
Sesuai rencana dua hari yang lalu, siang ini ba'da Dzuhur akan diadakan syukuran untuk kepulangan Rahman yang Alhamdulillah selamat dan tidak kurang satu apapun.
Tadi malam Wahyu suami Khadizah telah datang, ia berniat menghadiri syukuran sekalian akan menjemput anak dan istri tercinta usai acara karena Khadizah yang memberi kabar.
Kini Rahimah, Khadizah dan Ustadzah Habibah sedang sibuk di dapur menata masakan kedalam wadah yang tadi mereka masak bersama. Bukan Rahimah tidak mampu untuk memesan katering, hanya saja ini adalah permintaan Rahman yang mengaku rindu akan masakan mama, tante Khadizah dan nenek Habibah ... jadi dengan senang hati mereka memasukkannya.
Intan yang juga sebagai korban penculikan turut diundang sekeluarga dan kebetulan ia sudah sehat dari sakitnya, tidak lupa Abdar dan Adit yang sudah pulang ke tanah air kemarin siang juga ikut serta.
Mereka bahkan sengaja datang ke rumah Ustadzah Habibah sejak dari pagi karena Intan masih izin libur sehabis sakit, itu semua karena Maryam dan Intan yang merengek minta di antar dengan alasan agar bisa membantu persiapan acara. Mau tidak mau Abdar harus menuruti nya atau lebih tepatnya Adit yang direpotkan karena ia yang menyetir.
Wahyu sebagai wakil tuan rumah menyambut juga menemani Abdar dan Adit di teras rumah sambil mengobrol ringan. Tidak perlu ditanyakan lagi bagaimana saat pertemuan pertama Wahyu melihat Abdar yang mirip Rahman, ia sampai tak berkedip menatapnya hingga sang istri harus menyikut pinggangnya agar kembali sadar.
Tidak lama setelah Maryam datang trio wewek pun datang. Suami Soraya dan Nurul bersamaan tidak bisa datang karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing yang sudah direncanakan tapi berjanji akan datang siang nanti saat acara sudah dimulai.
Satu jam kemudian mereka kedatangan Ustadz Abizar yang ikut bergabung dengan para lelaki.
Pembahasan tentang segala dan sebagai halpun mereka bahas agar menjadi semakin akrab hingga tak terasa sudah berjam-jam.
"Oiya Ustadz Abizar, saya dengar tadi malam dari istri ... anda ingin melamar Rahimah?" tanya Wahyu sangat pelan seperti berbisik tapi tetap terdengar di telinga mereka.
Sontak saja Abdar kaget mendengar Wahyu bertanya seperti itu pada Abizar.
Khadizah yang di ceritakan mama-nya tentang Ustadz Abizar yang berniat menjadikan Rahimah istrinya pun tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada sang suami tadi malam.
Ia yang belum tahu apa keputusan Rahimah sudah semangat membahas dan menata rencana-rencana untuk acara yang belum pasti pada Wahyu.
Dikesempatan ini Wahyu memastikan dengan bertanya secara langsung ketika baru saja teringat akan hal itu, jelas membuat sang empuhnya tersipu malu karena niatnya dipertanyakan oleh menantu yang ia mintai bantuan.
"Insya Allah, mungkin dalam waktu dekat ini mas. Saya akan menyampaikan niat baik saya pada Rahimah."
Abdar jengkel mendengar jawaban Abizar Itu, tak dipungkiri memang jika ia baru sebentar mengenal Rahimah tapi entah mengapa ia merasa bahwa ada benang merah yang tak kasat mata telah mengikatnya.
Abdar yang dulu belum mengenal siapa Rahimah dan Rahman sangat menyesal telah berniat memberikan kompensasi kepada wanita yang dulu menghabiskan malam dikamar yang sama dengannya, harusnya niatnya bukan seperi itu tapi adalah niat dalam bentuk tanggung jawab bukanlah ganti rugi.
Semakin kesini ia semakin terpaut dan tidak bisa berpaling lagi dari kedua orang yang ia yakini ada keterkaitan dengan dirinya.
Selama sepuluh tahun terakhir Abdar tidak lagi memikirkan seorang wanita setelah terkhianati, tapi ketika melihat Rahimah untuk pertama kalinya dalam keadaan sadar dan jarak dekat hatinya mendadak bergetar.
