
Hari Senin adalah hari sibuk bagi penduduk kota Jakarta, tapi tidak bagi Abdar selaku seorang atasan. Ia masih sempat-sempatnya berkunjung ke rumah Rahimah dengan satu alasan, yaitu menjemput Rahman sekaligus ikut sarapan.
Rahimah dan Rahman yang sudah memprediksi pun tidak terlihat kaget, mengingat Abdar pernah berkata akan sering berkunjung.
Mereka bahkan sudah menyiapkan piring dan sendok untuk kedua tamu tersebut.
Hari ini juga Abdar datang tidak hanya dengan tangan kosong, tadi di pinggir jalan saat ia melihat ada penjual buah ... Abdar langsung menepikan mobilnya guna membeli buah sebagai buah tangan.
Rahimah segera mengupasnya apel dan melon untuk pencuci mulut mereka.
Tidak ada banyak pembicaraan yang terjadi antara Abdar dan Rahimah, selain salam dan terimakasih mereka lebih memilih diam.
Intan-lah yang lebih dominan menjadi pemecah keheningan dan membuat kecanggungan berkurang seiring berjalannya waktu.
"Oiya, Intan ... gelang kamu waktu itu masih sama kakak, sebentar ya kakak ambilkan dulu di kamar." Rahman langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya ketika ia sudah selesai membantu sang mama membereskan bekas makan mereka.
"Oh, masih ada ya? Intan kira sudah hilang," balas Intan apa adanya.
"Ini." Intan menerima gelang pemberian Rahman.
"Om, masih bisa di perbaiki nggak?" tanya Intan.
"Coba, om lihat." Mengambil alih gelang yang ada di telapak tangan Intan.
"Masih bisa, kok. Nanti biar mama kamu yang bawa ke toko emas, biar di perbaiki!" Sambil membolak-bali gelang tersebut.
"Makasih ya, kak Rahman ... sudah bantu Intan menyimpan gelang Ini." Tunjuknya ke benda yang masih dalam genggaman Abdar.
"Makasih ya, Rahman," Abdar ikut menimpali.
"Iya, sama-sama," sahut Rahman.
"Emmm ... kalau gitu, kita berangkat sekarang," menyadari dirinya yang sudah lama, Abdar pun memilih berangkat sekarang.
Melewati anak tangga, mereka turun dengan teratur dan tertip.
"Hati-hati di jalan," pesan Rahimah kepada semuanya.
"Assalamualaikum," ucap Rahman, Abdar, dan Intan berbarengan.
"Wa'alaikumussalam," balas Rahimah.
Di perjalanan Abdar baru menjadi orang yang banyak tanya, ia bahkan seperti bukan dirinya. Itu karena Abdar ingin tahu tentang Rahman lebih jauh lagi ....
"Hari Ini, ada kegiatan apa aja kamu Rahman?" Tanya Abdar ketika mobil sudah memasuki jalan tol.
Rahman yang duduk di kursi belakang sempat melirik Abdar sekilas yang tengah mengemudi.
"Biasanya jam tiga, saya ada kegiatan berlatih taekwondo," jawab Rahman.
"Wah hebat, pantesan waktu itu kamu jago bela diri. Apa latihannya setiap hari?" puji Abdar sekaligus bertanya lagi.
"Awalnya Rahman ikut kegiatan setiap hari waktu di Bandung, tapi sekarang senin sampai rabu saja." Abdar mengangguk mengerti.
"Intan juga pernah liat kak Rahman malahan penjahat lo, om," jelas Intan.
"Padahal waktu itu, tangan kita diikat. Tapi kak Rahman tetap bisa menendang mereka lo om, pokoknya keren banget." Menengok kebelakang sembari mengacukan kedua jempolnya kepada Rahman, Intan dengan semangat menceritakan kejadian ketika mereka melarikan diri.
"Oya? Wah hebat kamu, Rahman?" Abdar merasa begitu bangga mempunyai anak seperti Rahman sebagai anaknya, walau ia belum bisa mewujudkannya dalam tindakan nyata sebagai ayah kandungnya tapi ada kepuasaan tersendiri di hatinya.
"Apa om boleh, melihat kamu latihan?" Abdar melirik Rahman dari dengan penuh harap.
"Boleh," tidak bisa Rahman menolaknya.
Kedua sudut bibir Abdar terangkat. "Kamu berangkat jam berapa?" kembali bertanya.
"Biasanya, kurang lima belas menit jam tiga om."
"Kalau gitu nanti om jemput."
