman dengan kue di tangannya yang terdapat sebuah lilin di tengahnya berbentuk angka sembilan.
"Selamat ulang tahun sayang.." Sembari mendekatkan kue kehadapan Rahman sambil tersenyum menatap putranya.
Di tiupnya lilin, kemudin mengucap kata terimakasih kepada orang-orang yang berada di situ.
"Terimakasih semuanya." Kata Rahman tulus, Khadizah mengambil alih kue di tangan Rahimah, Ia peka akan apa yang ingin di lakukan Rahimah sekarang.
Memeluk erat Rahman sambil menangis, mengenang semua perjalan hidup yang mereka lewati selama ini.
"Kenapa Mama jadi nangis." Ia juga mengeratkan pelukannya karena melihat Rahimah yang tiba-tiba menangis.
"Maaf jika selama ini Mama belum bisa membahagiakan Rahman." Lirih Rahimah menahan tangisnya.
"Siapa bilang Rahman belum bahagia? Rahman sudah bahagia dengan adanya kalian di sini." Ujar Rahman sambil merenggangkan pelukkannya dan mengusap pipi Mamanya yang basah.
"Makasih atas semua yang Mama lakuin buat Rahman, Rahman juga berterimakasih sama semuanya atas kejutan ini." Semua tersenyum, melihat Rahman yang bahagia. Tiba-tiba Rahman di kejutkan oleh orang yang berada di belakangnya.
"Aman, selamat ulang tahun.." Teriak dua orang serempak di samping telinga kiri dan kanannya.
"Allahu Akbar." Pekik Rahman segera menoleh ke kanannya.
"Andi.. Riki.." Ujarnya saat juga menoleh ke kiri, Ia melihat Riki.
"Dasar kalian."
"Aaaaaa." Teriak Andi dan Riki, bagaimana mereka tidak teriak.. pasalnya leher mereka telah di kunci dengan lengan Rahman yang mulai berotot.
"Makanya jangan bikin orang kaget." Semua orang tertawa melihat tinggah laku temannya Rahman.
"Sudah.. sudah.. ayo kita makan dulu." Lerai Rahimah, mereka semua pun keluar kamar untuk makan bersama.
"Rahman." Panggil Pak Ramlan menghampirinya saat Rahman keluar kamar dengan pakaian yang sudah di gantinya.
"Iya Kek." Pak Ramlan memeluknya dari samping, sembari menepuk pelan pundak Rahman.
Semua orang memperhatikan Pak Ramlan dan Rahman dengan diam, mereka seperti tau bahwa ada yang ingin di sampaikan oleh Pak Ramlan kepada Rahman.
"Kakek hanya bisa berpesan sama kamu, kelak jika Kakek sudah tidak bisa bersama dengan kalian lagi, Kakek harap kamu bisa menjaga dan membahagiankan Mama-mu."
"Selama ini Kakek belum bisa menjaga dan membahagiakannya, hanya itu harapan Kakek sama Kamu." Rahimah yang menyaksikan sang Ayah berpesan kepada Anaknya, membuat hatinya terasa bergetar. Tiba-tiba Ia merasa gelisa dan tidak tau apa sebabnya.
"Insyaallah, Kek Rahman akan menjaga dan membahagiahan Mama." Janjinya kepada Pak Ramlan. Pandangan Rahimah mengabur, matanya telah mengembun dengan cepat ia menghaput sudut matanya yang terasa basah.
BERSAMBUNG....
Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.π
Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. πβ
Salam sayang ....
Noormy Aliansyah ππππ