Entah itu karena rasa bersalah atau apa ... Abdar semakin tertarik ditambah lagi ada Rahman yang mirip dengannya.
Sebentar lagi untuk menunggu sebuah pembuktian itu keluar, maka ia akan memutuskan bahwa ialah yang berhak memilikinya jika itu terbukti benar, jika tidak ... ia akan mengalah karena tidak ada haknya.
"Bagus, saya do'akan semoga berjalan lancar," Abdar melotot kepada orang yang tidak sama sekali meliriknya.
"Tapi kita tidak tahu 'kan, bagaimana dengan Imah ... apa dia mau menikah atau tidak? Karena dulu alm. Pak Ramlan pernah memintanya untuk menikah dengan seseorang yang berniat melamarnya, dan Imah malah menolaknya sebelum terjadi lamaran," hampir saja Abdar mengangkat tangan untuk mengusap dadanya. Setidaknya ia merasa sedikit sejuk dihatinya.
"Dan juga Rahman, sebaiknya jangan abaikan pendapat seorang anak. Dia yang harusnya paling diperhatikan tentang semua ini, bagaimana jika Rahman sebenarnya tidak setuju tapi tetap dipaksakan itu malah akan membuatnya merasa tersisihkan setelah mama-nya menikah dan akan berpengaruh pada berkembangan rohani dan jasmani nya."
Abizar tersenyum karena ia juga sudah memikirkan Itu, dan sudah mendapatkan lampu hijau dari anak yang akan menjadi anaknya.
"Saya rasa ini akan sulit untuk menyakinkan Rahman, agar memberi izin membagi kasih sayang Imah kepada anda. Karena ia terbiasa mendapatkan penuh, bukan separuh," Abdar dan Adit membenarkan itu.
"Iya, saya sependapat dengan apa yang mas katakan tadi. Tentang, jangan abaikan pendapat seorang anak ... tapi sepertinya mas keliru tentang Rahman yang kemungkinan sulit untuk diyakinkan."
Abdar mengerutkan kening begitu juga Adit dan Wahyu.
"Maksudnya?" sahut Wahyu memperjelas, apa yang dimaksud keliru.
"Ketika saya ikut berkunjung dua hari lalu kesini, saya mendapat kesempatan untuk berbicara berdua dengan Rahman. Dan saya tidak menyia-nyiakan itu untuk bertanya pendapat Rahman, kalau saya menikah dengan mama-nya ...."
"Lalu, apa pendapatnya," pungkas Wahyu cepat karena Abizar yang menjeda.
Abdar dan Adit hanya bisa jadi pendengar yang baik tanpa ada kesempatan untuk menyela.
"Rahman bilang, jika mama-nya setuju ... maka dia juga akan setuju."
Seketika Abdar merasa lemas, tidak menyangka semudah itu Rahman memberi izin untuk mama-nya menikah.
"Mungkin, karena Rahman yang memang ingin mempunyai seorang Ayah. Jadi dia menerima saja dan menyerahkan keputusan terakhir pada Imah."
"Ya, saya rasa juga begitu."
"Memang kemana ayahnya?" celetuk Adit ikut bersuara.
Wahyu dan Abizar saling pandang bingung menjelaskannya, sementara Abdar ingin sekali menyumbat mulut Adit itu.
"Emmm, Itu ay--."
"Nuri ... pelan-pelan," belum Wahyu menyelesaikan kalimatnya teriakan Hawa berupa teguran dari dalam rumah menghentikan ucapannya.
Semuanya otomatis menoleh ke arah pintu, Nuri dengan kaki pendeknya berlari-lari cepat ketempat mereka duduk. Dibelakang Nuri ada Hawa dan Intan yang hendak menggapainya dan itu membuat balita berusia dua tahun Seakan dikejar dan takut tertangkap.
"Khahahaha," tawanya menggema diantara balas pintu.
"Hawa, jangan dikejar seperti itu. Nanti adik Nuri bisa takut." Segera berdiri dan maju beberapa langkah guna menangkap Nuri yang mendekat untuk masuk dalam gendongannya.
"Khahahah," Nuri malah semakin tertawa karena didekap erat dan di cium oleh Wahyu.
"Hehe, maaf pah," balas Hawa.
"Habis Nuri, gak berhenti larinya, jadi kita kejar" timpal Intan.