"Tapi Rahman biasa pergi bareng teman-teman om," jelas Rahman.
"Teman yang mana?"
"Teman sekolah," jawab Rahman pendek.
"Kalau gitu, nanti di sekolah kamu bilang sama mereka ... hari ini kamu berangkatnya sama om," perintah Abdar.
Ingin menolak tapi segan, mengingat ia yang tidak mau memanggil ayah membuatnya serba salah jika kembali menolaknya.
"Baik om," ujar Rahman pasrah.
"Intan ikut ya, om?"
"Nggak boleh, ini khusus untuk anak laki-laki," tolak Abdar.
Intan cemberut karena tidak di perbolehkan ikut serta. "Kak, Rahman ... emang di sana anak perempuan nggak ada ya?" tanya Intan mencari dukungan.
"Ada kok, bahkan anak perempuan juga banyak yang ikut latihan taekwondo," ujar Rahman jujur membuat Intan tersenyum lebar.
"Nah om, ada juga anak perempuannya. Berarti Intan boleh ikut dong," pinta Intan.
Abdar seperti memikirkan sesuatu. "Bukannya kamu belajar ngaji ya?" kata Abdar.
"Ayo iya," keluh Intan.
"Eh, kalau Intan ngaji berarti om juga ngaji, dong?" Abdar kalah telak, ia juga lupa akan hal itu.
"Kalau gitu, nanti kita rubah aja jadwal mengajinya. Pulang dari sini, om bakalan ngomong sama mama kamu."
"Okidoki," ucap Intan.
Tidak terasa mobil pun terparkir di parkiran sekolah. Sebelum keluar dari dalam mobil Rahman dan Intan menyalami Abdar, serta mengucap salam terlebih dahulu barulah mereka turun.
Melihat anak dan keponakan yang sudah masuk kedalam kelas, Abdar lekas menjalankan kembali mobilnya.
Tujuannya kali ini adalah cafe yang sudah lama tidak di kunjunginya. Ia juga sudah menghubungi Adit untuk bertemu di sana dan membahas berbagai kendala tentang apa saja.
Tiba di cafe Abdar sudah di sambut oleh Adit. "Dari mana aja, sih? Dari tadi gw nungguin lu Bambanggg," sungut Adit pertama berhadapan.
"Ini gw udah datang," ucap Abdar santai melewati Adit masuk kedalam ruang kerjanya.
"Sialan," gumam Adit mengekor.
"Nih, lu tandatangan." Adit membuka beberapa lembaran kertas yang harus di tandatangani Abdar ketika sudah duduk di kursinya.
"Jadi gimana?" tanya Abdar ambigu sambil membubuhkan tinta ke atas kertas itu.
"Apanya, gimana?" balas Adit dengan kening berkerut.
"Perkembangan lu sama Dinda? Gw yakin, lu pasti tetap jalan di tempat!" tebak Abdar.
"Jangankan buat bantu gw, buat pendekatannya aja ... elu pasti udah kalah," Adit mengumpat di dalam hati karena Abdar bisa tahu.
"Udah buruan, tanda tangan," desak Adit.
"Nih." Abdar langsung mengembalikannya.
Setelah meneliti semua Adit pun menyimpannya dalam laci dan duduk di tepian meja usai menutupnya.
"Apa?" tanya Abdar heran.
"Gw dengar, Jack kabur ke Indonesia ... dan Shandy sudah di pindahkan juga kemarin. Apa lu gak khawatir sama Intan dan Rahman?"
"Gw, udah minta Tomi buat menempatkan anak buah di sekitar Rahman dan Intan," jawab Abdar cepat.
"Baguslah kalau gitu," Adit merasa lega.
Pembahasan pun bergulir tentang pekerjaan kantor yang lain, sudah lama tidak memantau langsung membuat Abdar tertinggal kabar apa saja, dan Adit dengan setia menerangkannya.
Sempet terjeda karena pelayan yang datang menyajikan minuman, setelah sang karyawannya pergi kembali mekara melanjutkan pembicaraan.
Hingga hampir dua jam mereka bicara, Abdar dan Adit pun memutuskan ke luar ruangan.
Baru beberapa langkah keluar dari ruangan, Abdar dan Adit mendengar orang yang memanggil mereka.
"Abdar, Adit ... kalian di sini?" tanya seorang wanita paruh baya dengan baju modisnya juga tataan rambut sanggul bawah. Walau sudah berumur senja, tapi kecantikannya tidak berkurang sama sekali.
