Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 25



Kepindahan Rahimah ke Jakarta ternyata lebih cepat dari pada perkiraan, yang awalnya perhitungan Rahman akan memakan waktu sampai tiga hari, nyatanya hanya memerlukan waktu dua hari saja.


Bagaimana tidak, Soraya selaku orang yang bertanggung jawab atas pembersihan ruko-nya ternyata bisa ia selesaikan dalam kurun waktu satu hari satu malam. Tanpa ragu Soraya menyewa tukang bersih sebanyak sepuluh orang, yang ia rekrut dari tempat hotelnya.


Ia juga menyediakan peralataan baru di ruko yang kini menjadi rumah bagi Rahimah, seperti tempat tidur, isi dapur dan lemari pendingin, meja makan, juga peralatan kamar mandi.


Rahimah sempat protes saat melakukan VC grup, Ia begitu kaget melihat keadaan rumahnya yang menurutnya sangat berlebihan. Tapi apa dayanya jika ingin melarang, sedang Ia berada jauh dan hanya bisa menerimanya dengan berat hati.


Saat Ia mengatakan bahwa pengemasan barang sudah selesai, Dinda juga langsung mengambil keputusan tanpa peduli dengan mereka. Dengan cepat Dinda mengatakan bahwa mobil pengangkut barang akan sampai di tempat Rahimah pada pagi esok.


Dan Ia juga mengatakan bahwa mobil pengangkut barang tersebut akan datang dengan rombongan pengangkut barangnya, Rahimah berjanji akan mengganti semua jasa dari teman-temannya jika Ia sudah mempunyai menghasilan tapi ditolak Soraya dan suaminya Zidan begitu juga Dinda dan Nurul serta Ari.


Rahimah hanya bisa menghela nafas panjang. Rahman pun bertekat di dalam hati semoga kelak Ia bisa membantu apa saja agar bisa membalas budi tanpa menyinggungnya dengan materi, karena Rahman yakin itu hanya akan menjadi sia-sia.


Rahimah sangat bersyukur mempunyai teman dan suami temannya yang termasuk orang dari ringan tangan.


...****************...


Pagi datang menyapa penghuni bumi, memancarkan sinar sang surya yang begitu cerah ... secerah hati mereka yang hendak menjalani hari baru, walau keadaan masihlah gelap gulita. Dengan lekas Rahimah dan Rahman menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba kepada sang pencipta. Saat mereka selesai Sholat, deru mesin mobil yang datang dari halaman rumahnya pun menyapa sampai terdengar ke dalam rumahnya.


Rahman pun menyambutnya dan mempersilahkan mereka untuk duduk dulu, Rahman sudah diberi tahu oleh Rahimah, kalau pagi ini akan ada orang yang datang menjemput mereka tapi tidak tahu sepagi ini mereka datangnya.


Ada sekitar enam orang pria dewasa yang akan membantu Rahimah memasukkan barang-barangnya kedalam mobil truk mengangkut barang, lagi-lagi Rahimah menghela napas karena tukang angkut yang terlalu banyak ... dua di antaranya juga berperan sebagai supir truk dan mobil yang akan mengantar Rahimah dan Rahman ke Jakarta. Padahal cukup dua orang saja maka sudah cukup baginya.


"Silahkan Mas, diminum dulu tehnya ... dan ini nasi liwetnya." Rahimah menjamu para tamunya, dengan teh hangat dan juga nasi liwet yang ia beli tadi di warung nasi dekat rumahnya, yang memang sudah buka dari subuh. Karena banyaknya para remaja yang tinggal di kos-an sekitar rumahnya untuk bekerja, mereka lebih suka membeli jika tidak ingin memasak maka dari itu ada warga yang menyediakan warung nasi di subuh hari.


Jadi Rahimah membelinya karena keperluan mendesak agar tukang angkut barangnya nanti memiliki tenaga saat mengangkut barang. Walau memang prabotan Rahimah sudah di kemas, tapi ada sebagian yang di biarkannya tidak dibuat dalam kardus agar memudahkannya untuk di pakai selama ia masih menempati rumah itu, seperti pralatan makan yang Ia gunakan saat ini.


Untuk surat kepindahannya pada Pak Rt juga sudah di bantu oleh Wahyu, dan Khadizah akan menyerahkannya nanti saat mereka hendak berangkat.