"Harus hati-hati, nanti kalau ade Nuri jatuh ... 'kan kasihan."
"Iya, kami gak akan kejar ade Nuri lagi," sahut Hawa.
"Ya Sudah, sana main lagi. Tapi jangan kejar-kejaran." pesan Wahyu sambil menurunkan Nuri ke bawah yang langsung digandeng Hawa dan Intan.
Setelah kepergian para anak kecil, Rahman dan Rayan datang dari sekolah tepat diwaktu Dzuhur.
Mereka pun pergi ke masjid di luar gang yang biasa didatangi Rahman, Abdar dan Adit. Hanya para lelaki yang berangkat ke madjid usai Rahman dan Rayan berganti baju. Sedang para wanita tetap di rumah.
Usai sholat mereka kembali berkumpul di rumah Ustadzah Habibah untuk acara syukuran dan Ustadz Abizar sebagai pemimpin do'a, beberapa warga pun juga diundang.
Teman-teman Rahman dan Rayan juga datang dengan menggunakan sepeda, mereka berangkat bersama dan akan pulang bersama.
Candra juga hadir, ia datang berbarengan dengan Zidan dan Ari dan hari ini Rahman juga kawan-kawan diliburkan dari latihan taekwondo.
Dengan sidikit pembukaan serta menyampaikan maksud dari diadakannya acara, Ustadz Abizar lalu membacakan do'a fatihah, kemudian disusul do'a selamat ... setelahnya semua serentak mengaminkan dan kemudian makan bersama ala kadarnya.
Para wanita dan pria dipisahkan juga diberi pembatas agar tidak langsung menyatu. Wanita dibagian dalam rumah, sedang lelaki bagian ruang tamu sampai luar.
Rahman adalah orang pertama yang menyelesaikan makanannya, ia segera menjauh agar tidak mengganggu orang lain yang masih makan.
Melihat itu Abdar ikut berhenti makan dan menyusul Rahman yang duduk kursi dibawah pohon. Bisa dibilang Abdar itu tidak makan, ia hanya mengaduk ngaduk nasinya akibat menggunakan tangan kiri.
"Rahman." Tanpa meminta izin Abdar sudah duduk di samping sang empuhnya nama.
"Ada apa, om?" tanya Rahman mengikuti pergerakan Abdar yang menyandarkan punggung kesadaran bangku.
"Boleh om, tanya sesuatu?" hatinya tergelitik ingan bertanya tentang itu.
"Boleh, silahkan," jawab Rahman sambil berpikir kalau kejadian ini seperti pernah ia alami.
"Apa kamu setuju, jika mama mu menikah?" Mengerjapkan mata karena sangat terkejut.
Pertanyaan yang hampir sama tapi satu arti, tempat yang sama dan waktu yang sama, hanya saja berbeda hari, ia benar-benar dejavu.
Rahman bergeming. "Apa kamu keberatan, jika om melamar mama mu?" lagi ... dan lagi ... lidahnya terasa kalu walau hanya sekedar berkata iya atau tidak.
Keadaan sangat terasa sunyi meski di depan mereka cukup gaduh karena anak-anak yang bercanda sembari memakan makanannya.
Keduanya sama-sama menatap kearah dimana para tamu masih asyik menikmati hidangan, setelah mengatakan tadi Abdar mendadak berkeringat dingin.
Sekarang Rahman mendiamkannya, itu malah membuat ia gugup dengan degup jantung yang tak beraturan karena menanti jawaban.
Abdar merutuki mulutnya yang spontan bertanya, selama ini dalam hidupnya ia tidak pernah melalukan hal konyol dengan bertanya masalah seperti itu pada seorang anak kecil, dan sekarang ia melakukannya.
Abdar berpikir, baru bertanya pada Rahman saja ia sudah seperti ini, bagaimana jika yang dihadapannya adalah Rahimah, mungkin ia akan pingsan.
Apakah ini yang dimanakan, cinta bisa muncul begitu saja. Hingga ia mendadak bo**d. Pikirnya.
"Kenapa om, ingin menikah dengan mama saya?" Abdar tersentak kecil dan langsung menoleh, tapi Rahman tetap ke depan.
Menggaruk tengkuk yang tidaklah gatal, kemudian mengusap-usap kening kirinya. Ia bingung menjelaskan sesuatu yang rumit.