"Ah, nyonya Tamara, rupanya anda. Apa kabar?" Abdar balas menyapa sembari memperhatikan kedua teman Tamara yang berada di sisi kiri dan kanannya.
Seorang wanita dewasa yang berada di samping kiri Tamara sangat mirip dengannya, baju dress berwana biru muda tanpa lengan dan rambut tergerai indah sampai pinggang membuatnya nampak anggun.
"Alhamdulillah baik. Jangan panggil nyonya! Panggil saja tante," ujarnya menghentikan perhatian Abdar dan Adit.
"Hmmm, baiklah."
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Tamara lagi.
"Ini adalah cafe milik Abdar," Adit menyahut mewakili sang atasan.
"Oya? Jadi cafe ini juga milik kamu?" jelas tersirat rasa kagum dari expresi wajah Tamara.
"Iya, tante," Abdar tersenyum samar.
"Ah, perkenalkan ... ini anak tante. Namanya Ratu!" Dengan enggan Abdar menyebut tangan wanita itu.
"Abdar," ucapnya datar.
"Ratu."
"Adit," sama seperti Abdar.
"Ratu."
"Dan Ini teman, tante. Namanya tante Wati."
"Panggil saja ibu Wati."
Abdar mengangguk sopan. "Abdar."
"Adit," kata Adit turut memperkenalkan diri.
"Panggil saja ibu, Wati," tersenyum lembut pada keduanya.
"Silahkan nikmati sejiannya, tante Tamara, ibu Wati. Kalau begitu kami pergi dulu."
"Mau kemana kalian? Kenapa nggak ikut gabung saja sama kami?" tawar Tamara.
"Tidak, terimakasih tante. Saya harus segera pulang, karena sepertinya saya masih perlu minum obat," tolak Abdar halus.
"Apa tanganmu masih, sakit?" tanya Tamara khawatir.
"Ya, sedikit. Tapi hanya kadang-kadang saja, mungkin karena tadi saya paksakan untuk menandatangani berkas," jawab Abdar jujur.
"Segeralah periksakan tanganmu ke dokter," usul Tamara, sementara kedua wanita yang berbeda generasi itu hanya diam menyimak karena mereka yang tidak mengerti apa-apa.
"Ya, rencananya saya memang akan mampir sebentar ke tempat dokter," tutur Abdar sopan.
"Baguslah, kalian harus hati-hati di jalan," pesan Tamara.
"Terimakasih, tante. Kalau begitu saya permisi dulu, mari." Abdar dan Adit sedikit membungkukkan kepala dan berlalu pergi.
"Lu serius, mau mampir ke tempat dokter?" Adit yang baru mendengar pernyataan Abdar pun segera bertanya ketika sudah keluar dari cafe tersebut.
"Sepertinya Iya, tadi tangan gw sedikit gatal dan juga nyeri."
"Sini kuncinya, biar gw yang bawa," pinta Adit menanaikan tangan yang langsung di berikan Abdar dengan senang hati.
Adit yang sudah tahu dokter mana yang bisa membantu tanpa bertanya lekas menuju klinik prakteknya.
Saat tiba untungnya ternyata bertepatan dengan dokter yang baru pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Assalamualaikum. Selamat siang dokter, Firman," sapa Abdar dan Adit.
"Wa'alaikumussalam. Wah ternyata kalian? Apa kabar?" Abdar tersenyum malu ketika ia mengingat acara khitan nya yang di bantu oleh dokter Firman.
"Alhamdulillah, saya baik dokter ... tapi Abdar yang kurang baik," jawab Adit yang menyadari kalau kakak dari adik iparnya itu malu.
"Loh, kenapa? Ayo kita masuk dulu." Ajak dokter Firman mempersilahkan tamunya masuk ke dalam klinik yang menyatu dengan rumah. Tepatnya klinik itu menempel di bagian samping.
"Begini, dokter ... seminggu yang lalu tangan saya sempat terkena tembakan dari peluru nyasar."
"Astaghfirullah," pekik dokter Firman.
"Beberapa hari yang lalu sempat saya bawa ke rumah sakit untuk pengecekan, tapi waktu itu anda tidak ada dan dokter lain yang bantu saya."
"Sekarang saya ingin kembali diperiksa, karena saya merasa tangan saya sedikit nyeri dan gatal."
"Baik, kalau begitu buka dulu lengan bajunya." Abdar langsung menggulung baju di tangannya.
"Emmm, lengan atas ya! Mendekati otot, mungkin nak Abdar melakukan senam otot ... sehingga menjadi tegang, apa sangat sakit?" jelas dokter Firman sembari bertanya.