"Makasih Mbak, jadi merepotkan?" ucap orang yang menanggung jawabi rombongan.


"Saya yang harusnya berterimakasih karena kalian mau bantu memangkut barang-barang Saya," balas Rahimah ramah.


"Sama-sama Mbak." Ujarnya tak kalah ramah.


Para lelaki itu pun lekas memakannya bersama di ruang tamu beralaskan tikar, sementara Rahimah dan Rahman juga memakannya di ruang tengah meja makan.


Selesai dengan makanannya, tanpa membuang waktu sang mandor pun serega memerintahkan anak buahnya untung langsung berkerja. Rahimah dan Rahman turut membantu mengeluarkan tas pakaiannya dari dalam kamar, tapi tetap juga membantu mengangkut kotak-kotak yang lain walau sudah di larang. Terpaksa mereka membiarkannya.


Karena orang yang memuat lumayan banyak, dan barang yang tidak terlalu banyak maka pekerjaan pun selesai lebih cepat. Tidak sampai dua jam, belum jam sembilan saja semua sudah beres. Barang yang di hangkutnya hanya dua buah mesin jahit, dua lemari dinding ... kotak-kotak yang isinya kain dan baju jahit Rahimah. Serta kotak-kotak buku sekolah dan piala Rahman dan juga kotak barang-barang prabutan juga satu buah sepeda motor meninggalan Pak Ramlan serta sepeda tinjak Rahman.


"Imah ini surat-surat dari Pak Rt, Mas Wahyu juga sudah menitipkan salam buat Pak Rt. Kamu disana baik-baik ya, nanti kalau ada waktu Mbak juga akan mampir ke tempatmu," ujar Khadizah sambil menyerahkan map.


"Terimakasih banyak Mbak atas bantuannya, maaf jika selama ini Imah dan Rahman sering merepotkan Mbah Dizah," Rahimah terkenang masa-masa sulitnya membesarkan Rahman bersama sang Ayah tentu juga dengan bantuan Khadizah yang sudah berpengalaman, bukan Ayah nya tidak berpengalaman hanya saja Ayah juga harus berkerja membuat Ia selalu meminta bantuan Khadizah.


"Sama-sama, kamu sudah Mbah anggap seperti adik Mbak sendiri jadi tidak perlu sungkan." Ucap Khadizah tulus.


"Rahman, jagain Mamanya baik-baik yah? Jangan sampai Mamanya tidak di perhatikan, dan sakit ... kalau ada apa-apa minta bantuan sama nenek aja," nasehatnya pada Rahman yang juga sama seperti anaknya.


"Iya tante, Rahman akan ingat pesan-pesan tante." Hawa juga mendekat.


"Rahman jangan lupa sering-sering kabarin Mbak ya? Nanti kalau kamu gak kasih kabar sama sekali ke Mbak.. awas aja kamu, bakalan Mbak kasih makan udang lagi," ancaman Hawa jelas mengundang tawa orang yang mendengarnya.


"Ampun Mbak," canda Rahman menanggapinya dan lagi-lagi mereka tertawa.


"Imah, Rahman ... kalian hati-hatilah disana, Mas cuman bisa mendo'akan semoga kalian selalu baik-baik saja. Dan kita bisa berkumpul lagi saat kami kesana." Kata Wahyu juga ikut bicara.


"Makasih Mas, sekali lagi terimakasi ... terimakasi Mbak Dizah dan Hawa. Kalau begitu kami berangkat sekarang, Assalamulaikum." Rahimah segera mengucap salam dan masuk ke dalam mobil saat sudah berpelukan dengan Khadizah dan Hawa. Begitu juga Rahman dan Wahyu.


Mobil truk pengangkut barang sudah berangkat lebih dulu dua puluh menit yang lalu. Dan tibalah sekarang giliran mobil avanza yang membawa Rahimah dan Rahman, untuk pergi ke kota tempat sang mama di lahirkan mereka akan menjemput hari-hari barunya di tempat tinggal itu.


Di perjalan sedikit memorinya mengulang ke masa lampau saat Ia juga harus pergi, tapi karena paksaan warga dan sekarang Ia kembali karena keinginan warga juga Rahman yang ingin merasakan tempat peninggalan sang Kakek.


...****************...