"Kalau saya bilang, saya suka mama kamu, gimana, apa kamu percaya?" jawab Abdar dengan pertanyaan.
"Dua hari yang lalu, pak Ustadz Abizar juga bertanya seperti ini." kali ini pandangan mereka terkunci.
Kegugupan yang Abdar rasa menguap begitu saja, karena merasa tersaingi.
"Lalu apa jawabanmu?" pangkas Abdar pura-pura tidak tahu.
"Saya bilang, saya serahkan. kepada mama."
"Dan sekarang apa kamu akan mengatakan hal yang sama? Apa perlu om langsung melamar mama mu?"
"Om sudah terlambat, karena tidak lama lagi Pak Ustadz yang akan melakukan itu."
"Tidak ada kata terlambat, Selama janur kuning belum melengkung. Maka bisa jadi pak Ustadz itu tidak jadi melamar mama mu," ucap Abdar yakin.
"Jika begitu, bisa jadi om mungkin juga akan mengubah niat om, siapa yang tau'kan?"
"Tidak, om yang akan melamar mama mu."
"Tapi tadi sudah saya katakan, kalau pak Ustadz akan melamar mama saya."
"Apa kamu akan tetap membiarkan itu terjadi, jika ayah kandungmu datang?"
Seketika Rahman terdiam, perdebatan ini membuat Abdar tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
"Saya tidak mempunyai ayah," kata Rahman dingin dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Setiap orang pasti mempunyai ayah."
"TAPI SAYA TIDAK PUNYA," ujar Rahman penuh penekanan.
"Seandainya ayah kamu, ada disini? Apa yang akan kamu lakukan? Apa mencegah Pak Ustadz, dan om?"
"Apapun yang saya lakukan, anda tidak perlu tau."
Rahman berdiri dan berjalan hendak meninggalkan Abdar. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar pengakuan Abdar.
"Kalau ternyata saya adalah ayah kandungmu, kau mau apa?" Berbalik badan dan menatap tajam pada seseorang yang kini juga berdiri melebihi tingginya.
"Katakan, kau mau apa?" tantang Abdar.
"Anda terlambat, karena kami tidak mengharapkan kedatangan anda sekarang. Jadi anda bisa pergi dari sini." Abdar terkesiap.
"Mungkin itulah sebagian kecil yang akan saya katakan kepada ayah kandung saya." ucap Rahman kembali berbalik badan dan berlalu pergi dengan cepat meninggalkan Abdar yang mematung tanpa satu katapun.
Masih memandang punggung Rahman yang mengecil dan ikut berbaur dengan temannya. Abdar pun terduduk lemas, ia tidak menyangka pembahasan ini akan merembet sesuatu yang sangat sensitif. Sama sekali ia tidak ada rencana untuk melakukan itu tanpa bukti nyata.
"Bodd dohhh, bodd dohhh , kenapa gw bisa ngomongin itu," rutuknya mengumpat diri sendiri.
"Abdar, lu Kenapa?"
"Ha, gak ... gak papa," elaknya mencoba bersikap biasa dihadapan Adit yang menyusulnya.
"Kita pulang." Kata Abdar beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Adit yang baru saja duduk.
"Lah, kok pulang ... kita'kan baru aja makan," protes Adit berlari kecil menghampiri Abdar.
"Lagian Maryam lagi sibuk, bantuin Ustadzah Habibah." sambung Adit.
"Antar gw dulu, baru jemput Maryam," ujarnya sudah berdiri di samping mobil.
"Ok," pasrah Adit mengalah.
Perlahan mobil Abdar pergi dari halaman luas Ustadzah Habibah dengan seribu penyesalan yang hinggap dihatinya.
BERSAMBUNG ....
Semuanya maaf ya kalau saya selalu update nya telat, gegara banyak kesibukan di dunia nyata menjadi penghalang untuk saya menulis tepat waktu. Mohon dimengerti.π
Tidak lupa saya ingatkan kepada teman-teman untuk selalu memberikan komentar dan like-nya, jika berkenan juga menambahkan bunga atau kopi plus vote dan tips ... saya akan sangat-sangat berterimakasih yang sebesar-besarnya, karena tanpa kalian saya bukanlah apa-apa. Salam sayang ....
Noormy Aliansyah π