"Tidak terlalu, hanya seperti nyut-nyut. Baru kemarin saya paksakan untuk menyetir dan tandatangan berkas, apa itu berpengaruh?"
"Sebenarnya ini wajar, karena di bagian tangan pasti akan sering di gerakkan sehingga lukanya menjadi tertarik dan nyeri. Dan gatal itu juga biasa terjadi, karena proses penyembuhan, tapi jika keluhan tambah parah sebaiknya periksa lebih lanjut."
"Baiklah, kita periksa tekanan darah dulu Ya."
Dokter Firman pun memasang teleskop dan meletakkan ujungnya pada pergelangan Abdar serta melilitkan alat pengukur detak jantung.
"Tekanan darahnya, normal ... 160/100. Saya anjurkan ntuk sekarang ini sebaiknya jangan terlalu di paksakan bekerja jika tangannya masih sakit."
"Saya beri obat untuk rasa nyeri nya. Diminum ketika terasa sakit, seperti sekarang."
Setelah mengambil obat, dokter Firman menyerahkannya yang langsung Abdar menerima. "Terimakasih, dokter."
"Sama-sama."
Adit yang bertugas membayar obatnya, setelah selesai mereka pulang ke rumah Abdar.
...----------------...
.
Hari-hari pun berlalu seperti biasa, kesibukan manusia tidaklah berkurang. Abdar yang meminta Maryam guna merubah jadwal mengajinya, ternyata tidak bisa. Dikarenakan itu adalah keinginan Abizar yang mengajar di waktu tersebut.
Rahimah dengan tekat bulat nya ingin memberitahu Abizar tentang Ayah kandung Rahman pun sudah di utarakannya hari itu.
Abizar sempat terkejut mendengarnya, dengan kesabaran penuh ia menyimak setiap penjelasan Rahimah hingga ia bisa mengerti itu semua, kini ia mengetahu cerita itu langsung dari wanitanya.
Rahimah menyakinkan bahwa ia tidaklah sengaja dan tahu kalau harus mengajar di tempat Abdar karena itu permintaan Ustadzah Habibah tentu Abizar juga ingat hal tersebut.
Abdar yang berkunjung setiap pagi bersama Intan pun dilaporkan Rahimah juga kepada Abdar, karena Rahimah tidak ingin terjadi kesalah fahaman dan diterima Ustadz itu dengan lapang dada.
Adit juga setiap hari masih mengunjungi restoran Dinda, walau hanya ia yang menyapa tanpa di balas tapi Adit pantang menyerah.
Tanpa di sadari setiap hari mereka bertemu menjadi terbiasa, Rahimah dan Rahman yang sudah tahu Abdar dan Intan akan datang pun selalu menunggu dengan gelisah takut tidak datang lagi.
Tidak jauh berbeda dengan Rahimah, Dinda pun demikian. Walau ia cuek dan abai kepada laki-laki yang dinencinya tapi setiap sampai di restoran itu hatinya terbesit pengharapan bahwa akan ada Adit yang menjemputnya.
...****************...
"Nyebelin banget tau nggak, mas Adit itu," adu Dinda kepada teman-temannya.
Siang ini mereka berkumpul di rumah Rahimah.
"Emang nyebelin kenapa?" Nurul dengan kekepoannya lekas bertanya.
"Masa setiap pagi sarapannya di restoran aku mulu." Ucapnya seraya cemberut.
"Loh, bukannya itu bagus? Berarti menu masakan di situ emang benar-benar enak, sampai mas Adit rela setiap hari makan di restoran kamu," teori Nurul.
"Iya, kenapa kamu yang kaya kesel gitu?" tanya Soraya menimpali, Rahimah diam menyimak.
Dalam benak Rahimah, ia juga sempat merasakan apa yang Dinda alami ketika Abdar selalu datang dalam seminggu terakhir ini. Tapi ia tidak pernah bercerita kepada ketiga sahabatnya itu.
"Iya bagus, tapi ... tau ah," jawab Dinda ambigu.
"Iih, nggak jelas," sahut Nurul dan Soraya bersama.
"Biarin, bleee." Dinda menjulurkan lidahnya karena merasa kehabisan kata-kata.
"Huuuu," kembali sorak kedua sahabatnya menggema.
BERSAMBUNG ....
Maaf baru bisa up, karena saya sedang sakit kepala akhir-akhir ini. Jangan bosan tungguin cerita Rahman Ya? Semoga kalian selalu suka dan happy. πππ
Salam sayang π€π€π€
Noormy_Aliansyah