Sesuai janjinya Maryam pada Cristian, yang akan mencarikan seorang Ustaz untuk membimbingnya memeluk Agama Islam. Malam itu juga Maryam segera mengubungi Guru mengajinya untuk membantunya mencarikan seorang Ustaz, dan akan bertemu di rumah gurunya.


Karena rencana dadakan itu membuat Cristian harus libur dulu dari kantor, dan Ia pun memberitahu Adit kalau tidak masuk kerja.. alasannya adalah harus pergi menemani Maryam. Sebelum mendekati hari H. khitannya Cristian tidak akan menberitahunkannya pada Adit.


"Assalamualailum?" saat ini Maryam bersama Intan dan juga Cristian sudah sampai di rumah yang Maryam katakan gurunya.


Terdengar sahutan dari dalam rumah itu dan pintu pun terbuka menampakan seorang wanita berhijab yang cantik walau tidaklah muda lagi.


"Wa'alaikumussalam, kalian sudah datang? Ayo silahkan masuk." Ujarnya mempercilahkan Maryam dan yang lain masuk.


"Terimakasih Ustazah Habibah," mereka duduk di ruang tamu sesaat setelah di persilahkan duduk.


"Kenalkan Bu, ini Kakak Saya namanya Cristian." Cristian menganggukhan kepala.


"Tunggu sebentar lagi ya, sebentar lagi keponakan Saya akan datang," tidak berselang lamu orang yang akan di mintai tolong akhirnya datang juga.


"Kenalkan ini Ustaz Rasyid, keponakan Ibu." Mereka pun saling memperkenalkan diri.


"Kakak Saya mengatakan Ia ingin memeluk agama Islam," seketika Usatazah Habibah dan Ustaz muda mengucap syukur.


"Alhamdulillah," ucapnya serempak.


"Dan Kakak Saya ingin minta bantuan Pak Ustaz." Sambung Maryam menerangkan kedatangan mereka.


"Sungguh Nak Cristian sangat beruntung karena mendapatkan hidayah dan mau mengikuti Maryam memeluk Islam," kata Ustazah Habibah bangga.


"Insyaallah Ustaz Rasyid akan membimbing Nak Cristian menjadi pribadi yang baru." Do'anya.


"Sebelum Mas Cristian memeluk Islam, ada sebaiknya Mas Cristian melakukan beberapa syarat-syaratnya dulu." ujar Ustaz Rasyid, Critian mengerutkan kening tanda berpikir tentang syarat apa.


"Yang pertama, yang harus Mas Cristian lakukan adalah khitan." Cristin tercengang mendengarnya, sementara Maryam mengulum senyum berusaha agar tidak tertawa berbeda dengan Intan yang tidak mengerti.


"Iya, itu adalah syarat pertama yang harus Mas Cristian lakukan. Nanti jika Mas Cristian sudah melakukannya maka datanglah lagi pada Saya, dan untuk syarat yang lain akan kita bahas pada pertemuan kita berikutnya." Ujar Ustaz Rasyid.


Mendengar jawaban itu Cristian bergidik ngeri, ia bahkan merasa lemas setelah mendengarnya. Bagaimana tidak, ia yang tidak tahu menahu tentang khitan, dan pernah bertanya kepada Adit tentang bagaimana rasanya saat Adit melakukan Khitan. Jawaban Adit membuatnya merinding, yang ia tau sekarang dari Adit adalah barang pusakanya akan di potong sampai lima cm, dan juga akan sembuh selelah satu bulan.


Ia berpikir akan sesakit apa jika ia melakukan itu, dan akan serepot apa jika ia tidak bisa berjalan sampai satu bulan. Di tambah lagi niatnya akan tertunda selama itu.


"Jadi Om Tian belum di sunat ya?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari anak yang usianya baru tujuh tahun.


"Iya sayang.. Om Tian belum di sunan, tapi sebentar lagi akan di sunat." Jelas Maryam.


"Yah.. Om Tian payahhh, teman Intan aja masih kecil sudah di sunan loh." Hinanya pada Cristian dan pujian untuk teman sekolahnya.


Semua tersenyum mendengar kepolosan Intan yang belum mengerti tentang apa yang mereka bahas.


Cristian menggaruk-garuk tengkuknya pelan walau tidak galat sama sekali, ia bingung ingin menjelaskan perbedaan antara dirinya dan temannya Intan.


"Itu karena Om Tian ini sangat istimewa." Kata Ustaz Rasyid membuat Intan menjadi penasaran tentang keistimewaan yang dimiliki Om nya.


"Hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa melakukannya, dan Om Tian adalah salah satu dari orang tersebut." Sambungnya lagi.


"Dan satu lagi.." Ucap Ustaz Rasyid menjeda kalimatnya.


"Apa?" Tanya Intan capat.


"Ini rahasia, Intan jangan kasih tau sama teman-temannya yah?" Dengan cepat Intan mengangguk.


Cristian menghela nafas lega mendengar penjelasan Ustaz Rasyid kepada Intan tapi rasa lega itu lenyap saat ia kembali ingat bahwa ia harus melakukan khitan.


"Baiklah kalau begitu Pak Ustaz, kami izin pulang dulu untuk melakukan khitan. Dan jika sudah selesai dan sembuh Kami akan mengabari Ibu Ustazah Habibah." Kata Maryam mewakili Cristian yang rasanya lidahnya menjadi kelu.


"Ya kami tunggu kabarnya." Jawab Ustaz Rasyid.


"Terimakasih Bu Ustazah Habibah, kami pulang dulu. Assalamualaikum." Mereka beranjak dari duduknya setelah undur diri.


"Wa'alaikumussalam." Balas serempak Ustazah Habibah dan Ustaz Rasyid.


Mereka segera masuk kedalam mobil tanpa kata, dan Maryam tergelitik untuk bertanya setelah keheningan mendera saat mobil sudah jauh meninggalkan rumah Ustazah Habibah.


"Apa Kakak takut?" Ujarnya sambil melirik Cristian yang menyetir.


"Takut?" Kata Cristian membeo.


"Ya..!" Ucap Maryam mengangguk.


"Apa benar Om Tian takut?" Sela Intan ingit menimpali.


"Tidak." Jawabnya cepat, ia merasa di remehkan oleh adik dan keponakannya.


"Sama sekali tidak." Ulangnya agar meyakinkan.


"Bagus kalau begitu, kita akan minta bantuan Kak Adit untuk mengurus acara khitannya Kakak. Kak Adit pasti punya kenalan dokter yang terbaik." Cristian menghela nafas pasrah jika Adit memang harus tau tentang ini, karena tidak ada lagi yang bisa ia mintai tolong selain Adit.


"Hmm." Gumamnya malas.


Maryam segera mengirim pesan untuk Adit, dan ia meminta Adit untuk mencarikan dokter tebaik yang pernah ada. Dan Maryam juga belum menceritakan kepada Adit untuk apa dokter itu, jadi Adit tidak banyak bertanya.


Adit cukup melaksanakan perintahnya saja, jika ia tau bahwa dokter itu di cari untuk membantu Cristian menyempurnakan Agamanya, maka sudah dipastikan bawah ia akan menakut-nakuti Cristian sampai hari khitan itu dilakukan.


Tiba di rumah, Cristian segera memisahkan diri pergi ke kamarnya. "Kakak ke kamar dulu." Ucapnya berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari adiknya.


Membuka pintu dan menutupnya, ia berjalan cepat menuju tempat tidurnya. Di hempaskannya tubuh kekarnya pada kasur empuk itu dengan membentangkan kedua tangannya.


"Apa sangat menakutkan?" Gumamnya bermonolog.


"Apa sangat sakit?" Cukup kentara rasa khwatir yang ia rasakan saat ini.


Tapi ia berpikir tenang, jika sangat menakutkan dan sakit. Tapi kenapa semua orang orang berani melakukannya pikirnya.


Dan ia yakin waktu itu Adit hanya menakut-nakutinya. Tidak mungin sampai seperti itu.


Teringat sesuatu segera di rogohnya saku celananya, di keluarkannya benda ajaib berbentuk pipih persegi panjang itu, dengan lihai jarinya menari-nari di layar LCD itu segera ia masuk ke laman web yang menyediakan segala pertanyaan yang ada di benaknya.


Mulai dari..


*Apakah teramat sakit?


Apakah lama sembuhnya?


Sebanyak apakah di potongnya*?


Dan ia pun mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya, sangat bertolak belakang dengan cerita yang di sampaikan oleh Adit. Sekarang ia tidak akan lagi termakan omongan Adit yang hanya omong kosong.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


#salamkakawananbarataan


(salamtemantemansemua)


Salam dari Urang Banua😊✌


Noormy Alinsyah